
"Ameeell! Wisnuuu!!" panggil kami serentak.
"Kata ortu kapan kamu main ke rumah?" tanya kami secara serentak lagi.
Setelah sadar, kami langsung terpingkal-pingkal.
"Kamuuu...." seru kami sekali lagi.
Lalu tertawa lagi.
"Ihhh yang bener dong Yang...." protesku sembari menoyor pelan lengan Wisnu.
Wisnu terpingkal-pingkal saat aku memprotesnya.
"Kok aku coba??" protes Wisnu disela-sela tawanya,"yasudah, kamu duluan yang ngomong.." ucap Wisnu mengalah.
Aku terkikik geli saat Wisnu berusaha mengalah,"Iya iya. Aku duluan..." balasku memulai bercerita,"seminggu lalu aku di introgasi Ayah sama Ibu tentang hubungan kita. Gara-gara adikku Mia sih mulutnya nggak bisa direm..." ceritaku terpotong karena Wisnu langsung mengomentari.
Ekspresi Wisnu berubah tegang,"Lalu hubungan kita gimana?" tanya Wisnu.
"Tenang, hubungan kita tidak kenapa-kenapa Sayang" jawabku dengan senyuman,"bahkan mereka malah mendukung hubungan kita" aku melanjutkan ceritaku.
"Syukuuurrr...." ucap Wisnu dengan perasaan lega,"jadi kita dapat lampu hijau nih?" tanya Wisnu lagi.
Aku mengangguk,"Pastinya Wisnu. Aku kira kemarin Ayah dan Ibu marah karena kita pacaran terlalu dini, ternyata hanya menasihatiku saja" ceritaku lagi.
Wisnu menggenggam jemariku,"Apapun itu Sayang, aku akan tetap perjuangkan hubungan kita" janji Wisnu padaku.
"Terima kasih Wisnutama.." ucapku sembari bersandar dipundaknya,"kamu orang yang bisa menerimaku apa adanya" ucapku lagi.
"Sama-sama Amelia, bahkan kamu juga sudah menerimaku apa adanya juga. Orang tersabar yang pernah aku temui" balas Wisnu sembari tangan kanannya membelai rambutku,"oh iya. Tentang hubungan kita, orangtuaku juga memberikan lampu hijau. Bahkan mereka ingin berkenalan denganmu Sayang" ucap Wisnu yang membuatku bangun dari sandaran pundaknya.
"Serius??" tanyaku sembari menoleh kearahnya.
"Coba sini kamu liat mataku, apa aku sedang berbohong?" pinta Wisnu padaku.
Aku menatap wajahnya dan mencari kebohongan yang tidak ada disana,"Iya, aku mau kenal pada kedua orangtuamu dan adikmu" ucapku dengan berbisik.
"Besok malam minggu aku kenalkan ya" ucap Wisnu dengan tersenyum.
Aku mengangguk dan tersenyum kearahnya, lalu untuk pertama kalinya Wisnu memelukku.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Malam minggu tiba, Wisnu menepati janjinya untuk mengajakku untuk berkenalan dengan kedua orangtua dan adiknya.
Sembari menungguku yang belum selesai memadu padankan baju yang akan kupakai malam ini, terdengar suara Wisnu sedang tertawa dengan kedua orangtuaku. Bahkan tak sungkan Mia dan Ardi ikut menggabung di ruang keluarga.
Beberapa menit kemudian, aku sudah siap dan segera menemui Wisnu di ruang tamu.
"Ayah...Ibu... Amel ke rumah Wisnu dulu ya" pamitku sembari mencium punggung tangan mereka dengan hormat.
Wisnu melakukan hal yang sama.
Kemudian sesampainya di rumah Wisnu, ternyata aku disambut baik juga oleh keluarganya. Hatiku langsung menghangat.
"Oh ini yang namanya Mbak Amel.." ucap adiknya Wisnu sembari menjabat tanganku dan mengenalkan diri,"Mbak Amel bisa panggil namaku Lea" sambung adik Wisnu.
"Cewekmu manis juga Nak" bisik Ibu Wisnu kepada anak lelakinya.
Wisnu langsung salah tingkah, sementara Lea ikut meledek sang kakak.
"Sudah...sudah...kasian Mas mu itu kalo kamu ledekin terus" bela Bapak Wisnu walau memasang ekspresi geli,"yasudah Amel, mari duduk dulu" ucap Bapak Wisnu sembari menyilakanku duduk.
"Iya Pak, Bu, Dek...terima kasih sambutan hangatnya" balasku dengan senyuman, lalu segera duduk di sofa ruang tamu rumah Wisnu.
Lea terpingkal-pingkal melihat Wisnu salah tingkah.
"Leaa, kamu jangan begitu sama Mbak Amel. Dia malu tuh jadinya" tegur Ibu Wisnu pada adiknya.
"Tau tuh, bocil ikut-ikutan aja" sewot Wisnu.
Lea hanya meringis kearah Wisnu dan Ibunya.
"Maaf ya Mel, Lea memang iseng" ucap Ibu Wisnu merasa tidak enak hati.
"Nggak apa-apa Bu, santai saja" balasku dengan senyuman.
"Hmm, sepertinya Mbak Amel sabar banget orangnya Mas" ucap Lea lagi,"Mbak, suatu saat kalo kalian menikah yang banyak sabar sama Mas Wisnu ya" Lea berucap sembari tertawa kencang yang ternyata mendapatkan lemparan maut berupa bantal sofa.
Lea berlari sembari meledek menjulurkan lidah kearah kakaknya, Wisnu semakin kesal.
"Udah nggak apa-apa, namanya juga anak kecil" ucapku pada Wisnu dengan perasaan geli.
"Makasih ya udah mau mengerti" balas Wisnu dengan senyuman.
Aku mengangguk dan tersenyum kearah Wisnu. Lalu kedua orangtua Wisnu mulai menanyakan tentang keluargaku.
"Amel di rumah berapa bersaudara?" tanya Ibu Wisnu.
"Saya tiga bersaudara Bu, Saya anak pertama" jawabku dengan senyuman.
Ibu Wisnu langsung mengangguk mengerti,"Orangtua kerja dimana?" tanya Ibu Wisnu lagi.
"Ayah bekerja sebagai Dosen Bu, kalo Ibu di rumah" jawabku lagi dengan mencoba untuk santai, walau kenyataannya gugup.
Kedua orangtua Wisnu hanya mamggut-manggut.
Beberapa menit kemudian, kami saling hening. Aku semakin gugup berada di situasi seperti ini.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Situasi mencair saat Bapak Wisnu bertanya tentang hubungan kami.
"Kalian sudah berapa menjalin hubungan?" tanya Bapak Wisnu padaku
"Masih jalan 4 mau 5 bulan ini Pak" jawabku malu-malu.
Wisnu juga mengangguk tanda membenarkan ucapanku.
"Apa yang membuat kamu jatuh cinta pada anak kami bernama Wisnutama Febrianto?" tanya Ibu Wisnu padaku.
"Wisnu selama ini baik Bu, itu yang selama ini Saya nilai" jawabku sembari mengumpat salah tingkah.
"Yakin kamu menilaiku dari sisi itu saja?" sambung Wisnu sembari berbisik padaku.
Terlihat juga ekspresi Wisnu juga salah tingkah.
"Banyak hal, tapi yang tau dari hatiku" jawabku pada Wisnu.
"Bapak mengerti, ini soal perasaan kalian Nak. Tapi menurut kami sebagai orangtua Wisnu kalian masih terlalu dini untuk menjalin hubungan" ucap Bapak Wisnu,"tapi, masa depan kalian harus tetap jalan. Bapak sama Ibu menyupport hubungan kalian selama itu masih positif" Bapak Wisnu melanjutkan ucapannya.
"Semua keputusan ada pada kalian ya. Jangan kecewakan kami" sambung Ibu Wisnu memberi nasihat untuk kami berdua.
"Siap Ibu Negara..." Wisnu berkata sembari tangannya membentuk tanda hormat.
Aku dan kedua orangtua Wisnu langsung tertawa saat melihat ekspresi lucu dari Wisnu.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤