
“Amel! Wisnu!” panggil kami berdua serentak.
Sadar kami saling memanggil nama satu sama lain, aku dan Wisnu tertawa.
"Ihh, kamu tuh ya Yang, kebiasaan" balasku merasa geli.
"Ya gimana dong, kamu manggil aku juga nggak bilang-bilang" jawab Wisnu sembari menjulurkan lidah kearahku.
"Yee, gimana sih. Masa manggil kompakan gini direncanakan" balasku yang masih merasa geli, "yasudah, kamu dulu deh mau ngomong apa" aku melanjutkan ucapanku.
Tiba-tiba Wisnu mengambil tanganku kemudian digenggam.
"Ehhh..." kejutku saat mendapati Wisnu memegangi tanganku,"kenapa Sayang?" tanyaku padanya.
"Aku cuman mau bilang terima kasih saja untuk hubungan ini" ucap Wisnu dengan senyuman.
"Aku beruntung lhoh jadi pacar idola satu sekolah" jawabku sembari tertawa salah tingkah,"kamu nggak sadar apa, selama ini kita jadi pusat perhatian Wisnu" aku melanjutkan ucapanku yang ternyata mendapatkan balasan anggukkan juga dari Wisnu.
"Aku juga sadar kok..." jawab Wisnu santai,"justru dengan ini aku akan buktikan bahwa hubungan ini tidak pernah main-main" ucap Wisnu sembari menatapku tajam.
Aku semakin salah tingkah dibuatnya,"Ingat yaa, perjalanan kita masih sangat panjang Wisnu. Harus SMA, kuliah, dan kerja dulu. Coba hitung butuh berapa tahun sampe ke tahap serius" cerocosku yang membuat Wisnu tersenyum.
"Kalo berharap berjodoh sama kamu gimana?" tanya Wisnu.
"Aamiin...." aku mengaminkan doa Wisnu,"semoga kita kelak berjodoh" doaku penuh harap juga.
"Oh iya, kamu besok mau SMA mana Sayang?" tanyaku lagi sembari mengalihkan topik.
"Ingin lanjut SMK biar cepet kerja terus cepet-cepet lamar kamu" ucap Wisnu dengan ekspresi bercanda.
"Ihhh Wisnuuu...." responku terselip salah tingkah,"aku serius lho tanyanya" aku melanjutkan ucapanku.
Wisnu tertawa,"Aku juga serius kalo jawabnya" jawabnya dengan ekspresi santai.
"Udah, jangan dilanjutkan gombalanmu. Jantungan lama-lama..." dengusku sembari mengumpat rasa salah tingkah.
Wisnu semakin tertawa saat melihat wajahku sudah merona. Lalu Wisnu bercerita tentang masa depannya denganku.
"Semoga semesta selalu mendukung perjalanan kisah kita yaaa" doaku penuh harap.
"Aamiin...." ucap Wisnu mengaminkan doaku.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Semakin hubunganku dan Wisnu baik-baik saja, semakin sering pula Vian menggangguku.
Seperti saat istirahat kedua ini, Vian yang melewati bangkuku tiba-tiba menyolek pipiku.
"Maumu apa??" responku ketus saat Vian berani menyolek pipiku.
"Aku mau kamu jadi pacarku" ucap Vian dengan santai.
"Tapi aku sudah punya seseorang yang aku jaga hatinya" tolakku.
"Masih pacaran aja bangga, paling bentar lagi kalian putus" cibir Vian meremahkan hubunganku dan Wisnu.
Vian membalas mendorong pundak Wisnu dan hampir terjatuh. Dengan sigap, Wisnu menahan tumpuan kakinya.
"Aku nggak mau mengotori tanganku untuk membalasmu Vian!!!" balas Wisnu sangat emosi sembari mencengkeram kerah seragam Vian.
Terlihat Vian sangat ketakutan melihat tatapan tajam Wisnu yang menusuk matanya.
"Aku masih bersabar untuk kesekian kalinya ini" ucap Wisnu lagi,"tapi kalo aku liat kamu mulai mengganggu Amel lagi, bisa berhadapan denganku langsung" ancam Wisnu terdengar tidak main-main.
Tangan Vian langsung menepis cengkeraman Wisnu dengan perasaan gusar. Lalu Vian mengacungkan telunjuk tengah kearah Wisnu.
Wisnu tidak menggubris, lalu dia mengeluarkan buku untuk jam selanjutnya setelah jam istirahat.
Tepat guru pengampu kami masuk kelas, segera memulai mata pelajaran yang membosankan ini.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Saat jam istirahat tiba. Aku berkumpul dengan Shella, Tami, Irul dan Fia di depan kelas IX F.
"Mel, aku lihat beberapa hari yang lalu kenapa Wisnu keliatan emosi gitu sama Vian?" tanya Shella membuka pembicaraan kami.
"Hahh?? Wisnu berantem Mel??" cecar Fia padaku juga.
Sebelum aku menjawab pertanyaan mereka, aku tampak menghembuskan nafas panjang dulu." Ya.." anggukku mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya,"Vian yang mulai dulu nyolek pipiku. Lalu aku tegur eh malah ngeledek aku, terus di tegur Wisnu malah ngeremehin. Otomatis Wisnu emosi lah, siapa sih yang nggak emosi kalo di kasih tau malah ngeremehin" ceritaku panjang lebar.
"Kok Vian berani sekali sih Mel?" tanya Shella mulai ikut emosi saat mendengar ceritaku.
Aku hanya mengendikkan bahu saja,"Entah Shel, aku juga nggak tau. Katanya dia masih ada rasa sama kamu. Mana pake nyumpahin lagi kalo hubunganku sama Wisnu bakal kandas" ceritaku dengan perasaan emosi.
"Keterlaluan banget sih Vian...." gerutu Tami ikut menimpali ceritaku.
"Tapi Wisnu sama Vian nggak sampe adu jotos kan Mel?" tanya Irul terlihat kepo.
Aku menggeleng,"Nggak kok. Tapi rasanya kesel aja, lagian aku dan Wisnu juga nggak pernah gangguin dia" jawabku dengan ekspresi lesu.
"Kenapa nggak dilaporin aja Mel, kan itu bikin ulah. Bisa merusak hubungan juga" ucap Fia.
"Iya Mel, dia sampe berani colek-colek pipi terus maksa kamu buat nerima perasaannya" sambung Shella lagi.
"Kata Wisnu jangan dulu, tapi aku liat juga dia udah sangat emosi ngadepin Vian" kataku lagi.
"Tapi Vian sudah keterlaluan Mel, melecehkan kamu" ucap Shella merasa geram,"kalo kamu sama Wisnu nggak lapor BK, biar kita atau dengan Nugroho yang laporin!!" ucap Shella yang tak bisa kubantah.
"Setuju Shel..." angguk Fia menyetujui ucapan Shella.
Tampak Tami dan Irul juga mengangguk setuju juga.
"Oke, silakan kamu laporkan saja Vian kalo masih menggangguku Shel" anggukku akhirnya.
"Baiklah Mel, aku juga liat dulu sebelum melaporkan ke BK sembari aku rekam memakai hp" ucap Shella lagi.
Tanpa sadar, airmataku tumpah dipipi. Aku menangis terharu karena keempat sahabatku menyupport-ku,"Makasih ya Gaes..." ucapku dengan perasaan haru
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤