
ANNISA menatap jauh langit ibu kota yang terlihat begitu mendung dan di liputi awan hitam,tatapannya menerawang jauh.
Ada perasaan yang kini tengah menetap dihatinya, Semenjak ia berinteraksi langsung dengan pria itu ia merasakan jika perasaan timbul dan tumbuh semakin kuat,tak butuh waktu yang begitu lama yang ia butuhkan untuk merasakan kembali jatuh cinta,justru di waktu yang begitu singkat ini ia mampu merasakan perasaan yang dulu nyaris ia kubur dalam,dan tak ingin kembali merasakananya.
Namun Tuhan selalu berkata lain,di saat ia berencana memantapkan hatinya untuk tidak membuka hati kepada siapapun,tapi Tuhan memiliki rencana lain,Dia yang membolak balik kan hati para insan,dan dengan mudahnya Tuhan kembali menitipkan perasaan itu,perasaan yang begitu dasyat ketika merasakannya.
yaa..Annisa telah jatuh cinta kembali,jatuh cinta kepada sosok pria asing yang telah ia berikan semangat untuk tetap bertahan dalam keterpurukannya.
Seandainya pria itu satu keyakinan dengannya mungkin ia bisa berharap lebih darinya,namun keyakinan itu membuatnya berpikir ulang atas perasaanya saat ini.
Annisa menghela,menatap kian jauh ia tidak bisa membohongi akan perasaanya sendiri,yaa jika ada perasaan yang kini menetap di hatinya perasaan cinta yang tak mungkin ia ungkapkan begitu saja.
Ada rindu yang tak biasa ia rasakan ketika beberapa hari ini ia tak berjumpa dengan pria asing tersebut.
Entah kenapa ia mencemaskan akan ke adaan pria asing tersebut.
Terlepas ia menjadi motifatornya,justru kini berbalik keadaanya,entah kenapa ia membutuhkan hadirnya untuk memotifasi rasa spiritnya yang kini mulai surut.
Jujur saja,ia tak mungkin memendam sekian lama perasaan ini,namun ia tak ada kuasa untuk mengutarakannya,perlahan Annisa terlihat sedih merasakan hatinya kian menjeratnya dalam perangkap perasaanya sendiri.
Langit itu tak sama lagi,kini terasa kian menjauh,awan hitam membalut seluruh pandangannya,warna pekat itu seperti simbol akan keresahaan hatinya.
Ada yang lebih menyakitkan dari sekedar putus cinta,melainkan memendam perasaan yang kian hari kian bersemayang di dalam hatinya.
Ànnisa terperanjat ketika suara alarm berhasil membangunkannya,sontak Annisa terperanjat dari tidurnya dan segera terjaga.
" Astagfirullah,jam berapa ini ?" tanya dengan perasaan shok.
Annisa meringis menahan rasa sakit di kepalanya.
pukul sudah menunjukan jam tujuh pagi,itu artinya ia harus segera bergegas untuk segera beraktivitas,ia baru ingat jika hari ini ia ada jadwal seminar di salah satu kampus swasta di Jakarta.
Annisa memijit kepalanya mencoba meredakan rasa sakit yang kian terasa berdenyut hebat,ia mencoba menenangkan rasa sakitnya dengan sebuah obat yang tersipan di laci nakas tempat tidurnya,dengan sebotol air mineral ia menelan obat tersebut,dan ia berhadap rasa sakitnya akan segera reda.
Perlahan Annisa bangkit dari duduknya,walau rasa itu tidak serta merta hilang,namun ia berusaha untuk lebih tenang agar rasa sakitnya tidak semakin bereaksi keras.
Setelah beberapa menit berlalu,ia pun terlihat sudah siap untuk segera berangkat kerja,meski waktu tak banyak namun ia berusaha untuk mengaturnya dengan baik.
Dengan barang bawaan yang cukup banyak Annisa terlihat begitu kerepotan membawanya.
" Annisa mau aku bantu ?." tiba-tiba ada suara yang begitu dia kenal menyapanya.Annisa mendongkak lalu menatap kaget ke arah suara tersebut yang tiada lain Joan,ia datang secara tiba-tiba dan menghadangnya.
" Oh tidak terimaksih," Selanya dengan sedikit mengulum senyumannya,Annisa kembali hendak melanjutkan langkahnya dan berniat ingin berjalan melewati pria tersebut.
" Kamu sepertinya hari ini sibuk ya?" tanya Joan disela-sela langkahnya,lalu ia pun berusaha mengiringi langkah Annisa yang terlihat semakin cepat.
" Hari ini aku ada acara seminar dan kebetulan tadi aku terlambat bangun,jadi sedikit kesiangan." ucapnya seraya menoleh jam yang berada di tangan kirinya tersebut.
" Jadi kamu kesiangan ? tumben kamu kesiangan ?" tanya joan pelan.
" Lepas sholat subuh tadi aku tertidur kembali, karena kepalaku sedikit terasa sakit." jawabnya menoleh pria asing tersebut,namun ia tetap tidak berani untuk menatap wajahnya.
" Kamu sakit ?" tanya Joan tiba-tiba terlihat cemas dengan keadaan Annisa.
Annisa hanya tersenyum seraya mengalihkan kembali pandangannya ke arah yang lain.
" Tidak apa-apa,aku baik-baik saja,hanya sedikit pusing saja." selanya dengan kembali mempercepat langkahnya.
" Bagaimana jika aku antar kamu pake mobil ku ?" pinta Joan sejenak,ia berharap jika Annisa akan menerima tawarannya.
" Oh tidak terimakasih." jawab Annisa singkat.
Joan terlihat kehabisan cara untuk menarik perhatiaanya Annisa.
" Annisa," panggil pria tampan tersebut pelan.
Annisa masih tetap berjalan hanya saja ia menoleh sekilas,namun kembali menatap kedepan.
" Aku akan pamit sama kamu." sela Joan dengan cepat ia memotong langkah cepat Annisa.
Annisa shok,lalu dengan spontan ia menghentikan langkahnya dan memberanikan diri untuk menatap wajah pria asing tersebut,namun tidak dengan waktu yang lama ia pun kembali menundukan pandangannya.
Entah kenapa jatung Annisa berdebar hebat mendengar sebuah pamitan di telinganya.
" Aku ingin berpamitan sama kamu,karena lusa aku sudah tidak di Jakarta lagi, aku akan pulang." ucap Joan dengan menatap lurus wajah Annisa yang terkadang pipinya tersapu kain yang membalut di kepalanya tersebut.
Annisa dengan ragu kembali menatap wajah pria tersebut.
Annia tertergun dengan berbagai perasaan di benaknya.
" Aku telah memutuskan untuk kembali ke Singapur, aku sengaja menunggu kamu di lobby Apartemen kamu,hanya ingin berpamitan sama kamu." ucap Joan terbata,tenggorokan nya entah kenapa mendadak terasa serak.
Alis tebal perempuan cantik itu terangkat tinggi,sepertinya ia cukup terpukul dengan pernyataan Joan yang hendak kembali ke kampung halamannya.
" Aku nak cakap sesuatu sama kamu." ucap Joan lirih.
Annisa mendongkak,kini pandangannya sejajar dengan pria tampan tersebut.
" Kamu mau bicara sesuatu kepadaku ??" tanyanya dengan penuh ekspresi.
Entah kenapa hati perempuan sederhana itu tiba-tiba berdebar tak karuan,ia lupa jika dirinya sedang terlambat untuk berangkat kerja.
" Yaa,sebelum aku pergi,aku nak cakap sesuatu,aku ingin mengucapkan banyak terimakasih atas kepedulian kamu selama ini kepadaku." ucap Joan seraya menatap lurus wajah cantik Annisa dari jarak sedekat itu.
Annisa kembali tersenyum tipis setelah Joan mengatakan sesuatu hal yang membuatnya sedikit penasaran.
" Oh itu toh,sama-sama Joan hanya itu kesan yang mampu aku beri untuk kamu,aku hanya mampu memberikan sebuah suport,bahwa hidup ini akan terus berjalan tanpa bisa kita hentikan." balas Annisa dengan bahasa yang begitu halus.
" Kesan itulah yang membuat aku merasa yakin,jika aku mampu bisa kembali berdiri di atas kedua kakiku yang pernah cidera atas luka kehidupan." balas Joan tersenyum simpul.
" Berjalanlah kembali,tak ada yang tak mungkin dalam kehidupan ini,jika kamu percaya akan sebuah pertolongan,makan pertolongan Tuhan itu ada.Semoga perjalanan pulangmu menyenangkan hingga selamat sampai tujuan." ujar Annisa dengan suara yang begitu syahdu.
" Annisa," panggil kembali Joan.
Annisa menjawab dengan sebuah ekspresi.
" Annisa,aku merasa tak yakin jika aku akan bertemu kembali denganmu.Tapi aku berharap kita bisa berjumpa kembali di kesempatan yang lain." ujar Joan dengan suara berat.
" Bila ada takdirnya,kita pasti akan di pertemukan kembali." balas Annisa pelan.
" Aku pasti akan selalu mengingat akan kebaikanmu,dan mengenang atas kesan pertemuan ini yang begitu berarti dalam hidupku." Ucap Joan seraya tersenyum lembut.
" Hmmm...,sepertinya kamu berlebihan,aku tidak sebaik itu.Macam seorang pahlawan saja aku di kenang." ucap Annisa dengan menyunggingkan senyuman kecilnya.
" Betul itu,kamu itu lebih dari seorang pahlawan bagi kehidupannku." ucap Joan mulai menggoda Annisa,tapi Annisa justru hanya terlihat menggelengkan kepalanya seraya tersenyum canggung.
" Annisa,bagaimana caranya ya agar kita bisa bertemu kembali ?" tanya Joan menatap risau.
Annisa menoleh ke arah pria tersebut dan menatapnya cukup lama,ada perasaan yang tengah ia rasakan perasaan risau yang kian membuatnya dilema.
Annisa tersenyum datar
" Jika kamu suatu saat ingin bertemu kembali dengan aku,maka kamu cukup berdoa saja. " jawab Annisa dengan lembut lalu ia kembali menatap pria tersebut dengan tatapan syahdu.
" Semudah itu ?" tanya Joan heran.
Annisa mengangguk pelan.
" Lalu bagaimana cara berdoan yang baik agar Doa itu terkabul sempurna?" tanya kembali Joan dengan menatap penuh arti ke arah Annisa yang mulai berani menatap pria itu lebih lama.
Dan saat ini lah aku melihat Annisa tak bersikap kaku lagi di saat berbicara di hadapanku.
" Kamu cukup hanya menadahkan kedua tanganmu dan meminta sama TUHAN agar kamu bisa di pertemukan kembali denganku." jawabnya dengan tersenyum lembut.
Joan mengernyit menatap tak mengerti. Apa hanya dengan berkata seperti itu,lantas Do'a itu terkabul ?? tanya Joan membatin.
" Kenapa harus menadahkan kedua tangan ?" lagi lagi Joan bertanya untuk memancing agar Annisa menatapnya kembali.
Annisa pun mengalihkan pandangannya ke arah wajah pria tersebut,menatap penuh garis wajahnya.
Annisa mendesah,ia akan merindukanya momen seperti ini,dimana momen yang selalu menghadirkan pemahaman baru.
ia tidak bisa membayangkan jika takdir tidak mempertemukan kembali dengan sosok pria asing tersebut.
" Karena TUHAN akan malu menolak do'anya seorang hamba yang tulus ketika dia berdoa dengan mengangkat kedua tangannya itu, untuk sebuah permohonan,dan TUHAN juga tidak akan membiarkan hambanya menurunkan tangannya dalam keadaan tangan yang kosong." jelasnya dengan sedikit menatap Joan lebih dalam.
Sejenak Joan menatapnya begitu panjang,sorot mata perempuan itu terlihat penuh arti.
" Dengan semudah itu ?" tanya Joan semakin penasaran lalu Annisa mengangguk pelan.
" Cobalah." Jawabnya singkat.
" Tapi,apakah kamu bersedia jika bertemu aku kembali ?" tanya pria tersebut dengan penuh harapan.
" Jika ada takdir dari TUHAN kenapa tidak ? dan itu bukan hal yang mustahilkan,jika pertemuan kita nanti akan di mulai cerita baru." ucapnya semakin lembut nada bicaranya.
Joan terpana dengan kata-kata yang di ucapkan Annisa yang begitu dalam akan maknanya.
Yaa Tuhan !!,apa maksud dari perkataan perempuan ini tentang pertemuan di cerita lain ??adakah takdirnya untukku ??
Joan membatin dengan menatap kian dalam wajahnya Annisa.
" Annisa,semenjak aku bertemu denganmu ada banyak hal kebaikan yang kudapatkan darimu,dan setidaknya itu bisa merubah sedikit sudut pandangku dalam kehidupan." ucap Joan seraya terus memandangi wajahnya Annisa, tak sedikitpun bergeser bola mata pria itu menatapnya dengan hati yang terus bergetar begitu hebatnya.
" Alhamdulillah jika itu bisa membuatmu lebih baik,dan aku merasa bahagia mendengarnya." balas Annisa seraya menyempatkan matanya menengok ke arah jam tangan miliknya.
" Masyallah !! Joan aku benar-benar terlambat." pekiknya histeris, Annisa memekik cukup keras hingga Joan ikut merasa terkejut.
" Maafkan aku Joan,aku tidak bisa berlama-lama." ujar Annisa dengan bergegas berjalan meninggalkan pria asing tersebut.
Jaon hanya melongo menatap dengan perasaan kecewa.
Annisa berhenti sejenak,lalu menoleh kembali ke arah pria asing tersebut.
" Semoga perjalananmu menyenangkan,dan selamat sampai tujuan !" ucapnya tersenyum lembut,lalu ia pun berlari kecil meninggalkan pria tersebut yang tak sempat membalas ucapannya.
Annisa terlihat menyetop sebuah taxsi,lalu ia pun bergegas memasukinya.
Taxsi tersebut melaju meninggalkan Joan seorang diri yang mengantarkannya dengan tatapan panjangnya.
Annisa menghela napas panjang merasakan sesak di dada kian membuncah,kenapa tidak pria yang selama ini ia kagumi akan pergi meninggalkannya,pergi meninggalkannya tanpa mengetahui isi hatinya selama ini di rasakan terhadapnya,perasaan kecewa itu kian memenuhi isi hatinya.
Ada yang sakit namun tidak berdarah,itulah kiranya perasaan yang tengah ia rasakan saat ini ,cintanya yang tak sempat ia ucapkan bahkan tersampaikan kini berubah menjadi gundukan rasa kekecewaan,kini yang tersisa hanya ada cinta dalam diamnya.
Annisa menatap jauh ke luar kaca mobil taxsi tersebut,berbagai perasaan dan pikiran berseliweran memadati dalam benaknya,entahlah ini seperti mimpi buruk yang mulai menghantui pikirannya,logikannya terus menyusun sebuah kemungkinan,jika dirinya dapatkah kembali bertemu dengan pria tersebut,
Pria asing yang telah membuatnya kembali bangkit dari luka lama,namun justru pria tersebut menambah luka dalam hatinya.
Yaa pria itu akan segera pergi dan meninggalkan hati yang tak sempat memiliki.
Perlahan ia merasakan jika kedua matanya mulai basah,entah kenapa ia begitu terpukul atas kabar yang di sampaikan Joan untuk dirinya.
Pria itu akan segera kembali ke negri asalnya,dan entah berapa lama ia akan bertemu kembali dengannya,mungkinkan takdir itu akan kembali mempertemukannya,ataukah sebaliknya ???
Annisa menatap hampa,perasaanya kian tak berdaya.
Kekecewaan itu kembali ia rasakan tanpa memilah waktu dan ke adaan kini menjamahnya kembali.
Annisa merutuk menyalahkan atas perasaanya.
Yaa dia salah telah menyimpan perasaan yang tak mungkin terbalaskan.
Inilah perasaan yang selalu di takutkan selain pada kecewa ya sakit hati,sakit hati yang mampu mengembalikan rasa trauma yang hebat.
Annisa menangis merasakan kekecewaan hatinya kian terasa patah kembali atas cinta yang tak tersampaikan.
Selama ini ia mampu menguatkan orang lain,tapi tidak berlaku pada dirinya.
Annisa melibat bibirnya dan mengigit ujung bibirnya,menahan perasaan yang kian terasa pahit.
************