
AKU masih menatap dalam wajah Annisa yang terlihat semakin redup,rona wajah yang pernah kulihat begitu manis perlahan kini memudar,layu seiring rasa sakit yang di deranya.
Bukanlah hal mudah aku menerima Annisa dalam kondisi seperti ini,tapi aku yakin jika Annisa adalah perempuan yang di kirim Tuhan atas jalan kehidupannku,dia adalah bukti rasa sayanya Tuhan kepadaku sehingga aku menemukan jalan Tuhan melalui sosoknya.
Annisa menatapku lembut,butiran-butiran bening itu masih menitik dari ujung sudut matanya.
Sikapnya yang pasrah membuat semakin aku tak berdaya melihatnya.
Aku raih kembali tanganya,lalu ku genggam erat serta ku kecup kulit tangan yang kian terasa dingin.
Aku tau,kau bahagia dengan atas apa yang ku lakukan saat ini,meski rasa cinta itu belum sempat kau ucapkan namun aku mampu menemukan perasaan itu dari sorot matamu,ada kilasan kebahagiaan yang tengah di rasakannya.
" Annisa ijinkan aku mengecup b***rmu sebagai tanda aku telah berhak memilikimu seutuhnya. " Ucapku lirih.
Annisa menatap kian membeku namun ia tidak mampu lagi berbicara,hanya lewat airmata yang mengalir deras ia wakilkan seluruh perasaannya dan merespon penuh atas permintaan tersebut.
Sekilas ia terlihat mengulas senyuman walau hanya satu garis.
Tak terasa mataku basah tatkala harus melihat kondisi Annisa yang terlihat semakin lemah dan tak berdaya, dia hanya mampu menangis dan tak sanggup lagi berkata apapun.
Ku kecup lembut b***rnya walaupun harus terhalang oleh selang yang terpasang di bagian bibirnya,bibirnya terasa dingin dan kaku,namun entah kenapa kecupan itu telah membuat perasaanku kian berdesir hebat.
Annisa perlahan merespon c****nku dan menggerakan bibir bawahnya dengan lembut, lalu di k******nya dengan lembut bibirku.
Aku hanya merasakan kesejukan yang kian menderu dalam batinku lalu aku memejamkan kedua mataku untuk tetap merasakan kesyahduannya rasa c***an tersebut.
Perlahan ku lepas k****an bibirnya meski terkadang Annisa terlihat sedikit merintih menahan rasa sakit atas k****an b***rku namun aku merasakan momen ini begitu sangat istimewa sekaligus penuh rasa haru.
" Ma..........s " sayup-sayup Annisa memanggilku dan hal itu cukup membuatku terkejut sekaligus bahagia.
" Annisa,kau memanggilku ??" seruku dengan cepat.
Annisa tiba-tiba tersenyum manis,menggerakan bibirnya begitu dengan mudahnya,senyumannya membentuk bulan sabit.
" Annisa " pekiku semakin bahagia dan mataku tertuju ke dalam wajah Annisa yang semakin memucat.
Respon yang cukup bagus,aku melihatnya jika Annisa mulai meresponku dengan baik,Annisa kembali menggerakan bibirnya dengan lembut.
Tapi,entah kenapa tiba-tiba perasaan bahagiaku berubah menjadi sebuah kecemasan yang begitu mencekam ketika aku melihat ke arah alat pendeteksi jantung tersebut terlihat berjalan dengan begitu cepat.
Kuraih kembali tangannya lalu aku memeriksa denyut nadinnya yang kian terasa melemah.
Otaku terasa kacau,ada keresahan yang terselip dalam dadaku.
" YAA TUHAN !!"
Pekikku dalam kegetiran yang semakin mendalam.
Annisa tidak merespon,wajahnya terlihat menegang.
" ANNISA." aku kembali memekik melihat reaksi Annisa.
Aku semakin panik,lalu kudekap erat tangan Annisa yang terkulai lemah.
Napasnya yang menderu hebat seketika berubah menjadi ******* yang tersenggal-senggal,sontak darahku terasa melaju cepat membakar seluruh adrenalinku hingga semakin membuat jantung kian menegang.
Ku pandangi wajah perempuanku dengan mataku yang semakin blur oleh genangan airmata yang kian mengubur penglihatanku.
" ALL.......AH,ALLAH...." Desah Annisa semakin terputus- putus ucapannya.Sontak aku di landa kepanikan yang begitu hebat setelah melihat kondisi perempuanku semakin kritis.
" DOKTERR....!!" Teriak ku dengan Histeris.
" Annisa !!! Sayaaanggg !!" Panggilku kembali seraya terus mendekap tubuh mungil yang sedang meregang nyawa itu,ketakutan yang kian terasa akan membunuhku perlahan-lahan,serta ketegangan yang kian semakin mencekam jiwaku.
" ### DOKTEEERR....!!" Kembali ku berteriak dengan sekuat tenanga karena panggilan yang pertamaku tidak membuat Dokter serta merta datang dengan cepat.
" Adam!!" panggil seseorang menghentikan langkah Adam yang hendak kembali ke ruangan Annisa.
Langkah Adam terhenti,lalu menengok ke arah suara yang memanggilnya.
" Dokter Alfin," ucap Adam tersenyum ramah.
Dokter Alfin berjalan mendekat ke arah Adam dengan wajah ragu.
" Kamu dari mana ?" tanya Dokter tersebut canggung.
" Saya habis mengantar bapak saya pulang." jawab Adam pelan.
Alfin terihat menatap penuh ke raguan,sepertinya ada sesuatu hal yang ingin dia pertanyakan terhadap Adam.
Dokter Alfin perlahan mendekat.
" Hmm,Adam bolehkah saya bertanya sesuatu ?" tanya Alfin akhirnya ia memberanikan diri.
" Tentu Dok,silahkan." balas Adam terlihat mengulas senyuman di tengah-tengah rasa ke penasarannya.
Sebelum menjawab Alfin terlihat mengambil napas,untuk menetralkan perasaanya,sesuatu yang berat tengah di rasakannya.
Adam semakin menatap penasaran.
" Adam,saya mau bertanya sesuatu,tentang laki-laki yang bersama Kakakmu itu,sebenarnya siapa laki-laki yang bersama Annisa itu ?" tanya Alfin dengan nada sedikit berbeda.
Adam terhenyak mendapati pertanyaan dari Dokter Alfin,seseorang yang pernah dekat dengan Kakaknya sekaligus Dokter yang menanganinya.
Adam tersenyum,ada guratan ketidak nyamanan atas pertanyaan Dokter Alfin tersebut,karena ia harus tetap menjaga perasaan nya Dokter Alfin tersebut.
" Maaf Dok,pak Joan adalah suaminya ka Annisa." jawab Adam dengan jujur.
Sontak raut wajah Alfin berubah terkejut mendengar jawaban dari Adam.
" Suami ??" tanyanya dengan terbata,ada perasaan yang campur aduk di benaknya.
Adam mengangguk mengiyakan,Adam mengerti akan perasaanya Dokter tersebut yang sudah lama mencintai Kakaknya,namun sayang cinta mereka terhalang oleh restu orang tuanya Dokter Alfin.
" Menikah ?? Bukannya kata kamu dia adalah temannya Annisa dari kota ??" tanya Dokter Alfin terheran-heran.
" Ya Dok,awalnya pak Joan memang temannya kak Annisa,tapi ternyata tujuan dia datang jauh-jauh dari Singapur ke sini hanya untuk menikahi kak Annisa,dia sudah lama menaruh perasaan terhadap Kak Annisa." jelas Adam berterus terang.
Dokter Alfin tercengang-cengang di buatnya.
Ada perasaan hancur di hatinya ketika mendengar Annisa di nikahi orang tersebut,bukankan selama ini ia berjuang ingin menyembuhkan Annisa karena rasa sayangnya begitu dalam terhadap Annisa,tapi kenyataanya Annisa menikah dengan orang lain.
Dokter Alfin terenyuh menatap dengan berbagai perasaan.
Adam terdiam dengan berbagai perasaan di hatinya,ia merasakan apa yang di rasakan Dokter Alfin,tapi ia tak mampu berbuat banyak ketika kisah cinta mereka terhenti oleh sebuah restu yang begitu kuat.
" Maafkan saya Dok,pernikahan kak Annisa baru saja di langsungkan,dengan ke adaan yang serba mendadak." ucap Adam dengan perasaan tak enak hati.
Dokter Alfin menatap semakin hancur,ternyata ada yang lebih menginginkan Annisa lebih darinya,hingga pria itu berjuang begitu keras untuk mendapatkan seorang Annisa.Jarak serta waktu tak menjadi kan sebuah halangan.
Sementara dia,dia tidak mampu menaklukan kerasnya hati sang Ayah atas cintanya terhadap Annisa, dan dia pun tak banyak melakukan apa-apa untuk perasaanya.
Dokter Alfin tertunduk,perasaanya hancur berkeping-keping,semua harapannya kandas, mimpinya tentang Annisa kini telah usai,tak ada lagi harapan baginya untuk mendapatkan kembali cintanya Annisa.
Betapa tidak,sosok Annisa lah yang selama ini terus menaungi hatinya,tanpa bisa orang lain menggantikannya.
Begitu spesialnya Annisa di matanya hingga ia enggan untuk membuka cinta yang lain.
" Kenapa Annisa mencintai orang lain secepat ini." guman Dokter Alfin bertanya.
Adam terdiam dia mendengar sepenuhnya gumannya Dokter Alfin,Adam menatap dengan raut wajah terlihat bersalah.
" Annisa telah melupakan perasaanku selama ini." guman kembali Dokter muda itu dengan nada sedih.
" Kak Annisa tidak melupakan perasaannya Dokter,hanya saja dia menerima cinta sucinya pak Joan,pak Joan berani mengambil segala resiko untuk menikahi Kak Annisa." balas Adam berusaha untuk berterus terang.
Dokter Alfin terdiam,apa yang dikatan Adam sedikit menohok perasaanya,entah sindiran atau hanya sekedar kebetulan namun ucapan Adam mampu membuatnya terbakar,dia memang mengakui jika dirinya tidak mampu memperjuangkan sejauh itu akan perasaanya.
Lima tahun pernah dekat dengan Annisa bukan waktu yang sebentar,namun dirinya tidak mampu meyakinkan hati sang Ayah sehingga ia gagal membawa Annisa kepelaminan,ia sadar akan kesalahanya mengabaikan perasaanya Annisa yang tulus.
" Maaf kan saya Adam,dulu saya tidak bisa memperjuangkan perasaan ini." lirih Dokter Alfin dengan tersenyum getir.
Adam menyikapinya dengan tersenyum dingin.
" Semua itu tidak luput dari takdir Allah Dok,bahwa Dokter dengan Kakak saya tidak berjodoh." jawab Adam pelan.
" DOKTERRR !!"
tiba-tiba teriakan panggilanku membuyarkan obrolan Adam dan Dokter Alfin,
Aku memanggil keras sehingga suaraku cukup terdengar jelas ke luar ruangan.
Adam terperangah,dengan cepat ia berlari kecil ke arah ruangan,tak lama Adam menyembul dari balik pintu dengan wajah panik setelah mendengar teriakanku yang cukup keras, hingga terdengar keluar ruangan.
" Ada apa Kak Joan ??." tanya Adam menatap kaget.
" Panggil Dokter ! sepertinya Annisa semakin lemah." Seruku dengan penuh kepanikan.
" Ka Annisa !" pekiknya tak kalah panik dariku.
" Masyaallah !!" teriak kembali Adam histeris setelah melihat Annisa terengah-engah.Adampun dengan sigap berlari keluar untuk memanggil Dokter Alfin yang masih berdiri kaku di luar.
" Annisa.Kamu akan baik-baik saja.Jangan buat aku panik." Ucapku semakin larut dalam kepanikan.
Tubuh mungil itu menegang kuat lalu tangannya menggenggamku dengan begitu erat seakan-akan tak mau terlepas lagi,maka akupun tak ingin menyia-nyiakan lagi membalasnya dengan gengaman yang begitu erat.
" Sayang ! sayang...," Bisikku seraya mendekatkan tubuhku ke tubuhnya,tiba-tiba Annisa meregangkan seluruh tubuhnya hingga kaku, sepertinya ia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa di dalam tubuhnya.
" Annisa." Pekikku semakin tak karuan.
" Ada apa ??" Dokter menyembul dari balik pintu demgan raut wajah tak biasa.
" Dokter istri saya !!" ucapku semakin tak menentu,jujur saja aku panik melihat kondisi Annisa yg semakin lemah.
Dokter Alfin segera memeriksa semua alat-alat yang berada di ruangan tersehut.
Aku melihat jika Dokter tersebut itu tak kalah paniknya dari aku.
" As had du....." Ucap Annisa dengan lirih sepatah dua patah mulai keluar dari mulutnya meski ia terlihat kesusahan,namun ia terus mengulang kata-kata tersebut.
" Annisa,apa yang terjadi ??" aku semakin takut melihat keadaan Annisa.Tim medis sibuk menangani Annisa,keadaan semakin mencekam.
" Ala illaha...illallah....." Ucapnya kembali Annisa dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
" Ka Annisa..." Adam menghampiriku dan menatap nanar ke arah Annisa yang terus meregang kuat,semua di landa kepanikan yang begitu mencekam,tak terkecuali Dokter Alfin ikut tertekan dengan keadaan yang tengah berlangsung.
Tak lama kemudian Annisa mulai menarik napas panjang dengan terlihat begitu tenangnya,tubuhnya tak sekaku tadi,perlahan gengamannya mulai mengendor,tatapannya lemah namun begitu dalam.
" ............"
Tak sedikitpun aku berbicara, air mataku tak terasa mengalir deras membasahi kedua pipiku.
Aku tatap wajah layu Annisa yang tersenyum penuh arti ke kepadaku,seakan akan ia menyampaikan sebuah isyarat yang penuh makna,bibirnya menyunggingkan senyuman kebahagiaan yang telah ia dapatkan setelah aku menikahinya.
Annisa masih tersenyum manis kepadaku lalu ia menatapku dengan tatapan seolah-olah itu adalah tatapan terakhirnya untukku,aku menjadi kaku seluruh perasaanku terbelenggu.
" Waashadu......anna...,muhammad.....durrsullah.." Ucapnya semakin pelan,******* itu melambat seiring napasnya yang mulai tertahan.
Detakan itu masih aku rasakan hangat didalam dekapannku,kata-kata itu menjadi penutup sebuah isyarat,dan ucapan itu ucapan yang terakhir Annisa katakan kepadaku.
Aku menatap tajam wajah Annisa,aku semakin takut akan situasi ini,ini tidak berakhir,belum berakhir,batinku dengan resah.
." ANNISA.." Pekikku semakin tegang,ada getaran resah yang semakin jauh melayang menerawang kuat dalam celah hatiku yang kini mulai membeku di ujung ragaku.Ada guratan rindu yang kian tak terobati di relung hatiku.
Dan gengamannya tanganya melemah seiring ******* napasnya yang mulai terhenti lalu ku toleh ke arah alat pendeteksi jantung dan.......,
sejadi jadi jantungku berdekup lebih kencang panas dingin badanku kian menerjang mata ini menatap dengan tak percaya atas apa yang sedang aku lihat,sementara Dokter masih berjibaku dengan alat-alat yang membuatku semakin linglung di buatnya.
Ntiiiiiiittttt.......
Suara alat pendeksi jantung itu kian menakutkan jiwaku,hingga berhasil membuatku larut dalam sebuah ketakutan yang luar biasa.
Pupil mata ini semakin membesar mencoba mengawasi pergerakan mesin tersebut,semoga saja ini adalah mimpi burukku yang mampu membangunkan aku dalam lelapnya malam.
Tapi tidak,ini adalah nyata,aku melihat jelas jika semua kini telah berakir.