My Lovely Wife

My Lovely Wife
Tanpa Kabar



Naya bangun dari tidurnya di pagi hari. Tubuhnya terasa segar pagi ini dan anehnya dia tidak mual. Edward masuk ke kamar membawa segelas susu.


"Selamat pagi." sapanya.


"Pagi." balasnya. "Bagaimana tugasku?"


"Sudah selesai. Beberapa sudah kukirim ke dosenmu dan sudah ditandai." ucap Edward.


"Secepat itu? Itu sangat banyak." Naya tidak percaya Edward bisa menyelesaikan tugasnya hanya dengan satu malam.


"Iya. Itu sangat mudah bagiku. Ayo, kau mau olahraga?" tanya Edward.


"Olahraga?"


"Iya. Saat hamil kau juga harus olahraga. Agar bayinya aktif di dalam sana." entah dari mana Edward mendapatkan ilmu itu, padahal sebelumnya dia tidak mengerti mengenai kehamilan.


Naya mengangguk, "Aku akan cuci muka dulu."


Hari ini Naya masuk kuliah agak siang, jadi dia masih bisa bersantai pagi ini.


Saat Naya turun dari kamar, ia sudah mengenakan pakaian yang sudah Ana siapkan sebelumnya. Di bawah, ternyata Edward memanggil instruktur senam khusus ibu hamil ke apartemen.


Naya berkenalan dengan wanita berusia tiga puluhan tersebut dan sepertinya ia cukup profesional.


Edward sengaja menyiapkan balkon yang luas tempat Naya senam, agar sekalian menikmati matahari pagi.


Sementara Edward olahraga di ruangan lain. Di apartemen itu juga tersedia ruangan khusus dimana terdapat beberapa alat fitnes.


Naya menikmati paginya dengan sedikit gerakan ringan yang diawasi oleh instrukturnya.


Tiga puluh menit sudah cukup bagi Naya untuk pagi ini karena masih pemula. Naya naik ke kamar untuk mandi, bersamaan dengan itu, Edward muncul hanya mengenakan sebuah celana pendek hitam dan sehelai handuk kecil di tangannya.


Otot-otot tubuh pria itu basah karena keringat sehingga nampak seksi di mata Naya. Entah kenapa mata gadis itu sangat nakal, ia enggan mengalihkan tatapannya.


"Kau.... kau dari mana?" Naya malah gugup.


"Olahraga."


Naya mengangguk saja, sebenarnya itu hanya pertanyaan basa-basi agar tidak canggung.


"Oh."


"Mandilah. Setelah itu kita sarapan bersama." ujar Edward.


Naya mengangguk dan berjalan melewati Edward dengan perasaaan tak biasa.


Sementara Edward, ia melepas nafas lega ketika Naya pergi. Sebenarnya Edward melihat Naya naik ke atas sambil mengipas-ngipas wajahnya.


Gadis itu berkeringat, tapi entah mengapa malah membuatnya bergairah melihatnya. Apalagi ketika Naya membuka ikatan rambutnya, pancaran auranya menebar di matanya. Edward kesulitan bernafas saat berada dekat dengan gadis itu.


Setelah mandi, keduanya sarapan bersama, Edward kemudian mengantar Naya ke kampus.


"Pak, dimana Edward?" tanya Naya untuk menghilangkan rasa penasarannya.


"Tuan pulang ke kota B tadi sore Nona." jawab Pak Rey.


Mendengar itu, entah kenapa Naya ingin menangis. Air mata mengembun di pelupuk matanya, tetapi ia tahan karena malu di depan Pak Rey.


Selama di perjalan pulang ke rumah, Naya menahan air matanya. Dan ketika sampai, Naya cepat-cepat ke kamar dan menutup pintu.


Tangisnya pecah saat itu juga. Dadanya terasa sesak, Naya menenggelamkan wajahnya di atas bantal untuk meredam tangisnya.


Naya tidak tahu kenapa dia seperti ini. Mendengar Edward pulang entah kenapa hatinya sangat sesak.


Naya melihat ponselnya dan melihat pesan. Melihat Edward juga tidak mengabarinya yang semakin membuatnya menangis.


"Astaga. Kenapa aku sangat cengeng sekali? Apa yang kutangisi? Memangnya kenapa kalau dia pulang? Harusnya aku tidak seperti ini." lirihnya, tetapi air matanya masih tetap mengalir.


Saat malam hari, Ana yang kembali bertugas mengetuk pintu. "Nona. Anda harus makan malam." panggil Ana dari luar.


Naya mendengarnya, tetapi ia sangat malas keluar. Tapi Naya yakin, Ana tidak akan berhenti mengetuk sebelum dia keluar. Akhirnya dengan malas ia berjalan dan membuka pintu. Sebelumnya dia memastikan wajahnya segar dan tidak nampak sisa-sisa air matanya.


"Aku akan turun sebentar lagi." ucap Naya.


"Baiklah Nona."


Naya benar-benar turun setelah mengganti bajunya, beruntung Ana tidak tahu ia habis menangis. Setelah makan malam, Naya kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya.


Ia membuka ponselnya beberapa kali untuk memastikan ada pesan dari Edward. Tetapi sudah hampir tengah malam pun masih belum ada juga.


Naya terbangun dari tidurnya, biasanya Edward sudah ada di kamar mengantar sarapannya. Tapi sekarang Ana yang membawanya. Naya kecewa pagi ini.


"Ini susunya Nona." Ana memberikan susu hamil pada Naya.


Ketika Naya akan meminumnya, rasa mual malah menyerang. Naya menyingkirkan susu itu dan berlari ke kamar mandi. Naya memuntahkan semuanya, dan lidahnya terasa pahit sama seperti beberapa hari yang lalu.


Ana memijat tengkuknya dan setelah cukup tenang Ana membawanya ke tempat tidur.


"Edward dimana Ana?" Naya akhirnya menurunkan gengsinya setelah satu malam menahan untuk tidak bertanya keberadaan Edward.


"Tuan sedang pulang Nona. Katanya ada urusan mendadak dan akan kembali secepatnya." ujar Ana. Tapi Naya tidak puas akan jawaban itu. Dia ingin Edward ada di sini sekarang juga.


Naya lesu sejak Edward pergi. Katanya akan kembali secepatnya, tapi sudah satu minggu pria rupawan itu belum juga datang.


Sejak Edward pergi sudah beberapa kali dia tidak ke kampus. Rasanya sangat malas melakukan kegiatannya seperti biasa, padahal sebelumnya dia sangat semangat kuliah di universitas terkemuka itu.


Tidak hanya itu, nafsu makan Naya hilang. Setiap ia makan, Naya akan memuntahkan semuanya. Hal itulah yang membuat Naya kembali drop.


Naya dilarikan ke rumah sakit dan dirawat intensif.


"Edward,..."