
~ SEJENAK suasana ruangan menjadi hening,Annisa masih menatap nanar ke arah Adam,sang adik.
Ada lelehan bening menuruni lembah garis bibir matanya.
" Kak Annisa ! Alhamdulillah Kakak sudah sadarkan diri." pekik Adam dengan suara parau.
Bibir Annisa tergerak,namun sejurus kemudian dia terlihat merintih kesakitan,rasanya ingin kupalingkan wajahku ini untuk tidak melihat keadaannya yang seperti ini.
" Argghhh....." desisku nyaris tertahan.
" Kakak,Adam panggilkan Dokter ya." ucap Adam dengan cepat berdiri lalu sepertinya ia hendak melangkah,namun tangan Annisa berusaha menggapainya dengan sekuat tenaga untuk menahan langkah Adam dengan pasrah.
Adam terhenti saat merasakan dirinya di tahan oleh tangan sang Kakak.
Adam kembali duduk.
" Ka Annisa kenapa ?" tanya Adam yang kembali duduk di sampingnya Annisa.
Annisa menggeleng dengan senyuman yang mulai memudar.
Sepertinya Annisa ingin berbicara,namun ia tak mampu untuk mengatakannya.
Adam menatapnya dengan risau.
Annisa terlihat menggerak-gerakan bibirnya dengan penuh isyarat.
" Sebaiknya Adam panggilkan Dokter." ucapk kembali Adam seraya berdiri.
Annisa menatap sang Adik dengan penuh isyarat.
" Biar aku saja yang panggil Dokter." selaku dengan cepat.
Aku tidak bisa hanya berdiam diri ketika melihat Annisa mulai terjaga dari tidur panjangnya.
Adam menoleh ke arahku yang berdiri di ujung hospital bad.
" Oya Kak.disini ada pak Joan !" ucap Adam seraya menoleh ke arahku yang masih berdiri di ujung hospital bed.
Annisa perlahan menggeser tatapannya lalu menatap kearahku yang berdiri menatap hampa.
Tidak terasa ada yang sakit di ujung hatiku ini ketika aku menatap kedalam sorot matanya yang tak secemerlang dulu lagi,kini sorot mata itu terasa kian memudar.
" Assalamualaikum Annisa..!!" sapaku dengan menatap lembut Annisa.
Aku melihat Annisa menggerakan garis bibirnya,ia berusaha tersenyum ke arahku walaupun dengan bersusah payah ia melakukannya,tapi ia berusaha menggerakan garis bibirnya dengan penuh isyarat.
Annisa cukup lama menatapku dengan tatapan penuh arti,meski dia tak berbicara namun entah kenapa aku merasakan jika tatapan nya penuh cerita ke arahku.
" Annisa,aku sudah dua hari ini menemani Adam di sini,dan aku ingin sekali tahu akan keadaanmu." ucapku tersenyum kaku.
Annisa kembali menggerakan bibirnya namun tak mampu bersuara.
" Aku sangat sedih melihat kondisi kamu saat ini,aku berdo'a supaya kamu cepat sembuh." ungkapku dengan perasaan terharu.
Bibir Annisa tergerak membentuk sebuag garis yang melengkung,namun sorot matanya terlihat begitu dalam menahan rasa sakit yang begitu dalam.
Sungguh aku tak kuasa melihat kondisi Annisa saat ini.
" Annisa kini aku sudah menjadi seorang mualaf." tiba-tiba ucapaku meluncur begitu saja dari mulutku,memberi tahu jika aku sudah satu keyakinan dengan nya.
Annisa tetap terdiam,hanya tersenyum tak pasti ke arahku,namun aku melihat akan gerakan bibirnya merespon penuh segala ucapanku.
Bibirnya kembali bergetar entah apa yang akan di ucapkannya,namun seolah-olah ia sedang memberi isyarat penuh arti kearahku.
" Aa a a." Panggilnya terbata-bata ucapannya masih menggantung ia berusaha untuk mengatakan sepatah kata kepadaku,namun begitu sulitnya ia menggerakan bibirnya untuk bicara.
" Annisa !" panggilku dengan cemas.
Kedua ujung bibir Annisa menganga namun sejurus kemudian ia terlihat meringis kesakitan,jangankan untuk berkata banyak tersenyum saja rasanya sulit sekali di lakukan olehnya,ini benar-benar keadaan di atas normalku.
Adam menatap dengan iba,tak ada senyuman lagi di wajahnya melainkan hanya tatapan penuh rasa kekhawatiran atas ke adaan sang Kakak yang benar-benar tak berdaya.
" Annisa.Aku kesini ingin meminangmu." ucapanku terlontar begitu saja,tanpa aba-aba melesat dari mulutku bak anak panah yang meluncur tepat di sasarannya.
Dalam keadaan bersamaan Adam menoleh kearahku dengan terperangah.
" Pak...!!" Panggilnya menatapku dengan tidak percaya, seolah-olah ia tengah meragukan perkataanku sehingga mengejutkan alam sadarnya.
Aku menatap Adam dengan penuh makna.
" Yaa Adam...!!,sesungguhnya kedatanganku dari Singapore ini tiada lain hanya ingin meminang Kakak mu Annisa." Jelasku dengan menatap serius ke arah Adam yang masih menatapku tak percaya.
Aku sangat berharap jika Adam akan merestui permintaanku ini.
" Apakah bapak tidak salah berbicara ?" tanya Adam menatapku dengan was-was.
" Tidak Adam ! Aku tidak salah berbicara,aku berbicara dalam ke adaan sadar sepenuhnya,dan niat ini atas dasar keinginanku sendiri,aku sengaja datang ke Indonesia untuk berniat ingin menikahi Kakak mu Annisa,jujur saja dari pertama kaki aku berjumpa dengan Kakak mu aku sudah menyimpan harapan besar atas perasaanku ini " Jelasku dengan menatap lekat ke dalam wajahnya Adam,akhirnya aku mampu berterus terang akan niat baik ku selama ini.
Adam menatapku tak berdaya,ada guratan kesedihan sekaligus kebahagiaan.
" Mohon maaf pak,sebelumnya saya minta maaf jika prasangka saya ini terlalu naif,karena saya tidak ingin orang lain mencintai Kakak saya hanya karena kasihan,terlebih dengan kondisi seperti ini." jelas Adam dengan berbagai perasaan di benaknya.
Aku mengerti apa yang di maksud dari perkataan Adam,sesungguhnya dia begitu sangat menyayangi Kakaknya.
" Aku paham atas apa yang kamu katakan,tapi percayalah aku mencintai Kakak mu dengan tulus." ungkap ku dengan tersenyum pasti.
Adam menoleh ke arah Annisa dengan perasaan tak menentu,sulit rasanya ia menerima atas perkataanku ini.
Annisa terdiam,napasnya terhembus pelan,ada raut wajah yang tak biasa aku saksikan,ketika ia mengentahui aku mencintainya selama ini.
" Annisa maukah kamu menikah denganku ?" tanyaku pelan,pandanganku menatap lurus ke arah Annisa yang terlihat penuh rasa haru menatap sang adik.
Annisa menggeser bola matanya,lalu ia menatapku lemah,ada yang menggenang di kolam matanya namun sorot matanya kian meredup,aku tak tau arti dari tatapannya tersebut.
Meski Annisa tidak mampu berkata apapun,namun aku melihat sekilas dari sorot matanya jika ia begitu baik meresponku,aku yakin jika Annisa memahami dengan apa yang ku katakan.
Annisa tiba-tiba saja terisak lembut,ada lelehan bening mengalir menganak sungai dari sudut matanya,bibirnya terlihat bergetar sehingga bergerak tidak karuan,dan itu mampu membuatku terasa sakit di ujung hatiku,rasa sakit yang teramat dalam dengan atas apa yang sedang menimpa Annisa saat ini.
Rasa sakit yang sulit aku ungkapkan, ketika aku harus menyaksikan orang yang begitu sangat kusayangi kini terbaring lemah tak berdaya.
Adam tak bergeming,perasaan bahagia bercampur resah kini tengah mendominasi raut wajahnya,tak ingin hal buruk menimpa sang Kakaknya.
" Adam," panggilku parau.
Adam mengangkat wajahnya lalu menatapku dengan resah.
" Bolehkan aku meminang Kakak mu untuk menjadi istriku ?" tanyaku mantap.
Adam terdiam kaku,ia tak tahu harus berbicara apa.
" Adam !" panggilku kembali dengan menatap penuh tuntutan.
" Aku tidak percaya jika bapak ingin menikahi Kakak saya dalam ke adaan seperti ini." ujar Adam parau.
" Aku tidak memandang fisik ataupun ke adaan,aku hanya memandang jika Kakak mu Annisa adalah seorang perempuan yang berhati mulia,jadi aku berkeinginan untuk membuatnya bahagia." ujarku dengan tandas,berusaha menyakinkan hati Adam yang terlihat belum sepenuhnya yakin akan ke inginanku tersebut.
" Atas dasar apa bapak ingin menikahi ka Annisa." tanya Adam penuh kritis,setiap kalimat yang di ucapkannya penuh dengan intonasi.
Aku menghela,menatap dengan seksama,pertanyaan yang wajar di lontarkan Adam kepadaku,karena aku yakin Adam memikiki perasaan takut jika aku akan menyakiti Annisa.
" Aku mencintai Annisa karena Allah,aku ingin menyempurnakan keyakinanku ini dengan menikahi perempuan yang begitu mulia di mataku." jawabku pelan.
Adam menghela,menatapku dengan tatapan ironis.
Aku mendapati tatapan Adam begitu dalam membelenggu hatiku.
Antara takjub dan bimbang kian menyatu.
" Saya sangat terharu mendengar apa yang telah bapak ucapkan,jika bapak mencintai karena Allah,tentunya bapak akan menyayangi Kak Annisa dengan sepenuh hati." ungkap Adam terlihat menatapku dengan berlinang.
Aku mengangguk pelan,suasana kian terasa syahdu,tak terbendung lagi rasanya perasaan di dada ini.
Aku menatap kembali Annisa dan perlahan mendekatinya.
" Annisa,bolehkah aku memegang taganmu ?aku ingin sekali memegang tanganmu untuk menguatkan perasaanmu ." Ucapku seraya berdiri di samping Hospital bed.
Annisa menggeserkan bola matanya lalu menatapku kosong, lelehan air matanya semakin deras seakan-akan mewakili perasaannya saat ini,dan itu aku hanya mampu menduga-duga atas sikap tubuhnya.
Perlahan aku hendak meraih tangan Annisa namun tiba-tiba Adam segera menahan gerakan tanganku.
" Mohob maaf pak,bapak belum bisa menyentuh Kak Annisa!!." Sergahnya dengan menatapku kaku.
Aku terperangah atas larangannya Adam,sehingga menimbulkan opini lain di hatiku.
" Mohon maaf,bapak belum bisa menyentuh Kak Annisa di karenakan bapak bukan muhrimnya ka Annisa !" jelas kembali Adam pelan,namun perkataanya kembali membuatku terperangah.
Aku pun menarik kembali tanganku dengan tidak berkomentar apa pun,mengikuti apa yang di larang oleh Adam.
Aku menatap ke arah wajah Adam dengan mengerutkan kedua alisku mencoba berspekulasi dengan apa yang di ucapkan Adam.
" Maksud saya,kenapa bapak bukan muhrimnya kak Annisa,karena bapak belum sah menjadi suaminya Kak Annisa,dan hal itu sebagian ada dalam ajaran agama islam,jika lelaki yang bukan muhrimnya atau tidak ada ikatan darah termasuk Bapak ini,tidak di perbolehkan saling pegangan tangan,ataupun berpelukan dengan lawam jenis yang bukan mukhrimnya.Jadi sebaiknya harus ada ikatan halal terlebih dahulu." jelas Adam dengan penuh bijak ia memberi pengetahuan baru kepadaku.
" Halal ?" tanyaku semakin mengkerut keningku ini.
" Nikah Pak." sahut Adam tegas.
" Jadi ???" tanyaku menatap penuh ke arah Adam.
" Jadi jika bapak ingin menyentuh Kak Annisa,maka bapak harus halalin dulu Kak Annisa,yaitu dengan cara menikahinya.." jelas Adam dengan menatapku dalam.
Aku terkesiap,tentu saja aku bersedia menikah dengan Annisa.Moment inilah yang aku tunggu selama ini.
" Aku siap menikah dengan Annisa." jawabku lantang sekaligus dengan penuh semangat.
Adam membulatkan bola matanya,menatapku dengan terkejut ketika melihat antusiasku ingin menikahi Annisa.
Aku tersenyum penuh arti,begitu Indahnya Agama ini, memuliakan seorang perempuan serta melindungi kehormatannya.
Mungkin jika seluruh umat manusia di muka bumi ini tau akan kemuliaan ini dan mampu menaati akan segala pelaturan yang ada, maka selayaknya tidak akan ada pelacuran serta **** bebas di muka bumi ini.
Entah kenapa aku langsung terdiam dan tercenung, teringat akan dosa-dosaku yang telah kuperbuat bersama Jerika ketika aku masih berpacaran dengannya,aku hanya bisa memekik didalam ketidak berdayaanku atas segala dosa-dosaku yang telah kuperbuat selama hidupku.
Yaa TUHAN
Pekikku membatin betapa hinanya diri ini dan betapa banyaknya dosa-dosa yang telah kuperbuat selama in, aku akui aku terlalu bebas dalam menjalani kehidupan ini,dan aku pun mengakui akan dosa terindahku dengan beberapa teman kencanku selain pada Jerika.
Hingga begitu mesranya aku memperlakukan teman-teman kencan perempuanku hingga lebih dari itu,padahal aku tanpa ada ikatan apapun dengan perempuan-perempuan tersebut.
Sedih rasanya meratapi atas segala dosa-dosaku selama ini,namun aku hanya bisa meratap dalam batinku dengan penuh rasa sesal,ingin rasanya aku terlahir kembali lalu mengubah semua kesalahan yang telah kuperbuat selama hidupku,hingga mampu kuhapuskan segala dosa-dosa yang pernah ku perbuat selama ini.
" Pak...!!" Tiba-tiba Adam membuyarkan lamunan panjangku.
" Bapak baik-baik saja..?" tanya Adam menatapku dengan perasaan khawatir.
" Adam !bisakah aku menikahi Annisa secepatnya ?" tanyaku kembali dengan penuh harapan besar agar aku bisa menikah dengan Annisa secepatnya.
Adam kembali tercengang mendengar permintaanku.
" Tapi ??" Adam terlihat semakin ragu menatapku.
" Aku mohon,ijjnkan aku untuk menikahi Annisa secepatnya,agar aku leluasa menyentuh serta menjaganya." pintaku dengan nada sedih.
Adam menatapku dengan serbasalah ada rasa bahagia dan bimbang tengah menyelimuti perasaannya.
" Aku mohon, aku ingin melakukan yang terbaik untuk Annis.Aku mohon🙏..!!" pingaku kembali dengan mata berkaca-kaca,sedih rasanya tidak bisa berbuat banyak untuk kebahagiaan Annisa yang terasa singkat ini.
Adam menatap dalam wajah sang Kakak,Annisa menatap dengan berurai air mata,ada perasaan yang begitu hebat ia rasakan dan itu ia perlihatkan ke hadapan sang adik,sebuah isyarat yang begitu dalam ia tunjukan kepada Adam.
" Kak Annisa," panggil Adam lirih.
Annisa menggerakan bibirnya yang terlihat bergetar menahan rasa sakit sekaligus tangisan yang kian pecah.
" Kak Annisa bersedia menikah dengan pak Joan ?" tanya Adam mengepal kuat jari jemari Annisa.
" Adam tidak bisa memaksakan kehendak Kakak,Adam ingin sekali memberikan yang terbaik untuk Kakak." ungkapnya dengan terisak.
Aku menangis,tak terasa air mata ini luluh lantas dengan apa yang ku saksikan saat ini,Adam bertanya dengan penuh perasaan terhadap sang Kakak.
Annisa tak mampu berkata,hanya air matanya yang kian mengalir deras ke pipinya,suasan semakin haru.
Adam menatap panjang sang Kakak,ada kontak batin yang tak bisa aku artikan,antara mereka begitu erat perasaanya.Aku yakin jika Adam sangat memahami perasaanya Annisa.
Adam tersenyum setelah melihat reaksi Annisa kepadanya,Adam mengalihkan pandangannya ke arahku dan ia menatapku dengan berbagai perasaan.
Perlahan Adam pun mengangguk setelah beberapa saat dia meyakinkan Annisa untuk menerima permintaanku.
Aku tersenyum lega,dengan perasaan campur aduk di benaku.
Annisa menggeser kembali bola matanya,dan menatapku dengan tatapan terharu ia meresponku dengan sorot mata yang pilu.
Aku menghela menatap panjang lorong rumah sakit tersebut,aku tidak bisa membayangkan jika kesempatan ini adalah kesempatan terakhirku menatapnya,entahlah ada perasaan takut terus menyelimuti perasaaku.
Adam keluar dari ruangannya Annisa dengan di temani Dokter,ia terlihat berbicara dengan Dokter tersebut.
Aku melihat jika sikap Dokter tersebut sedikit berbeda kepada Annisa.
" Kondisi Annisa belum sepenuhnya membaik,jadi ia masih membutuhkan perawatan yang begitu ekstra,kondisinya belum stabil total,tapi semoga saja kesehatannya tidak menurun kembali." ucap Dokter tersebut berjalan mendekat ke arahku.
" Terimakasih banyak Dokter." balas Adam penuh hormat.
Dokter itu tersenyum hangat,dengan penuh perhatian ia menepuk lembut pundak Adam.
" Saya akan berusaha semaksimal mungkin merawat Annisa,kamu Bantu doa." timpa Dokter itu terlihat tenang,aku menatap penuh dengan pertanyaan atas sikap baiknya Dokter tersebut terhadap Annisa.
Ada sesuatu hal yang mengganjal di pikiranku tentang Dokter tersebut,seperti ada persaingan yang tak nampak namun aku mampu merasakannya.
" Baiklah Adam,saya tinggal dulu,jika ada apa-apa kamu segera panggil atau hubungin saya." ucap Dokter itu berpamitan.
Adam mengangguk dengan penuh atitude.
Sejenak Dokter tersebut menoleh ke arahku,namun itu hanya sekilas,tak ada respon apapun yang ia tunjukan kepadaku,namun aku berusaha untuk memberi ekspresi baik kepadanya.
Dokter itu hanya tersenyum tipis seraya berlalu kepadaku.
Meski sekilas,namun aku mampu melihat jelas akan ketidak sukaanya atas kehadiranku di sana.
Adam menghela memandangi langkah Dokter tersebut yang mulai menghilang di balik tembok lorong rumah sakit tersebut.
" Gimana ke adaan Annisa ?" tanyaku ke arah Adam yang masih berdiri.
" Alhamdulillah,kak Annisa sudah melewati masa keritisnya pak,namun ia perlu banyak istirahat,Dokter sudah menanganinya." balas Adam tersenyum lepas.
" Dokter tadi sepertinya begitu care terhadap Annisa." ucapku pelan namun mampu terdengar jelas ke telinga Adam.
Adam menyurutkan senyumannya dan mulai menatap ke arahku,wajahnya terlihat enggan untuk menjelaskan siapa sebenarnya Dokter tersebut.
" Mas Alfin memang orangnya begitu perhatian sama Kak Annisa pak." ujar Adam ragu.
Aku sudah menduga jika Dokter tersebut menyimpan perasan spesial terhadap Annisa.
" Aku rasa,tak hanya sebatas perhatian saja." sambungku tersenyum kaku.
Adam menghela,ada perasaan ragu untuk menjaga perasaanku.
" Hmm..," Adam menjeda ucapannya,namun ia terlihat gamang.
" Kamu tidak usah sungkan,jika Dokter memang memiliki perasaan lebih terhadap Annisa." ucapku berusaha memancing.
Adam tersenyum hampa,ia paham jika ia sedang menjaga perasaanku.
" Tapi sayang,Kak Annisa tidak memiliki perasaan yang sama,dulu mas Alfin berniat ingin melamar Kak Annisa tapi Kak Annisa menolaknya secara baik-baik,karena waktu itu Kak Annisa masih menikmati menjadi seorang Dosen sehingga menolak lamarannya Mas Alfin." jelas Adam akhirnya.
Sudah kuduga,jika Dokter itu memang mencintai Annisa.
" Tapi itu dulu pak,sekarang mereka hanya sebatas berteman saja." ujar kembali Adam berusaha menenangkan perasaanku yang mulai bereaksi.
Aku tersenyum palsu,aku tau itu adalah cerita lama,namun mampu membuatku cemburu,terlebih Annisa sekarang di tangani oleh Dokter tersebut.
" Dari itu aku minta sama kamu,tolong segerakan aku menikahi Annisa." ucapku menatap dalam.
Adam menolehku cepat.
" Bapak sudah yakin ingin menikah dengan Kak Annisa ?" tanya kembali Adam meyakinkan.
" Sepertinya aku tidak perlu lagi menjelaskan kembali sebarapa yakinnya perasaanku terhadap Annisa." jawabku dengan mantap.
Adam terdiam,perktaanku cukup membuatnya bungkam.
" Baiklah pak,akan saya bantu untuk segala prosesnya." balas Adam tersenyum lega.
Aku tersenyum penuh reaksi mendengar keputusannya Adam.
Aku sangat berharap bisa menikahi Annisa secepatnya tanpa harus berlama-lama bersaing dengan Dokter tersebut.
Jujur saja aku merasa tak tenang jika Annisa harus di tangani oleh Dokter tersebut,karena aku sadar aku adalah tife laki-laki pecemburu.