
MISKA mengetuk pintu ruanganku cukup keras hingga mengalihkan semua atensiku,aku menjeda kegiatanku lalu menatap ke arah pintu ruanganku tersebut dan meminta Miska untuk masuk.
" Selamat pagi pak !, hmm maaf saya menganggu sebentar." sapa Miska dengan sopan.
" Selamat pagi Miska,ada apa ?" tanyaku pelan.
Miska berjalan mendekat lalu berdiri tepat di hadapan meja kerjaku.
" Maaf pak,ada yang ingin bertemu dengan bapak." ucap Miska dengan sopan.
" Apa sudah ada janji sebelumnya?" tanyaku menatap lurus sekertarisku.
" Iya pak, sebelumnya ia sudah ada janji dengan bapak." ujar Miska tersenyum elegan.
Aku mengernyit seraya mencoba mengingat kembali jadwal acara serta pekerjaan hari ini.
" Sudah ada janji dengan ku ?,perihal apa ya Mis ? " tanyaku sedikit linglung,setahuku hari ini aku ada janji dengan seorang mahasiswi yang baru saja mendapatkan gelar S1, namun mahasiswi tersebut kini sedang mengadakan oberservasi dari pihak Universitasya well hanya itu informasi yang aku dapat dari salah satu staf Universitas yang merekomendasikan mahasiswi tersebut untuk mengadakan observasi di perusahaanku dalam program studi nya.
Dia menurut kabar yang aku dapati,dia juga merupakan mahasiswi yang memiliki nilai Cum laude,aku tidak tau percis mahasiswi tersebut.
" Dia seorang Mahasiswi lulusan S1 Arsitektur yang sedang mengadakan program studi,dan ia ingin bertanya langsung dengan bapak mengenai study Desain." jelas Marta detail.
Mulutku hanya membentuk sebuah salah satu hurup vokal yang bulat seraya dengan mengangguk-ngangguk pelan.
" Dan kebetulan sudah saya atur acaranya di jam sekarang ini pak,untuk pembahasan mengenai hal tersebut." ucap kembali Miska begitu humble.
" Oya,saya belum ada cek kembali skejul hari ini,baiklah tolong kamu atur kembali skejulku hari ini,karena ada beberapa tambahan pekerjaan yang harus saya urus di hari ini juga." ucapku seraya merapihkan beberapa lembar skesta Desainku.
" Baik pak,akan saya cek kembali nanti." balas Miska sigap.
Aku mengangguk penuh takjub atas kierja sekertarisku yang begitu profesional dalam menyelesaikan pekerjaanya.
" Oya pak, perihal observasi kebetulan orangnya sudah ada di luar pak sudah menuggu lama,apa boleh saya suruh masuk saja kah?" tanya Miska begitu lincah.
Aku terkejut mendengar ucapan dari sekertarisku tersebut.
" Sepagi ini orang itu akan mengadakan observasi di perusahaanku ?rasanya rajin sekali dia." gumannku tersenyum enteng.
" Gimana pak,boleh saya suruh masuk orangnya ?" tanya kembali Miska dengan ramah.
" Ok !" jawabku pelan.
" Baik pak !" balas Miska terlihat membungkuk.
Miska membalikan badannya lalu berjalan keluar,tak lama Miska terdengar menyuruh seseorang yang sudah lama menunggu di luar ruanganku untuk segera masuk.
Seseorang itu terdengar melangkah masuk ke ruangannku,aku dapat memastikan jika langkah seseorang itu langkah seorang perempuan yang begitu anggun,diw menjeda setiap lagkahnya dengan begitu hati-hati,aku hanya berusaha untuk tetap fokus dengan pekerjaanku.
Tak lama suara langkah itu terhenti tepat di hadapanku,perlahan aku menatap ujung sepatu seseorang itu,lalu dengan cepat aku mengangkat kepalaku untuk menatap lurus ke arah wajah seseorang tersebut.
Aku tercekat begitu melihat pemandangan yang tengah aku lihat saat ini,aku tidak percaya jika seseorang yang akan melakukan observasi di perusahaanku ku itu tiada lain Annisa,perempuan yang aku tolong beberapa minggu yang lalu di Bandara.
Setelah sekian lama aku tidak di pertemukan dengan perempuan yang memiliki kemiripan seratus persen wajahnya dengan Almarhum istriku,kini aku justru di pertemukan dalam sebuah kesempatan yang sama sekali tak terduga,dia datang ke perusahaanku dalam program studi,betapa tidak hal ini membuatku sedikit merasa bahagia.
Rindu yang selama ini tersimpan dalam mampu terobati hanya dengan melihat wajahnya,dan itu mampu mengurangi rasa rindu di hati ini.Yaa.....anggap saja jika ini adalah wujud lain dari rengkarnasinya Annisa,istriku.
Melihat wajahnya membuat aku merasa jika Annisa hidup kembali,dan dia tidak pergi jauh dari ku,dia selalu ada dan menemaniku di setiap helak napasku.
Melihat wajahnya aku selalu merasa jika Annisa tengah menatapku dengan penuh cinta,ini benar-benar seperti dejavu,jika aku sedang mengalami kondisi hal yang sama.
Aku tidak menduga sedikitpun jika Annisa adalah salah satu mahasiswi yang berasal dari Indonesia yang akan melanjutkan program studi.
Dan kini ia tengah mengadakan observasi mengenai pembahasan konsep Desain,tentunya bidang akademik tersebut akan berurusan secara langsung dengan perusahaanku,aku tidak menyadari jika selama ini mahisiswi asal Indonesia itu adalah Annisa.
Annisa tercengang mendapati aku sebagai pemilik perusahaan yang kini tengah menaungi penelitian dalam studinya.
Ia tidak menyangka jika aku seorang Arsitek yang akan di berikan kesempatan untuk memberikan pengetahuan tentang teori dan konsep yang mencakup Desain arsitektur tersebut.
Annisa menatapku tak percaya,ia terlihat gugup serta larut dalam ketidak percayaannya atas keberadaanku di hadapannya.
Aku terbangun dari tempat dudukku dan sejenak aku mengabaikan pekerjaanku,berjalan menyambut kehadiran perempuan tersebut.
.." Hallo,apa kabar ??" sapaku dengan mengulas senyuman manis.
Annisa masih terpaku dengan ketidak percayaannya.
" Ba,ba baik !!" jawabnya terbata.
" Senang sekali kita bisa di pertemukan kembali." ujarku dengan tersenyum hangat.
Annisa tidak menjawab dia hanya tersenyum kaku ke arahku,entahlah aku melihatnya ia menatapku dengan berbagai prasangka yang tak menentu.
" Silahkan duduk,kurasa kamu perlu santai sejenak agar kamu tidak merasa tegang." ujarku berkelakar.
Annisa terlihat salah tingkah,menatapku berkali-kali dengan ragu.
Annisa mendehem seraya menetralkan perasaanya,lantas ia pun menguasai dirinya agar tetap tenang.
" Aku rasa aku baik-baik saja,hanya saja aku sedikit merasa terkejut atas keberadaan anda di sini.Tidak terduga sama sekali jika aku berkesempatan berada di perusahaannya anda untuk membahasa mengenai beberapa terori serta konsep tentang sebuah Desain." balas Annisa tersenyum sedikit angkuh.
Tatapannya terlihat begitu penuh menatapku,dia terlihat bereaksi lain terhadapku.
" Kurasa ini bukan sebuah kebetulan jika kita di pertemukan kembali,karena aku yakin pertemuan ini telah Tuhan rencanakan." ujarku tersenyum.
Annisa tersenyum sinis,bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman hampa yang membuatku sedikit terganggu.
" Tentu saja ini bukan sebuah kebetulan yang terencanakan,dan pertemuan ini jelas atas skenario tanganNYA Tuhan." balasnya menimpali.
Aku tersenyum melihat sikap tegas dari seorang Annisa si pemilik wajah yang mirip dengan mendiang istriku.
" Hmm,dan ini adalah sebuah kehormatan besar bagiku dapat di percaya untuk memberikan sedikit pengetahuan tentang sebuah konsep Desain secara langsung dengan kamu." ucapku tersenyum penuh arti.
Annisa tidak merespon ia hanya terlihat tersenyum kecut,ada reaksi yang tak biasa muncul dari raut wajahnya.
Seolah-olah ia tidak menyukai atas sanjunganku tersebut.
Tak ada tanggapan yang berlebihan ia perlihatkan sebagaimana biasanya.
" Hmm,sepertinya saya tidak perlu memperkenalkan diri saya kepada anda karena setidaknya anda belum lupa ingatan hingga masih mengingat betul akan nama saya." ucap Annisa tersenyum kaku.
Aku mengulas senyuman,menatap dengan berbagai perasaan,perempuan yang tengah ada di hadapanku ini seratus persen wajahnya mirip Almarhumah istriku,namun sikap dan gaya bicaranya bagaikan langit dan bumi,sungguh dua sisi pribadi yang bertolak belakang,sosok perempuan yang memiliki sikap angkuh di dalam dirinya,entahlah aku belum mampu mengenal lebih jauh akan sosok perempuan tersebut.
" Tentu saja aku masih mengingatnya,dan entah kenapa sepertinya aku merasa sulit untuk melupakan nama kamu di ingatan ku." ujarku dengan nada penuh candaan.
Annisa mendelik menatapku semakin dingin,sepertinya ia terganggu dengan apa yang kukatakan tersebut.
Aku tersenyum berusaha untuk tidak terlihat buruk.
" Tenang saja,aku tidak bermaksud untuk merayumu,ataupun menggombalimu,tapi jujur saja wajah kamu berhasil mengingatkan aku kepada sosok seseorang yang begitu berarti dalam kehidupanku." ujarku sedikit meralat ucapanku dengan tersenyum simpul.
Annisa menatapku dengan ujung matanya,dan meletakan tatapannya dengan penuh ke angkuhan,lalu ia menarik sedikit garis bibirnya menjadi datar,terkesan memaksakan ia terseyum.
Sepertinya ia tidak tertarik dengan perkataan yang di tunjukan untuk dirinya.
" Maaf pak,apakah kita bisa segera memulai untuk mengenai pembahasan materinya,saya kesini berniat ingin mempelajari berbagai macam konsep serta teoeri tentang sebuah Desain,bukan mendengar kisah cerita masa lalu anda." ujar Annisa mengalihkan pembicaraanya dengan tersenyum hingga membuat aku terkesiap mendengarnya.
Aku cukup tergugu dengan sikap tegas perempuan yang tengah menatapku dengan sorot mata panjang ,sikapnya yang benar-benar bertolak belakang dengan Annisa mendiang istriku.
Aku berpikir,hingga menyimpulkan sebuah opini yang ada di otaku,jika perempuan ini memang tidak memiliki selera humor yang tinggi,bahkan ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya terseyum dengan manis,sungguh sebuah sikap yang sulit di maklumi.
Senyumanku menyurut,aku menggulug semua senyumanku hingga aku hanya mampu menatap datar perempuan tersebut.
" Ok,tentu saja aku akan segera memulai pembahasannya." balasku terbata.
Annisa mulai terlihat siap untuk segera mendengarkan segala penjelasan dariku.
Aku menghela napas panjang,lalu memulai ancang-ancang untuk berbicara.
" Teori Arsitektur bermacam-macam,dan di antaranya teori ruang,teori tempat,teori bentuk dan teori cahaya,sebagian dari beberapa terori tersebut,terdapat contoh penerapannya pada bangunannya yang ada." ujarku menjelaskan.
Tanpa menunggu lama aku pun menjelaskan konsep serta teori sebuah Desain yang aku ketahui secara detail.
Aku sedikit terkesima dengan sikap yang di tunjukan Annisa secara tiba-tiba,ia memperhatikanku secara penuh.
Begitu besar attention yang ia tunjukan kepadaku ketika aku menjelaskan secara detail konsep tersebut,dan entah kenapa tiba-tiba aku yang merasa jika aku sedang di perhatikan oleh seseorang yang paling aku sayangi,sehingga aku rak sengaja melakukan sedikit kesalahan dalam berbicara sehingga aku denga cepat meralatnya.
Sungguh pertemuan ini begitu berkesan,sikap Annisa yang begitu tegas membuat perasaanku melahirkan sebuah kekaguman,semoga saja aku tidak melahirkan perasaan yang sebagai mana mestinya perasaanku terhadap Almarhumah istriku.
Sikap Annisa yang terkesan menjaga jarak denganku membuat aku semakin merasa penasaran atas sikap jati dirinya entahlah,aku merasa jika Tuhan sedang menghadirkan Annisa perempuanku dengan versi yang lain.
Pertemuanku dengan Annisa semakin intens semenjak ia mengadakan observasi di perusahaanku,aku dan perempuan itu selalu bertemu,bahkan Annisa kini tak lagi merasa canggung jika bertemu dengan ku,namun sikap kurang ramahnya masih melekat di dirinya,apa mungkin karena ia sosok perempuan yang tegas hingga ia terkesan kurang friendly.
Ada sedikit kemiripan ketika ia sedang berbicara,pembawaan yang begitu elegan dan benar saja aku diam-diam mulai merasakan kekaguman yang berbeda terhadap sosok perempuan tersebut seiring waktu yang berjalan.
Arsitektur perempuan pertama kalinya yang aku jumpai,jiwanya yang tegas hingga sikapnya yang keras membuat aku yakin jika sosok Annisa akan memiliki karir yang cukup cemerlang di bidang Arsitek.