
Aku memikirkan letak kesalahanku pada Wisnu, tetap saja tidak menemukannya. Kenapa dia bisa berubah drastis begitu, padahal sebelum kejadian ini, hubungan kami sangat baik.
Hampir setahun ini hubunganku menggantung, sama sekali tidak ada kejelasan.
"Aku kangen...." ucapku yang tanpa sadar menumpahkan semua airmata yang kutahan selama ini.
"Apa aku coba ke rumahnya lagi kali ya" gumamku sembari mondar-mandir di kamar,"oke deh. Aku coba besok pulang sekolah" tekadku.
Aku tak peduli jika pada akhirnya harus tertolak lagi, aku akan memperjuangkan hubungan ini.
Pagi harinya di kelas, aku menceritakan rencana ini pada Fia dan Pandu.
"Udahlah Mel, kamu itu nggak udah ngarepin cowok yang tidak jelas keberadaannya" marah Fia padaku,"jelas-jelas hampir setahun ini kamu di gantungin" Fia melanjutkan omelannya.
"Iya Mel, kamu mau sampe kapan menyakiti diri sendiri terus" ucap Pandu juga,"aku juga nggak pernah balas pesannya lagi, setelah mengetahui hubungan kalian nggak ada kejelasan" cerita Pandu.
"Iya Mel, ngapain kasih kesempatan Wisnu yang nggak jelas gitu" cibir Fia.
Aku tersenyum kecut kearah mereka,"Aku hanya ingin kejelasan saja Fi..Pan..." jawabku pelan yang ternyata terdengar oleh mereka,"kalo memang dia tidak ada kejelasan ya aku minta putus aja" ucapku.
"Setuju Mel, putusin aja dia. Biar nyesel nantinya" dukung Fia.
"Mel, aku sama Fia hanya bisa support kamu demi yang terbaik" dukung Pandu juga.
"Makasih ya kalian.." ucapku dengan senyuman.
"Nanti pulang sekolah kita ke persewaan komik yuk" ajak Fia padaku dan Pandu.
Aku dan Pandu mengangguk serentak.
"Wah iya, sudah lama nggak kesana" ucapku antusias.
Pandu tertawa,"Amel semangat karena mungkin inceran novelnya sudah terbit Fi" ledek Pandu sembari menjulurkan lidah kearahku.
"Panduuuu....." dengusku kesal tapi ikut tertawa.
Aku sejenak melupakan hubungan tidak jelasku dengan Wisnu.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Sesampainya disana, aku melihat Wisnu sedang di luar rumah yang baru saja pulang sekolah juga.
"Mau sampai kapan kamu menggantung hubungan kita?" tanyaku langsung yang membuat Wisnu menoleh kearahku.
"Kamu ngapain sih kesini!!" respon Wisnu dengan nada ketus.
Aku terkejut saat Wisnu berkata ketus padaku, aku menahan rasa sakit hatiku"Aku ingin menanyakan status hubungan kita. Apa masih lanjut atau bubar saja?" tanyaku lagi.
"Sudahlah, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi Amel" ucap Wisnu dengan tatapan dingin.
Aku menahan airmataku,"Tolong jelaskan letak kesalahanku ada dimana? Aku akan perbaiki" pintaku.
Wisnu langsung memutar bola mata malas,"Apalagi sih? Aku sibuk Mel!! Jangan ganggu aku" marah Wisnu sembari membanting pintu rumahnya dengan kencang.
Aku sangat terkejut melihat perubahan Wisnu kali ini, seperti aku melihat orang asing. Tangisanku tumpah dan aku merasakan sesak di dada.
"Oke Wisnu, kalo mau kamu begitu. Aku akan move on dari kamu!!!!" tekadku sembari meninggalkan rumah Wisnu.
Beruntungnya jarak rumah kami tidak terlalu jauh, aku memutuskan untuk berjalan kaki hingga sampai rumah.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Kata-kata Wisnu beberapa minggu yang lalu saat aku berkunjung ke rumahnya untuk yang terakhir kali selalu terngiang-ngiang dipikiranku.
"Sudahlah, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi Amel!!!"
Baik, jika itu maumu Wisnu. Segera aku mengetik pesan untuk dikirim padanya. Terakhir kali.
'Terima kasih, kamu sudah mewarnai hari-hariku selama ini. Maaf jika aku pernah menyakiti hatimu. Maaf juga jika aku harus mengakhiri hubungan kita. Semoga kamu lebih bahagia setelah ini. Ttd Amelia 🙂❤️🩹'
Aku mengetik pesan untuk Wisnu dengan menangis, bahkan keyboard ponselku sudah basah dengan airmata. "Aku harus merelakanmu Wisnutama..." gumamku yang masih saja merasakan airmataku tumpah dipipi.
Segera semua pesan dari Wisnu aku hapus sekaligus contact nya.
Perasaanku jauh lebih lega,"Aku harus bahagia..." ucapku yang mencoba untuk tersenyum walau tumpahan airmata masih mengalir dipipi.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤