ONE DAY

ONE DAY
ONE DAY Episode 24



ANNISA tersentak setelah bunyi nada dering ponselnya berhasil membangunkan tidurnya,ia pun menoleh ke arah ponsel itu berada,lalu mengambilnya dan membawa kehadapannya,ia menyalakan layar notifikasi ponselnya tersebut dan beberapa panggilan tertera jelas di notifikasi ponselnya tersebut.


Dengan masih menggunakan mukenanya Annisa terlihat menatap linglung,lalu di tengoknya jam yang menggantung di dingding kamarnya,dan ia pun alangkah terkejut setelah melihat arah jarum jam tersebut.


Hari ini dia sudah ada janji dengan beberapa muridnya tapi sepertinya ia sedikit terlambat.


Efek dari rasa sakit di kepalanya mengakibatkan ia tertidur kembali selepas sholat subuh tadi.


Annisa memegangi kepalanya yang masih terasa berdenyut,entah kenapa rasa sakit itu tak mau hilang dari kepalanya.


Dengan terpaksa ia pun menguatkan diri untuk bangkit lalu bersiap-siap untuk menuju kampus.


Setelah ia keluar dari Afartemennya ia pun berjalan cukup jauh untuk menyetop sebuah taxsi,di rasanya kesehatan tubuhnya kali ini memang sedikit berbeda.


" Annisa !! " seru seseorang memanggil dirinya.


Mendengar namanya ada yang memanggil Annisa menoleh dan memperlambat langkahnya,ia pun melihat ke arah suara yang memanggilnya, seseorang tengah tersenyum manis kepadanya.


Annisa membalas dengan tersenyum tanpa ekspresi dan ia pun berniat untuk melanjutkan kembali langkahnya.


" Tunggu Annisa !" seru kembali seseorang itu berniat ingin mengahampiri Annisa,namun Annisa terdengar berbseru kecil kepadanya.


" Maaf ! Saya lagi terburu-buru." balasnya dengan menyimpan kedua tangan didadanya sebagai tanda permohonan maaf.


" Tapi Annisa aku ingin bicara sesuatu sama kamu." sergah seseorang itu tak kalah cepat.


Annisa menghentikan langkahnya lalu membalikan kembali badannya dan menghadap ke arah seseorang itu, yang tiada lain Joan.


Kulit kening Annisa mengkerut menampilkan kerutan cantik di dahi mulusnya.


" Berbicara padaku?" tanya Annisa menatap lurus.


" Ya !" jawab Joan singkat.


Annisa terlihat mempertimbangkan dengan perasaan heran.


" Tapi maaf,sepertinya saya sedang buru-buru,soalnya saya sudah ada janji hari ini." jelasnya dengan lembut.


" Ada waktu senggang untuk ku ? Mungkin nanti sore ?" tanya Joan berusaha mencari kesempatan.


Annisa berpikir sejenak.


" Aku tidak tahu,tapi sepertinya hari ini aku sedang sibuk sekali." ujar Annisa berusaha menolak permintaan laki-laki itu secara tak langsung.


" Bagaimana jika kita atur waktu untuk sebuah pertemuan ?" usul Joan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari cara supaya Annisa mau menerima ajakannya.


" Pertemuan ?" Annisa mengernyitkan kedua alisnya dengan heran.


" Yaa kita bertemu di suatu tempat dan ngobrol-ngobrol." Imbuh Joan dengan tersenyum penuh pesona.


Annisa menghela,kenapa laki-laki ini berinisiatif mengatur pertemuan dengannya,tentu saja hal ini membuat ia merasa keberatan.


Annisa berharap ia mampu menolak inisiatif laki-laki tersebut secara baik-baik.


Annisa berpikir sejenak,memlncoba mempertimbangkan,dan sepettinya tak ada alasan untuk menerima tawaran laki-laki tersebut.


" Mohon maaf,sepertinya aku tidak bisa,lagi pula saya tidak bisa berbicara hanya berdua saja,nanti takutnya akan menjadi fitnah bagi kita berdua,karena kita ini bukan muhrimnya." Jelas Annisa tegas.


Joan menatap heran atas ucapan yang di lontarkan Annisa terhadapnya.


Kedua alis laki-laki tersebut naik turun merasa tidak paham dengan apa yang dikatakan Annisa tentang sebuah arti kata fitnah ??


" Fitnah ,?? Memangnya apa yang akan kita lakukan ?? "


tanya Joan menatap lurus Annisa.


Annisa tersenyum canngung,rasanya tidak mungkin menjelaskan secara detail apa yang di pertanyakan Joan perihal Fitnah,waktu dia sudah tak banyak.


" Maksud kamu apa ?" Joan mencoba bertanya kembali atas apa yang di sampaikan Annisa.


Namun baru saja Joan berniat ingin berbicara kembali Annisa terlebih dahulu berbicara kepadanya.


" Maaf,saya permisi dulu,saya sudah terlambat." Pamit Annisa seraya meninggalkan Joan yang masih melongo dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.


Annisa menarik napas panjang rasanya tak habis pikir jika Joan mulai terang-terangan mengajaknya bertemu,tentu saja sikap Joan mulai terasa membebani pikirannya,ada apa laki-laki Asing itu ingin berbicara dengan nya ??


Annisa mencoba menerka-nerka.


Tak dapat di pungkiri hati perempuan mana yang tidak bahagia jika melihat sikap seseorang yang selama ini menjadi do'anya sedikit memberikan reaksi yang berbeda.


Annisa menggeleng,berusaha menepis perasaan itu ia tidak ingin larut dalam jeratan setan yang menghasutnya dengan sebuah buayan rasa yang indah.


Hari ini adalah jadwal Annisa mengajar kelas,namun entah kenapa hari ini ia terlihat begitu lebih santai,tidak di buru oleh waktu.


Ia berusaha menikmati setiap proses dan resiko dari pekerjaanya tersebut,meski badannya terasa ringkih ketika ia harus berkutat dengan pekerjaanya sebagai seorang Dosen.


Pekerjaan yang tak mudah ia lakukan,ia selalu di hadapkan dengan berbagai karakter dan mood dari para murid-muridnya,namun ia selalu berusaha menikmati dari sgala prosese tersebut,menikmati setiap permasalahan atau hal yang membuatnya lelah.


Dengan memeluk beberapa buku di dekapannya Annisa terlihat santai menunggu pintu lift tersebut terbuka,dan tak berapa lama kemudian suara dentingan lift berbunyi,pintu lift tersebut pun terbuka.


" Assalamuallaikum Kak Nisa.." sapa Adam dengan lembut ketika Annisa hendak keluar dari dalam lift tersebut.


Annisa tersenyum semeringah ketika melihat sang adik menyapanya.


" Wa'alaikumsalam,kamu mau kemana Dam?" Tanya Annisa sambil menatap ke arah laki-laki yang berada di samping adiknya,namun dengan cepat ia pun kembali menggeser pandangannya untuk menatap sang Adik.


" Adam hendak sholat Dhuha dulu Kak,ke besmant." balas Adam tersenyum.


Entah kenapa perasaan Annisa berdebar hebat ketika melihat senyuman laki-laki tersebut.


Annisa tidak menjawab dia hanya manggut penuh hormat ke arah laki-laki tersebut dengan ekspresi wajah dingin.


Adam mengernyit melihat ke akraban laki-laki tersebut dengan sang Kakanya.


" Loh,Kak Nisa kenal dengan Pak Joan ?" tanya Adam seraya menoleh ke arah Joan yang berdiri di sampingnya,Annisa kembali mengangguk dengan mengulas senyuman yang tak pasti.


" Kita baru saja kenal beberapa hari yang lalu,iya kan Annisa?" sahut Joan melempar tatapan yang tak biasa ke arah Annisa.


Raut wahah Annisa memerah mendengar perkataannya Joan,tentu saja hal ini membuatnya merasa tidak enak jika di ketahui adiknya.


Adam terlihat tersenyum penuh arti ke arah Kakak nya,ada sesuatu hal yang ia tengah ia rasakan saat ini.


" Pak Joan ikut juga sama kamu dam ?" Tanya Annisa mengalihkan pembicaran dengan tetap menjaga pandangannya.


" Pak Joan hanya menemani ku saja Kak." terang Adam dengan menoleh kembali ke arah Joan,namun sekilas sorot matanya terlihat menatap penuh pertanyaan ke arah sang Kakak setelah sikap keduanya tak lagi canngung.


Sekilas Annisa menatap kembali ke arah Joan,menatap wajah laki-laki itu dengan jarak tak lagi jauh,pesona laki-laki ini memang tak bisa di pungkiri,yaa seorang Joan mampu menarik perhatiannya sekaligus membangkitkan kembali perasaanya yang sekian lama terabaikan,akibat trauma dengan perasaan yang tak pernah kecewa.


Annisa dapat melihat jelas gambar wajah laki-laki tersebut,namun dengan cepat ia pun kembali segera mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.


" Yaa siapa tahu Pak Joan dapat hidayah Kak Nisa,Aamiin." tiba-tiba Adam berceloteh dengan sedikit menggoda.


Annisa kembali menatap ke arah Joan dengan tersenyum penuh arti.


" Aamiin." Annisa menimpalinya dengan tersenyum lembut.Sontak saja ucapan Adam membuat wajah Joan memias.


Annisa melepaskan pandangannya ke arah Joan namun ia kembali menunduk dengan tersenyum.


" Tidak seperti itu juga Annisa." sela joan cepat dengan tersenyum malu,niat hanya ingin meralat celotehannya Adam,namun justru Anisa bereaksi lain terhadap sergahan laki-laki tersebut.


" Baiklah kalau begitu Adam ke musola dulu ya Kak Nis. !." Pamit Adam dengan penuh rasa hormat terhadap Kakaknya.


Annisa tidak menjawab dia hanya mengangguk pelan.


" Assalamualaikum " Pamit Adam dengan pelan.


" Walaikusalam." Balas Annisa tak kalah lembutnya.


" Mari Annisa." Pamit Joan pelan ia berharap Annisa akan tersenyum sebelum ia melangkah pergi meninggalkannya, namun sayang Annisa hanya mengangguk saja dan berlalu tanpa berbicara sedikitpun.


Sepanjang perjalanan pikiran Annisa tak henti-hentinya tertuju kepada sosok laki-laki tersebut,kenapa akhir-akhir ini laki-laki tampan itu selalu muncul di ruang pribadinya,entah hanya kebetulan entah ini sebuah takdir,namun ia berharap ia tidak sedang menantikan sesuatu hal yang tak pasti darinya.


Annisa kembali menepis angan-angannya setelah ia di ingatkan kembali jika di antara laki-laki itu ada banyak perbedaan yang membentang dan hal itu rupanya tidak akan bisa ia lewati begitu saja,Annisa tersenyum sendiri,rasanya ia hanya korban dari perasaan geernya saja.


Mana mungkin sekelas laki-laki tanpan itu mau melirik dirinya, sedangkan wanita yang bersamanya saja wanita cantik nan seksi,jelas dirinya bukan lah salah satu wanita idamannya.


Annisa menggeleng dengan tersenyum-senyum,bodoh dan tolo memang jarak yang tak terlalu jauh,hanya berbeda satu garis,ketika orang yang sedang merasakan jatuh cinta bisa dikatakan bodoh dan tolol,di bodohkan dengan perasaanya dan bisa juga di tololkan dengan cintanya.


Itulah cinta,selalu menjadi tipu daya hati setiap manusia.


-------------- 


Annisa terpekur seorang diri,hanyut dalam lantunan Do'a-do'a yang di panjatkan.


Entah kenapa Do'a yang selalu di gaumkan saat ini Do'a tentang perasaanya.


Setelah sekian lama ia menutup diri dari perasaan cintanya,namun justru kini hatinya perlahan terbuka dengan kehadiran sosok laki-laki Asing tersebut.


Semenjak ia melihat laki-laki itu ia selalu merasakan kegelisahan serta keresahan yang tiada tara,bukan karena ingin rasa memiliki,namun takut akan sesuatu hal yang akan menyakiti perasaanya lagi.


Tidak menutup kemungkinan,perlahan tapi pasti perasaan ini akan bermuara pada satu perasaan yaitu cinta,bukannya ia takut jatuh cinta lagi,namun ia takut untuk merasakan sakitnya patah hati di setiap ia merasakan kembali perasaan cintanya.


Yaa tak hanya perasaan saat ini,jauh sebelum ia mengenal sosok laki-laki asing ini,terlebih dahulu ia telah menambatkan hatinya pada sosok laki-laki yang begitu sempurna,hingga takdir Tuhan berkata lain,ketika mereka di pertemukan dalam sebuah ta'ruf namun restu tak mereka dapati dari salah satu kedua pihak,sehingga mereka pun memutuskan untuk mengakhiri proses taaruf tersebut.


Sakit memang,tapi semua itu harus ia terima,cinta itu tak sekokoh karang di lautan,ketika ia harus menyerah dalam balutan ketidak setujuan orang tua sang pujaan hati.


Luka itu masih menganga,dan masih terasa perih,Annisa harus berjuang keras untuk mengubur rasa itu,rasa yang tak akan hilang dalam sekejap mata dan tak semudah membalikan telapak tangan untuk mengembalikan hati yang pernah kecewa.


Annisa bersujud bermunajat agar hatinya tetap terjaga,tak ingin hatinya kembali terluka,ia meminta agar sang pemilik hati menjaganya dari rasa sakit yang tak di inginkannya.


Menyukai seseorang yang tak pasti adalah satu kebodohan yang akan menjadi bahan tawa setiap manusia yang mengetahuinya.


Bukan karena tak mampu,namun lebih menjaga dari hal yang tak di inginkan.


Jika ia bersedia,dia mampu saja membuka diri untuk para insan yang bersedia menerima perasaanya,dia cantik,memiliki banyak talenta yang tak di miliki setiap wanita lainnya,namun bukan itu yang mau di pertontonkan dia hanya memiliki harapan untuk di cintai segenap hatinya tanpa harus terhalang oleh sebuah restu.


Selama ini Annisa begitu menjadi sosok yang rapuh,dan lebih tertutup atas apa yang telah terjadi kepadanya.


Lima tahun mengenal sosok laki-laki yang bernama Alfin yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta,hingga ia di pertemukan dalam sebuah ikatan taaruf,tapi itulah takdir ikatan itu tak lantas melaju ke pelaminan,justru malah kandas terhalang sebuah restu.


Tak terasa Annisa menangis dalam sujud panjangnya,ia merasakan perasaannya begitu berat jika harus mengingat kembali tentang perasaan itu.


Bukan so lebay atau terlalu di dramatisir,namun kenyataanya perasaan itu tidak bisa di bohongi,jika ia berharap besar ingin menjadi seorang makmum bagi sosok seorang Alfin.


Dan apa yang di rasakannya saat ini percis apa yang ia rasakan terhadap Joan,sosok laki-laki Asing yang sering di jumpainya itu,kini sosoknya hadir memenuhi ruang hatinya.


Entah kenapa Annisa selalu merasa ada sesuatu hal yang lain dalam sosok laki-laki Asing tersebut,sosok yang mampu mengulang kembali perasaan yang terbenam selama ini,sakit hati karena masa lalu mampu ia redam dengan kehadiran sosok laki-laki tersebut.


Sosok itu mengajarkannya bahwa masa depan tidak akan pernah sesuram masa lalu.


Masa lalu adalah sebuah kenangan yang tak akan kembali dengan bentuk apapun,dan masa depan adalah masa yang penuh harapan yang akan datang menjamaahnya.