
Menginjak kelas XI membuatku semakin sibuk dengan bejibun tugas, belum lagi ada salah satu guru yang mengharuskan kuis sebelum mulai pelajaran.
Sementara Wisnu sendiri juga semakin sibuk dengan kegiatan praktikkumnya di sekolah. Hubungan dan komunikasi kami semakin memudar, yang biasanya Wisnu menyempatkan antar jemput aku sudah tidak pernah. Katanya memang harus berangkat se pagi mungkin untuk memulai praktikkum.
Bahkan sekedar menyambangi rumah pun juga tidak pernah lagi. Padahal hubunganku dengan keluarganya sedang hangat-hangatnya.
Aku semakin tidak mengerti maksud Wisnu bagaimana. Bukankah selama ini aku merasa hubunganku dan Wisnu menggantung lagi seperti awal sebelum dia menyatakan perasaannya padaku dulu?
Aku mencoba untuk menelepon, dan terkejut karena teleponku di reject olehnya. Padahal biasanya dia sama sekali tidak pernah melakukan ini padaku.
"Wisnu kenapa ya, nggak biasanya teleponku di reject" gumamku yang hampir putus asa dengan hubungan ini,"aku coba lagi deh..." ucapku sembari mencoba menghubunginya lagi.
Dan hasilnya nihil saat mengetahui panggilanku di reject lagi.
"Yasudahlah, mungkin besok dia akan kirim pesan" aku mencoba untuk berpikir positif.
Aku terbangun karena ada pesan masuk, ku pikir Wisnu yang mengirim pesan. Ternyata operator yang mengingatkanku untuk segera mengisi pulsa.
"Oh iya, masa tenggangnya besok" ucapku sembari menepok jidat,"besok deh sebelum berangkat aku isinya" gumamku sembari menaruh ponsel di tas ranselku.
Setelah itu, aku melanjutkan untuk tidur lagi karena jam dinding masih menunjukkan pukul 03.40
"Hoooaaaammmm....." aku menguap lagi karena masih merasa mengantuk.
Tapi ternyata sampai jam 05.00 tepat aku tidak bisa tidur sama sekali. Pikiranku penuh dengan perubahan Wisnu.
Aku masih berpikir positif karena Wisnu suatu saat akan membalas semua pesanku. Tapi nyatanya tidak sama sekali. Hari demi hari bahkan seiring waktu berjalan pun dia sama sekali tidak ada kabar.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
"Mel, kenapa sih akhir-akhir ini kamu keliatan murung?" tanya Fia sembari mengagetkan lamunanku.
"Iya Mel, udah hampir dua bulan lho kamu begini" sambung Pandu menyetujui ucapan Fia.
"Tanya aja sama temenmu itu. Kenapa hampir 2 bulan dia nggak ada kabar" balasku dengan ekspresi murung.
"What?? Wisnu hilang kabar sampai selama itu??" kejut Fia dan Pandu serentak.
Aku mengangguk pilu, menjawab pun tidak bisa. Karena memang aku tidak tau sama sekali kabar tentangnya.
"Mungkin dia sudah sibuk praktikkum kali" ucap Fia mencoba berpikir positif.
Aku hanya mengendikkan bahu, rasa sakit di hati mulai menjalar secara perlahan.
"Padahal selama ini aku masih kontak sama dia" cerita Pandu yang sukses membuat mataku membulat terkejut.
"Kalian masih saling kontak???" tanyaku pada Pandu.
Pandu dengan santai memangguk, bahkan dia merasa bahwa Wisnu memang berubah. Jika membahas tentang hubungannya dengan aku seperti mengalihkan pembicaraan.
"Aku salah apa sama dia?" tanyaku lirih, bahkan tanpa sadar airmataku tumpah di pipi.
Sementara Pandu sendiri tidak mengerti kejadian ini.
"Mel, maaf nih kalo aku lancang. Karena pernah dengar Wisnu deket sama seseorang yang katanya satu kelas padanya" cerita Pandu yang sukses membuatku dan Fia semakin terkejut.
"Husss, kamu ini Pan. Jangan bikin Amel semakin shock deh" tegur Fia pada Pandu yang membuat Pandu cepat-cepat membungkam mulutnya.
"Serius Pan? Siapa seseorang itu? Kok Wisnu PHP aku sih?" ucapku semakin kesal mendengar cerita Pandu.
"Aku cuman di ceritain sama temen sebangku Wisnu sewaktu kelas 10 itu" Pandu menjelaskan pada kami.
"Siapa sih? Kok berani banget Wisnu seperti itu??" aku mendengus kesal.
"Sabar Amel, kamu jangan emosi begini. Mungkin hanya gosip saja" ucap Fia menenangkanku.
"Nggak bisa Fi, aku mencoba untuk komunikasi tapi tidak merespon. Telepon pun di reject berkali-kali" aku meluapkan isi hatiku pada mereka.
"Coba deh aku pancing dia..." ucap Pandu yang tampak memikirkan masalahku juga.
Aku mengangguk setuju,"Minta tolong ya Pan, aku nggak tau lagi gimana caranya menghubungi Wisnu" ucapku sembari memohon.
Pandu mengangguk dan tersenyum,"Iya Mel, aku usahain ya" balas Pandu.
"Nggak apa Pan, seenggaknya kamu sudah berusaha bicara sama Wisnu" anggukku mengerti.
"Iya Mel, minta tolong Pandu aja yang masih komunikasi sama Wisnu. Semoga ada jalan keluar" support Fia.
"Aamiin, thank ya Pandu...Fia... nggak tau lagi aku minta tolong sama siapa" ucapku penuh haru.
"It's oke Mel. Bacause everything gonna be oke" senyum Pandu menghiburku
Sementara Fia mengusap lembut pundakku untuk menenangkan pikiranku.
Aku tersenyum lega karena mereka selalu mengerti situasi dan kondisiku saat ini.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Rutinitas Wisnu saat ini. Bangun tidur, bersiap untuk sekolah, belajar di kelas dan praktikkum, pulang sekolah, belajar di malam hari dan begitu terus sampai diulang-ulang.
Malam ini, Wisnu baru saja pulang dari sekolah. Ternyata praktikkum hari ini sangat melelahkan dan ditambah alat praktiknya ada yang rusak, jadi mau tidak mau harus menunggu giliran untuk memakai alatnya.
Sembari rebahan, Wisnu memainkan ponselnya. Dilihatnya notifikasi panggilan tak terjawab dan pesan dari Amel yang menumpuk banyak sekali.
"Nanti deh aku balesnya" ucap Wisnu merasa malas melihat tumpukkan pesan dari kekasihnya.
Tak lama kemudian, Wisnu tertidur di ranjangnya.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤