
UDARA pagi yang begitu dingin membuatku terasa mengiggil,suhu udara sepertinya di bawah normal,sehingga membuatku merasa kedinginan. Perlahan aku mencoba membuka kedua mata ini yang masih terasa begitu berat.
Aku terbangun ketika suhu dingin menusuk kulitku hingga memaksaku untuk terjaga.
Aku menatap keseluruh ruangan tersebut,lalu mengusap wajahku seraya mencari keberadaan jam dingding.
Dan ternyata waktu masih terlalu pagi , waktu saat ini menunjukan pukul tiga pagi dan itu artinya masih ada waktu untuk tidur kembali.
Namun pada saat aku hendak merebahkan kembali tubuhku,pintu kamar sedikit terbuka sehingga membuatku berkeinginan untuk menutupnya denga rapat,lalu dengan terpaksa aku pun bangun dengan malas,dan berjalan mendekat ke arah pintu tersebut,namun apa yang ku lihat ternyata Adam sudah terbangun sedari tadi,dan dia kini tengah khusyu dalam lantunan do'a do'anya yang di panjatkan.
Diam-diam aku menyimak di balik pintu tersebut dan memperhatikan semua apa yang di lakukannya.
Keinginan untuk menutup rapat pintu tersebut aku urungkan,aku pun menyaksikannya Adam beribadah tanpa mau mengganggunya.
Apa yang pernah Annisa lakukan di waktu yang sama,Adampun melakukannya,mereka terbangun di seperiga malam lalu beribadah dan berdo'a,waktu yang begitu berkwalitas untuk memunajatkan sebuah keinginan.
Entah kenapa dorongan sebuah keinginanku semakin kuat untuk menjadi seorang mualaf.
Semoga saja keinginanku ini bisa terrealisasikan secepatnya,dan aku berharap masih ada waktu untuk mempelajari semua ini seraya aku menunggu waktu yang tepat.
Sekitar pukul tujuh pagi aku berangkat bersama Adam menuju rumah sakit,dan setibanya di sana perasaanku semakin tak karuan setelah melihat kondisi Annisa yang terbaring lemah tak berdaya.
Wajah yang sering kulihat begitu berseri-seri kini terlihat pucat pasi.
Senyuman manisnya yang selalu menghiasi wajahnya kini terukir kembali di ingatanku beberapa tahun silam, kini senyuman itu nyaris hilang dari garis bibir mungilnya yang terkatup.
Senyuman itu selalu tersungging dibibir tipisnya membentuk bulan sabit,tapi kini bibir itu terkatup rapat dengan selang oksigen di kedua lubang hidungnya,bahkan beberapa alat menempel di kiri kanan kepalanya yang ter tutup oleh sehelai kain putih.
Lalu ada beberapa alat yang di pasang di bagian kepalanya untuk membantu menstabilkan keadaanya yang lemah.
Sesak rasanya ruang dadaku ini,bahkan begitu terasa sangat sakit hati ini harus menyesaksikan seluruh tubuh Annisa yang terkulai lemah tanpa berdaya.Ada yang sakit di dalam ulu hatiku ini ketika mengingat akan segala kebaikan yang telah Annisa berikan kepadaku dan aku masih ingat dengan kata-kata yang di ucapkan terdahulu itu kini telah terbukti nyata dalam kehidupannku,sebuah perkataan yang telah mampu mengubah cara pola pikirku dalam menghadapi kehidupan ini.
Tiga tahun sudah aku tidak bertemu dengan Annisa dan kini pertemuan itu terjadi kembali di kondisi yang begitu mengharukan, Annisa terbaring tak berdaya dengan keadaan tak sadarkan diri.
" Annisa !!"
Panggilku lirih,seraya menyimak di balik ruangan kaca aku menatap penuh rindu ke arahnya.
" Kak Annisa sudah dua hari ini kesehatannya menurun pak." ucap Adam seraya menolehku dengan nada sedih.
" Aku tidak sampai hati melihatnya." selaku pelan.
" Aku berharap Allah akan memberikan yang Terbaik untuk kak Annisa ." ucap Adam dengan suara parau namun aku melihat ada ketegaran yang tersirat dari raut wajahnya tersebut.
" Assalamualaikum Adam !!" tiba-tiba suara laki-laki menyapa dari belakangku serta Adam,aku pun menoleh ke si pemilik suara tersebut.
Adam menoleh.
" Walaikumsalam.Pagi Dok !" balas Adam menyapanya dengan penuh hormat.
" Pagi adam,hari ini akan ada pengecekan kembali untuk kondisi Kakakmu." ucap pria berseragam putih itu seraya melirik ke arahku yang berdiri tak jauh dari Adam.
" Baik Dok,semoga saja Kondisi ka Annisa hari ini ada perkembangan." ucap Adam tersenyum penuh harapan.
" Berdoa saja,semoga Annisa secepatnya bisa sadarkan diri dari komanya.Dan hanya sebuah do'a yang paling penting untuk kesembuhan Annisa." ujar Dokter tersebut tersenyum lembut.
" Itu pasti Dok,saya selalu berdo'a untuk kesembuhannya Ka Annisa." balas Adam tersenyum hangat, Dokter pun berpamitan untuk memasuki ruangan menemui Annisa.
" Itu Dokter sahabatnya Annisa?" tanya ku dengan kalimat penuh penekanan.Entah kenapa perasaanku merasakan hal yang berbeda akan sosok Dokter tersebut.
" Iya pak,namanya Mas Alfin,Alhamdulillah orangnya sangat baik,selama ini dia begitu perhatian terhadap Kak Annisa." puji Adam dengan jujur.
Ucapan yang telontar dari mulut adam mampu membuat aku merasa cemburu,bahkan perasaanku merasa tak suka terhadapnya.
Diam-diam aku merasa tidak suka ketika Adam memuji tentang Dokter tersebut.
" Adam,aku akan tanggung semua pengobatan Annisa." ucapku cepat.
Adam terperangah dan menolehku cepat.
" Maksud bapak ? " Tanya Adam menatapku tidak percaya.
" Saya akan tanggung semua pengobatan Annisa selama di rawat di rumah sakit,dan aku lakukan itu semua secara tulus tanpa mengharapkan apapun." ujarku dengan tersenyum lembut ke arah Adam.
" Masyaallah pak,kenapa bapak lakukan semua ini ?" tanya Adam dengan sangat hati-hati.
" Karena aku begitu sangat peduli terhadap Kakak mu." ujarku terbata,aku tidak ingin mengatakan yang sesungguhnya jika aku telah jatuh cinta terhadap Annisa.
Adam terenyuh mendengar penuturanku.
" Terimakasih banyak pak Joan,saya tidak bisa membalas semua kebaikan Bapak ini." ucap Adam seraya meraih tangaku dan menyalaminya dengan penuh rasa haru.
Betapa bahagianya aku melihat Adam yang begitu berterimakasih kepadaku dengan penuh rasa hormat.
" Dari itu,aku minta tolong sama kamu,tolong bimbing aku,agar aku bisa masuk agamamu secepatnya.." ucapku lugas seraya menatap serius Adam.
Adam tersenyum di tengah-tengah linangan airmatanya,ia masih terharu atas sikapku ini.
" Insyaallah pak, akan saya bimbing bapak dengan baik,walau saya belum sempurna namun saya akan berusaha untuk bapak." jelas Adam dengan tersenyum penuh arti.
Aku hanya mengangguk dengan perasaan tak kalah bahagianya.Akhirnya aku bisa mengutarakan apa yang ku inginkan selama ini.
Tak lama Dokter keluar dari ruangannya Annisa,raut wajahnya terlihat tak bersemangat,ada guratan kecemasan di benaknya.
Dokter itu mendekat ke arahku dan Adam berdiri.
" Gimana Kak Annisa Dok ?" tanya Adam dengan cepat.
Dokter tersebut menghela berat,menatap lurus ke arah ruangan tersebut.
" Kita harus terus berdo'a,agar keajaiban itu ada." ucapnya pilu.
Adam terlihat sedih menatap wajah Dokter tersebut,begitupun aku,yang sedari tadi hanya memperhatikan ikut sedih mendengar penjelasan Dokter tersebut.
" Kondisi Annisa belum ada perkembangan,masih di titik lemah." ucap Dokter tersebut dengan nada sedih.
" Dokter,aku percayakan sepenuhnya keadaan Kak Annisa terhadap anda.Tolong sembuhkan Kak Annisa." ujar Adam mengiba.
Dokter tersebut menepuk pundak Adam pelan,ia mencoba menenangkan perasaanya Adam.
" Saya bukan Tuhan,maka sebaiknya kamu percayakan akan kesembuhan Annisa kepada Tuhan,kita berharap besar jika Tuhan akan memberikan kesembuhan untuk Annisa.Percayalah Tuhan maha baik,DIA pasti akan menyembuhkan kembali Annisa." ujar Dokter tersenyum lembut.
" Aamiin,terimakasih banyak Dok,Dokter selama ini sudah begitu intens merawat kak Annisa." ujar Adam terlihat basah pelupuk matanya.
" Kewajiban saya sebagai Dokter merawat orang yang sakit,jadi saya sangat peduli akan kesehatannya Annisa,apa lagi Kakak mu adalah perempuan yang begitu istimewa di hati saya." ujar Dokter itu tersenyum penuh arti.
Adam mengangguk penuh hormat ketika Dokter itu mengatakan jika Annisa begitu istimewa di hatinya.Dan ucapan itu berhasil membuatku kian merasakan sesuatu hal yang tak biasa aku rasakan.
Adam menolehku dengan menatap ragu.Aku hanya membalasnya tanpa reaksi.
" Oya Dok,ini kenalkan Pak Joan,sahabatnya Ka Annisa dari Jakarta." ujar Adan memperkenalkan aku kepada Dokter tersebut.
Dokter itu menoleh ke araku dengan tersenyum kaku.
" Saya Joan !" dengan cepat aku memperkenalkan diri.
Dokter itu menatapku dengan tatapan berbeda,seperti ada sesuatu hal di benaknya akan kehadiranku di tempat tersebut.
" Saya Alfin !" balas Dokter itu menyalamiku tanpa tersenyum.
lalu sejurus kemudian ia kembali berbicara dengan Adam,entah kenapa perasaaku berkata lain terhadap Dokter tersebut,sepertinya ada sesuatu hal di antara Dokter tersebut dengan Annisa.
"Baiklah adam,kalau begitu saya keruangan pasien yang lain dulu,nanti saya akan cek kembali perkembangan kesehatannya Annisa." ujarnya berpamitan.
" Baik pak,terimakasih banyak pak." balas Adam singkat.
Dokter itu menolehku sejenak seraya tersenyum tipis,tak lama ia pun pergi meninggalkan aku serta Adam.
Aku menatap panjang langkah Dokter tersebut dengan berbagai tudingan di benak ku.
Semoga saja di antara kita tidak ada
persaingan.Ucapku membatin.
Adam keluar dari ruangan Annisa dengan wajah sendu,raut wajahnya tak seceria dulu lagi,ada beban yang begitu berat di pikulnya kali ini,nyaris seharian aku menemani Adam di rumah sakit,untuk mengetahui perkembangan kesehatannya Annisa, dan aku selalu berharap jika Annisa akan sadar dari Komanya secepatnya.
" Bapak lapar ?" tanya Adam menghampiriku.
Aku menggeleng dengan menatap kosong.
" Sebaiknya bapak makan dulu,dari tadi pagi bapak belum ada makan nasi,hanya sarapan roti saja." ujar Adam dengan menatap resah.
" Aku belum lapar,nanti saja." tepisku pelan.
" Kita makan siang di warung nasi sebrang rumah sakit ini saja pak,kebetulan disana tempatnya nyaman untuk mskan siang." ujar lagi Adam kembali mengajakku makan.
Aku menatap ke arah Adam dengan seksama,ia terlihat mengangguk kecil isyarat mengajakku kembali.
" Baiklah." jawabku setelah mempertimbangkan ajakannya Adam,Adam pun tersenyum lega ketika aku menerima ajakannya.
Sepiring nasi dengan menu sederhana tersaji di hadapanku,meski aku ragu untuk menyantapnya tetapi demi Adam aku sangat menghormati atas suguhan nya.
" Oya pak,sebelumnya saya minta maaf jika saya sedikit bertanya sesuatu hal yang penting sama bapak." ucap Adam seraya mengaduk makannya.
Aku menghentikan aski ku mengunyah makanan,lalu menatap Adam dengan intens.
" Sebenarnya bapak ada apa menemui Kak Annisa hingga kesini ?" tanya dengan sedikit ragu.
Aku paham,jika Adam bertantmya seperti itu merasa penasaran akan kehadiranku yang secara tiba-tiba datang ke Surabaya.
Aku terdiam menatap ragu,aku merasa takut jika harus jujur akan tujuan utama ku menemui Annisa.
Adam masih menatapku,menunggu segala jawabannku.
Aku tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya di saat kondisi seperti ini.
" Adam,selain aku ingin bertemu dengan Annisa untuk berterimakasih,sebenarnya tujuan aku kesini,aku ingin belajar ilmu agama dari kamu." ucapku tertahan,nyaris aku berkata yang sejujurnya,bahwa aku ingin mengutarakan isi hatiku kepada Annisa.
Adam terperangah,menatapku shok,hampir saja makanan yang berada di dalam mulutnya nyaris tak tertelan.
Adam membeliakkan kedua matanya.
" Apa pak,bapak tidak salah bicara ?" tanyanya dengan berusaha menelan kuat makanan nya tersebut.
" Aku berkata jujur,dan sebagaimana yang telah aku katakan semalam tadi,jika aku meminta tolong sama kamu untuk mengajarkan aku agamamu,dan aku ingin menjadi seorang mualaf." ucapku tandas.
Adam mengangguk,sepertinya ia mulai yakin akan ucapanku tersebut.
" Tapi sebaiknya bapak belajar langsung dengan orang yang benar-benar paham Agama,supaya bapak bisa paham dengan apa yang di sampaikannya nanti,kalau saya.Jujur saja saya belum sesempurna itu dalam membingbing bapak untuk menjadi seorang mualaf." ujar Adam menatapku dalam.
" Apakah kamu bisa mencarikan seseorang yang lebih berpengalaman untuk membingbing aku ?" tanyaku cemas.
" Tentu saja pak,saya memiliki kenalan yang bisa membingbing bapak untuk menjadi seorang mualaf." jawab Adam tersenyum pasti.
" Kalau begitu aku ingin segera menjadi seorang mualaf,bisakah hari ini ?" tanyaku dengan penasaran.
Adam menoleh ke arah ku,lalu memperlambat aksi mengunyahnya.
" Saya akan secepatnya menghubungi nya pak." ujar Adam meresponku dengan cepat.
Aku menatap lega,Adam begitu baik,sehingga mempercepat proses aku untuk segera menjadi mualaf.
" Terimakasih banyak Adam,kau sudah mau membantuku." ucapku pelan.
" Sama-sama pak,semoga niat baik bapak untuk menjadi seorang Mualaf mendapat ridho dari Allah SWT sehingga Allah akan mempermudah segalanya." ungkap Adam penuh bijak.
Aku tersenyum lega seraya mengaamiinkan seluruh perkataanya Adam,lalu aku pun kembali melanjutkan makan siangku.
----------
Di sebuah Mesjid aku sudah menunggu bersama Adam untuk melakukan proses sebuah ikrar dan disana sudah hadir beberapa saksi yang akan mendampingiku.
Lalu di sana pun ada hadur seorang lelaki yang usianya tak jauh berbeda dari mendiang papahku, menatap dengan tegas ke arahku seolah-olah ia sedang menyimak secara detail ke adaanku.
" Kita sekarang mau Apa ?" bisikku pelan ke arah telingsnya Adam yang duduk tepat di sampingku.
Ada memalingkan wajah ke arahku dan membalas berbisik.
" Bapak kan mau memeluk agama Islam jadi bapak harus mengucapkan dua kalimah syahadat terlebih dahulu." bisiknya pelan.
" Apa itu.??" tanyaku kembali.
" Nanti disimak saja pak, bapak pastinya akan di kasih tau dan di arahkan sama bapak yang berpeci warna putih." ujar Adam stengah berbisik lalu.
Aku mekirik ke arah orang yang di maksud Adam,aku pun terdiam menatap kaku ke arah kedua orang yang mulai bergeser duduknya ke hadapanku.
" Maaf sodara Joan, apakah anda berpindah keyakinan ini atas dasar keinginan hati anda, bukan karena ada paksaan dari pihak manapun ?" tanya seorang ustad menatapku dalam.
Aku menoleh Adam,Adam pun mengangguk dengan penuh isyarat.
" Yakin pak Ustad saya melakukan semua ini atas dasar keinginan hati saya sendiri.Dan tidak ada paksaan dari pihak manapun,saya lakukan semua ini dengan setulus hati saya yang paling dalam." jawabku dengan penuh keyakinan.
" Jadi dasar apa anda mau memeluk Agama kami ?" tanya lelaki separuh baya itu terlihat menatap ku tegas. Sejenak aku menoleh ke arah Adam yang sedari tadi ikut menyimaku dengan seksama.
" Katakan lah Pak alasan apa yang membuat bapak mau pindah keyakinan ?" bisik Adam pelan.
" Maaf pak,sebelumnya saya selalu merasakan gelisah bahkan ada ketakutan yang selalu saya rasakan,namun setelah mengenal Agama islam,saya merasakan ada kedamaian yang tidak bisa saya jelaskan secara spesifik,serta ada pemahaman yang begitu sangat nyata yang masuk di logika saya." jelasku sedikit gugup.
" Sodara yakin tidak ada niat lain di balik itikad ini ?" tanya lelaki separuh baya itu menatapku lagi kian tajam.
Dada ku berdebar,seolah-olah aku sedang di introgasi dalam sebuah kasus kejahatan yang besar.
Aku menggeleng berusaha menetralisir ke adaan.
" Tidak ada pak,semua ini aku lakukan atas dasar keinginan saya sendiri,demi TUHAN pak.Dan....," ucapanku menggantung lalu menoleh ke arah Adam.
Adam menatapku dengan seksama,sotot matanya terlihat menatapku penuh rasa penasaran atas perkataanku yang terjeda.
" Dan apa ?" tanya ustad tersebut dengan cepat.
Aku menarik napas panjang,mencoba mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan apa yang selama ini aku simpan.
" Dan selebihnya saya ingin menyempurnakan agama saya nanti jika saya sudah menjadi seorang mualaf dengan menikahi seorang perempuan." Jelasku terbata,aku pun membagi pandangan ke arah Adam dan pak Ustad.
Adam terpana mendengar ucapanku,namun aku tidak memperdulikan sorot matanya yang semakin penuh denga. Tanda tanya ke arahku.
" Baiklah,kalau begitu saya hanya mengingatkan saja, apapun yang akan sodara lakukan semua akan kembali kepada diri anda sendiri.jadi berhati-hatilah dalam berniat karena Allah maha mengetahui dari hal yang tersembunyi sekalipun.." Jelas pak Ustad itu dengan tegas serta lugas. Aku hanya menggangguk seraya tersenyum kaku.
" Sudah siap sodara juan ??" tanya pak ustad menatapku.
Aku mengangguk pelan.
" Baiklah,sekarang kamu ikutin ya kata kata saya. " ujar pak Ustad dengan lembut.
" Bisimillahirrahmanirrahim." ucap pak Ustad menatapku lembt.
Lalu aku menoleh ke arah Adam dan dia hanya mengangguk dengan tersenyum dengan penuh semangat.
" Bismillah hirrahmaan nirrahimm" Sahutku dengan sangat hati-hati,aku berusaha mengikuti apa yang di ucapkan oleh pak Ustad.
" Sekarang sodara Joan akan membaca dua kalimah syahadat,karena dua kalimah tersebut akan menandakan kamu akan berikrar menjadi seorang mualim,dan itu artinya kamu sudah menjadi seorang mualaf jika dua kalimah syahadat itu di ucapkan." terang lagi pak Ustad.
" Baik Pak Ustad." balasku pelan.
" Ikutin lagi ya ucapan saya." ujar Pak Ustad dengan seksama dia menuntuntunku.
" ASYHADU ANLA ILLAAHA ILLALAAH..." pak Ustad berucap.
" ASYHADU ANLA ILLAAHA ILLALAAH.." ucapku mengulang dengan sedikit terbata-bata dengan bacaan kalimah tersebut,rupanya agak sedikit sulit aku mengucapkannya,namun aku tetap berusaha.
" WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH."
" WA ASYA....." Ucapku terbata,kali ini lidahku terasa kaku.
" WA ASYHA...." Pak Ustad membenarkan ucapanku.
" WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH.." ucapku mengulang kembali secara benar.
Pak Ustad mengangguk.
" AKU BERSAKSI TIADA TUHAN SELAIN ALLAH.." Sambung pak Ustad menatapku penuh khidmat.
" AKU BERSAKSI TIADA TUHAN SELAIN ALLAH." Balasku pelan.
" DAN NABI MUHAMMAD UTUSAN ALLAH." ucap kembali pak Ustad.
" DAN NABI MUHAMMAD UTUSAN ALLAH." Ucapku sedikit tegas.
" Barrakllahu fiikum,Alhamduillah sodara Joan anda sudah syah masuk islam dan anda sudah menjadi seorang mualaf semoga kamu mampu mengerjakan segala kewajiban mu sebagai seorang muslim yang taat beribadah serta istiqomah." ucap Pak Ustad memberiku nasehat, sementara aku tidak menjawab hanya tersenyum dengan perasaan haru biru di dadaku.
Ada yang terlepas dari dalam jiwaku ini,jiwa yang selama ini terasa hampa,bahkan ada sebuah perasaan yang membelengguku selama ini terbebas begitu saja.
Secercah harapan yang indah akan segera menjamahku, dan aku sudah tidak sabar ingin segera menjemput semua harapan baruku di kehidupan yang penuh arti di masa yang akan datang.
Adam tersenyum bahagia menatapku lalu di rangkulnya aku dengan bahagia olehnya,aku tidak bisa membayangkan kebahagiaan yang sedang aku rasakan saat ini.
Aku merasakan seperti mendapatkan sodara baru dalam kehidupannku yang sekarang ini, dan aku pun merasa jika aku seperti terlahir kembali dalam keadaan yang sangat luar biasa hebatnya perasaan bahagiaku ini.
Ini benar-benar di luar nalarku, seperti ada dorongan sebuah energi yang maha dasyat untuk menuntutku ke jalan yang benar.
Aku akan memulai segala yang baru dalam kehidupanku nanti,yaa seperti ada energi yang tidak bisa aku katakan dengan rangkaian kata-kata bahkan sebuah ekspresi.perasaan ini sungguh luar biasa.
Karena apa yang kuraskaan untuk saat ini,aku merasa lebih plong dari apa yang menjadi beban aku selama ini.