ONE DAY

ONE DAY
ONE DAY Episode 32



AKU telah kembali menjalani aktivitas sebagaimana biasanya,menjalani segala rutinitas sehari-hari yang selalu di hadapkan dengan berbagai macam pekerjaan.


Aku belum baik-baik saja,aku yang tengah berusaha untuk tetap menjaga kewarasanku atas perasaan sedih yangmenimpaku atas sepeninggalnya Annisa.


Sepertinua aku perlu waktu untuk menerima semua itu,aku memang belum bisa menerima sepenunya atas kepergian Annisa dalam hidupku,cinta yang singkat ini meninggalkan jejak yang begitu dalam di hidupku.


Seharusnya Annisa berada disisiku saat ini,menemani ku dalam gelimpangnya kesuksesanku dan seharusnya ia pun dapat menikmati dari apa yang telah ia doakan selama ini untukku,namun.....


Entalah aku begitu sakit jika harus mengingat akan hal itu,aku yang telah berjuang dari segala motifasi yang di berikan Annisa kepadaku dengan tanpa syarat, seharusnya aku mampu berterimaksih kepadanya lewat cinta suciku ini.


Tapi.....


Kenyataan yang selalu mematahkan kembali semua harapanku atas segala keyakinanku untuk menjemput Annisa menuju sebuah kebahagiaan.


Tok tok tok !!


Terdengar sebuah ketukan keras di pintu membuyarkan lamunanku.


Aku terperangah dan mengalihkan semua antensiku ke arah pintu tersebut.


" Masuk !!" sahutku cepat.


Daun pintu tersebut sedikit terbuka.


" Permisi pak !" sapa Sekertarisku menyembul dari balik pintu dengan terpogoh-pogoh.


" Ada apa Miska ?" tanyaku pelan.


" Ada yang ingin bertemu dengan anda pak." jawab Miska dengan wajah datar.


" Siapa ? " tanyaku cepat.


Sebelum Miska menjawab,terlebih suara seorang wanita menyelanya.


" Ay ,," sela seorang perempuan muda berpenampilan menarik menyembul dari balik tubuhnya Miska sekertarisku.


Aku menatap lurus ke arah perempuan tersebut dengan tak sedikit terkejut,perempuan itu tersenyum cermelang ke araku,dan perempuan itu tiada lain Jerica.


Aku menghela napas panjang dengan menatapnya penuh luka.


Miska terlihat memberikan sebuah isyarat untuk pamit meninggalkan ruanganku.Aku pun mengangguk menyutujuinya.


Jerica berdiri dengan gaya bahasa tubuhnya,ia tidak berubah cantik dan semakin mempesona,tapi pujian itu aku enyahkan dari pikiranku.


Aku terdiam tanpa ekspresi.


" How are you Joan ?" tanyanya seraya berjalan mendekat ke mejaku.


Sejenak aku tidak langsung menjawab hanya menatap penuh arti ke arah perempuan yang tengah berdiri di hadpaanku.


Kedua alis perempuan itu terangkat tinggi ketika aku mengabaikan pertanyaanya.


" Fine !! " jawabku singkat.


" Lama Ay tak jumpa dengan You." ujar Jerica tersenyum riang,logat bahasa melayunya masih kental.


" Ada keperluan apa kamu kesini ?" tanyaku lantang.


Jerica tersenyum penuh daya tarik,seolah-olah ia sedang menggoda otak nakalku.


Aku melengos dengan perasaan muak dan berusaha untuk tidak tertarik dengan segala sikapnya Jerica.


" Joan,Ay nak kemari,Ay hendak minta maaf atas sikap Ay yang selama ini terhadap you." ucap Jerica mendekat ke arahku tanpa ragu.


Aku mulai terganggu dengan sikapnya Jerica.


" Aku sudah melupakannya." jawabku singkat,aku berharap perempuan itu tidak semakin mendekatiku.


" Really ?" seru Jerica terlihat antusias,aku hanya tersenyum enteng.


" Really you have forgiven me ??" ucap kembali Jerica dengan nada bahagia.


Aku mengangguk.


" Ahh so sweet,Ay yakin jika You akan memafkan Ay." ucap Jerica tersenyum semeringah,ekspresi wajahnya begitu terpancar.


Aku menatap Jerica tanpa ekspresi.


" So,boleh tak Ay kembali sama You,Ay sadar jika you adalah lelaki yang terbaik yang pernah Ay temui." ungkap Jerica dengan berbinar-binar.


Aku merubah eksprsi wajahku lebih ekspresif,sehingga Jerica nampak tak sabar menunggu jawaban dariku.


" Ay paham,you masih sangat mencintai ay." kembali Jerica berbicara dengan begitu percaya diri.


Aku mendecih dengan tersenyum sinis,berani sekali ia berbicara seperti itu,setahu itu kah dia akan perasaanku selama ini kepada nya,dasar wanita munafikk !!


rutukku dengan muak.


" Joan,you boleh meminta apa saja dari ay untuk menebus segala kesalahan Ay terhadap You,Ay tau.Jika You sangat kecewa dengan atas apa yang Ay lakukan terhadap you waktu itu,dari itu Ay akan menebus semua kesalahan itu dengan cara apapun." ucap Jerica dengan sikap penuh drama hingga aku melihatnya semakin muak.


Aku menyandarkan tubuhku di sandaran kursi tersebut lalu menatap tajam ke arah perempuan tersebut.


" Tau darimana jika ini adalah my office?" tanyaku menatap dingin.


" Joan,Joan,tentu saja semua orang tau jika ini adalah office you,macam mana semua orang tau akan nama besar You Joan,and Ay tau semua nih dari media sosial, and nampak You berada di deretan pengusaha muda ternama,so Ay datang kembali kepada You untuk memperbaiki segalanya." jelas Jerica dengan tanpa beban.


Semudah itu ia mengatakan hal itu kepadaku,selama ini ia telah menggores luka yang begitu dalam,namun kini dengan mudahnya ia memintaku untuk kembali dengan tanpa beban,sungguh perempuan laknat.


Aku kembali mengumpat perempuan tersebut dengan geram,namun beruntung aku masih mampu mengendalikan perasaan marahku.


Aku tersenyum hampa,menatap perempuan itu dengan tak biasa.


" Oh jadi macam itu,kamu kembali dan mencari aku hanya karena aku berada di deretan pengusaha muda yang ternama,heuh pikiranmu terlalu naif Jerica." ucapku geram.


" Why ???" tanya pelan menatapku tanpa bersalah.


" Aku tidak seperti apa yang kau pikirkan,kau kini adalah bagian masalalu yang tak akan pernah akan kembali pada kehidupanku." ucapku menatap serius Jerica.


Jerica terpana mendengar pernyataanku.


" Joan,Ay bisa perbaiki segalanya demi apapun." kelak Jerica berusaha meyakinkanku.


Percaya kata-katanya neraka bagiku,aku menatap seksama perempuan tersebut.


" Sorry Jerica,aku tak bisa kembali dalam kehidupanmu." jawabku tegas.


Raut wajah Jerica berubah drastis setelah mendengar pernyataanku tersebut,ia terlihat terkejut sekaligus kecewa.


" What ???" pekiknya nyaris tertahan.


" Sorry,I'm married !" jawabku singkat tanpa babibu lagi aku berterus terang akan statusku saat ini.


Aku angkat salah satu jari tanganku dan aku tunjukan ke arah Jerica,sebuah cincin melingkar di jari manisku.


Jerica tercengang menatapku,wajah cantiknya terlihat begitu shok mendengar ucapanku,matanya membulat menatap cincin tersebut.


" No !!" ucapnya terbata,raut wajahnya terlihat terpukul hingga bibir seksinya bergetar hebat menahan perasaan yang hancur.


" So,kamu tidak perlu mengganggu kehidupanku lagi,because there is a heart to guard,that is my wife." ucapku pelan namun penuh makna.


Raut wajah Jerica memerah menahar rasa sakit sekaligus malu yang tak berkesudahan.


" Imposible !! this is no fun Joan,jelas saja Ay tak percaya begitu saja dengan apa yang you cakap,Ay yakin ini hanya cerita lucu untuk menghindari sikap You terhadap Ay." ungkap Jerica terlihat tak percaya dengan apa yang kukatakan.


" Mengertilah !! Jika aku sudah menjadi suami orang lain,jadi aku harap kamu menjaga sikap agar sikap kamu tidak menjadi hal buruk untukku." jelasku dengan kalimat penuh penekanan.


Jerica menatapku frustasi,ia tidak menyangka jika dirinya akan mendapati kenyaataan buruk akan kehidupannya.


" No,Ay tak percaya jika you sudah menikah,dan pastinya you sedang berbohong,you berdusta sama Ay,agar Ay tak lagi dekatin you."ujar Jerica sedikit berseru,ia tetap tidak percaya dengan apa yang aku katakan.


Aku tersenyum penuh cemooh.


" Aku tidak sedang berbohong ataupun bercanda,aku telah menikah dengan seorang perempuan yang begitu istimewa." balasku pelan nampun mampu terdengar sadis.


Jerica tertegun dengan napas yang begitu menderu.


" I'm married Jerica,dan aku lupa untuk memberi tau kamu akan hal ini." ujarku tandas.


Jerica terlihat mengurai kesedihannya menatapku dengan pilu,aku mampu menyakinkan perempuan itu jika aku sudah menikah.


Bibir mungil itu bergetar,ada bayangan bening mengolam di matanya.


" So perempuan macam mana yang telah you tikahi ?" tanyanya dengan bergetar.


" Kamu tidak perlu tau aku menikah dengan siapa,yang pasti perempuan itu begitu istimewa dalam hidupku." balasku dengan tegas.


Jerica menunduk berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya,dan aku berharap ini adalah kesempatan terakhir dia hadir dalam hidupku,aku berharap besar jika aku tidak di pertemukan kembali dengan perempuan macam Jerica.


" Aku berharap kamu tidak perlu hadir kembali dalam kehidupanku." ujarku pelan.


" Joan,beri ay kesempatan untuk memperbaiki segalanya,Ay tau ay salah,tapi bukan berarti You mengelabui ay dengan omong kosong you itu,Ay yakin you belum menikah saat ini." ujar kembali Jerica dengan sikap keras kepalanya,ia tidak percaya sepenuhnya jika aku sudah menikah.


" Up to you !! Apapun yang kau katakan aku tidak peduli,kamu akan mendapati aku nanti dengan seorang perempuan,she is my wife." ucapku semakin tegas.


Jerica menghela,ia sepertinya merasakan hatinya tertampar keras atas ucapanku yang sudah menolaknya dengan telak.


" Sorry ! Sepertinya aku tidak banyak waktu,ada banyak pekerjaan yang sedang menungguku." ucapku kembali,mengusir secara halus perempuan tersebut.


Jerica bergeming menatapku dengan berbagai perasaan.


" Joan pliss !" sergah Jerica mengiba.


Aku menatap panjang perempuan tersebut,betapa pun tidak aku merasakan apa yang dirasakan oleh Jerica saat ini,yaa aku pernah mengiba kepadanya dengan satu alasan agar ia tidak pergi dan tetap bersama ku,namun apa yang terjadi ?


Justru Jerica sampai hati ia pergi meninggalkanku dengan luka yang begitu dalam.


Aku percaya dengan sebuah kata tabur tuai,atau pun karma,karena apapun yang kita lakukan akan kembali kepada kita dalam bentuk yang sama.