ONE DAY

ONE DAY
ONE DAY Episode 30



JIKA sepenggal kisah mampu membuatnya bertahan maka Annisa berharap ia mampu bertahan untuk menunggu seseorang,ia berkeyakinan bahwa suatu hari nanti akan ada yang menjadikan dirinya seseorang yang paling berharga dalam hidupnya,dan menerima atas apa yang menjadi kekurangannya selama ini.


Di jaman modrn seperti ini,bagi dirinya mencintai dengan menerima kekurangan seseorang itu adalah hal tersulit,terkadang mereka mampu meninggalkan seseorang yang pernah di cintainya dengan begitu dasyat hanya karena sisi kekurangannya dan hal itu bisa terjadi kepada siapapun tak terkecuali dirinya.


Tapi ia berharap ia tidak menemukan seseorang seperti itu dan One Day,dia akan di pertemukan kembali dengan sosok pria asing tersebut jika Tuhan memang menggariskan takdir dirinya dengan sosok pria asing tersebut.


Annisa tersenyum,memandangi coretan hati yang tertuang di lembaran-lembaran buku diarynya,meski ia berusaha untuk tetap tenang,tapi hati kecilnya selalu merasa resah jika rindu yang kian hari kian begitu dalam kepada sosok pria asing tersebut.


Jika perasaan ini mampu tertuju kepadanya,Annisa berharap perasaan yang sama akan di rasakan oleh Pria tersebut meski mereka tak lagi satu negara dengannya.


Waktu,tempat hingga jarak memang tak lagi dekat,tapi tak menghalangi dirinya untuk menyelipkan sebuah harapan serta Doa yang kemungkinan bisa saja terjadi dengan adanya campur tangan yang maha kuasa,terkadang segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak dari segala pikiran baik dan buruknya pemikiran kita.


Annisa menghela,hari ini hari terakhir ia menuliskan curahan hatinya dengan menyisakan penggalan sebuah lagu yang menjadi arti makna yang begitu dalam untuk mewakili perasaanya.


Sebuah syair lagu yang menggambarkan akan kondisi kehidupannya saat ini.


Sampai ku menutup mata......


🎶 Embun di pagi buta...


Menebarkan bau asa


Detik demi detik ku hitung


Inikah saat ku pergi


Oh Tuhan ku cinta dia,


Berikanlah aku hidup


Takkan kusakiti dia


Hukum aku bila terjadi


Aku tak mudah untuk mencintai


Aku tak mudah mengaku ku cinta


Aku tak mudah mengatakan


Aku jatuh cinta.....


Senandungku hanya untuk cinta


Tirakatku hanya untuk engkau


Tiada dusta sumpah ku cinta


Sampai ku menutup mata


Cintaku sampai ku menutup mata.


Sebuah syair lagu yang begitu indah karya seorang musisi tanah air,yang begitu pas mewakili perasaanya.


Tulisan lagu itu menjadi tulisan akhir ceritanya yang begitu dalam.


Kondisi Annisa saat ini semakin memburuk hingga ia harus di rawat di rumah sakit.


Raut wajah yang selalu menampilkan senyuman tulus itu kini hanya tergurat rasa sakit yang membingkai raut wajahnya,menahan segala helak napasnya yang semakin berat ia rasakan.


Annisa meredam segala kesedihanya hanya seorang diri dengan tanpa batas,apa yang di rasakannya selama ini ia tutupi dengan begitu anggunnya sehinga sang adik sekalipun tidak mengetahui jika dirinya menyimpan perasaan yang begitu dalam terhadap pria yang bernama Joan,bahkan Adam pun tidak menyangka jika sang kakak selama ini menderita sakit yang begitu teramat parah.


Kini senyuman itu harus terurai dalam kesedihan yang mendalam,Annisa tak mampu lagi menjadi seorang motifator bagi orang-orang terdekatnya sekalipun itu bagi sang murid-muridnya,kini hari harinya di habiskan dengan jadwal cek up,kemoterapi bahkan pengobatan pengobatan alternatif lainnya.


Sang Adik,Adam setia di sampingnya,ia ikut berjuang untuk kesembuhan sang Kakak,sehingga ia pun memutuskan untuk Risent dari pekerjaannya dan memilih merawat sang Kakak dengan penuh rasa iklas.


Aku tersenyum getir setelah membaca tuntas seluruh tulis yang di buat oleh tangan mendiang Annisa.Jujur saja aku tidak menyangka jika selama ini Annisa begitu dalam memendam perasaan terhadap diriku.


Aku menatap nanar buku tersebut,buku saksi bisu akan perasaanya Annisa terhadap diriku.


Dan pada akhirnya penyesalan itu pun tiba-tiba hadir dan menjadi ganjalan yang begitu besar di hatiku.


Andai aku mampu menerka isi hati perempuan cantik itu mungkin dulu aku tidak akan kembali secepat itu ke Singapure.


" Annisa " panggilku lirih,rasanya tenggorokan ini mendadak terasa kering seusai rasa sedih menyeruak di dalam hatiku.,sebuah foto terselif di antara lembaran halaman buku tersebut,aku melihatnya jika seorang perempuan cantik itu tengah menyunggingkan sebuah senyuman yang begitu manis,sehingga netraku sulit untuk melepas kannya.


Namun kini perempuan cantik itu telah pergi untuk selama lamanya tanpa sempat mengucapkan segala perasaanya yang selama ini di pendamnya kepadaku.


Entah kenapa aku semakin merasa bersalah atas kejadian tersebut,Annisa mencintaiku lebih dari apa yang ku bayangkan selama ini,aku mengira jika selama ini cintakulah yang bertepuk sebelah tangan,tapi nyatanya Annisa memiliki perasaan yang sama.


Pantas saja Annisa tidak menolak ketika aku memintanya untuk menjadi istriku.


Aku terdiam dengan perasaan sedihku.Andai bisa ku putar kembali waktu aku ingin menikahinya secepat itu,agar dia tau jika aku begitu dalam mencintainya.


Ahhh


Rasanya dada ini menjadi sesak,bak truk bermuatan penuh hingga aku tak mampu membayangkan bagaimana bisa selama ini Annisa menyimpan perasaanya terhadapku begitu apik,belum lagi rasa sakit yang selama itu pula di rasanya sungguh Annisa adalah sosok perempuan hebat.


Aku jahat,tidak bisa peka akan perasaanya padahal aku tau jika pertama kali aku melihatnya aku telah terpaut erat akan perasaanku ini.


Aku merutuk dengan linangan air mata.


" Ladies and gentlemen, as we start our descent, please make sure your seat backs and tray tables are in their full upright position. Also, make sure your seat belt is securely fastened and all carry-on luggage is stowed underneath the seat in front of you or in the overhead bins. Thank you."


Aku terkesiap mendengar salah satu cabin crew menginformasikan bahwa pesawat sebentar lagi akan segera landing.


Aku pun segera mengikuti intruksi tersebut mengembalikan buku milik Annisa kedalam tasku.Aku menoleh ke arah perempuan yang wajahnya mirip Annisa yang masih terlelap dalam tidurnya,sejenak aku menatap dalam perempuan tersebut dengan perasaan bingung.


Apa yang harus aku lakukan ?


Antara membangunkannya ataukah membiarkannya.


Aku menepekuri wajah bayangan Annisa di wajah perempuan tersebut,benar-benar seperti pinang di belah dua tak ada perbedaan sama sekali.


Wajah perempuan tersebut sedikitpun tidak ada yang berbeda dengan Annisa,seratus persen kemiripan perempuan ini benar-benar teruji jika ini adalah duplikatnya Annisa makan perempuan ini adalah sosok Annisa dengan versi lain.Aku bingung untuk membangunkannya karena ia terlihat begitu lelapnya.


Aku menghela merasakan kegamangan di dalam hatiku.


Aku memandangi wajah perempuan itu dengan seksama.


Di tengah aksiku menatap wajah perempuan tersebut,tiba-tiba perempuan tersebut membuka matanya lalu terbangun dari tidurnya,alangkah terkejutnya aku di buatnya,tak berbeda dengan ku,dia pun terkejut melihat aksiku yang tengah memandangi wajahnya,kita sama sama terkejut di buatnya.


Aku terkesiap dan tak mampu mengelak dari tatapan tajamnya.


Bola mata perempuan itu membulat dan menatapku dengan penuh prasangka buruk.


" Ada apa ??" tanya perempuan itu setengah terkejut,lalu ia pun segera menyandarkan posisi duduknya dengan sempurna.


Kedua alis perempuan tersebut terangkat tinggi,dengan masih menatapku tidak suka lalu ia membenarkan haspree yang masih terpasang di kedua telinganya.


Wanita itu tidak menjawab wajahnya terlihat terganggu dengan aksi ku tersebut,lalu ia pun mengalihkan perhatianya dan mulai sibuk dengan barang-barang miliknya.


Aku pun di buatnya kikuk atas sikap dan reaksi perempuan tersebut.


" Sorry,aku tidak bermaksud apa-apa." ucapku pelan.


Perempuan itu mengangguk dengan ekpsresi dingin.


" Ok ,thank's" balas perempuan itu singkat.


Aku terdiam melihat sikap kurang ramah wanita tersebut,dan aku pun memilih kembali fokus dengan ke adaanku,tak lama para penumpang lainnya mulai bersiap-siap untuk mempersiapkan diri,karena tak lama lagi pesawat akan segera landing.


Tak lama kemudian akhirnya pesawat mendarat dengan sempurna,aku berjalan di koridor bandara tersebut menuju conveyor bandara.


Setelah mengambil koper milikku,aku pun melanjutkan perjalananku untuk keluar area bandara dan berniat ingin menyetop taxsi.


Namun entah kenapa pandangannku tiba-tiba terbentur pada sosok perempuan yang wajahnya mirip Annisa.


Yaa wanita yang satu kursi denganku di pesawat tadi,ia terlihat kebingungan dengan tempat di sekitarnya sepertinya ia terlihat bingung dengan alamat tempat tujuannya,secarik kertas di pegangnya lalu raut wajahnya terlihat bingung menatap kesekelilingnya.


Tak ada niat untuk menolongnya,namun entah kenapa aku merasa tak sampai hati jika membiarkan perempuan tersebut dalam kebingungan di negri yang menurutnya asing.


Aku berpikir sejenak,mempertanyakan diri atas apa yang akan aku lakukan kepadanya,dapat apa jika aku menolongnya ? sedangkan tadi saja ia bersikap kurang respek terhadapku,hingga aku di buatnya tak enak hati.


Aku melengos,mengalihkan pandanganku ke arah yang lain.


Namun.....


Hati kecilku menolak hingga mampu menghentikan langkahku,pikiranku benar-benar terganggu dengan keadaan perempuan tersebut.


Perasaanku mulai dilema antara pergi menolongnya atau mengabaikannya.


Akhirnya aku memutuskan untuk menolongnya setelah aku berperang dengan pukiranku sendiri setelah mencoba mempertimbangkan keputusanku ini.


Aku berjalan mendekati ke arah perempuan tersebut,Ia terlihat kebingungan dengan kendaraan yang hendak di tumpanginya.


Eheemm...


Aku berdehem pelan.


Perempuan itu menoleh dengan tatapan tak biasa.


Aku berusaha untuk tersenyum dengan tenang.


Wajah perempuan itu mulai terlihat menganggu pikiranku.


" Sorry, kalau boleh tau kamu nak pergi kemana ?" tanyaku pelan.


Perempuan itu masih terdiam dengan ekpresi wajah semakin terganggu atas kehadiranku.


" Siapa tau aku bisa bantu,cos ini adalah negara tempat tinggalku." ujarku berusaha ramah.


Wajah perempuan itu mulai terlihat berekasi dan menatapku dengan tatapan biasa.


" Aku hendak menuju Hotel park Royal pickering,apakah anda tahu tempat itu dimana ?" balas perempuan itu tanpa tersenyum.


Perempuan itu menyodorkan secerik kertas ke hadapanku dengan sikap dinginnya.


Aku melongo ke arah secerik kertas tersebut,dari nama hotel tersebut aku begitu mengenal tempat tersebut.


" Tentu saja aku tahu tempat itu,cos tempat itu tak jauh dari tempat tinggalku." jelasku tersenyum.


Wajah perempuan itu menyeringai tak percaya.


" Benarkah ?? " tanyanya sedikit tak percaya.


" Sungguh !,jika kamu berkenan aku siap antar kamu ke alamat tersebut." usulku dengan penuh ke yakinan.


Sejenak perempuan tersebut terlihat mempertimbangkan penawaranku.


" Oya,,kenalkan namaku Joan." ucapku memperkenalkan diri.Lalu mengulurkan tangan mengajaknya untuk berjabat tangan.


Perempuan itu menatap ke arah tangaku yang masih mengantung di udara,ia terlihat ragu untuk membalas jabat tanganku.


" Aku tidak sama sekali berniat jahat sama kamu,aku hanya ingin menolong kamu,jangan salah jika di negri ini ada tindak kejahatannya yang siap mengintai diri kita." ujarku dengan tersenyum enteng.


Perempuan itu masih menatapku ragu,namun akhirnya dia mau menerima jabat tanganku.


" Annisa ." balasnya singkat,lalu dengan cepat ia menarik tangannya dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.


" Bagaimana ?? Kamu mau saya antar ke alamat tersebut ?" tanyaku kembali.


" Hmmm sepertinya tidak perlu,saya bisa cari sendiri." balas perempuan yang bernama Annisa itu tersenyum di paksakan.


Aku terdiam dan merasa kecewa mendengar penolakan dari perempuan tersebut.


Benar-benar berbeda sikap dengan Almarhum istriku,meski nama dan wajah sama,nyatanya mereka memiliki sikap yang berbeda,perempuan ini mirip Annisa dengan versi jutek.


" Ok," balasku pelan seraya mengangguk ngangguk.


Seharusnya aku mengikuti otak besarku ini,untuk tidak bersikap baik padanya,namun hati kecil selalu bertentangan so jadi pahlawan,aku mendecih dengan sebal.


Aku menggeleng dengan tersenyum sendiri.


" Baiklah,senang bisa berkenalan dengan kamu,semoga hari-harimu menyenangkan." pamitku seraya melangkah meninggalkan perempuan tersebut.


Annisa hanya tersenyum kecut menatapku dengan tidak suka.


Aku berjalan meninggalkan perempuan tersebut,aku bersikap baik padanya hanya karena kemiripannya dengan Annisa,entah kenapa aku melihatnya seakan-,akan aku sedang berhadapan dengan sosok perempuanku,sungguh membuatku semakin merasa sedih dan kehilangan.


Aku kembali, dengan perasaan campur aduk aku menatap panjang jalan pulang,satu bulan aku menemani Annisa di penghujung pertemuan sekaligus perpisahan membuat aku merasa begitu tenggelam dalam kesedihan,terlebih aku mengetahui sosok mendiang Annisa mencintaiku begitu dalam.


Rasa bersalah kembali menyerang perasaanku,entah kenapa perasaan ini begitu sakit jika harus mengingatnya ketika aku pergi meninggalkanya,dan tak peduli akan perasaanya hingga serta merta kondisi kesehatannya memburuk atas kepergiannku.


Lalu,apa yang harus ku lakukan ?


menebus atas kesalahan ini,yaa Allah begitu jahatnya aku ketika pergi meninggalkan Annisa dengan perasaan yang begitu membebaninya.


Aku meratap dengan tatapan jauh ke arah luar sana,tak terasa linangan air mata ini menjadi muara di pangkuanku,jelas saja aku belum siap untuk kehilanganmu Annisa.Aku belum bisa berbuat banyak untukmu,bahkan membalas atas semua perasaan mu yang mencintaiku dalam diam.


Annisa I love so much.