My Name Is Amel

My Name Is Amel
8



Study tour tiba, semua murid-murid kelas VIII SMP menyambut suka cita moment study tour ini di Jakarta-Bandung-Bogor. Study tour dilaksanakan selama empat hari. Tempat yang kami kunjungi antara lain Planetarium, Sea World, Dunia Fantasi (Dufan), Istana Bogor, Gedung DPR/MPR, dan Pusat oleh-oleh yang berada di Cibaduyut, Bandung.


Selasa sore sebelum berangkat study tour, kami kumpul terlebih dahulu di sekolah dan tidak lupa untuk berdoa sebelum berangkat.


Sore ini saat aku memasuki bus B, perjalanan berhenti sejenak karena beristirahat untuk sholat sekaligus makan malam. Semua siswa berhamburan keluar dari bus pariwisata, tapi ada insiden yang membuatku merasa jengkel, yakni saat aku sedang mengantre mengambil nasi dan lauknya ada yang menabrakku hingga piring dan gelas yang kubawa hampir terjatuh.


"Sorry ya Mel..." ucap seseorang yang kukenali suaranya,"sengaja nyenggol kamu" seseorang tersebut melanjutkan ucapannya dan tertawa penuh kemenangan.


Aku melirik kesal siapa yang menabrakku dengan sengaja tadi,"Apaan sih kamu ini Vian? Kurang kerjaan apa ya nabrak-nabrak orang kok disengaja dan hampir jatuh pula" dengusku sebal. Tapi ternyata yang aku omelin hanya sok cuek dan pura-pura nggak mendengarkanku. Terlihat malah Vian sedang tertawa dengan teman-temannya yang lain.


"Ihh, mau berangkat aja mood ku udah jelek gini. Sebal" gumamku pelan yang ternyata di dengar oleh Wisnu.


“Kenapa sih Mel?” tanya Wisnu sembari menoleh kearahku.


“Ini lho Wisnu, Vian asal main tabrak aja. Udah gitu aku dalam kondisi bawa piring lagi” ceritaku pada Wisnu.


Wisnu meletakkan piring dan gelasnya ke tempat duduk kosong kemudian membantuku membawakan piringku sambil bertanya” tapi kamu nggak apa-apa kan Mel?”


“Nggak apa-apa kok Wisnu, tapi aku masih sebel aja sama temanku itu” gumamku lagi.


“Yaudah Mel, nggak usah dihiraukan” hibur Wisnu sembari tersenyum.


Aku mengangguk dan mencoba untuk menghela nafas panjang,"Sabarrrrr....." ucapku pelan sembari membenarkan posisi saat membawa piring dan gelas kosong.


Baru beberapa menit aku mencoba untuk bersabar, ternyata Vian menyapaku lagi dan aku langsung membalas dengan memutar bola mata malas.


“Eh Amel..." sapa Vian sembari nyengir kearahku," aku kira siapa. Kenapa sih wajahnya bete gitu? Maaf ya yang tadi, sini piringmu aku bawakan” ucap Vian tanpa merasa bersalah.


“Nggak usah sok baik deh!!” jawabku ketus.


“Oh ya udah. Kamu makan sendirian ya, aku temeni boleh?” pinta Vian.


“Emang kamu kira aku jalan sama hantu apa? Jelas-jelas dari tadi aku ngobrol sama Wisnu kok, di kira aku sendirian” ucapku yang masih ketus.


Vian langsung melirik tajam kearah Wisnu. Tapi Wisnu tidak menyadari.


“Mel, yaudah yuk makan" ajak Wisnu, "eh maafin temenku ya” ucap Wisnu pada Vian dengan nada sopan.


“Oh… nggak masalah, ya udah Mel aku mau ngumpul bareng temen-temen lain aja. Daripada ganggu kalian pacaran” pamit Vian yang kemudian melirik tajam lagi kearah Wisnu dan meninggalkan kami berdua.


Aku tak menghiraukan ucapan Vian dan langsung fokus untuk makan


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Beberapa menit kemudian teman-teman menyusulku dan Wisnu yang duduk di beranda tengah.


“Hm, Pantes aja dicariin kesana kemari nggak ketemu mulu, ternyata udah nyantol ditempat ini kalian berdua” ucap Irul.


“Iya nih kalian berdua sukanya ngilang tiba-tiba” sambung Fia yang berada dibelakangnya.


“Ih kalian ini kayak ngerti aja sih kalo mereka ini PDKT” ucap Tami dengan ekspresi geli.


 “Maaf ya Guys, habis kalian yang tiba-tiba ngilang waktu tadi pada turun dari bus” balasku nyengir,"ketemu Wisnu aja nggak sengaja kali" aku membela diri.


Wisnu membalas dengan menggangguk tanda membenarkan ucapanku sambil menyendok makanan berikutnya.


"Memang kenapa sih kalo aku lagi sama Amel?" tanya Wisnu pada mereka.


Aku tertawa geli saat Wisnu bertanya seperti itu pada mereka.


"Kalian itu cocok tauk" ucap Irul yang dapat anggukkan dari Tami, Fia dan Fitria.


"Kalian bisa aja nih" jawabku dan Wisnu serentak dengan ekspresi yang sudah salah tingkah, “btw, Shella kemana ya, kok dari tadi aku nggak lihat sih?” tanyaku saat menyadari Shella tidak menggabung Irul, Tami, Fia dan Fitria.


“Ah kamu itu sibuk mulu sama si Wisnu, jadi Shella diculik deh sama Nugroho pun kamu nggak tau Mel” jawab Tami.


“Iya nih Amel sama Wisnu makin lengket aja kayak perangko” sambung Fitria.


“Ye… aku kira apaan? Biarinlah aja Shella sama Nugroho. Paling bentar lagi mereka juga nyariin kita” balasku enteng.


“Kamu bilang enak, karena kamu udah ada Wisnu. Sementara kita berempat jadi obat nyamuk” celetuk Fia.


“Kita! Loe aja kali gue nggak!” goda Tami sembari tertawa.


“Huh! Kamu itu nyebelin banget Tam” gerutu Fia.


“Emang Tami nyebelin kok dari dulu” gelak Wisnu sembari meledek Tami.


“Ye, sembarangan aja kamu kalo ngomong, justru kamu tu yang nyebelin” balas Tami sambil mencubit lengan Wisnu.


"Aduuuhhhh...." Wisnu reflek mengaduh saat Tami mencubit lengannya.


Kami semua menertawakan kejahilan Tami dan Wisnu.


Tawa kami berhenti saat Shella dan Nugroho menggabung.


“Eh kalian ternyata lagi duduk disini ya” seru Shella saat datang bersama Nugroho.


“Iya nih, padahal kita berdua juga lagi nyariin kalian lho” sambung Nugroho.


“Hay Nugroho ” sapa Wisnu dengan tersenyum.


“Hay juga Wisnu” balas Nugroho sambil tersenyum juga.


“Kalian tu makin hari makin lengket aja ya” kata Wisnu.


“Ya iyalah, kan kita nggak mau kalah sama kayak Wisnu dan Amel” balas Shella sembari melirikku dan Wisnu.


“Iya nih, kita nggak mau kalah sama pasangan yang ada di depan ini ” sambung Nugroho yang ikutan melirikku dan Wisnu.


"Apaan sih kalian ini..." respon Wisnu terlihat salah tingkah.


“Nahhh, kalian PDKT nya kelamaan sih” ucap Fia padaku, Wisnu, Shella dan Nugroho.


Aku dan Wisnu saling pandang dan diam. Entah apa yang akan kami jawab saat teman-teman menanyakan seperti itu.”Aku berharap Wisnu segera menyatakan perasaannya untukku, tapi sebenarnya dia suka aku nggak sih? Lagian aku juga bingung kenapa dia ngajakin PDKT denganku, jadi makin berharap untuk kepingin jadi ceweknya. Tapi aku kok nyaman ya saat PDKT dengannya. Aku jadi berharap lebih kan kalo begini caranya” batinku sambil menatap sendu kearah Wisnu.


“Amel, Amel… nggak tau kenapa aku senang kalo berada disebelahmu terus, itu terjadi sejak kita mulai kenalan dulu. Entahlah kapan aku bisa memberanikan diri untuk ngungkapin perasaanku untukmu. Semoga kamu sabar ya Mel, mau nunggu aku” batin Wisnu membalas tatapanku.


Sementara Shella dan Nugroho saling terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Udah yuk, sepertinya bus kita mau berangkat" ucap Fia pada semuanya yang suaranya membuyarkan lamunanku, Wisnu, Shella dan Nugroho juga.


Setelah itu kami segera menuju bus pariwisata lagi untuk melanjutkan perjalanan. Tapi ada insiden yang ternyata Wisnu masih belum sadar bahwa bus pariwisata kami akan segera berangkat.


“Mel, kamu nggak apa-apa kan?” tanya Wisnu yang tiba-tiba menahanku untuk pergi.


“Eh, maksudnya?” tanyaku kaget sambil menoleh dan menghentikan langkah, sedangkan teman-teman yang lain sedang mengantre untuk menaiki bus pariwisata tersebut.


“Kamu mau kemana?” tanya Wisnu masih belum sadar.


“Lhah! Bukannya kita bentar lagi mau ngelanjutin perjalanan ke tempat wisata” terangku sambil melihat teman-teman yang lain sudah masuk bus.


“Kok kamu buru-buru sih, kan teman-teman kita masih ada disana” balas Wisnu sembari menunjuk tempat duduk yang sudah kosong.


“Aduh Wisnu, bentar lagi kita mau berangkat ke tempat wisata, emangnya kamu nggak mau ikutan apa” tanyaku mulai tidak sabaran.


“Lho! Bukannya teman-teman masih pada makan?” jawab Wisnu agak plin-plan.


Aku tertawa, “Kan teman-teman kita makan udah dari tadi, tuh lihat kan rumah makan udah sepi. Berarti………..” terangku terpotong saat terdengar suara bus sudah mau berangkat.


“Bus…..!!!!!!!” teriak Wisnu.


“Aduh! Jangan sampai deh kita ketinggalan. Ayo Wisnu, buruan!!!” ajakku sambil tak sadar menggandeng tangan Wisnu.


“Aduh, sabar dong Mel” balas Wisnu kualahan.


“Ayo dong cepetan” kataku mulai tak sabar.


Setelah kami berdua berhasil masuk dalam bus B tersebut, kami pun masih terengah-engah.


Lalu terdengar sorakan iseng dari teman-teman sekelas plus wali kelas kami.


“Cieeeee....” sorak teman-teman yang sudah berada di dalam bus tersebut dan melihat kami ternyata bergandengan tangan.


Aku dan Wisnu saling tatap lagi, entah apa yang akan kami berdua jawab.


“Kami belum jadian kok Bu” jawabku sedikit malu.


“Apa benar Wisnu seperti itu?” tanya Bu Rina.


“Iya Bu, kita berdua belum jadian” sambung Wisnu dengan berani.


“Bu, masa PDKT mulu. Tapi Wisnu belum berani ngungkapin perasaannya sama Amel” teriak Eko.


“Iya Bu… masa cinta di pendem terus” sambung Adit.


Tiba-tiba dengan iseng aku ikut menambahi, “Jangan salah Bu, disini juga ada yang cinlok. Eko sama Tami” dengan menjukkan Eko dan Tami.


“Iya lho Bu, mereka juga saling suka tapi nggak berani mengungkapkan perasaan satu sama lain ” balas Wisnu sambil menjulurkan lidahnya.


Tami dan Eko mendengus kesal karena ulahku dan Wisnu, mereka hanya memelototi kami sewaktu rahasianya terungkap.


Bu Rina hanya membalas dengan senyuman dan bertanya lagi ”Anak-anak, perjalanan kita ini mau dilanjutin nggak? Harap tenang!”


“Ya Buuuu ” balas murid-murid VIII B.


“Kalian nggak duduk?” tanya Bu Rina saat melihatku dan Wisnu yang masih berdiri dekat pintu.


“Makasih Bu ” balasku dan Wisnu sambil tersenyum dan segera duduk ditempat masing-masing.


Terdengar sorakan iseng lagi dari teman-teman sekelas kami saat akan kembali di tempat duduk. Perjalanan dilanjut sampai tempat tujuan.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Perjalanan kemudian dilanjutkan sampai tempat wisata, kami semua sangat menikmati perjalanan itu dan biasalah ada yang tidur, bercerita, dan masih banyak lagi kegiatan yang berada di dalam bus tersebut.


Setelah kami semua turun dari bus untuk mengunjungi tempat wisata yang telah dituju, kunjungan pertama kami yaitu di Planetarium, SeaWorld, Ancol, Dufan.


Saat piknik ke Dufan kami semua have fun, aku dan teman-temanku asyik bermain kora-kora, jet coster, mengunjungi istana boneka, dan terakhir main 3 dimensi yang kebetulan kita dapat mainan Meteor Attack.


Aku dan teman-teman lain menikmati suasana permainan tersebut, dan tak ketinggalan Wisnu beserta Eko, Pandu, dan teman-temannya yang lain juga merasakan suasana have fun.


Kebetulan sewaktu bermain Meteor Attack, aku duduk disebelah Wisnu. Aduh…  aku makin salah tingkah dibuatnya. Apalagi waktu lihat dia senyum, jadi semakin salah tingkah. Tapi menyadari bahwa PDKT kami belum ada hasilnya. Aku sedikit kecewa walau aku pendam. Aku sedikit mengalihkan perhatian dengan bermain ke wahana lainnya.


Kemudian terakhir menuju penginapan Desa Wisata tempat kita melepas lelah.


Sesampainya di penginapan, kami semua turun sambil membawa tas masing-masing. Kemudian mencari kamar untuk istirahat.


Tapi entah kenapa saat semua akan menuju ke penginapan, tiba-tiba Wisnu kalang kabut mencari tas yang berisi pakaian dan alat mandi.


“Cari apa Wisnu kok kayaknya kamu kebingungan begitu?” tanya Adi saat lewat di depan Wisnu.


“Itu Di, tasku tiba-tiba ilang. Apa mungkin masih tertinggal dibagasi kali ya” cerita Wisnu sembari mengingat-ingat barang bawaannya.


“Coba dicari lagi, bisa jadi masih ketinggalan di bagasi. Aku antar deh” tawar Adi sambil membawa tasnya.


“Okee, makasih ya Di……” ucap Wisnu sambil tersenyum.


“Iya Wisnu, sama-sama” balas Adi sembari mengangguk.


Saat Wisnu dan Adi akan menuju bus yang tadi dinaikin, Wisnu menoleh karena ada yang memanggilnya.


“Wisnuuuu ” panggilku.


Wisnu menoleh dan menghampiriku diikuti Adi yang sedang berjalan dibelakangnya.


“Iya Mel ada apa?” tanya Wisnu.


“Ini tasmu tadi ketinggalan waktu kamu buru-buru menuju penginapan. Kamu lupa ya sama barang bawaanmu yang tadi ditaruh di lobi penginapan” terangku sambil keberatan menyerahkan tasnya pada Wisnu.


Wisnu kemudian mengingat kejadian itu, lalu membalas dengan menepok jidatnya dan tak lupa meninggalkan cengiran tanpa dosanya padaku.


"Aduh, Wisnu....Wisnu...." ucap Adi sembari menepok jidatnya juga.


Wisnu membalas dengan tertawa kearah Adi,"Sorry Bro, aku beneran kelupaan" ucap Wisnu.


“Eh… makasih ya Mel” balas Wisnu untukku sambil tersenyum dan mengambil tas yang aku bawa.


Aku mengangguk dan tersenyum, “Iya Wisnu, sama-sama. Lain kali jangan teledor lagi ya” pesanku masih merasakan geli.


“Oke, siap Amel ” balas Wisnu dengan mengangguk.


“Kalo gitu aku mau langsung ke kamar penginapam ya, udah capek nih” pamitku.


“Iya Wisnu, aku juga nih mau langsung tidur” sambung Shella.


“Kamar kalian emang dimana sih?” tanya Wisnu.


“Kamar kita ada di B.2 kok” jawabku.


“Lho, berarti kamar kita sebelahan dong. Aku tidur dikamar B.1” sambung Adi yang berjalan di sebelah Wisnu.


“Yasudah, kita barengan aja kesananya” ucap Adi padaku,Wisnu, dan Shella.


Kami segera berjalan menuju kamar penginapan yang letaknya dinomor B.1 dan B.2


Sesampainya di depan kamar penginapan, aku dan Shella berpamitan pada Wisnu dan Adi.


"Kami duluan ya Mel, Shel" pamit Adi yang dari tadi sudah menguap karena mengantuk.


Aku dan Shella mengangguk lalu berpamitan juga dengan Adi dan Wisnu.


"Mel..." panggil Wisnu.


Aku segera menoleh kearah Wisnu,"Iya Wisnu, ada apa lagi?" sahutku.


“Makasih ya Mel udah ditemuin tasku tadi” ucap Wisnu penuh senyum.


Aku mengangguk dan membalas senyuman Wisnu,"Sama-sama Wisnu. Lain kali di cek lagi ya barang bawaannya" aku mengingatkannya lagi.


Wisnu mengangguk, dan sebelum masuk kamar penginapan kami mengobrol sedikit.


“Wah, kamarnya sebelahan nich ceritanya. Cie… cie…” goda Shella.


“Ye… Shella mulai deh isengnya” lirikku kearah Shella.


“Udahlah Mel nggak apa-apa kali, emang kenyataannya seperti itu kok” bela Wisnu sambil tersenyum.


"Iya Wisnu, santai. Aku sama Shella udah biasa seperti ini" ucapku dengan ekspresi geli.


Shella mengangguk dan membenarkan ucapanku.


“Ehm.. ya udah, mending kita balik langsung aja ke penginapan. Biar nggak kemalaman dan besok bangun nggak kesiangan” ajak Shella.


“Iya Shel, kalo kesiangan bisa-bisa ditinggal bus lagi ntar” gelakku sambil melirik kearah Wisnu


“Hahaha, kamu itu masih inget aja sama kejadian memalukan tadi siang itu” balas Wisnu memasang ekspresi tersipu.


“Hehe, habis lucu sih kalo inget kejadian siang tadi” ucapku dengan ekspresi geli.


Mendengar ceritaku, Shella juga ikut tertawa.


Sesampainya di kamar penginapan aku dan Shella segera masuk ke nomor kamar yang sama, sementara Wisnu masuk dikamar B.1.


Sebelum masuk ke kamar, Wisnu berucap” Selamat tidur ya Mel.”


Aku pun membalas, “Selamat tidur juga ya Wisnu” sambil tersenyum.


“Bye Amel….” katanya lagi.


“Bye juga Wisnu. Good night yach” balasku lagi.


“Good night too ………” jawab Wisnu dengan seulas senyum.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤