
BELUMLAH tuntas rasa penasaranku atas kemiripan wajah wanita tersebut,kini otaku di bebani dengan nama yang sama,nama wanita tersebut sama sekali tak berbeda dengan Annisa.
Kenapa bisa wajah dan namanya sama ??
Ini takdir ataukah hanya sebuah kebetulan ???
Aku memandangi ID cart tersebut dengan berbagai pertanyaan yang berseliweran di pikiranku.
" Annisa Azzahra???" Pekik ku kian menjadi-jadi.
" Teacher of study SINGAPUR. " ejaku membaca biodata ID cart wanita tersebut.
Wanita yang berada di sampingku itu lantas menoleh ke arahku setelah menyadari benda miliknya ada yang terjatuh,ia pun menatapku dengan sikap kikuk.
Menyadari aku sedang di pandangi wanita tersebut,aku mengerejap lalu aku pun tersipu ke arahnya.
" Oh maaf itu punya saya." ujarnya seraya tersenyum malu ke arahku, lalu ia pun meminta ku untuk mengembalikan ID cart miliknya tersebut.
Dengan sedikit kaku aku pun memaksakan diri untuk tersenyum hangat dan menyodorkan ID cart tersebut ke tangan si pemilik suara lembut tersebut.
" Terimakasih !" ucap Wanita itu tersenyum lembut.
Aku hanya mampu mengangguk pelan tak banyak yang bisa aku lakukan.
Berat rasanya lidah ini untuk bertanya sesuatu hal terhadap wanita tersebut,sekiranya seperti ada kiloan besi yang membebani lidah ini.
Rasa penasaran dan serta rasa sakit ini menaungi paling puncak di otak ku,rasanya sulit untuk di percaya jika ada kesamaan nama serta kemiripan wajah di dunia ini,jika aku pernah bertemu dengan seseorang yang memiliki wajah yang sama dengan seseorang yang aku kenal tentunya dia akan memiliki nama yang berbeda.
Lalu ini ???
Aku menggeleng dengan perasaan tak habis pikir,ini seperti pinang di belah dua,hanya saja yang membedakan dari wanita ini dengan Annisa adalah penampilannya saja,jika penampilan Annisa tertutup rapat,beda halnya dengan wanita ini yang terlihat berbeda seratus delapan pulu derajat dengan penampilan Annisa, dari cara berpakaiannya wanita ini sedikit terbuka dan sama sekali ia tidak mengenakan penutup kepala yang biasa Annisa kenakan,Ini benar-benar sulit di percaya,dua orang yang berbeda sama wajah dan nama.
Aku masih menatap penuh ke arah wanita tersebut yang kini tengah sibuk dengan dirinya sendiri,menyadari aku masih menatapnya wanita itu kemudian menolehku kembali menatapku dengan penuh isyarat.
" Hello !!" sapanya seraya menggoyangkan telapak tangannya ke depan wajahku.
Sontak aku tersentak dari lamunanku,aku segera mengubah posisi dudukku dan menghadap ke depan dengan perasaan campur aduk.
Wanita tersebut terlihat menggeleng dengan mendegus kesal melihat tingkahku yang sedikit konyol.
Entahlah aku masih tak percaya dengan apa yang ku lihat saat ini,seolah-olah Annisa menjelma dalam sosok lain.
Tak lama kemudian pesawatpun mulai Take off dan beberapa pramugari serta awak pesawat lainnya mulai sibuk dengan tugas mereka masing-masing.
Aku meletakan ponselku di dalam tasku,dan membenarkan sabuk pengamanku.
Wanita itu pun terlihat melakukan hal yang sama dengan ku,tak banyak berbicara wanita itu pun sibuk dengan kegiatannya sendiri,menutup telinganya dengan sebuah handsfree lalu sepertinya ia memilih mendengarkan lagu dari ponselnya tersebut.
Aku meliriknya berkali-kali entah kenapa aku merasa penasaran bahkan tak tenang di buatnya dengan kehadiran nya wanita tersebut.
Aku kembali fokus ke hadapan buku yang ada di pangkuanku dan mencoba mengalihkan semua atensiku terhadap buku tersebut.
Dengan perasaan yang sulit aku kendalikan akhirnya aku mampu mengalihkan rasa penasaranku yang teramat besar terhadap wanita yang sedang duduk di sampingku.
Aku kembali meneruskan kegiyatanku untuk membaca buku diary nya Annisa.
Tulisan yang di buat Annisa empat tahun yang lalu terlihat begitu manis,tulisan tangan yang begitu tertata rapih,hingga nyaris tak ada coretan yang salah di buatnya.
Aku tersenyum getir menatap bait demi bait tulisah yang di buat oleh Annisa akan perasaanya selama itu.
( Annisa 08 march 2017..)
Aku terhenyu melihat tanggal yang di cantumkan Annisa.
jika delapan Maret ia menuliskan akan perasaanya ini,maka hanya jarak satu minggu ia bertemu dengan aku,ketika aku baru bekerja di perusahaannya Indonesia,dan itu artinya Annisa telah melihatku sejak awal,namun kenapa aku tidak menyadari hal itu ?
Aku melihat pertama kalinya Annisa kala itu ia sedang sembahyang,itu pun awalnya aku tidak menduga jika bayangan itu adalah Annisa,dan aku melihatnya ketika aku sudah hampir dua minggu di Jakarta,sejenak aku betpikir....
Jadi ?..
Aku semakin berpikir keras,mengulang tentang keberadaanku kala pertama kalinya berada di Jakarta,tepatnya di Indonesa,aku tidak pernah bertemu dengan Annisa dalam kesempatan apapun,lalu Annisa dapat melihatku dimana ??
Aku semakin penasaran di buatnya.
Yahh aku yakin jika Annisa sudah terlebih dahulu melihatku.
Aku hanya bisa menduga dengan perasaan terenyuh,akupun kembali melanjutkan bacaan cerita Annisa.
( Bismillahirrahmanirrahim.
Untuk yang pertama kalinya aku mengutarakan isi hatiku di buku rahasia terbesarku ini.
Astagfirullah.....
Seharusnya aku mampu menjaga perasaanku ini,menjaha dari laki-laki yang bukan muhrimku,namun entah kenapa hatni dan perasaanku bersi keras ingin menorehkan sepegal perasaan ini terhadap sosok seorang lelaki yang sama sekali aku tidak pernah mengenalinya,sama sekali aku belum pernah bertemu dengan dia dimana pun.
Eaa aku pun baru melihatnya dan aku tidak tahu jika dia berasal darimana,dia orang Asing yang tak pernah aku temui sebelumnya.
Tapi ada desiran perasaan indah yang tertuju kepadanya.
Yaa Allah.....
Jangan Engkau letakan perasaan dosa ini di hatiku,hingga hamba berharap besar bahkan berangan-angan untuk memilikinya,aku yak ingin kecewa kembali dan mengulang rasa trauma yang tak berkesudahan dari atas apa yang tak bisa ku kimilik.....
Jangan Engkau tiupkan perasaan ini terhadapnya,karena ini akan hanya membuat hamba binasa,binasa dari dosa-dosa yang tak akan terampuni.
****
Sebait do'a ian panjatkan atas segala keresahan hatinya.
Aku hanya mampu tersenyum getir membaca untaian do'a tersebut.
Aku kembali hanyut dalam alur ceritanya.
Flas back.
Annisa tersentak lalu dengan cepat ia segera menyudahi kegiayatannya dan menutup buku tersebut lalu menyembunyikan buku tersebut di bawah bantalnya.
Dia segera mengubah posisinya menjadi duduk di atas tempat tidurnya tersebut.
" Ada apa dam ?" tanya Annisa yang masih terkejut menatap sang adik yang berdiri di ambang pintu.
Melihat reaksi sang Kakak yang terkejut atas kedatangannya Adam menyeringah dengan mengulas senyuman penuh curiga.
" Kok Kak Annisa kaget bener,kenapa ?" tanya Adam dengan penuh rasa penasaran.
" Tidak ada,Kakak hanya sedang memeriksa beberapa tugas mahasiswa kakak saja." tolak Annisa berbohong.
" Yakin ? " Adam terlihat menggodanya.
Annisa mendilak dan menatap keki ke arah adik laki-laki semata wayangnya.
" Tentu saja,apa kamu melihat Kakak sedang berbohong ?" ujar Annisa sedikit merengut,demi untuk menutupi perasaanya ia pun memperlihatkan beberapa lembar kertas ke hadapan Adam sang adik.
Adam memajukan bibirnya dengan penuh cemooh,entah kenapa ia merasa jika Kakaknya saat ini sedang menutupi sesuatu darinya.
" Kenapa ?" tanya Annisa melihat reaksi sang Adik tidak merespon justru menatapnya dengan penuh selidik.
" Tidak apa-apa," jawab Adam tersenyum penuh arti.
" Oya Kak,jam tiga nanti Adam pulang kerja,tapi sepertinya Adam tidak pulang ke Afartemen ada sedikit urusan di luar kantor,mungkin Adam kembali agak malam." jelas Adam seraya membenarkan tas rangselnya.
" Kamu lembur ?? " tanya Annisa acuh.
" Tidak,hanya sedikit ada tambahan pekerjaan saja di luar kantor." balas Adam yang sudah siap berangkat kerja.
" Baiklah,kamu hati-hati ya nanti pulangnya,jangan larut malam." imbuh Annisa dengan kembali berpura-pura sibuk dengan pekerjaanya.
" Tentu Kak,kalau begitu Adam pamit dulu ya ! eh Kak,Kakak tidak ada jadwal mengajar hari ini ? " tanya Adam menghentikan langkahnya.
" Tidak,kebetulan hari ini Kakak ada pekerjaan lain untuk memeriksa tugas para mahasiswa yang belum sempat Kakak cek,jadi yahh cukup sibuklah hari ini." ucap Annisa dengan merapihkan beberapa kertas yang tercecer di atas tempat tidurnya.
" Baiklah semoga hari ini menyenangkan untuk Kak Annisa.Adam pamit dulu ya." ucap Adam seraya keluar dari kamar Annisa.
" Do'a yang sama untukmu." balas Annisa tersenyum simpul.
Annisa menghela,nyaris saja sang adik mengetahui akan sikapnya tersebut,Annisa menggeleng dengan tersenyum sendiri.
Annisa melihat ke arah jam dinding yang tergantung tepat di atas dinding tempat tidurnya,waktu sudah menunjukan jam 08.00 WIB,ia pun segera bergegas merapihkan lembaran buku yang berserakan di atas tidurnya dan membawanya ke atas meja,tak lama ia merapihkan kamarnya dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah beberapa menit kemudian,ia terlihat siap-siap untuk keluar,ada beberapa pekerjaan yang ia kerjakan di luaran sana.
Setelah memastikan kamar Afartemennya terkunci dengan aman ia pun bergegas keluar dan berjalan menuju lift.
Setibanya di tempat tujuan,Annisa segera memasuki sebuah perpustakaan kebetulan sebelum ia mengerjakan berbagai tugasnya ia menyempatkan diri ke perpustakaan ada buku yang sedang ia cari.
Rak demi rak ia perhatikan mencoba mencari buku yang di maksud,namun ketika ia sudah menemukan buku tersebut dan akan mengambilnya tiba-tiba.....
Sreet...
Sebuah tangan mendarat di buku tersebut,Annisa mendongkak dan menatap ke arah pemilik tangan tersebut.
Annisa terkejut melihat pemilik tangan tersebut
" Ma maaf !" suara Annisa tertahan setelah melihat orang yang berada di sampingnya.
Laki-laki itu masih menatap jari jemari Annisa yang menempel di buku tersebut.
" Silahkan anda duluan saja mengambilnya." ucap Annisa lembut,ia mempersilahkan laki-laki itu untuk terlebih dahulu mengambilnya.
sejenak laki-laki itu terlihat kaget menatap ke arahnya,membuat Annisa sedikit risih atas reaksi laki-laki tersebut.
Annisa segera menunduk menurunkan pandangannya agar tidak melihat langsung wajah laki-laki tersebut.
" Oh.iya.Eehh,tapi kamu,.." ucap laki-laki itu terbata,dan terlihat salah tingkah di buatnya.
" Tidak apa-apa mas,mas Aambil saja silahkan !" balas Annisa dengan lembut, sama sekali Annisa tidak berani untuk menatap lama ke laki-laki tersebut.
" Ok, thank's " jawab laki-laki itu tersenyum kaku.
" Permisi !!" pamit Annisa segera beranjak dan berniat ingin pergi,dengan sikapnya yang tetap menjaga pandangannya terhadap laki-laki tersebut.
" Tapi !!" sergah laki-laki itu pelan, namun Annisa sama sekali tidak mengidahkannya dan ia memilih untuk mengabaikannya.
Annisa dengan tergesa-gesa ia keluar dari toko buku tersebut,napasnya terlihat tersenggal-senggal,wajahnya mendadak pucat pasi setelah melihat kehadiran laki-laki itu yang tiada lain laki-laki yang selama ini yang membuatnya tak tenang,laki-laki yang diam-diam telah menggerakan perasaanya untuk kembali jatuh cinta.
Dengan perasaan setengah gugup,Annisa mencoba menetralkan perasaanya,ia tidak menyangka jika dirinya akan berjumpa secara langsung dengan laki-laki tersebut.
Selama ini ia hanya bisa melihat dari kejauhan saja.
Annisa menghela merasakan jatungnya berdetak lebih cepat,sungguh kondisi ini membuatnya tak nyaman.
Ia tidak ingin merasakan kembali jatuh cinta untuk kesekian kalinya,karena ia yakin resiko apa yang ia dapati dari rasa yang paling indah tersebut,sebuah Anugrah sekaligus musibah baginya.
" Yaa Allah !! Ini seperti mimpi !" gumannya pelan seraya mengelus-ngelus dadanya.Perasaannya kian di warnai perasaan yang tak menentu.
" Kenapa perasaan ini sepertinya lebih besar dari apa yang kurasakan terhadap Mas Alfin,aku tak tau jika aku akan kembali merasakan jatuh cinta." gumannya kembali,seolah-olah ia sedang berbicara pada dirinya sendiri.
" Aku tidak ingin jika aku harus mempertaruhkan kembali perasaan ini hanya untuk cinta,cinta yang sama sekali tidak akan aku raih," imbuhnya dengan raut wajah mendalam.
" Yaa Allah,bantu hamba untuk tidak terjerat dalam tipu daya dunia ini,aku tidak ingin berpaling darimu sehingga mengtuhankan cinta atas egoku ini." Ungkapnya lagi dengan perasaan kian hancur.
Annisa mengambil napas dalam,lalu menghembuskannya dengan kuat,ia tak ingin di kuasai oleh perasaan yang membuatnya sesat.
" Astagfirullah !!" desahnya dengan raut wajah sedih.
Dengan perasaan berat ia pun mencoba untuk tidak terpaku dengan perasaan yang selama ini mulai merundungnya.
Tak lama kemudian sebuah taxsi berhenti tepat di hadapannya,lalu dengan sigap Annisa segera memasukinya dan meninggalkan toko buku tersebut tanpa mau tahu apa yang terjadi kepada lelaki yang di temuinya barusan.