
Tak terasa sudah menginjak semester 2 dikelas VIII ini, dan saat itu pula detik-detik study tour ke Jakarata, Bandung, dan Bogor. Tepat di bulan Februari, entah kenapa aku punya kepikiran untuk memberi kado plus coklat untuk Wisnu saat aku diajak jalan-jalan oleh sahabat-sahabatku di mall terdekat.
“Lagi apa sih Mel, kok kayaknya kamu akan berburu sesuatu?” tanya Irul saat melihatku melihat-lihat harga coklat di rak minimarket.
“Nggak tau Rul, aku juga lagi bingung mau beli apaan” jawabku sembari menggelengkan kepala.
“Eh Mel, kata kamu seminggu lagi Wisnu ulang tahun ya? Kamu mau ngado apaan buat dia nanti” tanya Shella tiba-tiba.
“Nggak tau Shel, aku sendiri juga bingung mau ngado apaan buat Wisnu nantinya” balasku sembari mengendikkan bahu.
“Oalah… ternyata kamu ikutan jalan-jalan kita mau nyari kado buat Wisnu. Cie… cie…” goda Irul.
Aku hanya membalas dengan nyengir kearah Irul.
“Hayo ngaku aja deh Mel, kalo kamu suka sama Wisnu” tanya Irul dengan nada menginvestigasiku.
“Iya aku suka sama dia” jawabku malu-malu.
“Sepertinya cowok yang kamu taksir juga suka kok Mel sama kamu” kata Fia tiba-tiba.
“Iya Mel, dari tingkahnya aja udah kelihatan kok” angguk Tami.
“Wah bentar lagi kamu nyusul Shella dong yang udah pacaran sama Nugroho duluan” kata Irul lagi.
"Aku sama Nugroho belum pacaran tauk" jawab Shella cepat-cepat.
"Lhoh, bukannya kalian sering jalan bareng ya?" tanya Irul pada Shella.
"Iya, masih masa PDKT. Nggak tau deh kapan dia nembak aku" ucap Shella terdengar pilu.
"Sabar Shel, mungkin sebentar lagi kali" hiburku untuk Shella.
Shella hanya membalas dengan tersenyum kecut kearahku,"Udah nggak apa-apa, semoga ada kepastian" bisikku lagi.
Shella mengangguk, lalu mengikutiku untuk memilah-milah barang yang akan dia beli.
Beberapa hari kemudian, aku memberikan kejutan kecil untuk ulangtahun Wisnu.
"Makasih ya Mel..." ucap Wisnu dengan tersenyum lebar.
"Sama-sama Wisnu, semoga kamu suka ya" ucapku membalas senyumnya.
"Suka lah pasti" ucap Wisnu dengan ekspresi sumringah sembari mencoba kaos yang kuberikan sebagai kado ulangtahun.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Bulan Maret pun tiba, tepatnya tanggal 20. Kejadian yang tak terduga terjadi padaku di kelas.
“Mel, tolong dong tugasku dikerjakan sampai selesai!” perintah Wisnu sambil bentak-bentak dan melempar buku itu tepat ke mukaku.
“Hey! Apaan sih kamu ini. Tumben bentak-bentak aku. Kerjakan sendiri dong, biasanya kan begitu” balasku kaget.
“Ah… udahlah, cepetan kenapa sih nggak usah pake acara ceramah segala. Cepet nggak pake lama!!!” perintah Wisnu lagi sembari mengumpat senyum geli.
“Hey! Santai dong, ini juga aku mau ngerjain kok” balasku kesal.
“Ah… udah cepetan kenapa sih, nggak usah banyak basa-basi” ketusnya.
Aku mencoba sabar dengan keadaan ini, selang beberapa menit kemudian.
“Mel, tulisin dong tugasku” pinta Tami tiba-tiba.
“Nggak bisa dong, kan aku lagi ngerjain tugas punya Wisnu” tampikku.
“O… jadi kamu mentingin gebetanmu ketimbang sahabatmu sendiri” ucap Tami terdengar ketus.
“Kenapa sih harus maksain aku, lagi pula maksudku bukan begitu kok Tam. Masa kamu tega banget sama aku” tampikku lagi.
“Nggak! Pokoknya aku mau kamu yang menyelesaikan tugasku ini. Segera!!” pinta Tami lagi dengan nada membentak.
“Ya udah mana buku kamu, biar aku yang mengerjakan nanti” balasku mengalah.
“Bagus! Kerjakan yang bener ya Mel, jangan sampai ada yang salah satu pun” perintah Tami dan meninggalkanku lalu terkikik geli.
“Ya Tam, nggak akan kok” jawabku pelan.
Saat aku akan bertanya pada Irul tentang tugas nomor 4, “Kan udah ada dibuku, jadi tinggal dibaca aja Mel, ah… udahlah nggak usah ganggu aku lagi” jawabnya ketus.
“Oh ya udah makasih” balasku sambil tersenyum kecut lalu duduk disebelah Shella lagi.
Entah ini sudah ke berapa kali kejadian menyebalkan itu kembali terulang.
“Kamu ngapain sih Mel duduk dekatku?” tanya Shella sinis.
“Kok kamu gitu sich Shel, emang aku kan kalo duduk selalu disebelahmu” jawabku sembari menahan tangis.
“Oh… gitu ya, sejak kapan? Kok aku baru tau sekarang” jawab Shella.
“Ya sejak kita dikelas VIII B kan, kita trus duduk sebangku” terangku.
“Ohh ” balas Shella dengan cueknya.
15 menit kemudian istirahat, aku terpaksa sendirian dikelas tanpa ada teman-teman yang nemenin aku. Kemudian aku melihat Fia yang sendirian dibangkunya, aku mencoba untuk mendekatinya, tapi ternyata dia lagi asyik baca komik favoritnya. Lalu aku mundur kemudian balik lagi ketempat dudukku. Wisnu yang biasanya nemenin aku saat istirahat, malah sekarang lagi sibuk ngobrol sama Pandu dan Eko. Itu pun sambil melihatku dengan tatapan aneh.
Aku masih sendirian aja sampai istirahat selesai. Saat aku mencoba mengajak ngobrol semua malah aku dicuekin. Huh!!!! Kenapa sih hari ini sangat membosankan bagiku, nggak ada yang mau berteman denganku. Akhirnya aku mencoba untuk menggabung teman-teman yang lain, tapi rasanya nggak senyaman aku dekat dengan mereka. Pokoknya BT banget deh.
Sampai waktu mendapatkan pelajaran selanjutnya, rasanya aku nggak semangat lagi untuk menangkap pelajaran itu.
“Kamu kenapa Mel?” tanya Fitria pura-pura saat melihatku gelisah.
“Lagi borring aja Fit, masa dari tadi aku dicuekin sama temen-temen” ceritaku.
“Kok bisa sih Mel, emang teman-temanmu kenapa?” tanyanya lagi.
“Entah Fit, aku nggak tau” aku menggeleng.
“Sabar ya Mel” support Fitria.
“Iya sama-sama Mel” kata Fitria lagi sambil mengerlingkan mata pada teman-temanku.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Tak terasa bel pulang pun berbunyi, aku segera mengemasi buku dan alat tulis lalu ingin pulang. Aku tidak peduli mereka mau ngapain dulu saat itu. Saat aku akan keluar gerbang, tiba-tiba aku melihat Irul memegangi perutnya. Ingin aku cuek pun tidak bisa.
“Kenapa Rul?” tanyaku dengan nada cemas.
“Aduh Mel, perutku sakit nih. Aku beneran nggak kuat jalan, tolongin aku ya Mel” pintanya.
“Iya, sini aku bantuin kamu jalan dan aku anter kamu ke UKS” balasku dengan ramah.
“Aku anterin masuk kelas aja Mel” pintanya lagi.
“Lho! Kok sakit perut minta anterin ke kelas?” tanyaku heran.
“Nggak apa-apa kok, pokoknya anterin aku di kelas aja!!” perintahnya.
“Iya aku anterin ke kelas” balasku sambil mengantarkan Irul masuk kelas lagi.
Sesampainya di kelas, aku terkejut dengan surprise yang diberikan oleh Shella, Fia, Tami, Irul, Fitria dan tak ketinggalan Wisnu, Nugroho, Eko dan Pandu pun ikutan.
“Happy birthday Amel…. Happy birthday Amel….. happy birthday… happy birthday…. Happy birthday Amelia ” sambut semua dengan membawakan kue tart saat aku kembali ke kelas lagi.
Aku terharu sekaligus bercampur masih kesal atas kejadian di kelas tadi. Aku tersenyum senang atas surprise yang diberikan pada sahabat-sahabatku tercinta, lalu aku mengucapkan terima kasih atas surprise ini. Sebelum teman-teman mengucapkan, aku disuruh MAKE A WISH setelah itu aku meniup lilin yang sudah disiapkan oleh teman-temanku.
“Selamat ulang tahun ya Mel, maaf sebelumnya aku bikin jengkel waktu pelajaran tadi” ucap Wisnu yang pertama kali.
“Rese emang kamu” dengusku merasa kesal,"btw, makasih Wisnu untuk ucapannya" ucapku langsung salah tingkah.
“Cie ” sorak mereka jahil.
“Ye… apaan sih, kalian juga tuh bikin seharian bikin kesabaran habis. Puas yaaa!! ” gerutuku bercampur bahagia.
Semua tertawa saat aku mengomeli mereka.
“Maaf tadi aku ketus sama kamu” ucap Tami disela tawanya,"selamat ulang tahun Amel" Tami melanjutkan ucapannya dan memelukku.
“Nyebelin ” protesku tapi ikut tertawa dan membalas pelukkan Tami.
“My best friend, happy birthday to you. Yang tadi maaf ya buat kamu kesal, hehehe” ucap Shella sambil nyengir dan memelukku juga lalu memberi kado ulang tahun.
“Mel… Mel… selamat ulang tahun ya, maaf tadi kita semua sengaja untuk ngerjain kamu dan buat marah gitu” terang Fia sambil memberi kado untukku juga.
“Oya Mel, ini kado untukmu. Maaf lupa ngasih tadi, hehehe” kata Wisnu sambil memberikan kado itu dari tasnya dan memberikan untukku.
“Makasih ya Wisnu, udah repot-repot ngasih kado buatku segala” balasku.
“Yang penting kamu suka aja sama kado yang aku beri” ucap Wisnu dengan tersenyum.
“Ehm, yang pasti seneng dong dapat kado dari orang terspesial” goda Shella.
“Shelaaaa ” balasku sembari melirik tajam kearah Shella yang ternyata dibalas dengan tertawa meledek.
“Mel, selamat ulang tahun ya. Maaf ya tadi aku sempet ngerjain kamu dulu” ucap Irul.
“Selamat ulangtahun ya Mel, ditunggu traktirannya lho” ucap Nugroho juga.
“Iya, traktirannya kue tart dari kalian tolong bantu habiskan ya” balasku pada Nugroho yang mendapat tawa dari semuanya.
“Amel, selamat ulang tahun ya. Aku ngasih kado nitip sama Wisnu lho ” ucap Pandu memberiku ucapan juga.
“Ye… apaan, masa ngasih kado kok pake acara nitip segala” gelak Eko.
“Biarin dong” balas Pandu sambil mencibir.
“Jahat ya Mel, masa Eko belum ngasih ucapan sendiri sama kamu” bela Wisnu.
“Iya nih, Eko kejam” sambungku.
“Cie… yang nggak terima gebetannya digituin. Sebelumnya selamat ulangtahun juga ya Mel” sorak Eko sembari menyalamiku.
“Apaan sih maksudmu? Nggak kok, kita temanan kan Mel” tampik Wisnu.
Aku membalas dengan anggukan dan tersenyum.
“Wah… sepertinya teman kita satu ini belum berani ngatain cinta sama gebetannya nih” goda Pandu sembari menyikut Wisnu.
“Apaan sih, malu lah kalo misal Amel tau” bisik Wisnu.
“O… ada yang mau ngungkapin perasaannya tapi nggak berani nih, aku wakilin ya Wisnu” sindir Eko sambil tertawa jahil.
Wisnu melotot kearah Eko.
“Wah sialan kamu Ko….” dengus Wisnu.
Lagi dan lagi kami tertawa saat acara specialku. Lalu Eko bercerita yang membuat ide nge diemin aku seharian itu adalah Shella dan Wisnu.
Aku melirik mereka yang ternyata membuat keduanya malah semakin tertawa terpingkal-pingkal.
“Makasih ya teman-teman udah bikin surprise buat aku hari ini” balasku pada semua sahabat-sahabat yang memberiku kejutan tadi.
“Iya Mel sama-sama, lagian kita semua juga seneng kok ngasih kejutan buat kamu. Asalkan kamu jangan marah sama ulah kita semua yang buat kamu jengkel” balas Shella dengan ekspresi geli.
“Memang rese banget kalian seharian ini yaa" dengusku sembari mengumpat rasa bahagiaku siang ini,"untungnya aku sayang sama kalian" aku menambahkan ucapanku sembari tertawa.
“Mel… Mel… katamu barusan kamu sayang sama kita-kita. Berarti sayang Wisnu juga dong dalam arti cinta” goda Eko sambil melirik kearah Wisnu.
“Eko!!!!!!” gerutuku dan Wisnu sambil mengejar Eko.
Eko langsung lari sekencang mungkin untuk menghindari kejaran dari kami.
Kejadian siang ini langsung membekas dihatiku. Tak lupa aku mengundang Nana, Tiwi, Nurul, Putri, Kris, Adi, dan Nisa yang kebetulan masih pada di kelas masing-masing.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤