My Name Is Amel

My Name Is Amel
26



Aku sengaja melihat ponselku, tapi tidak ada notifikasi dari Wisnu. Dari semalam bahkan pesanku beberapa minggu yang lalu tidak di respon.


"Kenapa ya Wisnu sekarang cuek padaku?" gumamku yang masih gusar menunggu pesan dari Wisnu.


Menunggu sampai kapan pun juga pesanku juga nggak bakal di gubris olehnya. Aku masih tidak mengerti dengan sikapnya yang tiba-tiba mendiamkanku. Harusnya kalo aku ada salah ngomonglah atau sekedar mengoreksi dimana letak kesalahanku. Tapi ini membiarkan hubungan berjalan tanpa ada kejelasan.


Aku berharap hubunganku dengannya suatu saat nanti akan membaik.


Lalu kusibukkan dengan mengerjakan tugas sekolah lagi yang mulai berjibun, saking fokusnya sampai aku lupa bahwa Wisnu tidak membalas pesanku sedikitpun.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


"Ihh, apaan sih? Kok Amel ganggu banget?" dengus Wisnu sembari me reject panggilan dari ceweknya.


"Kenapa sih? Itu cewekmu yang nelpon lhoh, kok di cuekin" respon Lyra teman sekelas Wisnu saat ini.


"Entah, rasanya aku tidak ingin diganggu dengannya" jawab Wisnu yang semakin asyik sibuk dengan game di ponselnya.


Lyra tampak tersenyum licik mendengarkan Wisnu berkata demikian,'aku semakin ada peluang untuk dekat dengan Wisnu' batin Lyra bersorak gembira.


"Oh, yasudah. Kalo memang dia tidak menarik bagimu. Mari kita pacaran" goda Lyra sembari duduk dipangkuan Wisnu dan memainkan kerah seragamnya.


Rencana Lyra gagal lagi saat terdengar suara Riko berteriak memanggil Wisnu."Wisnuuuuu......"


'Sial!! Riko mengganggu acara berduaku dengan Wisnu saja' umpat Lyra dengan perasaan kesal.


"Ayoo temani aku ke kantin...." ucap Riko sembari menarik tangan Wisnu yang sedang asyik bermain game di ponselnya.


Game yang dimainkan Wisnu kalah,"Ah, kamu ganggu konsentrasiku saja" dengus Wisnu yang membuat Riko terpingkal-pingkal.


"Ck! Kamu sajalah sana ke kantin sendiri" tolak Wisnu.


Riko hanya menggelengkan kepala saja, kemudian tidak menyerah untuk mengajak Wisnu ke kantin.


"Okee, mari kita ke kantin" ucap Wisnu pasrah sembari berjalan di belakang Riko.


Riko tersenyum geli saat mendapati teman sabangkunya dulu yang masih mau berteman dengannya hingga saat ini.


Sesampainya di kantin. Riko dan Wisnu memesan nasi goreng plus es teh favorit mereka.


"Wisnu, aku sudah ingetin kamu berkali-kali. Jaga jarak sama Lyra. Karena dia cewek licik" bisik Riko mengingatkan Wisnu.


"Iya, iyaaa... kamu udah ingetin aku berkali-kali sampai mulut berbusa pun aku udah ngerti" protes Wisnu,"tapi dia baik sama aku" ucap Wisnu melanjutkan.


Riko langsung menepok jidatnya,"Ya dia begitu karena suka kamu" ucap Riko semakin kesal,"inget cewekmu lhoh. Mumpung dia masih mau kasih kabar sama kamu. Hargai perasaannya" nasihat Riko.


"Apaan sih, aku sama dia juga masih baik-baik saja" ucap Wisnu berdusta.


"Baik-baik saja gimana?" Riko memelototi Wisnu, "kamu sekarang lebih sering mengabaikan chat maupun panggilan teleponnya kan?" ucap Riko tepat sasaran.


Wisnu tak menjawab ucapan Riko, bahkan dirinya semakin asyik untuk menghabiskan nasi gorengnya.


"Gih sana kasih kabar ke dia. Ngilang dua bulan lhoh apa nggak merasa bersalah tuh" ucap Riko.


"Entahlah, rasanya sangat malas untuk berkomunikasi dengannya" jawab Wisnu.


"Aku sebagai teman dekat hanya mengingatkan, mungkin kamu sekarang bisa menggantung hubungannya. Tapi inget perjuanganmu dapetin hati dan restu orangtuanya" nasihat Riko,"sebelum nantinya kamu menyesal" nasihat Riko lagi pada Wisnu.


Tapi sepertinya nasihat dari Riko tidak di dengarkan oleh Wisnu.


"Okee, jika responmu begitu" ucap Riko,"nanti kalo suatu saat kamu menyesal jangan cari aku lagi untuk mendengarkan keluh kesahmu" Riko melanjutkan ucapannya dan terdengar tidak main-main.


"Ck, oke. Aku juga nggak akan mencari tau tentang nya lagi" jawab Wisnu.


Riko hanya menggelengkan kepala heran, rasanya ingin sekali menikung pacar sahabatnya itu.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


"Samperin aja kalo memang Wisnu nggak ada kabar" angguk Pandu setuju.


"Iya Mel, aku merasa kasian padamu. Kenapa hubungan kalian jadi seperti ini" angguk Fia merasa kesal juga.


"Oke, nanti sore aku ke rumahnya" tekadku.


"Semoga ada kejelasan dengan hubungan kalian Mel" support Fia.


Aku tersenyum kearah mereka yang ternyata aku merasakan airmata menetes begitu saja di pipi.


"Sabar ya Mel..." peluk Fia untukku.


Aku mengangguk singkat dengan ekspresi airmata masih menggenang di kedua kepolak mataku.


Tak lupa aku menceritakan masalahku juga pada Shella, dia tampak emosi saat hubunganku dan Wisnu menggantung tidak ada kejelasan.


"Aku akan menemanimu untuk ke rumah Wisnu" ucap Shella sembari memelukku,"tenang Mel, aku akan selalu ada di pihakmu" support Shella menguatkanku.


Sore harinya aku dan Shella sudah sampai di rumah Wisnu.


"Bapak...Ibu...." aku menyalami kedua orangtua Wisnu dengan hormat.


Shella melakukan hal yang sama.


Tak sungkan Ibu Wisnu memelukku dengan Sayang.


"Kenapa Amel sampai sini?" tanya Bapak Wisnu dengan keterkejutan.


"Wisnu ada di rumah Pak? Amel mau bicara dengannya" pintaku.


"Kalian ada masalah apa?" tanya Ibu Wisnu penasaran.


Sambil tertunduk, aku menjawab"Wisnu tidak ada kabar selama dua bulan ini, Bu.."


"Apaaaa????" kejut kedua orangtua Wisnu serentak.


"Biar Ibu panggilkan Wisnu di kamar" ucap Ibu Wisnu sembari beranjak dari kursi sofa dan menuju kamar Wisnu.


Sementara Bapak Wisnu menyuruhku dan Shella untuk duduk terlebih dahulu.


Lea terkejut saat aku ada di ruang tamu, lalu reflek memelukku."Mbak Ameell, Lea kangen tauk" ucap Lea memelukku dengan hangat,"ihh, kok baru ini main ke rumah" ucap Lea lagi yang tak kujawab.


"Maaf ya, Mbak Amel sibuk..." ucap Shella mewakiliku menjawab.


Terdengar suara dari ruang tamu, Wisnu menolak keluar kamarnya. Sang Ibu sudah membujuk berkali-kali tetapi tidak berhasil. Aku melihat Ibu Wisnu keluar dari kamar Wisnu sembari menggelengkan kepala.


Aku yang mendengar itu hanya bisa menahan tangisan, sementara Shella hanya bisa menguatkanku.


"Yasudah Pak, kalo Wisnu nggak mau ditemuin. Mungkin lagi nggak bisa di ganggu" ucapku sembari menahan tangis.


"Bapak, Ibu, Wisnu dan Lea sehat-sehat ya. Amel pamit pulang" pamitku sembari menyalami Bapak Wisnu dan Lea.


"Tetep sabar ngadepin Wisnu ya Amel, mungkin dia memang tidak mau di ganggu" ucap Ibu Wisnu sembari memelukku.


Aku mengangguk dan berusaha tersenyum di depan kedua orangtua dan adiknya Wisnu.


Setelah itu, aku dan Shella berpamitan pulang.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤