
ANNISA terlihat menatap lelah kesekitarnya,ada perasaan yang begitu terasa penat di hatinya ketika rasa lelah mulai merorong perasaanya.
Sekian lama ia menjalani rutinitas sebagai seorang pengajar serta pembimbing,dengan tiada hentinya ia mengabdi dengan begitu tulus ,setiap harinya selalu di sibukan dengan jadwal pelajaran hingga seminar,tak jarang dia pun selalu di minta untuk menjadi seorang mentor dalam acara-acara tertentu.
Rasa lelah itu entah kenapa berkurang,menyurut begitu saja tak kala kesempatan dan waktu mempertemukan nya kembali dengan pria asing tersebut,entah kenapa dorongan kali ini begitu sangat istimewa sehingga ia berani untuk menyapa laki-laki tersebut.
" Assalamualaikum..!!" sapa Annisa dengan suara lembut Joan terdiam dia tidak menjawab dengan apa yang di ucapkan Annisa,pria yang sering di sebut laki-laki asing tersebut menoleh ke arah pemilik suara lembut tersebut.
Annisa tersenyum ke arahnya dan berdiri lurus tepat di belakangnya.
" Annisa..!!Kok kamu ada disini ?" Tanya Joan dengan perasaan heran.
" Yaa.Kebetulan aku habis private di sekitar sini dan tak sengaja aku melihat anda." Ucap Annisa dengan sopan.
Joan mengelus tengkuknya dengan tersenyum kaku.
" Kenapa sih kamu harus menyebut aku dengan anda,anda dan anda !! apa kamu lupa dengan namaku,pormal sekali kamu memanggilku dengan sebutan anda.l,seakan-akan aku sedang menjadi seorang lawyer nya kamu." ujar Joan menatap tidak suka atas sikap perempuan sederhana tersebut.
Annisa terkekeh,entah kenapa ia merasa lucu melihat sikap joan yang selalu mempersoalkan dirinya jika memanggil pria asing tersebut.
Annisa menggeleng dengan tersenyum begitu eksotis hingga membuat Joan candu menatapnya,senyuman yang tak akan pernah lekang oleh waktu dan hilanh dari ingatannya.
" Kok kamu malah tersenyum,memangnya ada yang lucu dengan ucapanku ?" tanya Joan menyeringah kesal.
" Tidak,sama sekali tidak ada yang lucu,hanya saja aku merasa tertarik saja untuk tersenyum ketika an...,opss maksudku ketika kamu selalu protes atas apa yang aku sebut." ujar Annisa dengan masih tersenyum lebar.
Joan menggaruk kepalanya yang tak gatal,entah kenapa ia begitu kritis jika mendengar Annisa salah menyebut dirinya.Joan terlihat ikut tersenyum.
" Oya kamu habis private dimana ?" tanya Joan mengalihkan pembicaraan.
" Losmen yang paling ujung,kebetulan salah satu mahasiswiku sudah seminggu ini tidak masuk di jadwal mata pelajaranku di karenakan dia sakit jadi dia memintaku untuk mengulas beberapa materi perkuliahan dirumahnya." Ucap Annisa sambil tersenyum ramah.
" Lalu kamu disini lagi ngapain ?" Sejurus kemudian Annisa kembali bertanya kepada pria asing tersebut.
" Hmm... !!aku lagi mencari pekerjaan yang baru." balas Joan dengan sedikit ragu.
Entah kenapa pria asing tersebut merasa kurang percaya diri ketika di hadapkan Annisa kali ini,sepertinya ia enggan untuk menjelaskan apa yang sedang di lakukan saat ini.
" Baiklah,aku doakan semoga kamu mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus lagi.Ingat kesuksesan itu hasil dari sebuah kegagalan serta kesabaran." ucap Annisa berkata kembali dengan di sertai senyuman yang begitu menawan.
Joan terdiam ia menatap begitu dalam ke arah Annisa.
Melihat sikap pria asing itu hanya bengong Annisa mencoba memanggilnya.
" Joan !" panggil Annisa cukup keras.
Joan masih terdiam dengan senyuman anehnya,entah kemana pikirannya saat ini.
" Joan,kok kamu malah bengong, ada apa ?" Suara lembut Annisa membuyarkan semua halusinasi pria asing tersebut.
" Oh oh.Tidak apa-apa !!" jawab Joan mendadak gugup dan seketika perasaannya menjadi linglung.
" Jangan terlalu di jadikan sebuah beban akan masalah hidup ini,coba ikutin saja alur dan aturannya.Aturan yang bisa membingbing alur kita ke hal yang lebih baik lagi,dan sekiranya jika aturan itu tidak baik maka kamu jangan mengikutinya,karna akan banyak aturan yang di buat oleh manusianya itu sendiri sehingga pada akhirnya aturan tersebut bisa melanggar aturannya Tuhan.
Karena aturan Tuhan lah yang terbaik bagi kita untuk di jalankan." Jelas Annisa dengan khas gayanya yang begitu tenang.
Joan tersenyum kagum ke arah Annisa.
" Pantas saja kamu menjadi seorang dosen psikolog,perkataanmu selalu membangkitkan semangat hidup seseorang,aku yakin jika para mahasiswa dan mahasiswi kamu merasa senang apabila di kasih pencerahan oleh kamu,soalnya Dosennya begitu sangat menyenangkan cara penyampaiannya." puji Joan seraya tersenyum tipis ke Annisa.
Annisa menatap canggung dengan perasaan tak enak.
" Aah kamu jangan terlalu berlebihan memujiku,kadang kala pujian itu adalah teror yang tak nampak." sela Annisa dengan tersipu enteng.
Joan mengernyit mendengar Annisa menolak pujiannya tersebut.
" Teror ??? Apakah aku terlihat sedang meneror kamu ?" tanya Joan dengan tersenyum lebar,ia semakin candu melihat sikap Annisa yang sudah tak malu-malu bercanda dengannya.
" Yaa,berawal dari sebuah pujian seseorang akan lupa diri hingga tumbang dengan pujian tersebut,terkadang seseorang ketika mendapat sebuah pujian dia merasa tinggi hati dan hal itulah yang menyebabkan lahirnya sebuah kesombongan yang akan menjatuhkan dirinya secara perlahan tapi pasti." jelas Annisa begitu humble.
Lagi-lagi pria asing tersebut di buatnya terpana atas perkataan yang keluar dari mukutnya Annisa.
Annisa benar-benar memiliki jiwa yang begitu mapan dan dewasa.
Joan menghela,dirasa apa yang di katakan Annisa merujuk pada kebenaran.
" Tapi itu benar Annisa,aku memuji kamu dengan hati yang tulus,tanpa ada niat untuk menjatuhkanmu." sergah Joan dengan sedikit menggodanya.
Annisa terlihat merespon dengan baik,ia menganggukan kepalanya lebih dari dua kali.
" Ya ya,terimakasih banyak atas pujiannya." balas Annisa menatap ragu-ragu.
" Kamu tak hanya cerdas melainkan sikap kamu sangat baik." kembali Joan menghujani Annisa dengan pujiannya.
Annisa mendilak manja lalu menatap laki-laki asing tersebut dengan perasaan tak karuan.
" Kamu hanya mengenalku hanya lewat nasihatku,tapi tidak dengan keseharianku." balas Annisa tersenyum datar.
" Jika nasihatmu saja bisa membuat berarti,aku yakin jika keseharian kamu lebih berarti lagi." ujar Joan tak mau kalah saing.
Annisa menunduk menyembunyikan perasaanya yang tiba-tiba bergejolak tak karuan.
Joan masih menatapnya dengan rasa candu.
" Kamu harus tau,jika manusia hidup hanya sekedar napas maka itu bukan lah hidup melainkan hanya bernapas saja.Karena hidup tanpa memberikan sebuah kebaikan maka kita bukan hidup melainkan hanya numpang bernapas saja di dunia ini." Ucapnya dengan begitu santun.Joan semakin terpana atas sikapnya Annisa bereaksi lain ketika di pujinya.
" Ketika kita memberi sebuah kebaikan kepada orang lain dan kebaikan itu setidaknya dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik, maka itu lah hal yang dikatakan benar-benar hidup." Tandas Annisa kembali dengan lugas.
Kata katanya mampu kembali mengubah sudut pandang kehidupan pria asing tersebut,yang selama ini hanya fokus terhadap kehidupan sendiri tanpa memikirkan hal yang lain.
Joan terdiam,menarik napas dengan begitu dalam.
Annisa banyak mengenalkan kebaikan kepadanya.
" kamu tau ikhlas ?" sejurus Annisa melontarkan satu pertanyaan yang sedikit membuat pria asing itu tak mampu menemukan jawaban yang tersedia di otaknya,dengan rasa malu Joan menggelengkan kepalanya.
" Iklas adalah sikap tulus serta rela walaupun sesakit apapun kehidupan kita,kita rela menerimanya,karna kita harus selalu yakin jikaTUHAN akan mengganti semua ketulusan kita dengan hal yang menakjubkan,yakin lah One day kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan selama ini,maka di balik hikmahnya ini lah kamu harus bisa bersabar atas cobaan hidup yang Tuhan beri,maka kamu pun akan mendapatkan keberkahan dari permasalahan yang telah terjadi dalam hidup kamu." Jelas Annisa dengan di selingi senyuman yang begitu tulus,hingga otak pria asing tersebut berhasil traveling.
" Keberkahan,apa itu ?" tanya Joan menatap sembilu ke arah Annisa yang mulai duduk di sampingnya walau dengan membuat jarak tak begitu dekat.
" Keberkahan itu,karunia Tuhan yang mendatangkan sebuah kenikmatan dan kebahagian bagi kehidupan umat manusia,atau bisa jadi hadiah kebaikan yang begitu istimewa dibalik sebuah ujian yang berat ini.Jadi di balik kejadian atau musibah yang menimpamu itu akan ada keberkahan serta pelajarannya yang sangat berharga,agar kamu lebih iklas serta kuat dalam menghadapi segala persoalan hidup. Karena ketika kamu sudah merasa iklas aku yakin kamu akan mendapatkan yang terbaik apapun itu hasilnya pasti akan begitu berkah." Jelas Annisa dengan kosakata yang begitu mudah untuk di pahami.
Joan terdiam dan berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Annisa tanpa ada rasa amarah sedikitpun tiba-tiba hati pria tersebut merasa luluh serta termotifasi dengan apa yang telah Annisa sampaikan kepadanya bahkan ada beberapa kalimat yang mampu menjadi penyemangatnya untuk kembali bangkit.
" Masyallah !! Maaf Joan sepertinya sudah Ashar aku harus segera sholat." seru Annisa memekik kaget ketika dirinya menengok ke arah jam yang melingkar cantik di pergelangan tangannya.
" Maaf ya,aku pamit dulu !" ujar Annisa seraya bergegas berdiri dan berniat hendak melangkahkan kakinya namun....
" Annisa." panggil Joan dengan suara tertahan, Annisa menoleh ke arah pria tersebut,namun sejurus kemudian ia segera menunduk kembali.
" Makasih banyak kamu sudah peduli terhadapku." ucap Joan dengan suara bergetar,ada rasa yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Entah kenapa ada rasa takut yang membuncah didalam hati nya,seperti sebuah ketakutan akan kehilangan sosoknya yang telah menyemangati hidupnya,dan atas kehadirannya telah mampu menenangkan keresahannya.
Annisa menagangguk seraya tersenyum tipis.
" Sama-sama !Semoga kamu tidak merasa putus asa,dan aku berharap kamu bisa ingat terus akan kata-kataku ini." balasnya dengan tersenyum lembut yang membuat Joan semakin hanyut dalam perasaan yang penuh arti.
"Assalamualaikum." Pamit Annisa dengan lembut dan joan lagi-lagi tidak bisa menjawab dengan apa yang di ucapkan oleh Annisa.
Annisa mempercepat langkahnya ia berusaha mengejar waktu sholat ashar,ada yang tertinggal perasaanya di ujung jalan tadi,entah kenapa ia nyaris tak mampu melupakan kilasan wajah pria asing tersebut.
Rasa itu kian hari semakin kian besar,sulit untuk dia redam akan perasaanya.
Entahlah Annisa di liputi perasaan resah yang sulit ia kendalikan,jika awalnya dia hanya ingin membuat laki-laki asing itu tenang,justru kini berbalik banding kini ia justru yang merasa tak tenang hingga berujung pada kegelisahan.
Annisa menghela,kali ini ia gagal menguasai hatinya,bila dulu ia mampu menjadi motifator sang murid-muridnya justru kini ia kehilangan raga itu,ia merasa dirinya rapuh bahkan resahh jika ia mengingat akan sosok pria asing tersebut.
" Kak Annisa !" panggil seseorang mengejutkannya.
Annisa menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah suara tersebut.
Adam tersenyum dengan berlari kecil menghampirinya.
" Kak Annisa sudah bicara sama pak Joan ?" tanya Adam langsung.
Annisa mengangguk dengan tersenyum lembut.
" Lalu bagaimana kondisi pak Joan sekarang ?" tanya Adam berjalan di samping sang Kakak.
" Dia akan baik-baik saja,kamu tenang saja gak usah risau." jawab Annisa pasti.
" Kak Annisa bicara apa saja ke pak Joan ?" tanya Adam dengan tak sabar..
" Banyak." jawab Annisa singkat.
" Sebanyak apa ?? " tanya kembali Adam kian penasaran.
" Haduh sepertinya Kak Annisa melupakan sesuatu." pekik Annisa menghentikan langkahnya lalu menatap sang Adik dengan cemas.
" Apa ? " raut wajah Adam terlihat terkejut.
Annisa terlihat memikirkan sesuatu,Adam semakin penasaran di buatnya menatap penuh dengan tuntutan.
" Kak Annisa lupa tidak merekan semua percakapan Kak Nisa sama pak Joan,supaya kamu denger semua." balas Annisa menyeringai.
Adam menghela,ia berhasil di prank sang Kakak,Adam menggeleng dengan perasaan sedikit kesal.
" Ah Kak Nisa nih," balasnya dengan tersenyum penuh lelucon.
" Habisnya kamu itu,harus tau secara detail,yaa gak bisa lah Kak Nisa ceritain semuanya." ujar Annisa tersenyum penuh kemenangan.
" Yo wiss, Intinya saja." balas Adam dengan logat bahasa jawanya yang begitu terdengar medok.
" Intinya,pak Joan harus semangat." balas Annisa singkat.
" Itu doang ?? " tanya Adam heran.
" Yaa itu intinya kan ? Kamu nanya Kakak apa ngajak berantem Kakak ?" tanya Annisa menoleh sang adik.
Adam menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan tertawa-tawa.
" Hahaa,Kak Nisa nih kenapa jadi emosi begitu ?" tanya Adam geleng-geleng.
" Habisnya kamu sendiri nanya intinya,di jawab tapi kurang puas juga." sela Annisa menatap lucu.
" Iya deh,iyaa." balas Adam mengangguk-ngangguk.
" Adam percaya jika Kak Nisa sudah melakukan yang terbaik untuk pak Joan." imbuh Adam tersenyum pasti.
" Jadi,tugas Kak Nisa sudah selesai ya," ucap Annisa mempercepat langkahnya.
" Makasih banyak ya Ka,Kak Nisa Kaka Adam yang paling baik," ucap Adam merangkul pundak mungilnya sang Kakak.
Annisa mendilak dengan tersenyum simpul melihat kelakuan sang adik.