My partner

My partner
9 masalah lagi



Berkali-kali ia mencoba fokus, tapi nihil


Ia sama sekali tidak fokus dan terus melirik ke arah Vivi


Yah Ruru masih memikirkan tentang Vivi yg tiba2 menghindari nya


Sudah 2 hari dia tidak menegur Ruru, bahkan mengabaikan sapaan dari nya


"Aku akan bertanya pada nya saat jam istirahat"batin Ruru


Saat yg di tunggu2 pun datang, bel istirahat berbunyi


Ruru tak mau menunda lagi, ia segera menarik tangan Vivi yg hampir saja menghilang lagi dari hadapan nya


#oh author blm bilang yhh klo Vivi duduk di bangku depan nya Ruru, hehe maaf lupa๐Ÿ˜


"Ada apa denganmu Vi, mengapa kau mengabaikan ku?? " tanya Ruru


"Siapa yg mengabaikan mu, Aku tidak.. " jawaban Vivi tergantung, hingga membuat alis Ruru mengkerut


"Yah dia ngejauhin loe, karna sekarang dia temen gue" Ruru tau itu suara siapa, dia Yana yg 2 hari lalu menumpahkan juice alpukan di kepala Ruru karna cemburu akan Aldo


"Maksud nya apa?? Apa masalah nya kalau dia menjadi teman kakak, aku tidak keberatan" Ruru meminta penjelasan namun Vivi malah menundukkan kepala nya


"Tapi gue keberatan, loe boleh berteman lagi sama dia asal loe mau jadi babu gue" seringai kecil dapat Ruru lihat dari mulut Yana


"Lagi pula loe itukan memang babu nya para pangeran, dan gue pacar dari salah satu nya. Jadi terima nasib loe yg harus nurutin perintah gue kayak loe nurutin perintah majikan loe" lanjut Yana


"Yah dan loe gx usah ke centilan cuma gara2 dapet perhatian dari 4 pangeran, toh si Sinta jg dapet perhatian itu" kali ini Lina yg bicara


"Ah, dia yg waktu itu piket kesehatan pas gw masuk UKS, ternyata dia beberin semua" batin Ruru menatap Lina


"Ah ya, ngomongin Sinta. Dia aja yg udah lama jadi babu pangeran nurut perintah gue, masa loe yg baru gx mau nurut. Mau di pecat loe hah" kini Yana meninggikan suara nya.


Mendengar itu, Ruru mengepalkan tangan nya.


Ia tidak terima sahabat nya di bilang babu, apa lagi sampai diperlakukan semena-mena


"Tunggu2,apa Sinta sering di suruh2 sama abang dan Ron? Hingga mengira dia babu di keluarga aku" batin Ruru, perasaaan nya campur aduk. Ia marah, kesal juga kecewa.


Ia merasa marah karna sahabat nya di olok2,kecewa pada saudara nya jika memang hal yg viral itu terjadi, dan kesal atas saudara nya yg membiarkan orang lain memerintah Sinta seenak nya


"Apa 2 hari yg lalu kau juga yg menulis surat itu dan juga meletakkan sampah hingga mengotori meja ku?? " Ruru angkat bicara, ia mencoba menahan emosi nya


Tapi dengan santai nya Yana menjawab


"Iya itu gue, biar loe tau diri. Walaupun loe babu nya mereka tapi harus ada jarak juga, jangan kecentilan. Atau lhu mau ngalamin apa yg di alami Sinta karna dia udah ngelanggar janji dengan masih nempel para pangeran"


Ruru tidak menjawab, ia memilih pergi tanpa sepatah katapun


Ia menuju ruang siaran dan berkata di mikrofon


"Untuk para pangeran, segera kekelas saya, dan untuk Sinta kelas SMP 2 c, segera ke ruang kelas saya"


Tentu saja ucapan nya itu buat heboh satu sekolah, mereka tidak akan heran jika hanya Sinta atau siswa lain nya yg di sebun. Tapi siapa yg berani memerintah para pangeran seperti ini


Saat keluar dari ruangan itu, Ruru mendengar bisikan dari semua siswa/siswi di sana


"Berani sekali dia memerintah para pangeran"


"Dasar anak baru"


"Punya nyawa berapa dia"


"Huh bukan nya mendapati pangeran dia malah akan terkena masalah"


"Yayaya, aku jadi penasaran apakah para pangeran akan datang"


"Mana mungkin, pangeran kita itu sibuk tidak punya waktu mengurus lelucon ini, apalagi kak rey. Dia hanya akan menjentikkan jari seketika semua yg di anggap nya sampah menghilang"


Ia sengaja memakai mikrofon memanggil mereka, karna ia mau meluruskan sesuatu dihadapan semua orang


"Heh loe, gx tau malu. Loe pikir loe siapa manggil para pangeran kekelas kita haa" Fani meninggikan suara nya, tapi Ruru tak mengubris nya


"Loe cari mati yah, heh cupu kalo di tanya itu nyaut jalang" timpal Fina tapi masih di abaikan Ruru hingga


Plaak..


Suara itu menggema di ruangan itu


Ruru tersungkur kelantai sambil memegang pipi nya


Ia terperangah dengan tamparan yg begitu keras menghantam pipi nya


"Loe itu punya mulut, kalo loe gx mau di ajak bicara baik2 okay, gua pake cara kasar" yah Sisil yg menampar pipi Ruru, ia geram


"Gua diemin loe saat loe deket2 sama Ronald gw gx masalah karna Ronald buakn tipe gua, gua gx suka berondong. Gw juga diem saat loe dengan sok kecakepan di deketin kx Aldo karna ada nenel lampir yg udah nyadarin loe dengan numpahin juice di kepala loe, walupun gua kesel dia jg sok kecakepan sama kx Aldo. Tapi ini apah, loe merasa diri loe ratu apa di sekolah ini sampai loe berani nya terang-terangan sama para pangeran. Ngaca woy ngaca, seharusnya loe ngaca di cermin yg gede" lanjut nya penuh dengan penekanan di setiap kata


Ruru masih diam, pikiran nya tambah kalut


"Huh belum ada sebulan aku disini tapi uda dapet masalah hanya karna tampilan aku. Sekolah macam apa yg daddy bangun, aku gx suka, dan apa yg paman Darto pikirkan " batin nya tak terima


Ruru masih tidak sadar jika orang2 yg ia panggil sudah ada di depan kelas nya dengan kepala sekolah juga, mereka melihat dan mendengar semua nya


"Apa ini? Apa kau memanggil kami hanya untuk ini?" suara berat Rey membuat Ruru mendongakan kepala nya melihat ke arah pemilik suara itu


Ruru kini melihat para saudara nya berdiri di depan nya dengan mata berkabut akibat amaran yg sudah sampai di ubun2


Ruru menelan susah slavina nya


Bagaimana tidak? Ia bingung untuk situasi ini, jika hanya satu diantara mereka yg marah dia dengan sangat mudah menenangkan, tapi ini ke 4 saudara nya sudah melihat ia di aniaya didepan mata mereka


Bagi semua mata yg melihat emosi pada para pangeran, mereka menyangka itu ditujukan untuk Ruru


Hingga ada yg menertawai nya, ada yg mencaci nya dll nya


Ruru menyadari suasana tegang karna ke 4 saudara nya mengeluarkan aura pembunuh


Dengan segera ia berdiri dan berkata


"Kalian, ikut dengan ku" ia ingin berlalu jika saja suara bass yg kini keluar dari mulut Ron terdengar


"Tidak, kita harus menyelesaikan masalah ini dulu"


Al yg hanya diam mendekat ke arah Sisil dan tanpa sadar Dion mengepalkan tangan nya


"Jika Sisil dapat masalah, ini semua karna kau cupu, awas saja kau" batin Dion


"Apa yg terjadi disini? Bisa kau jelaskan nona!!! โ€ suara berat Al mengglitik teringa Sisil dan dengan percaya diri dia berkata


"Dia mencari masalah pada kalian, jadi... "


Belum selesai ia bicara El malah memotong dengan perkataan tajam nya


"Dan siapa yg menyebut jalang tadi sebelum kau menampar nya?? "


Seketika hening bahkan tak ada yg berani bernafas


Sebelum semua nya makin runyam, Ruru segera angkat bicara kembali


"๋งŒ์•ฝ ๋‹น์‹ ์ด ์˜ค์ง€ ์•Š์„,๋‚ด๊ฐ€ ํ™•์‹คํ•˜์ง€ ์•Š๋Š” ๊ฒƒ์ด ์ฑ…๋งํ•˜์‹ ์„ ์œ„ํ•ด ๋ช‡ ์ผ (jika kalian tidak ikut, akan ku pastikan aku tidak akan menegur kalian beberapa hari) " jangan tanya mengapa ia bisa bahasa korea, ia pernah mengambil les bahasa asing itu karna dia suka menonton drakor๐Ÿ˜dan dia juga pernah tinggal satu tahun di korea bersama keluarga nya karna kerjaan sang daddy, itulah yg membuat ke 2 abang nya cuti kuliah, tapi abang ke 3 dan adik nya itu tidak cuti, mereka dipindahkan sekolah seperti hal nya Ruru


Ruru berlalu pergi, semua orang terdiam saling menatap satu sama lain


Kalau yg lain pasti diam karna bingung apa yg di ucapkan Ruru barusan tapi tidak dengan ke 4 pria tampan yg tak lain saudara Ruru itu mengerti bahasa asing itu karna yah, kalian taukan dia pernah tinggal di negara itu 1 tahun lama nya, dan mereka semua jenius, jadi cepat tanggap


Dengan sedikit terburu-buru dan mengabaikan semua nya mereka mengejar princess mereka, sedangkan Sinta sudah ngekor duluan pada Ruru