
Hari berganti hari, Naya menanti kedatangan Edward. Edward memang sering mengabarinya, tapi itu tidaklah cukup baginya. Naya hanya ingin raga pria itu di sini. Terkadang, Naya sangat ingin memeluk pria itu, akibat rindunya yang bertumpuk.
Sudah lebih dari satu minggu lalu Naya keluar dari rumah sakit, dia akhirnya berusaha menjalani aktivitasnya seperti biasa tanpa Edward, tapi rasanya sulit sekali.
Rasa mual masih menyerang setiap pagi dan hampir setiap menit. Dan nafsu makannya menurun.
Siang ini, Naya sedang duduk di meja makan. Naya memutuskan tidak masuk kuliah karena mual yang menyerangnya sepanjang pagi tadi. Ia hanya memandangi sup ayam buatan Bi Sara tanpa berselera.
"Nona, apakah supnya tidak enak?" tanya Ana.
Naya menggeleng, "Aku tidak lapar." jawab Naya ogah-ogahan. Sudah beberapa hari Naya bersikap seperti ini, tapi Ana tetap sabar melayaninya.
Ana akhirnya pergi menjauh dari Naya, lalu menghubungi Tuannya dan melaporkan apa yang terjadi.
"Baiklah Ana, buat panggilan video, dan berikan padanya." ucap Edward setelah mendengar laporan Ana.
Ana menyambungkan panggilan video melalui tablet khusus, agar Naya bisa melihat wajah Edward dengan jelas. Ana kemudian meletakkan tablet tersebut di atas meja makan, tepatnya di depan Naya.
"Halo Naya..." sapa Edward yang mana membuat Naya terkejut. Raut wajah Naya seketika menjadi sumringah.
"Edward..." serunya.
"Sedang apa?" tanya Edward.
"Aku sedang makan."
"Benarkah? Tapi sepertinya kau sedang tidak makan?"
Naya membawa mangkok sup di depannya, menunjukkannya pada Edward. "Ini. Bi Sara yang membuatnya." lalu menyendokkan ke mulutnya.
"Enak?" tanya Edward.
Naya mengangguk cepat, "Makanlah dulu, aku akan menunggumu sampai selesai." ucap Edward.
Naya menurut, nafsu makannya seketika berubah, entah mengapa sup itu sangat lezat di lidahnya.
Ana dan Bi Sara yang melihatnya tersenyum kecil, sekarang mereka tahu, Naya hanya membutuhkan kehadiran Edward.
Setelah Naya menghabiskan supnya, "Sudah selesai."
Edward tersenyum di seberang sana, "Baguslah. Bagaimana, apakah masih mual?"
Naya mengangguk, "Iya, aku sangat tersiksa dengan itu." ucapnya seperti anak kecil yang sedang mengadu.
"Maafkan aku. Harusnya aku menemanimu." Edward juga merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Kau juga sedang sibuk di sana. Tapi apakah kau sudah makan?" tanya Naya.
"Belum. Aku akan makan sebentar lagi."
Naya mengangguk, dia berpikir sejenak, "Kapan kau datang ke sini lagi? Apakah pekerjaanmu belum selesai?" Naya bertanya penuh harap.
Edward tahu maksud Naya, dia merasa bersalah karena tidak bisa menemani di saat gadis itu sangat membutuhkan dirinya. Tapi di sini, ada wanita pujaan hatinya yang sedang sekarat dan juga membutuhkannya. Edward bingung, andai ia bisa membagi-bagi tubuhnya.
"Maafkan aku. Kalau urusan di sini selesai, aku pasti akan datang. Bersabarlah." ucap Edward menenangkan hati Naya.
"Baiklah. Sampai di sini dulu ya. Aku harus melanjutkan pekerjaanku. Nanti malam, aku akan menghubungimu lagi. Sampai jumpa." ucapnya.
Meski tidak rela mengakhiri pembicaraan itu, Naya tetap mengangguk, "Sampai jumpa." ucapnya, lalu layar tablet berubah menjadi hitam.
Setelah itu, wajah Naya menjadi lesu, tetapi lebih baik dari sebelumnya.
Sementara itu, pencarian Nyonya Allen masih dilakukan sampai sekarang. Meski banyak rumor beredar Nyonya Allen sudah meninggal, tapi keluarga masih berjuang sampai sekarang.
Padahal, mereka tidak tahu, wanita tua itu sudah hidup dengan tenang di sebuah rumah sederhana dengan keluarga kecil yang bahagia.
Nyonya Allen adalah seorang wanita Asia yang lahir dan besar di tanah kelahirannya. Berasal dari keluarga sederhana dan tak jarang berkekurangan.
Pada usia remajanya ia bertemu orang asing berdarah Eropa. Dengan kisah cinta yang penuh lika-liku hingga ia akhirnya hidup bahagia di negara Eropa dengan suami dan putra semata wayangnya.
Selama menjadi istri dari seorang pebisnis terkaya, Nyonya Allen menjalani hidup mewah dan tidak kurang sesuatu apapun. Hidup mewah memang menyenangkan, tapi terkadang ia rindu kampung halamannya. Rindu masa kecilnya yang sederhana.
Oleh karena itu, Nyonya Allen memilih sembunyi di dalam keluarga itu. Hidup di pinggiran kota dengan sederhana.
...----------------...
Setiap hari Edward selalu menghubunginya setidaknya tiga kali sehari. Saat sarapan, makan siang dan makan malam. Karena jika tidak begitu, satu sendok pun tidak akan masuk ke dalam mulutnya.
Hari berlalu, minggu pun telah dilalui hingga satu bulan lebih Edward tak kunjung kembali. Hal itu membuat Naya lelah menunggu.
Saat Naya akan makan malam, seperti biasa dia harus bicara dengan Edward melalui panggilan video. Tapi malam ini Naya sedikit berbeda.
Edward sudah tahu jam makannya kapan saja, dan ketika jamnya tepat ponsel Naya sudah berdering. Tapi Naya tidak mengangkatnya.
"Kenapa tidak diangkat Nona?" tanya Ana yang melihatnya mematikan telepon Edward.
"Tidak apa-apa. Aku sedang tidak ingin diganggu." ucap Naya dengan wajah datar, lalu memakan makan malamnya dengan diam.
Beberapa saat kemudian, ponsel Ana berdering, benar saja Edward langsung meneleponnya.
"Ana, kenapa Naya tidak mengangkat telepon saya?" tanya Edward dengan cemas.
Setelah mendengar pernyataan Ana, kening Edward berkerut, "Baiklah, tetap perhatikan dia. Jangan sampai sesuatu terjadi lagi dengannya." ucap Edward. Setelah itu mematikan ponselnya.
"Edward..." panggilan dari kamar membuat Edward masuk ke dalam sebuah kamar. Dimana seorang gadis terbaring di ranjang.
"Ada apa sayang?" Edward duduk di samping kekasihnya.
"Sedang bicara dengan siapa?" tanya Cheryn.
"Josh, kami membahas masalah kantor." Edward berbohong.
Cheryn sudah keluar dari rumah sakit minggu lalu, tapi sayang gadis itu masih harus duduk di atas kursi roda sehingga dia membutuhkan seseorang untuk membantunya untuk segala aktivitasnya.
Tentu saja dia tidak akan mempekerjakan pembantu, dia memiliki Edward yang akan selalu ada di sampingnya.
Oleh karena itu, Edward bahkan tidak bisa mengurus pekerjaannya, apalagi mengunjungi gadis yang sudah ia rusak dan bayinya di kota jauh.