
TATAPAN ku menerawang jauh ke arah jalanan,taxsi yang ku tumpangi melesat jauh meninggalkan Bandara Udara internasional Changi Singapura,aku melanjutkan sisa perjalanan hidupku yang kini kian terasa hampa.
Ada yang hilang dari raga ini setelah aku melapalkan sebuah ijab kabul terhadap Almarhumah Annisa,meski pernikahan ini begitu singkat namun rasanya kisah ini begitu sangat terkesan bahkan begitu istimewa.
Aku menikahi seorang perpuan dalam waktu hitungan jam,kurang lebih satu jam aku menjadi suami dari Annisa,tapi sayang Takdir Tuhan telah memisahkannya kembali,sehingga aku pulang dengan membawa luka yang cukup dalam.
Aku tak sempat memeluknya,bahkan aku tak sempat bercumbu mesra denganya,namun aku begitu sangat bersyukur karena telah mampu memilikinya di detik-detik kepergiannya.
Masih segar di ingatanku jika Annisa menggerakan senyuman terakhirnya hingga membekas di netraku.
Masih segar di ingataku ketika ia menjadikan aku seorang lelaki yang kuat aku menemukan titik terang cahaya itu melalui cinta kasihnya yang begitu tulus.
Ku remas tanganku ini,ada yang sakit di ujung hati ini,tapi sampai detik ini aku belum berani untuk mengatakan akan kisah semua ini terhadap Mamaku.
Aku tau Mama tidak akan menerima aku menjadi seorang mualaf,namun aku berharap Mamaku bisa mengerti akan pilihanku ini.
Aku menghela melepas semua penat di hati,mengedarkan seluruh pandanganku keseluruh jalanan.
Namun tiba-tiba netraku melihat sesuatu yang mengejutkanku,dengan repleks aku meminta sang sopir taxsi menghentikan kendaraanya.
Lalu tak lama kendaraan yang tengah aku tumpangi menepi,melewati sesuatu hal yang aku lihat.
Aku segera keluar dari taxsi tersebut dan menghampiri kendaraan yang tengah berhenti di jalan.
Aku melihat perempuan yang tadi aku temui di bandara terlihat sedang memperhatikan sang sopir membetulkan mobilnya,aku memberanikan diri melangkah mendekatinya.
" Sorry,excuse me is there is a problem ?" tanyaku menatap di antara Annisa serta sang sopit taxsi tersebut yang tengah sibuk membenarkan mesin kap mobilnya.
Annisa terhenyak atas kedatanganku yang secara tiba-tiba.
" My car has a problem." jawab sang sopir menolehku.
" Ow !" balasku menggantung.
" Hmm Annisa,bagaimana jika kamu menumpang bersama ku,cos kebetulan tujuan kita searah bukan ?" tanyaku tersenyum,Annisa terdiam lalu mencoba mempertimbangkan tawaranku.
Entah kenapa terlontar begitu saja ucapanku untuk menawarkan sebuah kebaikan terhadap Annisa.
Annisa berpikir seraya menatapku dengan berbagai pikiran di benaknya.
Aku paham jika Annisa tak semudah itu akan menerima tawaranku.
" Jika kamu merasa keberatan is ok,what ever.So aku hanya ingin menolong kamu saja,tak lebih,cos hari sudah semakin sore,kamu baru datang ke negri ini kan ?" tanyaku seraya tersenyum enteng,Annisa masih terdiam dengan berbagai pertimbangan.
Aku paham itu,jika Annisa ragu akan tawaranku tersebut.
Aku mengangkat enteng pundakku dan memutuskan melangkah berniat hendak kembali lagi ke arah taxsi yang aku tumpangi.
" Tunggu !!" Sergah Annisa tiba-tiba berseru.
Langkahku terhenti,lalu sejenak aku terdiam menunggu ucapan Annisa selanjutnya.
" Baiklah,saya ikut." balasnya dengan nada tak biasa.
Aku tersenyum dengan masih membelakanginya,perlahan aku pun tergugu akan sikap keras kepala sosok perempuan yang mirip dengan mendiang istriku cukup di perhitungkan.
Aku membalikan badan lalu tersenyum lembut ke arah perempuan tersebut.
Annisa tampak berbicara sebentar dengan sopir taxsi yang masih membetulkan mobilnya tersebut,bahasa inggris yang di gunakan Annisa begitu pasih.
Tak lama ia pun menarik kopernya dan berjalan menghampiriku.
Dengan senang hati aku mempersilahkan perempuan tersebut masuk terlebih dahulu kedalam taxsi yang aku tumpangi.Annisa mengangguk dengan sikap mulai hangat kepadaku.
Aku memilih duduk di dekat sang sopir,dan membiarkan Annisa duduk percis di sang kemudi,lalu taxsi pun melaju meninggalkan waktu.
Sesaat kita hanya saling terdiam,aku dengan pikiranku dan perempuan itu dengan pikirannya,kita sama-sama larut dalam sebuah pikiran masing-masing.
Aku dapat melihat jelas raut wajah perempuan itu yang terlihat sedikit canggung
Namun aku yakin jika perempuan itu akan merasa senang jika aku bantu,buktinya saja dia mau ikut serta dengan ku,hehe.
Taxsi berhenti tepat di depan Hotel yang menjadi tujuan dari Annisa.
" Sudah sampai,ini Hotel yang kamu cari." ujarku seraya menoleh ke arah Annisa yang duduk tepat di belakang sang kemudi.
Annisa terlihat membagikan padangannya keseluruh area Hotel tersebut,Hotel yang begitu sangat mewah dan berhasil membuatnya terkagum-kagum,sejenak ia pun larut dalam kemegahan hotel tersebut.
" Ehem !!" aku mendehem melihat sikap polos dari perempuan tersebut,namun perempuan itu terlihat masih takjub dengan penglihatannya saat ini.
" Nona,apa perlu saya antar kamu sampai depan kamar Hotel mu ?" ucapku dengan tersenyum menggoda,entah kenapa setiap kali aku menatap wajah perempuan itu,seolah-olah aku sedang berinteraksi dengan mendiang istriku.
Annisa tersentak setelah mendengar ucapanku tersebut.
Senyuman itu kini menyurut lalu menatapku dengan sedikit sinis.
" Tidak ! Terimakasih." balasnya singkat.
Tak lama Annisa mendorong pintu mobil tersebut lalu ia pun segera keluar,aku membuka sedikit kaca mobil taxsi tersebut dan menatap Annisa yang sudah berdiri keluar dari mobil.
Annisa berdiri di samping taxsi tersebut dengan tatapan masih memperhatikan tempat tersebut.
" Berapa yang harus aku bayar untuk sewa taxsi ini ?" tanya Annisa menatapku.
Aku tersenyum seraya menggeleng.
" Tidak perlu,anggap saja ini sebagai tanda perkenalan kita." balasku tersenyum enteng.
Annisa mengernyit menatapku tidak paham.
" ### Jangan terlalu di pikirkan,aku hanya bercanda.Kamu tak perlu membayar sewa taxsi ini,aku sudah membayarnya." jelasku ramah.
" Oh,baiklah kalau begitu terimakasih banyak,anda sudah menolong saya." balas Annisa mulai tersenyum tulus.
" Sama-sama." balasku tersenyum enteng.
Annisa tersenyum canggung,dan ia pun mulai beranjak pergi meninggalkanku.
Aku tersenyum mengantarkan langkahnya menuju ke loby Hotel tersebut.
Aku hanya bisa menghela napas panjang,pikirannku di buatnya aneh,entah kenapa aku merasa begitu peduli terhadap perempuan yang baru saja aku kenali di pesawat tadi.
Aku mengukir sebuah kehidupan yang tak biasa aku jalani,menikah dengan seorang permpuan yang paling aku kasihi setelah Mamaku hanya mampu bertahan saty jam 10 menit,setelah itu ia pergi meninggalkan ku di dalam perasaan yang sedang menggebu-gebu memujanya.
Aku tak akan menyangka sedikitpun jika takdirku aku begitu tragis,mengenalnya hanya dalam waktu yang singkat mencintainya seumur hidupku.
Aku menarik napas panjang,mencoba menetralkan semua perasaanku,dan pada akhirnya aku pun kembali pulang dengan membawa cerita lain dalam hidupku.
Seorang perempuan yang tak muda lagi usianya memelukku erat melepaskan rasa rindu yang di pendamnya,ia memelukku begitu hangat dan menyambutku ketika aku tiba di rumah,Mamaku merasa rindu berat akan kepulanganku.
Aku yang berjanji hanya pergi satu pekan,namun justru nyatanya hampir dua bulan aku meninggalkan Mamaku.
Ada banyak pertanyaan yang di terbesit di benak Mamaku terhadap diriku,dari mulai pekerjaan hingga masalah pribadi tak luput ia pertanyakan.
Namun sayang aku belum bisa berterus terang jika aku telah menikah dengan seorang perempuan muslimah.Aku merasa,saat ini bukanlah waktu yang tepat jika aku harus menceritakan akan pernikahanku dengan Annisa.
Mama akan terkejut pastinya jika aku berterus terang akan ke adaanku saat ini,yaa aku telah menjadi seorang muslim tentu saja keyakinanku dengan nya kini berbeda,aku belum memiliki kemampuan untuk mengatakannya.
" Mama I miss you so much Joan," ungkap Mamaku seraya masih merangkulku hangat.
" Miss you to Mam." balasku pelan.
" Why,kamu terlalu lama meninggalkan Mama mu dan pekerjaanmu disini?" tanya Mamaku dengan perasaan cemas.
" Im sorry Mam,Joan sibuk sekali,hingga ada beberapa urusan di Indonesia sana Mam." balasku menenangkan sang Mama.
" Bukannya pekerjaan baru kamu di Malaysia bukan di Indonesia.?" tanya sang Mama penuh selidik.
Aku tersenyum mencoba menyembunyikan perasaan kalutku.
" Kebetulan di Indonesia Joan memiliki beberapa pekerjaan Mam,so sehabis dari Malysia Joan bertolak ke Indonesia,mumpung wilayahnya dekat Mam." ujarku tersenyum dengan penuh kebohongan.
" Puji Tuhan,kini kamu kembali berjaya Joan,Mama beterimakasih kepada Tuhan atas kembalinya semangat kamu untuk berjuang." ucap Mama tersenyum simpul.
" Semua berkat doa Mama untuk Joan." ucapku seraya mengelus lembut pundak perempuan terkasihku.
Mama tersenyum dengan penuh rasa bangga.
" Joan !" panggil Mamaku menatapku dalam.
Aku mendongkak lalu memandang penuh wajah perempuan yang paling aku kasihi.
" Ada apa ?" aku menghentikan kegiyatanku mengeluarkan barang-barang dari rangselku.
" Ketika kamu pergi,Jerica kekasihmu selalu datang menemui Mama dan menanyakan akan keberadaanmu." ucapnya pelan.
Aku tersentak dengan memicingkan kedua mataku setelah mendengar pernyataan Mamaku.
Tentu saja aku terkejut mendengarnya,jika Jerica mulai mencariku kembali,ada apa ,,??
Aku menatap penuh istumewa.
" Jerica ?? " desisiku pelan.
Menatap wajah sang Mama dengan perasaan heran.
" Untuk apa dia mencariku?" tanyaku mulai sentimen,entah kenapa jika aku mendengar nama wanita itu di sebut perasaaku kembali sakit,sakit atas perlakuannya terhadapku.
" Tentu saja dia mencarimu,bukannkan dia pacar kamu ?memangnya kamu tidak memberi tahu jika kamu pergi ke Indonesia dengan waktu yang lama ?" tanya sang Mama menatapku dalam.
Aku terdiam,rasanya perasaaku enggan jika harus membahas kembali tentang permpuan yang telah mengabaikan perasaaku ketika aku terpuruk.
" Tidak Ma,aku tidak memberi tahu Jerica,cos aku dan Jerica sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi,kisah di antara kita sudah berakhir." jelasku pelan.
" Oh my God! Benarkah itu ?" tanya Mama terlihat shok mendengar penjelasannku.
Aku mengangguk dengan tersenyum hampa.
" Mama tidak tahu akan hal itu." ucap Mamaku menatap iba.
" Joan rasa,Joan tidak perlu lagi membahas atau pun tau akan keadaanya Jerica seperti apa,sebab,jauh sudah Jerica telah meninggalkan Joan dengan luka yang begitu dalam." ungkapku pelan.
" Kenapa kamu tidak berbicara hal ini sama Mama." tanya Mamaku dengan perasaan kecewa.
Aku tersenyum lembut berusaha memberikan pengertian yang begitu halus.
" Tidak lah,Joan tak nak jika Mama punya beban akan masalah pribadi Joan,sudalah ini sudah berlalu." tungkasku dengan nada biasa.
Mama menatapku sedih,ia tidak percaya jika anaknya korban dari kekejaman para wanita..haha...,
" Oh,i'm sorry nak,Mama tidak bermaksud ingin membuat kamu terluka kembali." ucap Mamaku dengan raut wajah sedih.
" No Mam,Mama tidak perlu meminta maaf,no problem Mam,mungkinJerica bukan lah perempuan yang terbaik untuk Joan Mam." balasku pelan.
" Ea I easy, sekarang Mama tidak akan memaksakan kamu untuk mencintai siapapun,dan Mama selalu berdoa,God blees you Joan." ucap Mama terenyuh.
Aku menatap rapuh ke arah Mamaku,betapapun tidak Mamaku adalah seorang perempuan yang begitu sangat pengertian terhadapku anaknya,bahkan ia tidak pernah memaksakan kehendakku apapun itu.
Aku begitu menyayanginya lebih dari apapun.Namun entah kenapa aku belum bisa mengatakan jika aku telah berpindah ke yakinan terhadap Mamaku.
Saat ini aku tidak ingin membuatnya bersedih.
Mama mengelus lembut kedua pundakku,dengan perasaan nyamannya dia berusaha menenangkan perasaanku.
" Biaklah Mam,Joan mau istirahat." pintaku pelan.
" Ok." balas Mamaku singkat,tak lama perempuan yang paling aku sayangi tersebut beranjak dari tempat duduknya,sebelum oergi ia menepuk lembut bahunku lalu tersenyum dan berjalan meninggalkan aku.
Aku menghela napas panjang menahan perasaan yang sudah lama aku benam kini terurai kembali atas pernyatan Mamaku tentang sosok seorang perempuan yang kini telah lenyap dari kehidupanku.
Perempuan yang pernah meninggalku begitu saja dan mencampakanku layaknya seperti sampah.
Meski aku telah menikahi Annisa tapi jauh sebelum hadir sosoknya Annisa dalam kehidupanku,aku tidak memungkiri jika Jericalah sosok perempuan yang terlebih dahulu bertahta di hatiku,dan akupun menambatkan seluruh hati dan perasaanku terhadap Jerica.
Aku beranjak dari tempat dudukku lalu berjalan mendekat ke arah sebuah meja yang berada di sudut ruangan kamarku,perlahan aku membuka laci meja tersebut dan aku melihat sebuah foto masih tersimpan rapih di sana.
Aku masih menyimpan potoku bersama Jerica,betapa bahagianya dulu aku bisa memilikinya,bahkan aku merasa jika aku sangat beruntung dapat memiliki seorang perempuan seperti Jerica,tapi kenyataannya tidak.
Tapi semua itu dulu,perasaan ini kini menyurut seiring luka yang tertanam di hatiku,pengorbanan yang begitu istimewa terhadap perempuan itu di balas sia-sia olehnya.
Aku mendesah hebat,ini adalah masalaluku yang kelam,dan aku berharap masa lalu ini tak akan singgah kembali dalam kehidupannku.