
Siang ini saat pulang sekolah, tiba-tiba Fia dan Irul mengajak kami bertiga untuk menyambangi persewaan komik langganan mereka.
"Wahh, asyikk ke persewaan komik..." jawabku antusian menyejutui ajakan Fia.
"Oke, aku juga ikut..." angguk Shella juga.
"Sesekali pulang sekolah main" sambung Tami dengan tertawa.
"Ini cewek-cewek pada mau kemana sih?" tanya Wisnu melihat gerombolan kami.
"Mau ke persewaan komik, mau ikutan?" jawabku sembari meringis kearah Wisnu.
"Wahh, seru banget. Join dong..." sambut Eko antusias.
"Join ke persewaan komik karena senang dengan komik apa karena ada Tami?" ledek Pandu yang membuat kami tertawa.
"Panduuuuuuu......" dengus Eko dan Tami serentak.
Pandu terpingkal-pingkal melihat ekspresi Tami dan Eko sama-sama salah tingkahnya.
"Oke, kita join yuk. Siapa tau ada komik keluaran terbaru disana" angguk Wisnu setuju.
"Come on Guys..." ajak Fia dengan semangat.
Saat langkah kami segera bergegas untuk menuju gerbang sekolah, tiba-tiba Shella berseru,"Bentar Guys, Nugroho mau ikut katanya."
Langkah kami terhenti dan menunggu kelas Nugroho keluar yang berada di kelas IX D.
Beberapa menit kemudian, Nugroho keluar kelas dan berlari menghampiri kami.
"Maaf ya Guys, kalian jadi nunggu lama deh" ucap Nugroho tidak enak hati.
"Nggak apa kok, santai aja. Kami nggak keburu juga" ucap Fia dengan mengangguk.
Setelah itu, kami berdelapan segera bergegas menuju persewaan komik yang letaknya tidak jauh dari sekolah kami.
Sesampainya di persewaan komik yang Fia maksud, tampak Fia sangat akrab dengan penjaga di persewaan komik tersebut.
"Wahh, Fia kesini ngajakin rombongan nih" sambut si penjaga persewaan komik tersebut dengan senyuman merekah.
Fia meringis kearah si penjaga persewaan komik tersebut.
"Iya Mbak, kebetulan mereka juga bisa ikut kesini" ucap Fia pada Mbak Anggun.
Kemudian Fia mengenalkan Mbak Anggun si penjaga persewaan komik tersebut pada kami semua.
Setelah perkenalan dengan si penjaga persewaan komik, kami langsung mengerumi rak-rak komik yang telah tersedia.
Sementara aku dan Irul menuju rak novel yang ada di sebelah ruangan koleksi komik.
"Mbak, boleh baca disini nggak sih?" tanyaku setelah menemukan salah satu novel yang sudah ada ditanganku.
"Boleh Mel, baca aja sepuasmu..." angguk Mbak Anggun dengan senyuman.
"Makasih Mbak..." balasku penuh senyum juga.
Akhirnya siang ini kami menghabiskan waktu untuk membaca komik dan novel di persewaan tersebut.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Saat makan malam bersama keluarga di rumah tampak lengkap. Aku, Mia, Ardi, Ibu dan Ayah.
"Mbak..."panggil Mia padaku.
"Ya, kenapa Mi?" sahutku langsung.
"Cowok yang sering kesini itu pacarmu ya?" tanya Mia iseng.
Aku tersedak saat si adik perempuanku menanyakan perihal itu.
"Miaa, kamu iseng banget tanyanya begitu sama Mbakmu.." tegur Ibuku pada Mia sembari menggelengkan kepala,"minum dulu Mel..." ucap Ibu sembari memberikan minuman air putih untukku.
"Makasih Bu" ucapku dengan mengambil gelas yang disodorkan Ibu untukku.
"Sama-sama. Yasudah lanjut makan lagi Mel" ucap Ibu.
Aku mengangguk, kemudian menyendokkan makanan lagi di mulut.
"Memang siapa sih? Kok Ayah sampe nggak tau" ucap Ayah terlihat kepo padaku.
"Itu lho Yah, temen Amel" jawab Ibu sembari melirik dan tersenyum jahil kearahku.
Aku hanya membalas dengan meringis kearah kedua orangtuaku.
Aku membalas dengan menyikut perut Mia,"Diem deh Mi..." dengusku sebal.
"Mbak Amel sama Mbak Mia lagi bahas apa sih?" tanya Ardi ikutan kepo juga.
"Anak kecil dilarang kepo..." protesku yang membuat satu rumah tertawa.
"Ihhh, Mbak Amel nyebelin" ucap Ardi sembari mendengus kesal.
Tampak dengan wajahnya yang masih cemberut, Ardi mengambil nasi plus lauk lagi.
"Dek, ngambek itu butuh energi banyak ya" timpal Mia sembari tertawa melihat adik bungsu kami yang tanpa sadar mengambil nasi dan lauk dengan porsi banyak.
Aku, Ibu dan Ayah juga geli melihat Ardi menambah porsi makannya.
"Ardi..Ardi..." ucap Ayah disela-sela tertawa gelinya,"nggak apa-apa ya Dek, makan yang banyak biar cepet gede kayak Mbak Amel dan Mbak Mia" Ayah melanjutkan ucapannya sembari mengusap kepala Ardi dengan sayang.
"Habis ini jangan nambah lagi ya Dek. Katanya cita-cita punya perut kotak-kotak" sambung Ibu juga sembari membereskan piring kotor.
"Harus makan sehat dong..." ledekku pada Ardi sembari berlari ke dapur.
"Mbak Amel rese...." dengus Ardi.
Aku tertawa melihat wajah Ardi berubah kesal, lalu
Aku dan Mia membantu Ibu di dapur.
"Mel, ada yang ingin Ayah bicarakan sama kamu" ucap Ayah sembari menyalakan televisi.
"Ya Yah, nanti Amel nyusul" sahutku yang masih mencuci piring.'duhh, Ayah mau ngomong apa ya? Perasaanku nggak enak' aku membatin dengan perasaan tidak karuan.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Sementara di rumah Wisnu. Tampak sedang berkumpul keluarga sembari bercerita hangat dan ditemani televisi menyala.
"Mas Wisnu..." panggil sang adik Lea pada kakaknya.
Wisnu masih asyik melihat acara favoritnya di televisi, sementara kedua orangtua juga sama.
"Maasssssss" panggil Lea sekali lagi sembari melemparkan bantal sofa kearah Kakaknya.
Wisnu langsung terkejut dan melirik tajam kearah adiknya.
Mendapati hal tersebut, Lea hanya meringis tanpa dosa.
"Apa sih..." jawab Wisnu merasa terganggu.
Lalu tubuh Lea mendekatkan pada kakaknya sambil berbisik"Mas, Mbak Amel siapa sih? Kok kayaknya chat kalian mesra banget?" tanya Lea sembari mengintrogasi kakaknya.
Wisnu terkejut dan langsung salah tingkah saat sang adik menanyakan perihal tersebut.
Lea terpingkal-pingkal saat melihat sang kakak terlihat salah tingkah sekaligus merona.
"Hehh, bocil sialan .." dengus Wisnu yang tidak bisa menyembunyikan rasa salah tingkahnya,"kamu ngintip chatt ku sama dia ya" ucap Wisnu sembari melirik tajam adiknya.
Bukannya Lea menjawab, malah semakin terpingkal-pingkal melihat ekspresi Wisnu tegang dan kalang kabut.
"Kenalin Ibu sama Bapak dong" Ibu Wisnu ikut menimpali.
"Ahh Ibu, Wisnu malu" ucap Wisnu yang masih terlihat salah tingkah.
"Masa kamu nggak berani ngenalin dia kesini" ledek Bapak Wisnu, "padahal udah berani nembak orangnya" ucap Bapak Wisnu yang langsung membuat sang Ibu dan Lea adiknya melirik kearah Wisnu.
"Kok Bapak lebih tau sih?" tanya Lea yang masih menatap kearah kakaknya.
"Tanya saja langsung sama Mas mu itu" ucap Bapak Wisnu dengan ekspresi jahil.
"Memangnya kamu serius sama itu cewek?" tanya Ibu juga,"masa depan kalian kan masih panjang" sambung Ibu Wisnu.
"Wisnu kalo suka cewek pasti serius Bu, nggak pernah main-main" ucap Wisnu terdengar serius,"iya Bu, Insya Allah aman. Wisnu juga nggak pernah macem-macem kok sama Amel" Wisnu melanjutkan ucapannya.
Bapak Wisnu megusap punggung Wisnu dengan sayang,"Bapak bangga padamu Nak. Bukan ingin mengajarimu untuk menggaet cewek yang masih terlalu dini, tapi tentang tanggung jawab dan yang pasti memberikan kepastian padanya" ucap Bapak Wisnu dengan senyum.
Ibu Wisnu juga ikut mengangguk,"Kamu itu cowok Nak, yang pasti tanggungjawabnya sangat besar. Kamu jangan kecewakan kami ya sebagai orangtuamu. Selama yang kamu jalan masih positif kenapa tidak" nasihat Ibu Wisnu.
Wisnu tersenyum merekah, saat mengetahui hubungannya mendapatkan lampu hijau dari kedua orangtuanya.
"Jangan lupa belajar yang fokus, karena sebentar lagi kamu ujian kelulusan" ucap Ibu Wisnu lagi,"oh iya, jangan lupa si Amel itu di kenalin sama Ibu, Bapak dan adik kamu" bisik Ibu Wisnu lagi.
Wisnu mengangguk salah tingkah. Wajahnya semakin merona.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤