My Lovely Wife

My Lovely Wife
Pergi Lagi



Ketika Naya membuka matanya, sosok yang ia cari adalah Edward. Perempuan itu memanggil-manggil nama pria itu dengan lirih, hingga terdengar ke luar bangsal. Membuat orang yang dipanggil namanya bergegas masuk ke dalam.


Ketika Naya melihat Edward, air matanya mengalir, "Edward..."


Edward mendekat, hati nuraninya membuatnya berani memeluk gadis yang lemah itu. "Jangan menangis, aku sudah di sini." ucap Edward lembut.


Mendengar suara baritonnya jelas membuat Naya tenang dalam seketika.


"Kau dari mana saja?" tanya Naya.


Edward melepas pelukannya, ia duduk di atas brankar dan menatap Naya lekat.


"Aku punya urusan mendadak di kota B. Maaf aku tidak mengabarimu sebelumnya, karena memang aku sangat sibuk di sana." ucapnya memberi pengertian pada Naya.


Naya mengangguk, "Maaf aku sudah menyusahkanmu. Karena aku, pekerjaanmu terganggu." ucap Naya.


"Tidak apa-apa. Tidak masalah bagiku bolak-balik antarkota, asal itu demi dirimu."


Rasanya dunia Naya berbunga-bunga mendengar penuturan pria itu. Mulut pria itu sangat manis membuat gadis muda yang belum merasakan manisnya cinta sepertinya mudah luluh.


Ucapan Edward seolah mengatakan bahwa ia adalah prioritasnya.


"Ana sudah menceritakan semuanya. Ada apa mencariku hmm..?" tanya Edward.


Wajah Naya langsung merah, ia malu karena hal itu diketahui Edward. Ketika ia diam-diam, bahkan terang-terangan menanyakan Edward, bahkan menyebut nama pria itu di mimpinya.


Naya menggeleng, ia sangat malu pada Edward. "Tidak, bukan begitu..." Naya bingung bagaimana menjelaskan.


Hal itu membuat Edward terkekeh, ia mencubit hidung Naya yang memerah.


"Jujur saja, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Aku sangat malu mengatakannya, tapi aku tidak bisa jauh darimu." ucap Naya sambil menundukkan kepalanya, membuat Edward mengangkat sebelah alisnya disertai senyum manisnya.


"Maksudku, aku... aku tidak bersikap lancang, tapi..."


"Sudah, jangan dijelaskan lagi. Dokter sudah menjelaskan padaku. Jika kau selalu ingin dekat denganku adalah hal wajar, karena itu disebabkan oleh bayi di dalam perutmu. Dia hanya ingin dekat dengan Ayahnya." ucap Edward.


Naya diam cukup lama, "Ada apa?" tanya Edward.


Manik Naya yang jernih bertanya, "Kau tidak risih dengan itu? Maksudku, aku dan kau adalah dua orang asing yang tiba-tiba bertemu. Tidak punya perasaan apa-apa, kita bersama sekarang hanya karena bayi ini." jelas Naya.


"Bagaimana aku bisa risih jika ini menyangkut darah dagingku. Dan kurasa tanggung jawabku lebih dari itu. Aku bersedia melakukan apapun demi dia." ujar Edward.


Bukan jawaban yang Naya harapkan, tapi ia sudah tahu kini, Edward begitu memprioritaskan dirinya semata-mata hanya karena bayi ini. Tidak ada perasaan lebih antara ia dan pria itu.


"Memangnya kau risih dengan perhatianku?"


"Tapi seharusnya kita menjaga jarak. Aku tidak ingin terbawa perasaan dengan semua perhatianmu." ucap Naya terang-terangan. Naya adalah sosok yang lugas, jika ia tidak suka ia akan mengatakannya langsung dan sebaliknya.


Edward mengangguk, dia dan Naya adalah orang dewasa meski jarak usia mereka tergolong jauh. Bagaimana pun dia tidak ingin ada hati yang tersakiti ketika mereka akan berpisah suatu saat nanti.


"Aku paham. Untuk menghindari itu, anggap saja semua perhatianku hanya sebatas tanggung jawab pada bayi itu." ucap Edward.


Naya mengangguk setuju akan kesepakatan itu.


Karena jarang makan dan jam tidur yang tidak teratur, Naya hampir kehilangan bayinya untuk yang kedua kalinya. Oleh karena itu, Naya dirawat intensif lagi. Edward bahkan selalu di sisinya seharian ini untuk memastikan Naya selalu baik-baik saja.


Saat Naya sedang memakan buah setelah makan, ponsel milik Edward berdering dari tadi. Naya melihat ponsel di atas meja sofa, dia tidak bisa menjangkaunya. Sementara Edward masih di dalam toilet.


"Ponselmu berdering dari tadi." ucap Naya ketika Edward keluar dari toilet.


Edward mengambil ponselnya, dan wajahnya berubah dalam beberapa detik. Naya memperhatikannya, dia ingin bertanya tapi bibirnya kelu.


Edward keluar dan setelah beberapa menit dia masuk kembali dan duduk di samping Naya.


Raut wajah pria itu terlihat ragu bercampur cemas, ia belum juga bicara.


"Ada apa?" Naya bertanya


"Naya, maaf aku tidak bisa terlalu lama di sini." ucap Edward akhirnya.


Naya kecewa sebenarnya, tapi ia berusaha menyembunyikannya.


"Kenapa?" berusaha tetap tenang.


"Keadaan di perusahaan belum stabil. Aku harus pulang dan menyelesaikan masalah di sana." ucap Edward.


Naya tidak ingin menjadi orang yang egois, Edward memang sedang menebus kesalahannya sekarang, tapi dia tidak boleh membuat Edward hancur karenanya.


"Tidak apa-apa. Pergilah." ucap Naya.


"Kau sungguh tidak apa-apa?"


Naya mengangguk, "Aku akan baik-baik saja selagi kau memberi kabar. Tidak seperti kemarin menghilang seperti hantu." ucap Naya dengan senyum membingkai di wajahnya.


Melihat senyum Naya, Edward tidak merasa terbebani jika ia pergi meninggalkannya.


Bunyi ponsel Edward berdering lagi, membuat Naya berpikir urusan Edward sangat mendesak.


"Aku harus pergi sekarang juga, jaga dirimu baik-baik." ucap Edward sambil mengusap kepala Naya sebelum akhirnya pergi meninggalkannya.