ONE DAY

ONE DAY
ONE DAY Episode 19



MATA sayu itupun perlahan menutup,******* napas yang tersenggal itupun seketika terhenti dan lengkungan senyumannya itu kini berubah mendatar menggantung di sela-sela napas terakhirnya.


Senyuman terakhir yang Annisa berikan untukku masih terbayang jelas di pelupuk mataku ini,dan ternyata itu adalah senyuman terakhir kalinya ia persembahan untukku.


Tubuh Annisa terbujur kaku tak sanggup lagi ia menggerakan seluruh tubuhnya dan itu membuatku terasa sesak teramat dalam,seperti ada benda tajam yang menghujam dalam ke ulu hatiku,sungguh sakit luar biasa.


Perlahan ku lepas dekapan tubuh Annisa yang sudah tak bernyawa lagi,dan tangisan Adampun pecah seketika setelah melihat jasad sang Kaka sudah terbujur kaku dalam pelukannku.


" INNALILLAHI WAINNAILAHI ROJIUN !!" Pekik Adam dengan berderai air mata.


Dokter Alfin menghampiriku,dan dengan sigap ia segera memeriksakan keadaan Annisa yang kini sudah tiada.


Dokter Alfin memeriksa seluruh peralatan yang menempel di bagian di tubuh Annisa,namun sudah tidak ada reaksi apapun lagi dari Annisa.


Di periksanya urat nadi yang berada di pergelangan tangan Annisa secara detail,namun semua sudah terhenti.


Aku terguncang atas kepergian Annisa yang begitu singkat telah memberi cerita baru di kehidupannku.


" Maaf kan saya,Annisa sudah tiada." ucap Dokter Alfin dengan lirih.


Entah kenapa aku merasa marah ketika melihat sikap Dokter tersebut.


" Dari tadi aku memanggil anda !! Anda kemana saja hah ??" ujarku tiba-tiba merasa emosi.Dokter yang kurang sigap dalam menangani fasiennya,aku geram di buatnya.


Lalu ku dorong kuat tubuh Dokter tersebut dengan rasa amarah yang kian meluap.


Adam meleraiku dan menghalangiku ketika aku ingin menyerang kembali Dokter tersebut,akan kuhakimi kelalaian Dokter tersebut.


" Ka Joan.Sabar,sabar." tahan Adam mencoba menenangkanku.


Aku menatap dalam sang Dokter yang tiada lain teman dekatnya Annisa.


Dokter itu tidak menjawab ia hanya menatapku dengan penuh rasa sesal.


Adam masih menahanku dengan raut wajah yang hancur ia tidak membayangkan jika Annisa sang kakaknya telah pergi meninggalkanya untuk selama-lamanya.


Napasku menderu menahan kehancuran sekaligus kesedihan di dadaku.


" Ka Joan,iklaskan.Ini adalah takdirnya ka Annisa.Jadi saya mohon jangan menyalahkan siapapun." ungkap Adam terdengar lirih di tengah isakannya.


Aku terdiam menatap kosong ke sajad Annisa bibirku bergetar hebat tatkala apa yang ku lihat bukanlah mimpi buruku,melainkan kenyataan pahitku yang teramat dalam.


" Annisa,hikssss....," tak kuasa aku membendung air mata ini dan aku pun tak mampu menahan isakan tangisku yang mulai pecah di samping jasad Annisa.


" Maafkan saya,saya sudah berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan Annisa,mungkin ini lah yang terbaik untuk Annisa setelah sekian lama ia menahan kesakitan yang teramat luar biasa." ungkap Dokter itu seraya menepuk pelan pundakku yang terguncang.


Aku tidak menjawab dan hanya menoleh dengan rasa yang tiada taranya ku tahan.Pundaku berguncang hebat saat tangisan ini semakin pecah dalam dadaku tak kuat rasanya aku harus kehilangan kekasih hati yang baru saja aku miliki dalam indahnya ikatan suci.


Aku banyut dalam lara ini lalu kudekap kembali tangan yang sudah kaku,dan ku kecup kembali tangannya dengan begitu hangat,agar Annisa tahu bahwa aku betapa sangat mencintainya meski aku belum siap untuk kehilangannya.


" Semoga ALLAH memberikan tempat yang terindah untuk ka Annisa." kembali Adam berbicara mendo'akannya di tengah isak tangisnya.


" Annisa !!" Rontaku pelan.Sejadi-jadi aku lemah tak berdaya merasakan kehilangan yang teramat dalam.


" Yang tabah KakJoan.Ini adalah takdir dari yang MAHA KUASA." ucap Adam dengan lirih,ia memegang erat pundakku,mencoba terus menguatkanku.


Begitu cepat TUHAN,ENGKAU mengambil nyawa perempuanku,baru saja hanya dalam hitungan jam aku bisa menikahinya,dan aku dapat mecium serta memeluknya,tapi ternyata itu adalah ciuman dan pelukan pertama sekaligus terakhir yang aku berikan untuk seorang Annisa perempuan yang telah banyak memberikan perubahan yang berarti dalam kehidupannku.


OH TUHAN,kenapa begitu cepat ENGKAU ambil dia dalam kehidupannku?ketika aku belum bisa membahagiaannya.


Rontaku dalam isakan tangisku yang semakin hampa.


Seketika bayangan Annisa muncul kembali di saat-saat aku pertama kali melihatnya.


" ANNISA..!!," Isakku lagi seraya meronta dalam ketidak berdayaanku.


Aku tidak tau perjalananku kedepan tanpamu akan seperti apa,niat akan kubawa dirimu pulang dan ku perkenalkan kepada Mamaku pupus sudah,kini Annisa telah pergi selamanya dalam kedamaian yang abadi.


Adam terisak menatapi jasad Kakanya dengan berbagai perasaan di benaknya,tak hanya aku yang merasa kehilangan,melainkan Adam yang begitu dekat dengan Annisa,selama ini Annisa adalah tumpuan hidupnya,kini pelita cahanya telah padam,mungkin dia lah yang paling terpuruk setelah aku.


Entah kenapa kenangan demi kenangan itu bermunculan kembali memenuhi relung hatiku yang hampa,tak banyak yang tau,jika Annisa ketika tersenyum mampu menggetarkan hati setiap pria yang melihatnya,termasuk aku,aku candu akan seulas senyumannya yang ia selalu sunggingkan di tengah-tengah sikap ramahnya.


Ketika orang lain meninggalkan aku dalam sebuah kegagalan,ia hadir membawa sejuta harapan baru,untuk aku tetap bersemangat.


Annisa,semua tentangmu tinggalah cerita.


Tanah pusaran ini masih merah bunga-bunga cantik bertebaran menutupi gundukan tanah pusaran Annisa.Aku masih tercenung tak berdaya di atas pusaran perempuan terhebatku.


Seusai pemakaman Annisa,aku masih terdiam tak bergeming menatap lekat ke atas pusaran tersebut,aku masih belum mempercayai sepenuhnya akan kejadian ini,aku masih berharap ini adalah mimpi,aku ingin segera bangun dan terjaga,akan tetapi ini adalah sebuah realita yang tak mungkin aku skip akan berjalannya.


Semua orang yang mengantarkan Annisa ke pengistirahatan terakhirnya satu persatu mulai meninggalkan pusarannya,terkecuali Adam masih berada di sampingku dan menemaniku,ia pun sama tak kalah terpukulnya akan kepergian Annisa,dan sepertinya ia enggan untuk beranjak dari tempat pusaran nya Annisa.


Rasanya baru kemarin aku mengenal akan sosok Annisa,namun kini aku tak bisa lagi mengenalinya dia telah pergi untuk selama-lamanya.


" Yang sabar ka Joan." ungkap Adam menolehku,ketika melihat pundaku mulai terguncang kembali menahan isakan yang mulai pecah.


" Rasanya baru kemarin aku mengenal Annisa." balasku dengan nada berat.


" Semua mahluk yang bernyawa akan kembali kepada_NYA." imbuh Adam menenangkan ku.


" TUHAN terlalu cepat mengambil Annisa dariku,di saat aku mulai mengenali_NYA." balasku kian terasa sakit di bagian ujung hatiku.


" Inilah adalah yang tebaik yang ALLAH berikan untuk kak Annisa,dan aku percaya akan ada hikmah di balik cobaan ini kak Joan." ujar Adam dengan suara bergetar.


" Yang jelas ini adalah ujian pertama kalinya aku kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupku,ujian yang paling besar dan paling terberat setelah aku berada dalam anugrah hijrahku." jawabku tertahan,suaraku nyaris tenggelam dengan kesedihan ini.


" Allah akan terus memberikan ujian serta cobaan kepada seluruh umatnya semata-mata untuk menguji kualitas keimanan para hamba-hambanya.Dan Allah pun akan selalu menyelipkan sebuah kebahagiaan yang tiada tara di balik segala ujian serta cobaan yang Allah berikan kepada kita kak." Jelas Adam dengan suara parau.


Adam memang terpukul atas kepergian sang kakaknya namun ia terlihat begitu tegar,walaupun sakit yang ia rasa tak bisa ia lukiskan dengan apapun.


Kehilangan seseorang yang teramat kita cintai adalah cobaan yang terberat aku rasakan saat ini.Sejauh ini aku hanya mencintai dan di cintai dengan perasaan yang biasa saja,namun kali ini perasaan yang hebat ini telah mencampakan lukanya yang teramat dalam di perjalanan hidupku.


" Yakinlah jika one day, Allah akan mempertemukan kembali Kak Joan dengan kak Annisa kelak didalam JANNAH_NYA,atau Allah akan menghadirkan kembali sosok Kak Annisa dalam diri seorang perempuan yang akan di temui nanti oleh Kak Joan." ungkap Adam begitu tulus.


Aku menatap dalam wajah Adam yang masih terlihat jelas gurat kesedihan.


Aku belum memikirkan pencariannku selanjutnya,ini bukan sekedar iming-iming yang akan membuatku semangat,namun aku tidak percaya jika akan ada sosok seperti Annisa kembali di dalam kehidupanku,aku yakin sosok Annisa tidak ada duanya.


" Seperti itukah ??" tanyaku dengan perasaan tak menentu.


Adam mengangguk pelan lalu tersenyum getir ke arahku.


" Saya hanya mampu mendo'akan,semoga Kak Joan tabah dalam mengahadapi cobaan hidup ini,dan kelak kak Joan mendapatkan kembali pengganntinya yang lebih dari kak Annisa." ucap Adam dengan penuh haru.


Aku mengalihkan pandanganku setelah mendengar kalimat terakhir Adam yang mampu menyayat hatiku,rasanya ini sebuah lelucon yang membuatku semakin terdalam.


" Tak semudah itu bagiku melupakan sosok Annisa,rasanya hidup ini terasa hampa tanpa hadirnya." balasku seraya kembali memandangi pusaran Annisa yang masih terlihat basah.


" Allah sangat menyukai hambanya yang ketika di uji akan datang kepada_NYA dan berlindung di bawah naungan_NYA karena sesungguhnya Allah lah tempat meminta serta memohon perlindungan." ujar Adam cukup membuatku terasa tenang.


Aku toleh kembali Adam yang masih berada di sampingku, ia terus berusaha menguatkanku di dalam keterpurukannku agar aku tetap kuat dalam keyakinan baruku ini.


" INSYAAALLAH !!" Selaku dengan tersenyum pahit.


Lirihku membatin, menatap lurus ke arah nama Annisa yang terukir jelas di sebuah nisan.


Adam merangkul erat pundakku seraya tersenyum getir dan menatapku dengan rasa haru.


Iklas bukan perkara yang mudah aku lakukan saat ini namun perlahan aku harus relakan atas kepergiannya Annisa yang telah menyisakan duka yang teramat dalam di jiwaku ini.


Ini adalah takdir_NYA yang tidak bisa aku tolak begitu saja,dan aku pun yakin dengan atas apa yang di katakan Annisa dan Adam,bahwa di balik cobaan ini akan ada hikmah yang begitu luar biasa kelak aku dapati.


Merelakan orang yang tekasih untuk meninggalku selama-lamanya bukanlah hal yang mudah perlu waktu untuk menyakinkan perasaan ini agar aku mudah menjalani sisa hidupku ini tanpa kehadirannya.


Terlebih dalam ke adaan aku baru saja memilikinya,tak ada kesempatan bagiku untuk bisa memberikan kebahagiaan yang utuh untuk dirinya,tidak ada kesempatan bagiku untuk mempersembahkan cinta yang suci hingga maut memisahkannya.


Namun ternyata maut yang kumaksud dalam harapanku ini adalah suatu saat nanti,tapi nyatanya maut dengan cepat memisahkan aku di awal ceritaku.


Sesak kian dalam namun aku tak berdaya hanya mampu pasrah tanpa balasan.


Lelehan air mata yang bening mengalir dari sudut mataku mengalir jauh ke pipiku hingga menitik di atas pusarannya Annisa.


Aku berdiri menatap untuk yang terakhir kalinya pusaran ini,berat terasa langkah ini untuk meninggalkannya.


Adam telah berjalan jauh meninggalkan aku,membiarkan aku tetap di atas pusaran ini,separuh jiwaku pergi,mengikuti langkah yang tak pasti,kenyataan yang benar-benar sulit aku terima.


" Ehem !!"


Ada suara keras berdehem di belakangku,menyadarkan aku dari lamunan panjangku.


Aku menoleh ke arah deheman tersebut.


Dokter Alfin berdiri tepat di belakangku.Wajahnya terlihat begitu berat.


Aku melengos dengan perasaan tak menentu.


" Aku turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian Annisa." ucapnya dengan pelan.


Aku terdiam,enggan untuk menimpali ucapan Dokter tersebut dan entah kenapa perasaanku merasa cemburu atas sikap Dokter tersebut.


" Aku paham atas perasaan kamu saat ini,dan tak hanya kamu saja yang merasa terpukul akan kepergiannya Annisa,melainkan aku pun sama." ungkap kembali Dokter itu dengan nada bicara tak biasa.


Aku terperangah lalu menatap lurus ke gundukan pusaran nya Annisa.


Aku membalikan tubuhku dan menghadap ke arah Dokter tersebut.


" Terimakasih banyak atas ucapan belasungkawamu." balasku datar,tak ingin aku berbicara lama denganya aku pun hendak melangkah pergi.


" Tunggu !!" sergahnya menghentikan langkahku, dan aku pun terhenti.


" Kita mencintai satu perempuan,selamat kamu mampu menikahi Annisa." ucapnya tandas.


Aku terpana mendengar ucapan Dokter tersebut,entah kenapa perasaanku kembali bergejolak hingga sulit untuk meredamnya.


" Aku sedang tidak bersaing dengan siapapun,jadi kau tidak perlu memberi ucapan selamat kepadaku." tolakku dengan geram.


" Aku tau,sulit rasanya untuk menerima kenyataan ini,tapi perlu kau tau,jauh sebelum kau hadir di kehidupan Annisa,aku lah pria pertama kalinya dia cintai." ungkap Dokter tersebut dengan bangga.


Aku mendecih mendengar pernyataan Dokter tersebut yang di rasa sedang menunjukan betapa besar Annisa mencintainya.


" Tapi pada akhirnya,aku lah yang mampu menikahinya dan memilikinya,dan aku adalah pria yang paling beruntung telah menikahinya." balasku dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.


Dokter tersebut tersenyum tipis,ada guratan kekecewaan di raut wajahnya.


" Maka dari itu,aku ucapkan selamat,kamu telah mampu mendapatkan hatinya,walau aku tau pertemuan kalian sangat singkat,Annisa adalah sosok perempuan yang istimewa,dari itu aku belum mampu menemukan kembali sosok pegantinya,Annisa tetap ada walau kami sudah di pisahkan." ungkap Dokter tersebut dengan nada penuh sesal.


Dari awal aku bertemu dengan pria ini sudah menduga,jika dirinya menyimpan banyak perasaan terhadap Annisa,dan benar saja,sosok laki-laki ini tidak mampu untuk melupakan Annisa.


Aku sadar,apa yang harus aku pertahankan perasaanku saat ini,Annisa telah pergi dan tak mungkin kembali.


Aku menghela napas,mencoba memaafkan perasaan pria itu terhadap Annisa,dan menerima akan semua masalalunya bersama Annisa,aku tau jika aku bukalanlah pria pertama yang di cintai Annisa.


" Tanpa kau bercerita banyak tentang Annisa,aku tau,bila kamu begitu sangat mencintai Annisa." ungkapku lirih.


Dokter tersebut mengangguk pelan dengan perasaan yang begitu dalam.


" Aku dan Annisa saling mencintai,tapi kenyataanya aku tak memiliki takdir dengannya." imbuh Dokter tersebut dengan perasaan hampa.


" Apa nak buat kau,hingga kau tak mendapatkan Annisa?" tanyaku pelan.Semula aku tidak tertarik untuk mendengarkan cerita Dokter tersebut,namun entah kenapa hati ini tergerak untuk mendengarkan kisahnya mereka.


Dokter Alfin menghela napas,menatapku dengan sorot matanya yang begitu dalam,ada guratan kekecewaan yang tak bisa ia lenyapkan begitu saja.


" Orang tuaku tidak merestui akan hubungan ini." balasnya lirih.


Aku tersentak,mengapa perempuan sebaik Annisa tidak mendapat simpatik dari orang tua Dokter tersebut.


Dokter tersenyum kecut ke arahku dengan tatapan yang begitu dalam.


" Aku kenal Annisa lewat sahabatku,dan kami berkenalan lewat ta'aruf,jadi selama itu kami dekat tapi tidak berpacaran,aku dan Annisa sepakat untuk tidak melakukan pacaran sebagaimana orang lain mestinya,Annisa sangat menjaga atitude dan berpegang teguh dalam ke yakinannya,jika ia tidak ingin berpacaran." ucap Dokter Alfin menatap bias ke arahku.


Aku mengernyit sesaat Dokter tersebut mengatakan kata ta'aruf,apa itu ta'aruf ?? aku baru mendengar kata tersebut.


" Sorry,aku tak paham,apa itu ta'aruf ?" tanyaku dengan nada penasaran adakah hubungan itu bersifat bebas atau.....


Aku menatap jauh ke arah wajah Dokter tersebut,dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.


" Ta'aruf adalah proses perkenalan yang di lakukan oleh seorang pria dengan perempuan dengan di dampingi pihak ketiga,dan proses itu aku lakukan selama hampir beberapa bulan,namun ketika aku ingin melamar Annisa,sayang orang tuaku tidak menyetujui akan ke inginanku,dengan alasan aku harus menyelesaikan gelar S2 ku,dan menggantikan Ayahku menjadi Dokter di salah satu Rumah sakit temah Ayahku bekerja." terang Dokter tersebut dengan mata berlinang.


Aku terdiam.


Entah kenapa aku begitu sakit mendengar cerita ini.


" Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Annisa tanpa sepengetahuan Ayahku,semakin jauh aku mengenal Annisa semakin besar rasa yang tumbuh di hati ini,hingga aku sulit untuk melupakannya hingga saat ini." ungkap Dokter Alfin dengan perasaan sedih.


Aku membuang jauh pandanganku ke hamparan pemakaman tersebut,aku tak ingin hanyut dalam cerita Dokter tersebut dan membayangkan kisah romansa tentang mereka.


" Selama ini aku telah berupaya untuk menyembuhkan Annisa dari penyakit kangkernya,dan semaksimal mungkin aku merawatnya hanya untuk bisa melihatnya dia sembuh." ujar kembali Dokter tersebut dengan pelan.


Aku tidak peduli sebaik apa dia memperlakukan Annisa ketika perempuan itu bersamanya,yang aku ingat Annisa adalah perempuan yang istimewa yang pernah hadir dalam waktu singkatku.


" Dan kini,aku tak perlu menitipkan dia ke padamu,karena kisah kita sama,berujung pada sebuah kematian kita sama sama kehilangan,kurasa ini adil untuk ku." ucap Dokter tersebut tersenyum datar.


Aku tersenyum sinis.


" Ku rasa aku masih beruntung daripada kau,aku sempat memilikinya dengan sebuah ikatan suci,so aku bangga bisa menikah dengannya,walau itu hanya sesingkat mungkin." balasku tersenyum penuh kemenangan.


Dokter tersebut mengulas senyuman dengan menatapku.


" Annisa adalah takdir kamu,aku akan bahagia jika Annisa merasa bahagia." balas kembali Dokter Alfin dengan berkaca-kaca.


" Annisa pernah hadir di antara hati kita,so aku tidak merasa terbebani dengan apa yang kau sudah ceritakan,karena macam tu,masalalunya Annisa.Aku senang berjumpa dengan kau." balasku tersenyum hampa.


Dokter Alfin tersenyum,ia hanya mengangguk pelan mengakhiri pertemuanku dengan nya.