
Setelah acara pengumuman kelulusan dan perpisahan SMP, aku dan teman-teman fokus untuk mendaftar sekolah.
Saat mulai masuk Tahun Ajaran baru lagi di SMA, aku bertemu lagi dengan Fia dan Pandu.
Lalu kusapa mereka dengan melambaikan tangan ke mereka.
"Amel lagi...." dengus Fia sembari melirikku.
Aku tertawa,"Udahlah Fi, memang takdirnya kamu satu sekolah lagi sama aku" geliku merespon ucapan Fia.
Pandu langsung tertawa,"Kalian ini memang sepertinya diciptakan untuk di pertemukan lagi" balas Pandu yang masih tertawa.
"Tauk tuh Pan, nanti kalo nggak ketemu paling kangen dia" sambungku masih geli dengan ucapan Pandu.
Fia membalas dengan tertawa,"Iya iya Mel, aku juga seneng kalo disini ketemu kamu lagi."
Pandu hanya menggelengkan kepala sembari bergumam,"Dasar cewek-cewek."
"Coba tebak, kita bakal satu kelas lagi nggak yaa" ucapku pada mereka.
"Pengennya sekelas sama kamu deh Mel" cengir Fia yang ternyata membuat Pandu tertawa.
"Katanya bosen ketemu Amel" cibir Pandu yang masih tertawa.
Aku ikut tertawa saat Pandu mencibir ucapan Fia,"Gitu-gitu dia juga gengsi Pan..." balasku sembari menjulurkan lidah kearah Fia.
"Okee, aku kalah dari kalian" jawab Fia mengalah.
Aku dan Pandu menertawakan ucapan Fia. Setelah bertemu mereka, kami segera mencari nama di kelas yang sudah di sediakan.
Lagi-lagi aku, Fia dan Pandu satu kelas. Kami bersorak kegirangan.
"Benar kan, apa yang kubilang" ucapku pada mereka.
"Fix, 3 kali sekelas sama kalian ini" respon Pandu sembari jarinya membentuk W.
Aku dan Fia tertawa.
"Jangan bosen sama kita yaa" ucap Fia dengan kekehan yang membuatku ikut terkekeh juga.
"Ayo masuk, sepertinya temen-temen baru kita di kelas sudah menanti kami" ajakku pada mereka.
Kini giliran Fia dan Pandu tertawa sembari langkahnya mengikutiku masuk di kelas yang sama.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Sementara di tempat berbeda, Wisnu sedang asyik bergabung dengan teman-teman barunya. Walau sebenarnya dalam pikirannya sedang memikirkan seseorang.
"Begini rasanya kalo pisah sekolah sama pacar" gumam Wisnu pada diri sendiri dengan perasaan gusar.
Ternyata gumaman Wisnu terdengar oleh bangku sebelahnya.
"Bro, kamu kenapa? Kok keliatan nggak semangat pagi ini" tanya teman sebangku Wisnu.
Wisnu terkejut bersamaan dengan lamunan buyar,"Ah..eh..nggak apa kok?" jawab Wisnu dengan ekspresi gelagapan.
Teman sebangkunya langsung geli,"Yakin nggak apa-apa? Kok mukanya murung" tanyanya lagi.
Wisnu hanya membalas dengan senyuman kecut kearah teman sebangkunya,"Oh iya, namaku Wisnutama, kamu bisa manggil aku Wisnu" Wisnu mengalihkan topik dengan memperkenalkan diri.
Teman sebangku Wisnu tertawa,"Hy Wisnu, aku Riko" sambut Riko sembari menjabat tangan Wisnu,"mulai hari ini aku teman sebangkumu, jangan sungkan kalo ada yang ingin kamu ceritakan padaku" ucap Riko lagi pada Wisnu.
Senyuman Wisnu merekah,"Oke siap. Terima kasih ya sudah disambut hangat" balas Wisnu.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
"Gimana hari pertama sekolahmu?" tanya Wisnu dalam telepon.
Aku tertawa,"Ciee..baru sehari pisah sekolah udah kangen nih" jawabku sembari merasakan geli.
"Gimana nggak kangen, aku disana nggak ketemu temen-temen SMP tauk" dengus Wisnu.
Aku semakin tertawa,"Sabar ya Sayang, nanti kamu pasti bisa beradaptasi dengan mereka" aku meyakinkan Wisnu.
"Terima kasih Amelia Sayang, aku akan berusaha Yang..." ucap Wisnu terdengar optimis.
"Apapun itu, aku akan selalu support Sayang, tenang saja" ucapku lagi,"oh ya Yang, aku satu kelas lagi sama Fia dan Pandu" ceritaku pada Wisnu.
"Oh iya, seru banget dong..." respon Wisnu menanggapi ceritaku.
"Iya, mana tadi hari pertama kita sekelas tumben-tumbenan Pandu ikut aku sama Fia ke kantin. Terus kami bertiga jadi pusat perhatian pula" ceritaku lagi dengan ekspresi geli.
Terdengar Wisnu tertawa mendengarkan ceritaku,"Mungkin dia belum ada temennya, makanya begitu Sayang. Liat saja nanti sekitar sebulan lagi" ucap Wisnu.
Aku ikut tertawa,"Oh iya, gimana hari pertama di sekolah barumu Sayang?" tanyaku bergantian.
"Aku sudah dapet temen deket Sayang, dia sebangku ku namanya Riko. Di kelasku ternyata lebih banyak cowoknya, jadi tenang aja kamu nggak perlu cemburu-cemburu" cerita Wisnu sangat semangat.
Aku menertawakan cerita Wisnu,"Ihh, ya nggaklah. Aku sudah percaya sama kamu 100% lhoh" jawabku santai,"tapi betah kan?" tanyaku lagi.
Hati Wisnu langsung berdebar kencang, walau kenyataannya di awal memang merasa sangat kesepian. Tapi dia meyakini hati untuk berusaha baik-baik saja.
"Sayanggg" panggilku dalam telepon.
Suara Amel menyadarkan lamunan Wisnu.
"Eh..ah.. " respon Wisnu yang masih dalam keterkejutan,"maaf Sayang..." ucap Wisnu.
"Kamu ngalamun ya?" tanyaku pada Wisnu.
"Nggaklah, kok kamu bilang gitu.." tampik Wisnu dengan gelagapan,"malam minggu aku main ke rumah yaa" ucap Wisnu padaku.
"Asyikk, mau di apelin cowok ganteng" sorakku dalam telepon yang membuat Wisnu ikut tertawa.
"Bisa aja Amelia ini..." respon Wisnu dengan salah tingkah.
"Bisa dong, cewek siapa.." ucapku angkuh.
"Dihh sombongnya, coba kalo kamu ada di deketku udah ku cubit pipimu" cibir Wisnu.
Aku semakin tertawa, "Sini kalo berani cubit pipiku" jawabku menantang tapi dengan tertawa.
"Jangan deh, sepertinya minta di elus lalu di cium" goda Wisnu sembari tertawa penuh kemenangan.
"Wisnutamaaaa...." dengusku kesal tapi salah tingkah.
Terdengar Wisnu semakin tertawa terpingkal-pingkal, "Yasudah Yang, aku mau melanjutkan prepare untuk persiapan MOS dulu. Besok aku mau fotoin deh kalo udah jadi" pamit Wisnu yang mengakhiri teleponnya.
"Iya, aku tunggu fotonya ya" tawaku,"aku juga mau persiapan untuk MOS besok" ucapku lagi.
Kemudian telepon berakhir, aku melanjutkan prepare untuk persiapan MOS juga hari ini.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤