
ANNISA terjaga dari lelapnya sebuah mimipi,matanya terlihat menyipit memastikan arah jarum jam yang tengah berdetak.Waktu telah menunjukan pukul tiga dini hari,ia pun dengan iklas melepaskan rasa ngantuknya yang begitu lekat di pelupuk matanya,dan mencoba untuk terbangun,ada rasa rindu yang begitu berat tersimpan dalam dadanya,ia akan bercerita banyak akan rindu ini kepada sang pemberi takdir,ia tak mampu mengatkan hal apapun tentang perasaanya terhadap orang lain termasuk Adam sang adik.
Ia begitu penutup rapat akan perasaan ini yang kini tengah di rasakannya.
Rindu akan bermunajat kepada sang Kholik atas apa yang tengah di rasanya saat ini,bahwa ada rasa cinta terhadap sesama mahluk ciptaaNya dan itu bukan lah cinta biasa yang ia rasakan,entah kenapa ia merasa jika dirinya mulai terperangkap dengan perasaanya sendiri.
Tapi sejenak ia menyadari jika perasaanya saat ini adalah perasaan ketidak mungkinan dirinya untuk bisa memiliki,ia sendiri pun tak mengenali akan sosok laki-laki yang tengah menjadi pusat perhatiannya tersebut.
Sosok laki-laki asing yang ia sering jumpai ketika ia hendak pergi bekerja,sosok lelaki asing yang sama sekali ia tak tau datangnya darimana,namun mampu mengalihkan separuh dunianya terhadap laki-laki tersebut.
Mengenal saja tidak,lalu bagaimana perasaan ini akan tersampaikan,sedangkan dirinya tak memiliki nyali sebesar itu untuk mendekatinya,sekalipun menatap wajahnya ia merasa berdosa,dan itu dosa yang tak terampuni.
Annisa menunduk merasakan perasaannya kian tak bertepi.
Dengan perasaan resah ia memaksakan diri untuk melakukan ibadah di sepertiga malam,mengadu,bermunajat,bahkan bercerita dengan begitu syahdu dengan sang pemilik dunia ini.
Kliikkk.....
Lampu kamarnya menyala,Annisa mempersiapkan diri untuk melaksanakan sholat malam,membiarkan tirai jendelanya terbuka,Annisa sengaja ia tidak menutup daun jendela kamarnya tersebut dan membiarkan angin malam datang menyapanya dalam keheningan malam.
Setelah mengambil air wudhu,Annisa menggelar tikar permadani,lalu mengenakan sebuah mukena.
Memulai setiap adegan sholat dengan begitu Khusu,menikmati setiap pergerakan sholat dengan begitu khidmat.
Annisa terpekur seorang diri,larut dalam buaian setiap bait do'a-do'anya,ia selalu bermunajat atas keselamatan dirinya beserta adik semata wayanganya yang selalu ikut kemanapun dia pergi.Dia begitu menyayangi adik laki-lakinya tersebut.
Di setiap pelantara do'anya ia selalu menyelipkan sebuah harapan besar akan masa depannya yang entah kepada siapa ia muarakan kasih dan sayangnya,namun yang pasti diam-diam ia menyelipkan sebuah do'a untuk seseorang yang begitu Asing baginya,entah kenapa ia selalu merasa dekat dengan laki-laki itu jika ia tengah berdo'a sesuatu tentangnya,bahkan ia merasa jika dirinya begitu merasakan berbeda setiap kali ia membayangkan sosoknya.
Annisa kian tertunduk,tak sanggup ia membayangkan sosok laki-laki tersebut.
Semudah itukah perasaanya tertaut kepada sosok laki-laki asiny itu ?
Cinta dalam diam,mungkin itulah yang pantas ia sebutkan.Tak ingin terlalu berdosa atas angan-angannya ia pun selalu mencoba menahan diri untuk menarik kembali harapan itu,ia tak ingin jika dirinya terjerat kembali dengan perasaan yang akan membuatnya kecewa.
" Aamiin,semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi hamba di setiap perjalanan kehidupan hamba." lirihnya seraya menelungkupkan wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menutup doanya dengan ******* napas berat.
*******
Sang mentari mengintip manja dari balik tirai kamar Annisa,cahayanya seketika menghangatkan kamar yang sedari tadi sudah rapih.
" Adam,Kakak berangkat duluan ya !" seru Annisa seraya hendak melangkah keluar seraya merapihkan beberapa buku yang sedang di bawanya.
" Kak,Kak tunggu !" sergah Adam menghentikan langkah Annisa yang sedang terburu-buru melangkah keluar.
" Ada apa ? " tanya Annisa menghentikan langkahnya dengan penasaran.
" Ada yang mau Adam bicarakan." ucap Adam dengan wajah serius.
" Nanti saja,Kakak lagi buru-buru." tolak Annisa mengabaikan permintaan sang adik.
" Tapi kak, " sela Adam tak lantas.
" Habis kamu pulang ngantor kita ngobrol ya,Kaka sudah di tungguin para murid di kampus." jelas Annisa melenggang ke luar.
Adam hanya melongo dengan perasaan sedikit kecewa.
Annisa pun berjalan dengan sesekali melihat jam yang melingkar cantik di tangan kirinya,ia terlihat begitu khawatir akan keterlambatannya.
Setelah memasuki ruangan lift,Annisa terlihat tak sabar ingin segera sampai ke lantai dasar,ia berharap waktu tidak berlalu dengan begitu cepat karena ia khawatir jika dirinya akan terlambat mengajar.
Annisa adalah seorang Dosen di pergguruan tinggi swasta di ibu kota,ia termasuk salah satu Dosen termuda di Universitas tersebut dan Annisa telah mendapatkan gelar S2.
Tak banyak yang tahu,jika Annisa adalah salah satu perempuan yang memiliki kepribadian yang unik,ia tidak begitu menyukai akan sebuah pergaulan,ia lebih menyukai berinteraksi langsung dengan murid-muridnya ketimbang ia harus bersosialisasi di sekitar tempat tinggalnya,bahkan ia tidak hobby bermedia sosial,dan ia pun tidak menyukai keramaian,bahkan dia termasuk tipe orang yang tak kenal maka tak sayang,mungkin selintas orang lain mengira ia perempuan sombong yang terkesan acuh,namun dirinya hanya ingin lebih menjaga kenyamannya hidupnya dan nyaman dari gangguan sebagian orang yang tak menyukai keberadaanya.
Annisa terlihat tak sabar menunggu pintu lift tersebut terbuka,berulang kali ia terlihat menghentak-hentakan kakinya yang tertutup kain bajunya yang panjang dengan perasaan tak tenang.
Tak lama pintu lift tersebut terbuka,dengan sigap Annisa tak menunggu lama langsung ia berjalan keluar,akan tetapi insiden kecil terjadi dan....
Brukkkk....
Annisa tertabrak seseorang yang tengah terburu-buru hendak memasuki lift tersebut,alhasil merekapun bertabrakan cukup kuat.
" ASTAGFIRULLAH !! " Pekikan Annisa cukup keras hingga terdengar jelas oleh seseorang yang menabraknya.
Seseorang yang menabraknya pun ikut terkejut,repleks ia tersentak seraya menatap ke arah Annisa.
Beberapa buku yang di bawa Annisa tercecer di lantai.
Sontak laki-laki itu pun merasa bersalah atas sikapnya tersebut,dan dengan terpaksa ia mengurungkan niatnya untuk segera memasuki lift tersebut,sejenak ia berniat ingin menolongin Annisa.
Laki-laki tersebut dengan terpaksa menolong Annisa untuk mengambil beberapa buku Annisa yang terjatuh di lantai.
" Soryy,sorry!! Aku tak sengaja." pinta laki-laki itu seraya membungkuk hendak mengambilkan buku yang berserakan di lantai.
" Tidak apa-apa,tidak usah ! aku bisa ambil sendiri." Sergah Annisa melarang laki-laki tersebut untuk mengambilkan buku-bukunya.
Laki-laki itu kemudian tertahan,dan dengan cepat Annisa segera mengambil satu-persatu buku-bukunya,sementara laki-laki tersebut hanya terdiam memperhatikan aksi Annisa tersebut.
" Maaf permisi !" pamit Annisa dengan sopan.
Ketika Annisa hendak melangkah kembali laki-laki itu segera menahannya.
" Tunggu.!!" Sergahnya cepat,lalu Annisa pun menahan langkahnya dan menolehku ke lelaki tersebut.
" Hmm,kamu,kamu tidak kenapa-kenapa ?" tanya lelaki itu terbata,sorot matanya terlihat khawatir.
"............"
Annisa tidak menjawab dia hanya menggeleng dengan tersenyum lembut,ia kembali hendak melangkah kembali.
" Oya,tunggu ! " sergah lagi laki-laki itu dengan cepat.
Annisa kembali menahan langkahnya dan menoleh kembali laki-laki tersebut menatapnya dengan berbagai perasaan.
" Sepertinya kita pernah bertemu ?" tanya laki-laki tersebut memberanikan diri untuk bertanya.
Annisa telihat memicingkan kedua matanya dengan raut wajah sedikit heran,ia berusaha berpura-pura untuk terkesan melupakan sesuatu,padahal dalam hatinya ia sudah tak sabar ingin segera enyah dari hadapan laki-laki tersebut.
Annisa berusaha mengingat-ngingat dengan raut wajah polos.
" Di toko buku !,yaa kita pernah jumpa di toko buku." sela laki-laki itu dengan cepat namun Annisa hanya tersenyum tanpa ekspresi,ternyata laki-laki itu cukup kuat menghapal betul akan pertemuannya,dalam hati kecil Annisa ia merasa bahagia mendengar pengakuan laki-laki tersebut,yang tak lantas melupakan raut wajahnya.
" Ya,kita pernah bertemu di toko buku." ucap kembali laki-laki tersebut menegaskan.
Annisa kembali hanya mengulas senyuman.
" Namaku Joan.Kamu ?" tanya laki-laki itu seraya mengulurkan tangannya untuk mengajak Annisa berkenalan.
Annisa menatap penuh arti ke arah tangan laki-laki tersebut,ia tak menduga akan secepat itu laki-laki tersebut mengajaknya berkenalan.
Annisa hanya tersenyum tak bereaksi, dan menatap penuh isyarat ke arah tangan laki-laki tersebut yang masih menggantung di udara.
" Maaf, saya Anisa." jawabnya lembut seraya mengangkat kedua tangannya di dadanya ia menolak secara halus jabat tangan laki-laki tersebut.
Sejenak laki-laki itu memadangi tangannya yang masih mengantung di udara,ia terlihat memperhatikan tangannya secara seksama,mungkin di benaknya bertanya-tanya kenapa Annisa tidak menerima jabat tangannya.
Laki-laki itu perlahan menarik tangannya dan menggetakan kelima jarinya dengan wajah terlihat linglung.
" Maaf,saya permisi !" pamit Annisa dengan tertunduk,lalu Annisa pun pergi meninggalkan laki-laki tersebut dengan begitu saja.
Laki-laki tersebut hanya melongo menatap kepergian Annisa.
Yang Annisa inginkan saat ini segera menjauh dari sosok laki-laki tersebut,dia tidak mau jika laki-laki tersebut mengetahui jika dirinya dalam kondisi yang benar-benar nervouse atas kehadiran laki-laki tersebut.
Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam,ia selalu meminta supaya dirinya tidak di pertemukan kembali dengan laki-laki tersebut,yang membuat dirinya selalu salah tingkah.
Namun nyatanya takdir berkata lain,justru ia di pertemukan kembali dengan tidak sengaja bertabrakan di lift dengan laki-laki tersebut.
Annisa menarik napas panjang,entah kenapa ruang geraknya serasa terbatas ketika ia harus bertemu kembali dengan laki-laki yang bernama Joan,dan kesempatan baik selalu berpihak kepadanya,ia selalu di beri kesempatan bertemu kembali dengan laki-laki Asing tersebut dengan momen yang berkesan.
Dari segi penampilan serta logat bahasanya Annisa dapat memastikan jika laki-laki tersebut bukanlah asli orang Indonesia,wajah orientalnya begitu kental di tekstur wajahnya.
Annisa mengulas senyuman ketika pikirannya di ingatkan sosok aktor tampan dari negri Korea,yaitu Lee men ho,yaa laki-laki itu tak beda jauh dengan paras aktor tersebut,penampilannya yang maskulin serta paras wajah yang begitu menawan,tubuh yang tak terlalu tegap tapi mampu membuatnya nyaman jika bersadar.
Sepanjang perjalanan otak nakal Annisa berkelana ke dimensi yang lain sehingga ia tersadar jika kelakuannya terlihat sang bodoh.
" Astagfirullahh,Annisa plis ini khayalan terlarang !!" serhahnya bergumannya dengan nada sentimen,ia berusaha menyadarkan bawah alam sadarnya untuk tidak terlalu jauh membayangkan sosok laki-laki yang berbama Joan.Dan ia pun tidak ingin larut dalam lamunan penuh dosa.