My Lovely Wife

My Lovely Wife
3. Kamu siapa?



"Ayah kaki ku sakit." teriak Vanya.


"Sebentar sayang, ayah sedang menutup luka mu. Untuk 3 hari kedepan istirahat di rumah ya agar cepat siuman." ucap ayah Vanya sembari membalut luka Vanya.


Seorang laki - laki dengan kaca mata khasnya yang bulat datang menghampiri rumah Vanya.


"Permisi, apakah Vanya ada di rumah?" ucap lelaki tersebut.


"Sebentar!" teriak ayah Vanya dari dalam rumah.


Ayah Vanya pun bergegas menuju pintu rumah yang ia kunci dari dalam agar tidak ada orang dengan seenaknya masuk kedalam rumahnya.


"Iya, cari siapa nak?" tanya ayah Vanya.


"Saya mencari Vanya." gumam lelaki tersebut.


"Vanya? dia ada di dalam. kamu siapa ya?" tanya ayah Vanya.


"Maaf, saya tidak memperkenal kan diri. Nama saya Reno ketua kelas dari 3-3, kebetulan Vanya adalah siswi di kelas tersebut. Saya disini ingin memberikan buku catatan ini karena hari ini ia tidak masuk sekolah." ucap anak lelaki itu.


"Reno?, silahkan masuk nak" ucap ayah Vanya.


"Ah iya pak." jawab lelaki itu.


"Jangan sentuh apapun nak." gumam ayah Vanya.


"Iya pak." jawab Reno.


"Saya antarkan ke kamar Vanya ya, tapi jangan melakukan hal yang aneh kepada Vanya." gumam ayah Vanya.


"Iya pak, terima kasih ya." ucap Reno sembari bergegas merapihkan buku catatannya.


Ayah Vanya pun mengantar Reno menuju kamar Vanya, disana Reno terkejut melihat Vanya terbaring lemas dan seluruh tubuhnya di penuhi luka.


"Ren, ayah tinggal ya untuk beli obat." gumam ayah Vanya.


"Iya pak." gumam Reno.


Ayah Vanya kemudian pergi meninggalkan Reno dan Vanya berdua di dalam rumah, disana Vanya terkejut melihat Reno.


"Kamu Reno kan?" ucap Vanya.


"Iya, kalau tidak kuat kamu tiduran saja." gumam Reno.


"Tidak apa-apa, justru tidak sopan jika ada tamu aku hanya tiduran." ucap Vanya.


"Maaf ya menganggu waktu mu istirahat." gumam Reno.


"Apa yang membuat mu berkunjung ke rumah ku?" tanya Vanya.


"Aku ingin memberikan buku catatan ini kepada mu, tadi pagi kamu tidak masuk sekolah kenapa?" tanya Reno.


"Oh, Terima kasih ya. Aku mengalami kecelakaan." ucap Vanya.


"Lekas sembuh ya." gumam Reno.


"Terima kasih Reno." ucap Vanya.


"Vanya jika kamu mencari seseorang untuk kau percayai, aku bisa menjadi salah satunya." gumam Reno.


"Terima kasih Reno." ucap Vanya sembari tersenyum.


"Aku pamit pulang ya." ucap Reno.


"Reno, tetaplah disini sampai ayah kembali pulang." ucap Vanya.


"Ehh?, Tidak apa-apa aku disini?" tanya Reno.


"Iya." gumam Vanya.


Reno terdiam melihat Vanya tersenyum ke arahnya. Bagaimana ia tidak terdiam, senyum Vanya yang manis dan mukanya yang cantik membuat hatinya berbunga-bunga.



"Terima kasih." ucap Vanya yang tersipu malu dihadapan Reno.


Reno dan Vanya hanya saling diam karena mereka sebelumnya tidak pernah akrab.


"Reno, aku ingin bertanya." gumam Vanya.


"Iya, silahkan." gumam Reno.


"Kenapa kamu rela mengantarkan buku catatan ini untuk diri ku?, bukan kah kamu tahu bahwa aku ini berbeda" tanya Vanya bingung.


"Kamu merupakan teman kelas ku dan aku adalah ketua kelas disana. Sudah tugas ku peduli kepada anggota ku. Walaupun kamu berbeda bagi ku kamu sama saja dengan siswi yang lain hanya saja kamu spesial, seseorang tidak tahu kan yang berbeda itu punya hati yang baik." jawab Reno kepada Vanya.


"Hmm, kamu tidak takut sama sekali kepada ku?" tanya Vanya.


"Tidak, karena aku peduli dan aku selalu peduli kepada mu." jawab Reno.


"Terima kasih Reno, sekarang aku merasa memiliki seseorang yang bisa menerima keberadaan ku." ucap Vanya.


"Sejujurnya Vanya, sedari dulu aku menyukai mu. Itu alasan aku memberanikan diri ke rumah mu." jawab Reno.


"Menyukai ku?" tanya Vanya.


"I.. iya, aneh bukan seseorang yang kutu buku seperti ku bisa menyukai gadis terpintar di kelasnya." jawab Reno.


"Tapi kenapa?, aku ini aneh dan bahkan aku bisa melihat mereka yang tak terlihat" Gumam Vanya heran.


"Apakah menyukai seseorang membutuhkan sebuah alasan yang kuat?" tanya Reno.


"Tidak, tetapi aku hanya takut kamu pergi karena takut kepada ku." Jawab Vanya.


"Tidak, percaya lah setelah lulus ini. Aku akan bekerja keras dan kembali lagi kesini untuk menikahi mu." jawab Reno.


"Reno, kamu serius?" tanya Vanya.


"I..iya, aku serius!" ucap Reno tegas.


"Baiklah, aku pegang janji mu." ucap Vanya serius.


Dalam diam Reno memendam rasa dan hanya bisa membagi cerita hatinya kepada Tuhan. Reno sangat sakit hatinya melihat Vanya di perlakukan kasar oleh teman sekelasnya dan di cap sebagai wanita gila.


Dua tahun yang lalu..


"Wanita gila..." ucap Wiryo salah satu teman kelas Vanya.


Vanya kala itu hanya terdiam melihat Wiryo menghina dirinya, seakan - akan Vanya tidak perduli kepada Wiryo. Keesokan harinya Wiryo mulai mencoret meja belajar Vanya dan dinding sekolah dengan tulisan "Vanya wanita gila!" , Reno yang melihat semua kejadian itu melaporkan Wiryo kepihak sekolah agar dirinya bisa di keluarkan dari sekolah.


“aku bukan seorang pejuang, aku hanya seorang pecinta, tapi aku akan memperjuangkan sesuatu yang aku cintai." gumam Reno dalam hatinya.


Setelah kejadian itu satu Minggu kemudian, Wiryo di keluarkan dari sekolah karena dianggap merusak reputasi nama sekolah.


Kejadian tersebut masih membekas dalam ingatan Reno sehingga dia pun ingin sekali menikahi Vanya dan menjaganya.


"Ayah pulang." gumam ayah Vanya.


"Aku pulang ya Vanya." ucap Reno.


"Sebentar." gumam Vanya sembari beranjak dari kasurnya dan pergi memeluk Reno.


Aku di peluk Vanya? astaga! wanita yang aku cintai kini memeluk ku. Semesta menjadi saksi bisu atas perasaan ku kepadanya, Tuhan selalu adil untuk hambanya. Dia tidak pernah salah dalam menentukan takdir hidup setiap makhluknya, mungkin kini ia mengabulkan seluruh harapan ku dan aku tidak akan menyia-nyiakan takdir ini.


"Baiklah, sekarang Reno boleh pulang. terimakasih sudah datang menjenguk diri ku." ucap Vanya.


"Nak Reno, bapak nitip surat sakit Vanya untuk besok tiga hari ya." gumam ayah Vanya sembari menyodorkan surat sakit Vanya.


"Iya pak, saya pamit pulang ya." gumam Reno.


"Iya nak, hati - hati." jawab ayah Vanya.