My Name Is Amel

My Name Is Amel
14



"Meeeellll...." teriak Fia sembari berlari menghampiriku yang keluar dari kelas IX F.


Tampak dibelakang Fia ada Irul juga menghampiriku yang sedang duduk di buk depan kelas bersama Tami dan Shella.


"Hallo Fia....Irul..." balasku juga heboh sembari menyambutnya dengan Irul.


"Udah berapa abad kita nggak kumpul gini" ucap Irul sambil terkekeh.


Aku, Shella, Tami dan Fia mengangguk kompak.


"Iya nih, mereka sibuk sama pasangan masing-masing. Aku sering ditinggal" cerita Tami sembari melirikku dan Shella.


Aku dan Shella membalas dengan cengiran tanpa dosa kearah Tami.


"Yaudah kalo kamu iri pada kami, kan ada Eko tuh" ledekku pada Tami.


"Nggak mauuuuuu" ucap Tami sembari membuang muka.


Tampak Shella, Irul dan Fia langsung tertawa.


"Sabar ya Tam" ucap Irul menghibur Tami.


"Iya, mereka lagi berkembang-kembang hatinya karena sudah dapat kepastian dari masing-masing pasangan" sambung Fia yang membuatku dan Shella langsung tertawa.


"Entahlah, harus kita yang berinisiatif menanyakan hubungan dulu terus di diemin baru deh nyari-nyari" protesku.


"Sama Mel, pastinya kita diemin mereka ada sebabnya" angguk Shella sembari memasang ekspresi geli.


Tami, Fia dan Irul langsung tertawa.


"Iyalah, kita ini cewek. Pasti butuh kepastian. Kalo nggak dikasih kepastian juga dia bakal ninggalin itu cowok" ucapku yang mendapatkan anggukan setuju juga mereka semua.


"Bener Mel, kita juga harus punya pendirian dong" kata Tami.


"Tapi aku bisa membayangkan kedua cowok itu sewaktu menyatakan perasaan kalian, Guys " respon Fia dengan ekspresi geli.


"Sudah jelas, semakin gugup dan panas dingin" angguk Shella dengan ekspresi tertawa.


"Aku yakin mereka sebelum nembak kalian pasti semalaman nggak tidur" respon Irul ikut tertawa.


"Sudah jelas, karena sewaktu Wisnu nembak aku mukanya keliatan kucel" tawaku geli sembari mengingat Wisnu saat menyatakan perasaannya padaku.


Ucapanku semakin membuat mereka tertawa.


Sementara di dalam kelas IX G....


"Aku kemarin habis nyewa kaset video game lhoh, main bareng yuk..." ajak Pandu pada Eko dan Wisnu.


"Wahh, asyik nih. Boleh join dong" sahut Wisnu dengan antusias.


"Pulang sekolah nanti bisa nih" ucap Eko juga.


"Boleehhh...." angguk Pandu setuju.


"Yeyyy..." sorak Wisnu dan Eko serentak.


Saat pulang sekolah, tiba-tiba Wisnu menghampiri bangkuku.


"Sayang, kamu pulang sendiri ya. Aku mau main sama Pandu dan Eko" ucap Wisnu meminta izin padaku.


Aku yang sedang sibuk memasukkan buku pelajaran pada jam terakhir, langsung terhenti.


"Apa???" sahutku,"videogame lagi?" tebakku yang ternyata mendapatkan anggukkan dari Wisnu.


Wisnu langsung meringis kearahku,"Iyaa..." jawabnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Aku tersenyum geli melihat ekspresi cowokku lucu saat meminta izin padaku untuk bermain pada Eko dan Pandu.


"Yasudahh..." jawabku singkat yang masih merapikan buku dan alat tulis di dalam tas ranselku.


Kening Wisnu langsung berkerut,"Yasudah apa dulu ini??" tanya Wisnu penasaran.


"Tadi izinnya gimana Sayangkuuu...." responku semakin gemas melihat ekspresinya yang semakin tampan.


"Serius diizinin nih??" tanya Wisnu lagi dengan ekspresi senang.


Aku mengangguk dan tersenyum kearahnya,"Sana gih main. Tuh udah ditungguin mereka" jawabku dengan ekspresi geli.


"Thanks ya Yaaanggg" heboh Wisnu yang tanpa sadar mengecup pipiku.


"Wisnutamaaaaa....." teriakku sembari mengumpat rasa salah tingkahku.


Langsung Wisnu tertawa penuh kemenangan lalu berlari keluar kelas yang sudah ditunggu Eko dan Pandu.


Sontak teman-teman yang masih di kelas langsung bersorak meledek, kecuali Vian.


Sementara Shella dan Tami masih saja menertawakanku.


"Baru ini liat ekspresi Wisnu segitu bahagianya, Mel" ucap Tami yang masih tertawa.


"Iseng bener dia" sambung Shella dengan ekspresi geli.


Sementara ekspresiku memang tidak bisa disembunyikan dari mereka.


"Haduhhh, tiap hari kalo gini terus aku bisa jantungan" responku sembari mengatur detak jantung yang semakin berdebar.


"Mel, wajahmu udah kayak tomat tauk" geli Shella.


"Udah...udah... ayo pulang" ajakku sembari mengalihkan perhatian dan menyembunyikan salah tingkah.


Shella dan Tami masih saja menertawakanku.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


"Mel, apa susahnya sih nerima perasaanku?" ucap Vian yang tiba-tiba menghampiri bangkuku.


Aku terkejut saat Vian yang dengan tiba-tiba mengatakan hal tersebut padaku.


"Kenapa masih saja memaksa perasaanmu yang ternyata sudah milik orang lain" jawabku telak,"tapi aku tidak bisa menerimamu. Aku lebih memilih menjaga hati untuk seseorang itu" aku melanjutkan ucapanku dengan perasaan emosi.


Vian mendengus kesal, bahkan dirinya masih belum terima atas keputusanku 2 tahun lalu saat aku menolaknya.


"Aku akan menghancurkan hubunganmu dengan Wisnu" ancam Vian sembari meninggalkanku dibangku.


Beberapa menit setelah Vian meninggalkan bangkuku, Wisnu datang menghampiriku.


"Hey, disamperin kok mukanya asem gitu" ucap Wisnu saat menghampiriku di bangku dengan senyuman manisnya.


Sadar bahwa ada suara Wisnu, aku mendongak dengan wajah yang masih cemberut.


"Nggak tau ah, aku bete..." ucapku sekenanya.


"Kenapa sih Amelia? Bete kenapa? Sini cerita sama aku" balas Wisnu sembari mencubit pipiku.


"Bete sama Vian yang masih memaksaku untuk menerima perasaannya" ceritaku langsung.


Ada rasa cemburu di dada Wisnu saat kekasihnya bercerita seperti itu.


"Masih belum kapok dia??" ucap Wisnu sembari melirik tajam kearah Vian.


Aku langsung terkejut saat Wisnu melirik tajam kearah Vian.


"Sayang, pliss. Jangan berantem di kelas" bisikku pada Wisnu.


"Dia keterlaluan Mel..." balas Wisnu.


"Biarin aja, aku memang tidak menggubris perasaannya. Aku lebih memilih untuk menjaga hati orang yang ada di depanku ini" ucapku yang membuat Wisnu langsung tersenyum.


"Terima kasih Sayang..." balas Wisnu yang terlihat salah tingkah.


"Sama-sama" cengirku sembari mengatur detak jantung.


Lalu istirahat ini aku dan Wisnu seperti biasa saling bertukar cerita yang pada akhirnya membuatku tertawa karena ceritanya.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Hari Sabtu pagi aku sengaja bangun lebih pagi dari biasanya supaya bisa tepat waktu dengan bus yang datang pukul 06.00 pagi.


Setelah bangun aku mempersiapkan segalanya mulai dari mandi, solat shubuh, ber make up tipis, sarapan pagi, dan kemudian berangkat ke sekolah.


10 menit berlalu aku menanti bus, tapi tak kunjung datang.


Rasa BT pun mulai menghinggapiku, kulihat jam yang melekat ditanganku menunjukkan jam 06.05


Aku khawatir sekali jika bus tersebut tak kunjung datang, untung saja ada Nana yang mau aku ajak  ngobrol disana. Jadi rasa BT ku hilang seketika.


Beberapa kemudian bus itu datang, kemudian aku dan Nana segera menaiki bus tersebut karena takut terlambat.


Saat aku dan Nana mengambil uang untuk membayar ongkos bus, kemudian ada seseorang yang memanggilku tak lain adalah Wisnu. Aku merasa senang akhirnya bisa ketemu tepat waktu dengan Wisnu di dalam bus. Akhirnya kami bertiga saling bertukar cerita hingga pada akhirnya sampai juga di sekolah.


“Ayo Mel kita masuk keburu nggak dapat kelas lagi” ajak Nana buru-buru.


“Iya Na, ayo…..” balasku sembari berlari juga.


Wisnu berjalan dibelakangku.


“Akhirnya kita satu bus lagi ya” sambung Wisnu yang berjalan disampingku dengan menggandeng tanganku.


Aku tertawa,“Makanya jangan tidur lagi habis subuhan. Jadi sering telat kan? ” balasku dengan ekspresi geli sambil membalas memegang tangannya.


Wisnu hanya meringis saja kearahku.


Melihat Wisnu memegang tanganku, Nana berseru “Eh, beneran kata temen-temen ya kalo kalian ini pacaran??”


“Hehehe… iya Na, kita pacaran” terangku malu-malu.


“Wahh, selamat ya Amel dan Wisnu” ucap Nana antusias.


"Makasih Nana...." balasku dengan senyuman merekah.


“Barusan aja kok Na, sejak liburan kemaren itu” tambah Wisnu menyambung ceritaku.


“Hmm, pantes aja dari dulu kalian tuh deket banget, eh malah sekarang nggak taunya udah jadian” balas Nana dengan ekspresi geli sembari mengangguk.


“Hehe… iya Na, emang dari dulu kita udah deket kok. Tapi nggak tau kenapa waktu liburan kemaren Wisnu nembak aku, ya aku terima aja” ceritaku malu-malu.


"Cieee Ameeelll" ledek Nana iseng menggodaku.


Tampak aku dan Wisnu langsung salah tingkah, lalu Wisnu tiba-tiba menyenggol lenganku, memberi isyarat padaku untuk diam karena dia malu. Aku kemudian membalas dengan nyengir kearahnya.


“Eh Mel! Wisnu! Aku duluan ya karena udah ditunggu sama Tiwi” pamit Nana.


“Iya Na, lagian kita juga mau masuk kelas kok” balasku.


Wisnu hanya membalas dengan senyuman dan anggukkan kearah Nana.


“Oke deh, nanti kalo bisa pulang bareng ” pesan Nana lagi.


Aku mengangguk mantab kearah Nana, “Iya Na, sekalian sama Shella nanti pulangnya” sambungku lagi.


Nana mengangguk setuju,“Bye Amel ” balas Nana sambil melambaikan tangan.


“Bye juga Nana” jawabku membalas lambaian tangan Nana.


Setelah itu aku dan Wisnu segera masuk kelas. Lagi-lagi terdengar sorakan iseng dari teman sekelas saat aku dan Wisnu baru saja sampai kelas.


"Ciee, tumben amat kalian berangkatnya barengan nih" ledek Eko pada kami.


"Tanya tuh temenmu..." balasku sembari melirik Wisnu yang ternyata dibalas dengan cengiran saja.


"Bukannya kalian tetanggaan ya?" tebak Pandu.


Aku dan Wisnu kompak menggeleng.


"Beda tempat tinggal" Wisnu menjawab.


Pandu langsung manggut-manggut.


"Eko tuh yang tetanggaan sama Amel" ucap Wisnu lagi.


"Tetangga jauh sekali ya Mel" respon Eko.


Aku mengangguk,"Iya bener, ketemu Eko aja nggak pernah malah" jawabku sembari tertawa yang ternyata mereka ikut tertawa juga.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤