
Pagi ini liburan kenaikan kelas telah usai. Saatnya masuk kelas dengan menyandang kelas IX. Kelas tingkatan tertinggi di SMP.
Banyak teman-teman yang ku sapa, karena aku mengenali mereka. Maklum banyak kenalanku yang dari kelas VII sampai saat ini.
"Ameeeeeelllllll" teriak Shella saat melihatku sedang berkeliling mencari kelasku ada dimana.
Aku menoleh kearah Shella dengan senyuman,"Hy Shel..." balasku.
Tampak Shella mengikutiku dari sebelah, akhirnya kami berdua mencari kelas bersamaan.
"Mel, kira-kira kita sekelas lagi nggak ya" ucap Shella sembari mencari nama di kelas IX A yang belum menemukan namanya.
Langkahku berhenti di depan kelas IX B saat aku bergantian mencari namaku dan Shella tidak ada juga.
"Semoga kita sekelas lagi ya Shel.." ucapku penuh optimis.
"Semoga Mel..." angguk Shella dengan senyuman melebar.
Setelah berkeliling mencari kelas, akhirnya kami berdua bertemu lagi di kelas yang sama.
"Yeyyy, sekelas lagi..." sorak kami kompak saat mengetahui namaku dan Shella ada di kelas IX G.
Saat aku melihat daftar nama di IX G, ternyata sekelas lagi dengan Wisnu, Tami, Pandu, Eko, dan......"Viaannn" gumamku pelan dan pasti rasa malas itu ada.
"Kenapa Mel?" tanya Shella.
"Kita sekelas lagi sama Vian" bisikku pada Shella.
"Serius Mel?" respon Shella ikut terkejut.
Aku menunjukkan namanya di daftar kelas IX G sembari mengangguk lemas.
"Yasudah, kalo dia masih gangguin kamu cuekin saja Mel" ucap Shella yang masih berbisik.
"Iya Shel.." anggukku lagi, "ayo masuk ke kelas. Kita sebangku lagi ya" ajakku pada Shella.
Shella langsung mengangguk lalu berjalan untuk masuk kelas terlebih dahulu. Aku menyusul berjalan dibelakangnya.
"Duduk di depan nomer 2 yuk Mel.." pinta Shella sembari menunjuk ke arah bangku ketiga dekat pintu kelas.
"Oke Shella.." anggukku dengan semangat pagi ini.
Saat memilih bangku ketiga, ternyata ada yang menyapa kami tepat dibangku ketiga deretan kami.
"Mel...Shell...." panggil seseorang tersebut yang ternyata...
"Tamiiiiiii........" sahutku dan Shella serentak.
Kemudian kami bertiga tertawa lalu tos.
"Yeyy, sekelas sama Amel dan Shella lagi..." heboh Tami sembari memeluk kami.
"Asyikkk..." seruku juga.
"Kira-kira sekelas sama siapa lagi ya?" sambung Shella.
Saat Shella mengatakan hal tersebut, datanglah Wisnu, Eko, dan Pandu memasuki kelas yang sama dengan kami.
"Pagi Shella dan Tami" sapa Wisnu dengan senyuman,"hallo Sayangku, selamat pagi" lanjut Wisnu menyapaku.
Tami bengong, lalu menghampiri Wisnu sembari memegang jidatnya."Wisnu, kamu sehat kan?" ucap Tami penuh selidik.
"Apaan sih? Ya aku sehatlah, buktinya udah sampai sekolah dengan selamat" dengus Wisnu merasa terganggu karena Tami memegangi jidatnya.
Tami terpingkal-pingkal,"Oh syukur kalo sehat. Kok tumben kamu selama kita satu kelas selama 3 tahun kamu nyapa dan pake senyum" ucap Tami yang membuatku dan Shella ikut tertawa juga.
"Wait??" sambung Shella memotong ucapan Tami,"Wisnu manggil Amel dengan sebutan Sayangku??" selidik Shella sembari melirikku dan Wisnu dengan tajam.
"Hayoloh Amel sama Wisnu..." goda Eko juga sembari melirikku dan Wisnu.
Aku dan Wisnu saling melirik satu sama lain.
"Kami sudah pacaran" akui Wisnu sembari menghampiriku dibangku lalu tak sungkan menggenggam tanganku.
Mendapati itu, mereka langsung menyoraki kami berdua.
"Pantesan ya, ada yang lain dari kalian berdua tadi" ucap Shella dengan ekspresi geli dan tak henti-hentinya menggodaku dan Wisnu.
"Ciee, pantesan Wisnu tadi ngucapin 'Pagi Sayangku' ke Amel wajahnya langsung memerah" ledek Tami.
"Asyikk, cuit..cuit... akhirnya jadian juga" sambung Eko meledekku dan Wisnu dengan bersiul.
"Kenapa Ko? Sepertinya kamu ingin sekali pacaran juga sama Tami" Wisnu membalas ledekkan Eko.
"Ngggaaaaaakkkkkk!!!!!!" jawab Eko dan Tami serentak.
"Cieee, jawabnya kompakan lhoh. Awas nanti jadian" sambungku sembari tertawa.
Semua ikut tertawa mendengar ledekanku untuk Eko dan Tami.
"Amel sialan..." dengus Eko kesal.
Aku semakin tertawa melihat Eko salah tingkah.
"Lain di mulut, lain di hati lhoh" ucap Pandu ikut meledek.
Kami semakin tertawa mendengar ucapan dari Pandu.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Beberapa minggu saat teman-teman mengetahuiku dan Wisnu berpacaran. Banyak yang menyupport dan ada juga yang menggunjing karena aku merasa tidak pantas berpacaran dengan Wisnutama yang notabennya PRIMADONA SEKOLAH.
Aku tau, Wisnu memang cukup populer diangkatan kami. Banyak yang mengidolakan dan berandai-andai menjadi pasangannya.
"Nggak usah dengerin mereka ya Mel. Kan yang punya hubungan kita, bukan mereka."
Hanya itu kalimat yang Wisnu utarakan saat aku sudah merasa jengah mendengar komentar miring di sekolah.
"Iyaa, aku berusaha untuk tidak mendengarkan gunjingan mereka" anggukku dengan senyuman yang ternyata Wisnu juga tersenyum.
Wisnu hanya melemparkan tanda jempol kearahku,"Aku yakin, kita bisa melewati ini semua" hibur Wisnu.
"Iya Sayang, terima kasih untuk support nya" jawabku dengan senyuman lagi.
Lain halnya dengan para sahabat-sahabat kami yang selalu menyupport hubunganku dan Wisnu.
"Udahlah Mel, sama Wisnu aja. Kalian itu cocok tauk" ucap Shella yang sengaja mengeraskan volume suaranya supaya terdengar oleh Vian.
"Cieee, best couple kita nih" sorak Tami juga.
"Kalian ini selalu bikin iri kita-kita lhoh" Fia ikut menimpali.
"Iri...bilang bosss" sambung Irul yang ternyata membuat kami tertawa.
Mendengar hal tersebut, Vian langsung mendengus kesal dan buang muka ke sembarang arah.
"Ada yang kebakaran jenggot tuh Mel, tiap hari liat kalian mesra" gelak Eko ikut melirik langkah Vian keluar kelas.
"Hatinya ikutan panas, liat yang panas-panas di kelas" sambung Pandu ikutan berkomentar, "Mel, sepertinya Vian butuh es batu deh" Pandu berkomentar lagi.
Aku dan semuanya ikut tertawa saat Pandu berkomentar.
"Udah ah, jangan gitu. Nanti FANS ku tambah banyak lhoh" ucapku yang masih merasa geli melihat Vian langsung keluar kelas.
Wisnu hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum geli juga.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤