
Setelah selesai mencuci piring dan membereskan meja makan, aku segera menghampiri Ayah yang sedang menonton televisi dengan Ibu. Sementara Mia dan Ardi sudah masuk di kamar masing-masing.
"Kenapa Yah, tadi menyuruh Amel kesini?" tanyaku sembari duduk di antara Ayah dan Ibu.
"Mel...." panggil Ayahku,"Ayah tau kamu sebentar lagi kamu masuk SMA. Boleh dong suatu saat nanti kamu mengenalkan temanmu bernama Wisnu pada kami?" ucap Ayah yang langsung membuat salah tingkah.
"Yah, jangan bikin Amel semakin salah tingkah dong" protesku yang membuat Ayah dan Ibu tersenyum geli.
"Kan Ayah mau menyeleksi temenmu itu..." ucap Ayah lagi.
Wajahku rasanya memanas saat Ayah berkata demikian.
"Kalian sudah berpacaran berapa lama?" tanya Ibu padaku.
"Hmm... kalo sampe saat ini sudah mau jalan 5 bulan Bu" cengirku pada Ibu.
Ayah dan Ibu hanya manggut-manggut saja.
"Bagaimana menurutmu setelah mengenal dia sampai sejauh ini?" tanya Ayah.
Aku tersenyum, sekilas bayangan Wisnu melintas dibenakku. Lalu dengan ekspresi malu-malu aku menceritakan awal pertama kali bertemu dia sampai akhirnya memutuskan untuk jadian hingga saat ini.
"Jadi sekarang kamu yakin dengan hubungan kalian?" tanya Ayahku.
Aku mengangguk mantab,"Yakin Yah. Dia sangat baik dan tidak pernah macam-macam dengan Amel" ucapku meyakinkan kedua orangtuaku.
"Meeel..." panggil Ibu,"sebenarnya Ibu keberatan karena pacaran kalian masih terlalu dini. Tapi Ibu percaya kamu bisa jaga baik nama keluarga kita Nak" ucap Ibu menasihatiku.
"Boleh lah kapan-kapan ajak dia kesini, ada yang Ayah ingin bicarakan padanya" sambung Ayah penuh senyum.
"Ayah dan Ibu tidak marah kalo Amel udah berani pacaran?" tanyaku masih tidak percaya.
"Mana bisa marah sama anak sendiri sih.." ucap Ibu sembari memelukku dengan sayang,"perasaan juga nggak bisa dipaksakan kan Mel? Daripada backstreet malah semakin macam-macam" ucap Ibu lagi dengan senyuman.
"Yang penting dari semua itu, kamu sama dia harus sama-sama jaga diri. Dan ingat juga sebentar lagi kalian ujian kelulusan. Belajar yang rajin Nak" Ayah ikut menimpali.
"Terima kasih Ayah...Ibu... sudah kasih lampu hijau untuk hubungan kami" ucapku yang ternyata menitikkan airmata haru dan tidak lupa memberikan pelukan hangat untuk mereka.
"Mel..." panggil Ibu lagi.
"Ya Bu, ada apa?" sahutku.
"Besok siang ajak temen-temenmu kesini termasuk Wisnu juga untuk makan siang di sini" kata Ibu tiba-tiba.
Dahiku berkerut,"Dalam rangka apa, Bu?" tanyaku penasaran.
"Ya dalam rangka makan bersama saja" jawab Ibu terlihat santai.
Aku langsung mengangguk semangat dan tak lupa tersenyum,"Baik Bu, besok Amel bilang pada mereka" ucapku sembari beranjak dari sofa ruang keluarga,"Amel mau ke kamar dulu ya Yah..Bu.." pamitku pada mereka.
"Sana, belajar yang bener yaa calon gadis SMA" usir Ayah dengan ekspresi tertawa.
"Ibuuu...suaminya nakal" ledekku sembari berlari ke kamar.
Ibu dan Ayah langsung tertawa melihat tingkahku seperti anak kecil.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Jam pulang sekolah tiba, kami semua berhamburan keluar kelas. Aku mengatakan pada teman-teman dekat bahwa hari ini Ibuku memasakkan untuk mereka.
"Seriusan Mel, Ibumu bilang gitu ke kamu??" ucap Shella dengan ekspresi heboh.
"Dua rius Sheeel..." anggukku mantab.
"Asyikk, ke rumah Amel..." seru Irul dengan antusias.
Aku tertawa saat Irul sangat antusias ingin bermain ke rumahku.
"Mel, kita diajakin kan?" kata Eko sembari meringis kearahku.
"Kan tadi pagi Amel udah bilang, kamu nggak dengerin?" sewot Wisnu sembari mendengus kesal pada Eko.
Aku tertawa saat Wisnu memprotes Eko.
"Tauk tuh Mel, heran sama Eko. Padahal tadi kamu udah bilang kan?" sambung Pandu ikut mengompori.
Eko hanya membalas dengan tertawa tanpa dosa. Sementara aku, Wisnu dan Pandu hanya menggelengkan kepala saja.
"Ayoo Mel, buruan kita ke rumahmu" ucap Eko mulai tidak sabar.
"Sabar lah Ko, nanti juga kesana" balasku dengan tertawa.
"Liat tuh Yang, temenmu satu ini nggak sabaran" bisikku pada Wisnu yang mendapatkan ekspresi geli.
"Udah biarin aja dia" balas Wisnu dengan tertawa geli juga.
Sesampainya di rumah, ternyata sudah disambut oleh Ibu dan kedua adikku. Mia dan Ardi.
"Ciee, Mbak Amel ngajakin cowoknya kesini..." ledek Mia blak-blakkan sembari melirikku dan Wisnu.
Aku melirik tajam kearah Mia, sementara Wisnu hanya tersenyum malu-malu.
Ardi yang belum paham, langsung bertanya."Kan temen Mbak Amel yang ini cowok. Kan memang cowok Mbak, bukan cewek."
"Udah, kamu sana masuk ke dalam sama Ibu terus tidur siang" ucap Mia menegur Ardi.
Sontak kami tertawa saat Mia berkata begitu pada Ardi. Lalu Mia menyusul Ardi untuk masuk ke dalam.
"Kocak bener adik-adikmu Mel.." gelak Shella yang masih geli.
"Biasalah mereka kalo ada tamu siapa aja suka caper" ucapku ikutan geli,"yasudah, aku ke dalem dulu ya" pamitku pada mereka sembari masuk ke dalam kamar untuk ganti baju.
Setelah itu membantu Ibu dan Mia yang ada di dapur mempersiapkan makanan siang.
Beberapa menit kemudian, makanan tersaji lengkap.
Tampak Shella, Tami, Fia dan Irul membantu menaruh piring di meja ruang tamu. Setelah tersaji, kami segera makan bersama.
"Wahh, makasih ya Mel. Sering-sering deh kayak gini" ucap Eko sangat antusias melihat hidangan enak di depan mata.
"Kamu kira disini gratis" protes Wisnu,"habis ini totalan dong" Wisnu menggoda Eko yang mendapatkan lirikkan tajam kearah Wisnu.
Kami semua tertawa mendengar Wisnu dan Eko masih saja asyik saling meledek.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
"Wah, enak sekali Mel. Sampe kenyang parah rasanya" ucap Pandu sembari menepuk perutnya yang terlihat buncit.
Eko, Wisnu, dan Nugroho juga sama. Kekenyangan, karena porsi mereka sangat banyak.
Kami selesai makan bersama siang ini dilanjut saling cerita satu sama lain.
"Mel, selama pacaran sama Wisnu. Sudah berapa kali di apelin?" tanya Eko sembari melirik kearah Wisnu.
Belum sempat menjawab, Wisnu sudah melempar gulungan tisu mengenai Eko.
"Kepo amat" jawab Wisnu sembari tertawa.
Eko melirik kesal kearah Wisnu, malah yang dilirik membuat Wisnu tertawa terpingkal-pingkal.
"Kok kamu betah sih Mel pacaran sama Wisnu?" tanya Eko iseng.
Belum sempat menjawab lagi, Wisnu bergantian mengintrogasi Tami."Tami, kamu masih ada rasa nggak sama Eko? Dia sepertinya naksir balik kamu lhoh" gelak Wisnu sembari menjulurkan lidah kearah Eko.
"Iya tuh, kamu juga kalo suka cewek segera nembak dong Ko" timpal Pandu ikutan meledek Eko.
Kami semua menertawakan ledekkan Pandu untuk Eko, lagi-lagi Eko terlihat salah tingkah.
"Wisnuu berisik!!!" balas Tami, "Mel, cowokmu rese banget..." lapor Tami padaku.
Aku justru ikut tertawa saat Tami melapor kejahilan Wisnu.
"Kayak kamu baru kenal Wisnu aja sih Tam" balasku yang masih merasa geli.
"Kan emang Wisnu rese..." timpal Eko sembari melirik Wisnu.
"Cieee, Eko belain Tami. Awas jatuh cinta" ledek Fia ikut meledek Eko.
"Wahh Fia sekarang ikutan ngledek nih" dengus Eko kearah Fia.
"Karena Fia ikut mendukung Eko sama Tami" sambung Irul ikut tertawa.
Aku, Shella, Wisnu dan Nugroho ikut tertawa geli.
"Mel, sepertinya mereka akan mengikuti jejak kita" bisik Shella ikut geli mendengarkan Eko diledek teman-teman.
Aku refleks tertawa,"Iya, aku jamin mereka juga akan jadian" balasku ikut geli.
Makan siang ini sungguh meriah karena kedatangan mereka.
"Aku paling akan tertawa lebih keras kalo Eko sama Tami beneran jadian" ucap Wisnu sembari tergelak.
"Tapi aku lihat-lihat juga mereka cocok" sambung Nugroho.
"Udah jangan gitu, mereka temen kita tauk" ucapku masih geli.
Ternyata ucapanku membuat Shella, Nugroho dan Wisnu tertawa.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤