
ANNISA tengah di sibukan dengan beberapa pekerjaan perkampusannya,di hadapannya lembaran-lembaran kertas pekerjaannya menumpuk menemaninya.
Wajah cantiknya terlihat begitu serius tatkala menyimak satu persatu lembaran demi lembaran tugas para mahasiswanya.
" Kak Nis," Adam memanggilnya seraya menghampirinya.
" Hmm...," balas Annisa tanpa sedikitpun menoleh ke arah sang adik yang kini tengah memperhatikannya.
" Jadi Kak Nisa sudah berkenalan dengan pak Joan ?,kok Kak Nisa tidak cerita jika udah berkenalan dengan pak Joan ?" tanya Adam mulai menggoda sang Kakak.
Annisa menghentikan kegiyatannya lalu menoleh ke arah sang adik dan menatapnya dengan intens.Ia merasa jika sang adik mulai penasaran akan sikapnya yang diam-diam telah berkenalan dengan Joan.
Adam memainkan kedua alisnya dengan penuh lelucon ketika sang Kakak menatapnya dengan perasaan kikuk.
Jelas Adam mulai mengetahui akan perasaan hatinya terhadap laki-laki asing tersebut.
" Hmm,Kakak tidak sengaja ketemu dia di depan lift,dan pak Joan mengajak Kakak berkenalan." jelas Annisa dengan tersenyum kaku.
" Ehem !!" dehem Adam berpura-pura batuk seraya melirik dengan penuh isyarat sang Kakak.
Paham sang adik sedang meledeknya Annisa segera mengklarifikasi.
" Adam,Kakak hanya berkenalan saja,dan itu tidak lebih,jadi tolong kamu jangan berpikir terlalu jauh." tepis Annisa berusaha menghentikan prasangkanya sang adik.
Adam tersenyum melihat sikap salah tingkahnya sang Kakak,sekian lama ia melihat sikap dinginnya sang Kakak kini justru sikap itu sedikit berubah,sikap Kakaknya kali ini lebih sedikit berbeda.
" Lebih pun tak apa Kak,pak Joan orangnya baik kok,tampan lagi bak aktor korea ." usul Adam sedikit mempromosikan pria asing tersebut.
Annisa mendilak lalu tersenyum tak pasti.
" Kamu jangan berpikiran yang macam-macam,antara Kakak dengan dia tak ada apa-apa,setampan apapun dia kakak rasa dia hanya pria asing yang tak kakak kenal." tepis Annisa seraya kembali fokus ke pekerjaanya.
" Yakin ??" tanya Adam meledek kembali sang Kakak.
Annisa menoleh sang adik dengan ekspresi lebih,raut wajahnya terlihat merengut.
" Itulah pria yang di katakan Adam beberapa hari yang lalu,pak Joan pria yang ingin tahu lebih banyak tentang kehidupannya Kak Nisa,yaa secara jika seorang pria mencari tau akan kejelasan seorang wanita itu artinya.....," ucap Adam menggantung ia melihat ekspresi Annisa semakin tak enak di pandang.
" Jangan suka berlebihan." sanggah Annisa cepat.
" Ini tidak berlebihan Kak,pak Joan memang mencari tau tentang Annisa." jelas Adam seksama.
Annisa mengernyit dia berusaha untuk terlihat biasa saja,namun jauh dari hati yang paling dalam,padahal merasakah hal itu jauh sebelum sang adik mengatakannya.
" Jadi pria yang kamu maksud itu pak Joan ?" tanya Annisa kian berpura-pura.
Adam menangguk pelan.
Ada perasaan yang tak biasa yang Annisa rasakan,tentunya ini adalah perasaan yang begitu istimewa.
" Kakak berharap pria asing itu tidak sedang mengoshting kamu." ujar Annisa acuh.
" Dia bukan sedang menggoshting Kak,justru dia sedang mencari tau seseorang yang dia sukai." Adam kembali meledek.
Bola mata Annisa membulat,menatap sang adik dengan sedikit kesal.
Adam terkekeh melihat sikap sebalnya sang Kakak,sudah lama ia tidak melihat ekspresi itu dari wajah kakanya,namun selintas Adam melihat jika di raut wajah kakaknya ada kilasan kebahagiaan yang berhasil di kuasai oleh Kakaknya.
" Tapi Kak," Adam menjeda ucapannya dengan perasaan mulai terlihat sedih.
" Tapi kenapa ?" tanya Annisa dengan penasaran.
" Adam merasa kasian terhadap pak Joan,saat ini ia sedang di hadapkan dengan berbagai masalah yang begitu pelik." balas Adam dengan raut wajah kian sedih.
" Masalah ??" tanya Annisa menyeringai.
" Yaa,beberapa infut di tolak,dan telah terjadi penolakan di seluruh Desainnya di beberapa perusahan besar di Jakarta." jelas Adam dengan nada sedih.
Annisa terdiam dengan perasaan diam-diam meresah,entah kenapa ia merasakan apa yang di ceritakan oleh sang adik,tentu saja tak mudah bagi seseorang mengalami sebuah kegagalan dalam hidupnya.
" Adam sudah bantu semaksimal mungkin dalam permasalahan ini,tapi sayang permasalahan ini memang murni dari kesalahan di beberapa Desainya pak Joan.Padahal dia adalah salah satu Arsitektur yang paling bagus karyanya di sepanjang sejarah perusahaan Pak Wiliam." tutur Adam dengan tergurat kesedihan.
Annisa terdiam,entah kenapa perasaanya ikut resah mendengar permasalahan yang kini tengah di hadapi pria asing tersebut.
Joan memang bukan siapa-siapa dirinya,tapi entah kenapa rasa simpatik itu muncul dan berhasil menguasai pikirannya.
" Lalu bagaimana apakah sudah ada solusinya untuk permasalahan ini ?" tanya Annisa terlihat simpatik.
" Entahlah,permasalahan ini juga melibatkan beberapa staf penting di perusahaanya pak Wilian,mudah-mudahan ini semua kesalahan infut atau kesalahan data lainnya,dan Adam berharap,ada titik terang untuk menyelamatkan Desain-Desainya pak Joan serta pekerjaanya." jelas Adam terlihat menahan kesedihan.
Annisa terdiam,entah kenapa ia merasa simpatik atas apa yang sedang menimpa laki-laki asing tersebut,namun harus apa yang dia lakukan,dia hanya sebatas kenal dengan laki-laki tersebut tidak mengenalnya lebih dekat.
" Kak !"
Annisa menoleh ke arah sang adik tanpa ekspresi.
" Adam boleh minta tolong sesuatu sama Kak Annisa ?" tanya Adam sedikit memelas.
" Minta tolong apa ?" tanya Annisa memicing.
" Bantu pak Joan untuk melalui persoalan ini,pak Joan terlihat down dengan permasalahan ini." jelas Adam dengan penuh rasa peduli.
Annisa mengernyit menatap tak mengerti kepada sang adik.
" Tapi apa hubungannya Kakak dengan pak Joan ?" tanya Annisa sedikit heran.
" Entah kenapa Adam sangat merasakan apa yang di rasakan oleh pak Joan saat ini,karena tak hanya masalah pekerjaan saja yang tengah kini ia hadapi,tapi masalah mental serta perasaanya,di tambah kekasihnya meninggalkan dia hanya karena permasalahan ini." jelas Adam semakin detail.
Annisa tercenung,menatap dengan berbagai perasaan.
Pria asing itu memang sudah memiliki kekasih hati,lalu untuk apa hadirnya dia di saat seperti ini,bukankah hal ini akan membuatnya semakin buruk ??
Annisa semakin terdiam Ia tak tau harus berbuat apa,sedangkan dirinya bingung harus memulai dari mana jika ia bersedia menolong laki-laki asing tersebut.
" Adam yakin Kak Annisa bisa berperan penting dalam permasalahan yang di hadapi oleh pak Joan,sebelum permasalahan ini muncul pak Joan telah banyak mengenal Kak Annisa lewat Adam,jadi tidak ada salahnya jika kehadiran Kak Annisa sedikitnya membantu mentalnya untuk lebih tenang dalam menghadapi permasalahan yanh sedang terjadi." tutur Adam dengan penuh harapan jika sang Kakak berkenan mengabulkan permintaanya.
Annisa terdiam mencoba mempertimbangkan nya.
Raut wajah yang dingin itu terlihat mulai di liputi rasa bimbang.
Annisa menghela,tak ada keputusan yang terbaik di tengah kegamangan ini,selain mencoba untuk menolong nya dengan tulus atas masalah pelik yang tengah di hadapi orang asing tersebut.
Lalu ???
Lalu ke untungan apa yang dia peroleh dari permasalahan ini baginya ??
Dapatkan kebaikannya terbalaskan dengan sebuah apresiasi yang memuasakan ?
Annisa menggeleng,rasanya terlalu naif jika dirinya memikirkan sebuah timbal balik,dan mengharapkan suatu balasan yang setimpal atas apa yang akan di lakukannya terhadap laki-laki asing tersebut.
Annisa menatap dalam sang adik,perasaanya berubah dilema,antara pergi menolongnya ataukan hanya berdiam diri dan membiarkan laki-laki asing itu larut dalam keterpurukannya.
" Adam,Kak Annisa ragu untuk ikut campur dalam permasalahan ini,sebab pak Joan bukanlah siapa-,siapa Kakak." tutur Annisa dengan nada sedih.
" Kakak,anngap saja pak Joan itu seperti murid Kakak yang tengah memerlukan motifasi dan suport atas permasalahan yang tengah di hadapinya,Adam yakin Kak Annisa mampu membuat pak Joan bangkit,yaa setidaknya pak Joan merasa punya teman untuk mengeluhkan kesahkan permasalahanya,entah kenapa Adam merasa peduli terhadapnya,dan Adam rasa Kakak bisa mengatasinya." desak Adam.
Annisa tercekat mendengar ucapannya adiknya tersebut,sang adik begitu yakin jika dirinya mampu menolong pria asing tersebut.
" Tapi,Kenapa tidak kamu saja menolong dia ? " tanya Annisa menatap datar.
Adam menghela napas.
" Adam bisa saja mensuport dia Kak,tapi Adam melihat jika pak Joan memiliki ketertarikan terhadap Kakak,karena Adam melihat saat ini dia sering bertanya akan keyakinan yang kita yakini saat ini,Adam lihat dia sedang labil,jika Kakak hadir di tengah-tengah permasalahaanya,Adam yakin pak Joan akan lebih baik." ujar Adam dengan nada bicara yang tak biasa,Annisa melihat jika Adam sepenuhnya peduli terhadap laki-laki asing tersebut.
Annisa kembali terdiam,apa yang di katakan Adam setidaknya bisa di benarkan,namun harus memulai darimana jika dirinya berniat ingin membantu pria asing tersebut.
" Bukankah kata Kak Nisa kebaikan itu adalah harga yang paling mudah namun bernilai tinggi jika kita lakukan,dan Kak Nisa selalu mengingatkan sama Adam,jika kita memberi kebaikan terhadap seseorang maka pahalanya akan terus mengalir." imbuh Adam dengan raut wajah tak biasa.
Annisa menarik napas panjang,perkataan sang adik sungguh membuatnya semakin di lema.
Sejak hening,Annisa memandangi satu persatu lembaran tugas para muridnya.
" Hmm,Baiklah Kakak akan berusaha menolong pak Joan , tapi Kakak tidak bisa berjanji,jika kakak akan mampu membuat pak Joan bisa mengatasi permasalah ini." akhirnya Annisa memberikan keputusannya.
Adam tersenyum semeringah menatap penuh haru atas keputusan kakaknya tersebut.
" Adam yakin jika Kak Annisa bisa membuat pak Joan lebih baik,karena banyak di antaranya para mahasiswa yang pernah Kakak bimbing dan Kakak buat lebih baik dari masalah-masalah yang mereka hadapi." ucap Adam tersenyum lega.
" Semoga saja." balas Annisa berusaha untuk tersenyum,membuat perasaan sang adik lebih tenang.
" Makasih ya Kak,Adam berterimakasih banyak jika kakak mampu membuat pak Joan lebih baik." ucap Adam meraih tangan sang Kakak.
Annisa mengagguk dengan berbagai perasaan,ada rasa oftimis sekaligus pesimis di dalam hatinya.
Annisa terdiam,ia menyadari jika pekerjaanya sebagai Dosen di bidang keilmuan yang mempelajari tentang manusia,dan tentang pempelajari jiwa yang mempengaruhi sebuah tindakan mampu mengubah sedikitnya mental serta kepribadian murid-muridnya yang pernah berhadapan dengan masalah pelik.
Tak hanya itu saja,ia pun memiliki program study yang dia pelajari yang memang berhubungan dengan mental,pikiran,dan juga prilaku manusia dengan pengertian tersebut.
Tak hanya itu dia pun mampu membuka diri untuk menerima orang lain agar bisa berkonsultasi kepadanya.
Adam yakin jika sang Kakak mampu memperbaiki mental pak Joan.
Sejenak Annisa mencoba menyakinkan kemampuannya untuk menerima permintaan sang adik,dia tidak yakin akan seratus persen bisa membantu laki-laki asing itu untuk lebih baik dalam kondisi seperti ini,tapi dia berharap pria asing itu akan baik-baik saja.