
ADA sekelumit perasaan kehilangan atas kepulangann pria asing itu ke nengrinya,tentu ini memberi sebuah efek yang sedikit buruk terhadap perasaan hati seorang Annisa.Ini adalah bukan pertama kalinya Annisa merasakan kecewa atas perasaanya sendiri,jauh sebelum ia mengenal sosok pria asing tersebut dia telah di kecewakan bahkan lebih dari itu,ia terluka hingga menyisakan perasaan trauma yang begitu dalam atas cintanya yang tak berestu.
Namun situasi kali ini sangat berbeda,perasaan yang selama ini tertahankan di dalam hatinya harus kembali berakhir pada kekecewaan yang begitu dalam,sosok pria itu pergi tanpa meninggalkan jejak yang pasti,padahal hatinya telah tertaut erat dengan sosok pria tersebut.
Annisa menatap jauh ke bawah luar Afartemen sana,ada sebuah rasa yang tertinggal di relung hatinya akan sosok pria asing tersebut,masih jelas di pikirannya bagaiamana pria itu tersenyum kepadanya,menggoda di setiap pertemuannya.Senyumannya,tingkah serta polah sikap sosok pria asing tersebut begitu terekam jelas di dalam memorynya.
Mengenalnya dalam diam membuatnya menyimpan berbagai harapan yang begitu indah,namun sayang kini ia harus kembali di hancurkan oleh kenyataan yang sesungguhnya.
Dan kekecewaan itu siap atau tidak harus tetap di hadapi dengan berbagai perasaan di hatinya, ia harus merelakan pria itu kembali dengan meninggalkan sepenggal kisah yang memiliki sebuah arti di hatinya.
Tak perlu dia yang salah,justru Annisa kini menyalahkan perasaan hatinya yang begitu mudahnya terpesona bahkan terperdaya dengan karismatik yang di miliki pria tersebut.
Yaa,setelah sekian lama ia terpedaya dalam sebuah rasa trauma,sosok pria asing itu mampu menghapus jejak rasa sakit di hatinya,namun itu tak berapa lama,Annisa menghela,rasa yang terburu-buru ia pendam selama ini harus berakhir kandas dengan kenyaataan yang ada.
Annisa tersenyum kecut,ia sadar jika dirinya tak bisa harus terus menerus larut dalam penyesalannya.
Dia seorang motifator yang selalu mampu membuat seseorang menjadi berarti kembali ketika ia berbicara.
Kembali Annisa tersenyum pahit,ia berspekulasi jika Tuhan telah menunjukan kepada dirinya jika untuk saat ini tak ada pria yang terbaik untuk dirinya.
Ada mimpi yang harus di wujudkan saat ini bersama sang adik,bisa membeli rumah impian di kampung halamannya,Surabaya adalah mimpi terbesarnya saat ini.
Yaa Annisa berjanji akan membangun sebuah rumah idaman bersama sang adik di kampung halamannya,sadar akan ketidak mungkinan ia akan terus berada di ibu kota ini selamanya.
Impian sederhana itu adalah impian dia dari dulu, ia bisa memiliki sebuah rumah serta pendamping hidup untuk menemaninya hingga kelak ia tutup usia.
Annisa tersenyum pahit,kenyataan memang tak selalu indah,namun ia sangat yakin akan rencana Tuhan yang lebih indah.
" Kak Annisa." panggil Adam mengejutkan dari lamunan panjangnya.
Annisa segera menyeka air matanya,lalu ia berusaha bersikap seperti biasanya,jika dirinya baik-baik saja.
Annisa menoleh ke arah sang adik dengan bersikap tenang.
Raut wajah Adam terlihat sedih,seperti merasakan sesuatu yang berat di hatinya.
" Kamu baru pulang ?" tanya Annisa seraya mengalihkan pandangannya ke hal yang lain.
" Pak Joan akan kembali ke Singapur." jawab sang adik justru tidak membalas pertantaan sang Kaka.
Annisa kembaki menoleh sang adik dengan perasaan tak biasa.
" Adam rasa pak Joan tak mungkin kembali ke Indonesia,pekerjaanya telah selesai disini." ungkap Adam dengan nada sedih.
Annisa mengangguk pelan dengan perasaan hancur.
Adam terdiam,sepertinya ia merasakan kehilangan atas kepergian sosok pria tersebut.
" Kakak sudah tau." jawab Annisa pelan,entah kenapa kali ini ia tidak bisa menyembunyikan lagi raut wajahnya atas kesedihannya.
" Pak Joan berpamitan sama Kakak ?" tanya Adam penuh selidik.
Annisa mengangguk lalu mengulas senyuman yang begitu hampa,ia berusaha menahan air mata yang sedang berusaha memaksanya untuk keluar ketika mendengar nama pria itu di sebutnya.
" Ya,kemaren Kakak sempat bertemu dengannya dan ia berpamitan sama kakak,jika dia akan kembali ke Singapur." balas Annisa dengan senyumannya yang tertahan.
Adam menatap jauh ke dalam raut wajah sang Kakak yang terlihat menahan sesuatu.
Adam menghela dengan perasaan berat.
" Kasian pak Joan,akhirnya di memilih pulang,padahal jika ia bertahan disini,mungkin akan ada beberapa perusahan yang akan merekrutnya untuk kembali bekerja." guman Adam pelan,namun mampu terdengar jelas ke pendengarannya Annisa.
" Kita tidak bisa mengubah nasib seseorang,bahkan kehidupannya sekalipun,mungkin inilah yang terbaik buat pak Joan dia harus kembali ke negri asalnya,dan siapa tau disana ia akan menemukan kembali kesuksesannya,karena hidup seseorang tidak ada yang tau kan?" ucap Annisa lirih suaranya jelas terdengar melo.
Adam mengangguk pelan.
" Pak Joan ada titip pesan sama Adam,agar Adam bisa menjaga ka Annisa dengan baik." ujar Adam menoleh sang Kakak.
Annisa mengernyit mendengar ucapan sang adiknya tersebut,lalu sekilas ia terlihat terkekeh di dalam kesedihannya.
" Memangnya Kak Nisa anak kecil,harus di titip-titipin segala," balas Annisa merengut.
" Kak...." Panggil Adam menatap lurus sang Kakak.
Annisa sedikit berekasi lebih setelah melihat sikap sang adik yang begitu serius cara memanggilnya.
" Ada apa ? " tanya Annisa datar.
" Apakah pak Joan pernah berbicara sesuatu sama kakak ?" tanya Adam penuh selidik.
" Bicara apa ? " tanya Annisa sedikit polos,namun hatinya sedikit berdebar.
" Bicara sesuatu tentang perasaanya terhadap Kakak ?" tanya Adam terbata.
Sejenak Annisa menatap sang adik dengan penuh pandangan.
" Kakak rasa pak Joan tidak pernah berbicara yang lain,cos kita selalu berbicara tentang pembahasan sebuah motifasi untuk dia jalani,tak ada lagi yang pembicaraan yang lain selain daripada itu." jelas Annisa dengan jujur.
" Kakak yakin ?? " tanya Adam penuh selidik.
" Apakah Kakak terlihat kurang menyakinkan ? " tanya balik Annisa dengan menyeringah.
Adam tersenyum dengan kaku,ia melihat jika sikap sang Kakak sedikit sentimen kepadanya.
" Mudah-mudahan perasaan Adam keliru atas penilaian pak Joan terhadap Kakak." ujar Adam tersenyum penuh arti.
" Maksud kamu ? " Annisa meninpali dengan cepat.
Adam terdiam,lalu ia membenarkan posisi duduknya.
" Hmmm,kak sepertinya pak Joan menyukai kakak." ujar Adam tegas.
Seŕrrrr......
Ada yang berdesir hebat di hati Annisa mendengar penuturan sang adik,namun Annisa berkilah dia tidak ingin terlalu menghiraukan atas ucapan adiknya tersebut.
" Adam-adam,kamu so tau,tau dari mana jika pak Joan suka sama kakak?." balas Annisa terkekeh melihat tingkah adiknya tersebut.
" Adam bisa merasakanya Kak." imbuh Adam menatap serius.
" Tapi Kakak tidak merasakan apa yang kamu katakan tentang pak Joan tersebut." kilah Annisa pelan.
" Memangnya Kaka tidak merasakannya ?" tanya lagi Adam penasaran.
Annisa menggeleng.
" Tidak ?? " jawabnya singkat namun nada suaranya terdengar hampa.
" Sama sekali ?? " cecar Adam kian menjadi.
" Kakak rasa seperti itu." ucap Annisa yakin.
" Apa kakak tidak menyukai pak Joan ?" cecar kembali Adam begitu pasih.
Annisa melirik dengan cepat sang adik,lalu menatapnya dengan intens.
" Kenapa kamu pertanyakan hal itu ?" tanya Annisa sedikit jengkel melihat sikap adiknya yang mulai terlihat nenyebalkan.
" Karena Adam peduli sama kakak,sekian lama kakak hidup dalam sebuah rasa trauma yang berkepanjangan,tidak ada salahnya jika kakak harus membuka kembali perasaan untuk pria lain kak,termasuk pak Joan.Mas Alfin itu sampai kapan pun tidak akan pernah di restui menikah dengan Kakak,Ayah mas Alfin tidak menyukai Kakak sama sekali,Adam tidak ingin melihat Kakak berada di dalam rasa trauma itu." tutur Adam dengan perasaan tak biasa,sorot matanya terlihat begitu sedih.
Anisa menghela napas ia merasakan perasaan yang begitu tetampar keras oleh pernyataan sang adiknya.
Adam tidak tahu jika selama ini ia tengah berusaha mengubur kembali perasaannya tersebut,perasaan yang baru saja tumbuh namun kembali harus tumang dengan cinta sepihak,yaa cinta bertepuk sebelah tangan.
Hening....
Annisa terdiam dengan berbagai perasaannya,Adam menatap sang Kakak dengan seksama.
Selang beberapa menit kemudian,Annisa tersenyum getir ia hendak membalas ucapannya sang adik,namun sayang entah kenapa tiba-tiba kepalanya berdenyut hebat sehingga dengan spontan ia meringis kesakitan.
" Aduh," pekiknya cukup keras seraya memegangi kepalanya.
Adam melihat ke adaan sang kakak sontak terkejut.
" Kak Nisa,kenapa ?" tanya Adam cemas saat melihat Annisa memegangi kepalanya dengan raut wajah menahan kesakitan.
Seketika wajah Annisa terlihat meringis menahan rasa sakit yang begitu hebatnya.
" Entah lah,akhir-akhir ini kepala kakak selalu sakit,bahkan lebih sakit dari biasanya ?" ujar Annisa di tengah rasa sakitnya.
" Kakak pusing atau....?" tanya Adam menggantung.
" Tidak !!,rasanya kepala kakak begitu berat,hingga pandangan pun menjadi gelap." balas Annisa dengan memejamkan kedua matanya.
Adam semakin menatap cemas,di hampirinya sang Kakak dengan penuh rasa khwatir.
" Sepertinya kaka perlu istirahat,mungkin kakak terlalu kecapean ?" ujar Adam dengan cemas.
" Entahlah," balas Annisa bimbang.
" Kalau begitu kita periksa ke Dokter ya Kak ? " ajak Adam.
" Tidak,tidak usah,mungkin ini hanya sakit kepala biasa saja." ujar Annisa menolak ajakan sang adik.
" Tapi wajah Kakak pucat sekali,Adam antar ke Dokter saja ya Kak." ajak Adam membujuk sang Kakak untuk segera berobat.
" ### Nanti saja,sebaiknya Kakak istirahat saja,siapa tau habis istirahat akan membaik." Annisa tetap menolak ajakan sang adik.
" Tapi Kak," sela Adam dengan resah.
" Udah,kamu gak usah khawatir Kakak baik-baik saja." tepis Annisa berusaha meyakinkan sang adik untuk tetap tenang.
Adam menatap lepas sang Kakak yang perlahan berjalan meninggalkan dirinya.
Annisa tercenung seraya menatap dirinya di cermin,ia menatap seluruh wajahnya yang kian terlihat cekung.
Annisa memperhatikan gambaran wajahnya dengan seksama,sakit yang selama ini sering alami di kepalanya bukanlah sakit biasa,dan bukan lah penyakit tanpa alasan.
Annisa mengusap wajahnya dengan kedua matanya perlahan ia membuka kain penutup kepalanya lalu membiarkan kepalanya tanpa hijabnya.
Rambut hitamnya di biarkannya terurai panjang.
Annisa menarik napas panjang saat menatapi wajahnya yang mulai tak sesegar dulu lagi,entah kenapa aura wajahnya terlihat begitu layu.
Perlahan tangan Annisa menarik pelan handle lanci meja riasnya,lalu terlihat ada sebuah map berwarna coklat teronggok di dalamnya.
Tak lama ia pun penarik keluar map tersebut dan di letakannya di atas meja.
Tak berapa lama tangannya terulur dan menbuka serta memeriksa selembaran kertas dari dalam map tersebut.
Tangannya terhenti dengan sedikit bergetar,sorot matanya mulai terlihat berkaca-kaca,bahkan bibirnya yang kering mulai terlihat menggigil menahan perasaan yang menghimpit dadanya.
Selembaran kertas tersebut adalah hasil dari diagnosa penyakitnya selama ini,tak ada yang tahu jika selama ini Annisa telah mengidap penyakit yang cukup serius bahkan penyakit tersebut cukup mematikan,yaitu Kangker otak,ia tidak menyangka jika penyakit itu akan bersarang di kepalanya.
Selama ini Annisa menutupi rasa sakitnya dengan sikap diamnya,seoalah-olah ia baik-baik saja.
Tak ingin membuat orang lain khawatir,terutama sang Adik,ia begitu takut jika adiknya akan mengetahui keadaan yang sesungguhnya sehingga adiknya merasa ketakutan sekaligus cemas akan kondisinya tersebut.
Tapi kenyataan kondisi ini tidak akan bisa ia tutupi selamanya,perlahan tapi pasti penyakit ini akan menyerangnya secara tiba-tiba bahkan merenggut nyawanya.
Apa lagi akhir-akhir ini rasa sakit itu kian datang menerpanya hingga ia merasakan sakit yang luar biasa.
Lelehan air bening mengalir deras dari pelupuk matanya,tentu saja ia sangat sedih,karena hingga saat ini penyakit kangker belum bisa di sembuhkan secara medis.
Namun itulah sosok Annisa,yang tak mau menyerah dalam situasi apapun,keinginannya untuk sembuh melalui Doa ia selalu panjatkan,tidak ada yang tak mungkin di dunia ini,sekalipun Tuhan meruntuhkan gunung tertinggi di dunia ini dalam sekejap Tuhan akan Mampu menghancurkannya.
Annisa memiliki harapan besar untuk bisa terlepas dari penyakit tersebut walau kenyataanya kecil,tapi ia berjuang keras untuk bisa sembuh.
Kesedihan itulah yang ia selalu tutupi dari siapapun termasuk sang adik.Adam.Ia tidak ingin melihat adik semata wayangnya sedih dan memikirkan akan kondisinya tersebut.
Annisa menatap dalam ke selembaran kertas tersebut,tak terasa air matanya menetes dan jatuh di atas kertas tersebut.
Selama ini Allah memiliki rencana lain untuknya,kenapa hingga saat ini ia belum di pertemukan dengan seseorang yang akan menjadi pendamping hidupnya,karena Allah tidak ingin membuatnya sedih ataupun patah hati,jika seseorang itu belum bisa menerima dia apa adanya.
Annisa tersenyum gamang,yaa dia selalu berperasangka baik terhadap Allah,Tuhan yang selalu memberinya kekuatan dalam hal apapun.
Annisa yakin jika takdir mempertemukan dia dengan seseorang yang mampu menerima dia apa adanya,maka tidak ada kata tidak mungkin semua akan terjadi dengan kun Fayakun NYA.