My partner

My partner
17 perubahan



Tok.. Tok.. Tok


"Kx, ayoo nanti kita telat" teriak Sinta


Ceklek


Sinta tertegun melihat pemandangan didepannya sekarang


Ruru merubah penampilannya, ia tak mengepang rambutnya, hanya mengikat dua seperti gadis desa, tidak merias wajahnya dengan bintik-bintik bekas jerawat seperti kemarin, dan ia mengganti kacamatanya dengan yg lebih normal seperti siswa jenius


Memang sederhana dan tidak banyak berubah, tapi lebih baik dari tampilannya kemarin


"Hei, malah bengong" tegur Ruru yg melihat Sinta malah mematung


Dengan senyum sumringah nya Sinta berkata "Kx Ruru cantik"


"Hayoyo, sejak kapan kau tidak memujiku hah?"


"Aku serius kx, dengan penampilan kakak yg kemaren dan sekarang, itu jauh lebih baik"


"Ah jadi kemaren aku jelek yah" Ruru menunduk pura-pura sedih


"Ah bukan, bukan itu yg ku maksud.. Itu.. "


"Haha sudahlah, aku hanya bercanda. Ayo kita berangkat ntar telat beneran" Sinta mengangguk antusias


"Kami berangkat, ASSALAMU'ALAIKUM" teriak Ruru dan Sinta


"WALAIKUMSALAM, HATI-HATI" jawab mbok ina


...


Sesampainya mereka disekolah, semua mata tertuju pada mereka


Ah pada Ruru tepatnya.


Ada pandangan memuji, ada juga pandangan dengan tatapan sinis. Bukan Ruru namanya kalau dia ambil pusing tatapan teman-teman sekolah nya itu


"Aku duluan kx" ujar Sinta dan Ruru hanya tersenyum dan melambai


Kini Ruru sudah ada di depan kelasnya, saat hendak masuk seorang pria menghentikannya


"Hai" Ruru memandangnya kemudian tersenyum kecil


"Hai, anda juga baru sampai tuan Rava?"


"Haha, gak kok gue dari tadi cuma mampir kekantin aja tadi"


"Ayo masuk" lanjutnya yg hanya dibalas anggukan oleh Ruru


"Pagi Ruru" sambil tersenyum manis Dion menyapa Ruru yg melewati mejanya


"Pagi" jawabnya singkat


...


Tring.. Tring


bel istirahat berbunyi, saat tengangah memasukkan bukunya kedalam tas tiba-tiba..


Brak..


Semua yg ada dikelas terlonjak kaget tak terkecuali Ruru, ia mendongak melihat siapa yg menggebrak mejanya


"Loe masih berani sekolah hah?" Sisil berkata dengan nada sinis


"Apa itu salah? Apa kau mendengar sekolah mendepakku dari sekolah ini nona??"


"Loe.. Heh liat lah tampilan loe sekarang, mau menarik perhatian cowok2 disekolah ini?"


"Maaf nona, peraturan sekolah tidak melarang adanya tampilan berupa apapun disini. Apa pantas nona yg mengkritik tampilan seorang murid sedangkan anda juga seorang murid?"


"Loe... " sambil menunjuk kewajah Ruru


"Hei hei, ada apa ini. Ayolah kita semua teman mengapa kalian bertengkar?" Dion datang bermaksud menengahi keduanya


Ia tidak bisa memihak siapapun sekarang


Karna kedua wanita ini dapat peran dihidupnya, yg satu wanita yg disukainya sekaligus sahabatnya dan yg satu lagi wanita yg menjadi aset nya demi mempertahankan kesayangannya (red)


Sebelum keduanya menjawab Dion, tiba-tiba Rava menarik Ruru mengikutinya


Mereka yg melihat kejadian itu memandang tak percaya kearah dua orang yg berlalu meninggalkan kelas itu


...


"Mengapa kau menarikku kesini Rav?" tanya Ruru tak percaya saat Rava malah menariknya ke atap sekolah


Rava hanya menggaruk tengkuknya yg tak gatal lalu berkata


"Gak tau, gue cuma ngikutin langkah kaki gue doang hehehe"


Ruru yg mendengar ucapan Rava pun tertawa


Dan itu sukses membut Rava mematung dan memandangnya dengan tatapan memuja


"Loe cantik kalo senyum Ru, apalagi ketawa makin manis"


Seketika Ruru terdiam dari tawanya


Ia terlihat gugup sekarang dan hanya tersenyum canggung ke arah Rava lalu berkata. "Aku lapar"


"Apa kau tidak suka dipuji? Tapi itu kenyataannya"


"Rava aku bilang aku lapar, kalau kau ingin memujiku bicaralah dalam hati jika tidak kau bisa merubah mood ku jadi tidak baik"


Sebenarnya dia bukan tidak suka dipuji, tetapi ada alasan yg membuatnya tidak suka mendengar pujian dari orang lain selain keluarganya dan orang terdekat


"Ah baiklah, ayo kita ke kantin SMP" ujar Rava yg sudah mengerti


"Mengapa harus jauh-jauh?"


"Apa kau akan ke kantin SMA dan bertemu dengan Sisil kemudian kalian bertengkat lagi? Atau lebih parahnya jika kx Yana juga ada disana" ucap Rava kemudian


"Eum, baiklah" akhirnya Ruru mengikutinya


...


"Loe mau makan apa? Gue teraktir"


"Apa tak masalah? Aku bisa membelinya sendiri"


"Gx masalah, ini tanda pertemanan. Apa boleh?"


"Baiklah aku mau mie ayam dan es teh, terimakasih"


"Okay" Rava pergi untuk memesan makanan


Disudut lain kantin ada yg menatap mereka intens


"Apa itu pria yg mampu buat kakak princess gue jatuh cinta? Keliatannya cukup baik" batin seorang pria


"Ron kenapa malah bengong?" tepuka. Lembut dari Sinta mengalihkannya


"Gue ngeliat kx Ruru sama cowok" Ron menunjuk menggunakan dagunya


Sinta mengikuti arah yg ditunjuknya


"Yg ku lihat, kx Ruru sendirian. Ayo kita samperin" saat hendak berdiri, Ron menarik tangannya hingga ia kembali duduk disamping pria itu


"Gx, kita liat dari sini aja. Cowok yg sama dia lagi pergi pesan makan" Sinta hanya membulatkan mulutnya sambil manggut-manggut mengerti