My Lovely Wife

My Lovely Wife
Rencana yang Gagal



Edward tidak memberitahukan rencana pernikahan yang diatur oleh orang tuanya pada Naya. Edward yakin Naya pasti syok jika mengetahui hal itu. Edward akhirnya meyakinkan Naya jika hidupnya akan baik-baik saja. Meski cepat atau lambat, Naya akan mengetahuinya.


Edward menemui kedua orang tuanya.


"Ayah sudah membuat keputusan. Kau akan menikahi Naya akhir bulan ini." ucap Scott tanpa basa-basi.


Edward diam, meski dia merasa terlalu cepat baginya.


"Ayah tidak mau keturunanku terlahir tanpa status. Kalau saja seluruh dunia tidak tahu hubunganmu dengan Cheryn, Ayah pasti akan mengumumkan kehadiran cucuku pada dunia dan mengadakan pesta besar. Tapi untuk menjaga kehormatan keluarga, untuk sementara kita lakukan upacara pemberkatan saja." jelas Scott.


"Bagaimana hubunganmu dengan Cheryn Nak?" Tanya Marry. "Jangan sampai kau menjalin hubungan dengan dua wanita sekaligus. Kau tahu Ibu tidak menyukainya."


Edward tidak menjawab, ia terbayang Cheryn yang histeris setelah dia tinggalkan.


"Ayah dan Ibu tidak bermaksud memisahkan kalian. Tapi kau harus bertanggungjawab atas kesalahanmu." lanjut Marry.


Edward menatap Sang Ibu dengan dalam, "Tidak apa-apa Bu. Kalian mengajarkanku untuk selalu bertanggungjawab dalam setiap kesalahan yang kubuat. Aku tidak akan mengecewakan kalian lagi." tutur pria itu.


"Baguslah. Ayah pikir akan sulit kau meninggalkan Cheryn, mengingat delapan tahun yang sudah kalian lalui."


"Tapi apakah kau sudah bicara dengan Naya?"


Edward menggeleng, "Belum. Aku takut dia syok. Aku mengenalnya, dia pasti tidak mau menikah denganku." ucap Edward.


Scott mengangguk mengerti, "Kalau begitu biar Ibumu yang bicara. Akan lebih baik jika sesama wanita yang bicara."


Marry mengangguk, "Iya, Ibu akan bicara dengan Naya nanti."


Sebelum pembicaraan mereka berakhir, terdengar suara pecahan kaca dari luar ruangan.


Ketiganya bergegas melihat apa yang terjadi di luar. Dan alangkah terkejutnya ketiga orang itu melihat Naya duduk sambil mengutip pecahan vas keramik di lantai.


Naya melihat mereka, wajahnya sudah banjir air mata.


Edward mendekat, menjauhkan Naya dari pecahan keramik.


"Kau sedang apa di sini?" tanya Edward lembut sambil memegang jari yang terluka itu.


"Bawa duduk Edward, darahnya banyak sekali." ucap Marry.


Edward mengangkat Naya dan membawa ke sofa, Marry yang dengan cepat membawakan kotak P3K. Edward mulai membersihkan dara, dan membalut menggunakan kain kasa dengan hati-hati.


"Aku tidak mau menikah." ucap Naya tiba-tiba saat Edward hampir selesai.


Edward terkejut, begitu pun pasangan suami istri itu. Ternyata Naya mendengar pembicaraan mereka baru saja.


Mereka pikir Naya menangis karena terkena pecahan keramik. Melihat Naya yang benar-benar syok mengambil alih di samping Naya.


Dia memeluk gadis itu lembut. "Sayang, jangan takut. Kami membuat keputusan bukan tanpa sebab. Ingat, sekarang di dalam perutmu ini ada anakmu dan juga anak Edward. Coba bayangkan jika anak ini lahir tanpa status, itu sangat buruk sayang. Memang kami bisa saja menutupinya dari publik, tapi jika anak ini tahu bahwa dia lahir tanpa status yang jelas, apa yang akan dia pikirkan? Hatinya akan terluka jika sampai tahu." ucap Marry.


Naya hanya menangis, sejak dulu dia berprinsip akan menikah ketika dia sudah membahagiakan keluarganya, terutama ayah dan ibunya. Dia akan menikah setelah memiliki karir yang bagus dan membuat orang tuanya bangga. Jika ia sanggup akan membantu biaya pendidikan adiknya. Tidak hanya itu, Naya akan menikah satu kali dalam hidupnya, oleh karena itu ia harus menikah dengan orang yang tepat dan saling mencintai. Lagi pula saat ini umurnya masih terlalu muda.


"Ibu, tolong jangan paksa Naya." ucap Edward. Pria itu kasihan melihat Naya saat ini.


Tepat saat itu, Naya tiba-tiba pingsan di pelukan Marry.


"Astaga."


...****************...


Naya bersandar di ranjang, sementara Marry memijat kakinya yang saat ini sudah mulai membengkak.


"Jangan pikirkan ucapan Ibu yang tadi sayang. Kalau memang kau belum siap tidak apa-apa. Kami tidak akan memaksa." ucap Marry, tapi Naya hanya memberikan tatapan kosong.


Marry tiba-tiba menarik ucapannya karena baru saja dokter mengingatkan agar Naya tidak boleh berpikir berat. Karena itu akan beresiko buruk pada kandungannya.