
Edward baru saja turun dari Jet pribadinya setelah melakukan perjalanan 1 jam lebih. Mobil hitam yang sudah menunggu kedatangannya sejak tadi membawanya membelah jalanan kota B menuju rumah sakit Internasional.
Begitu mobil sampai di lobi rumah sakit, Edward menaiki lift hingga ia sampai di sebuah bangsal VVIP.
"Sayang, kau sudah pulang?" suara halus seorang wanita di atas brankar menyambutnya.
Edward mendekat dan mendapat pelukan dari sang kekasih.
"Bagaimana keadaanmu? Kata dokter sakitmu kambuh lagi." tanya Edward dengan perasaan cemas.
Cheryn melepas pelukannya, wajahnya memelas, ia mengangguk lesu. "Beruntung dokter berhasil menyelamatkanku dan masih bisa bertemu denganmu sekarang."
"Cheryn, jaga ucapanmu." Edward tidak suka suka mendengarnya.
"Kau pergi saat aku tidur dan tidak memberi kabar, padahal aku sangat membutuhkanmu." rengek Cheryn.
Edward mengusap rambut wanita itu, "Maaf sayang. Perusahaan Ayah di kota X sedang bermasalah. Aku harus bolak-balik ke sana untuk beberapa waktu sampai semuanya stabil." Edward jelas berbohong padanya.
Cheryn masih saja merengut, dia memohon agar Edward tidak meninggalkannya lagi.
"Aku rasa kau tidak akan jatuh miskin jika perusahaan itu bangkrut." ucap Cheryn dengan santai.
Edward mengangkat alisnya, dia tidak menyangka Cheryn akan merespon seperti itu.
"Ayah mendirikan perusahaan itu susah payah, bagaimana mungkin aku membiarkan perusahaan jatuh begitu saja. Ayah menitipkan semua usahanya padaku, dan aku harus menanggungjawabi semuanya semampuku." jelas Edward, tapi reaksi Cheryn semakin tidak terduga.
"Baiklah, sepertinya urusanmu itu lebih penting dariku. Kalau saja aku mati kau tidak akan tahu." gadis itu sangat kesal.
"Cheryn!"
"Entah kapan aku mendapat kebahagiaan darimu. Lima tahun aku menunggu kau datang melamarku, tapi kau lebih mendengarkan kata-kata Nenekmu. Dan saat aku sakit kau lebih memikirkan urusanmu. Bahkan aku meninggalkan kedua orang tuaku agar bisa dekat denganmu, tapi apa yang kau lakukan?" cecar wanita itu.
Edward tahu Cheryn sangat kesal dengannya saat ini. Oleh karena itu, ia tidak ingin berdebat dengan gadis itu.
Setelah Cheryn tenang dia tertidur karena efek obat yang baru dia minum. Saat itu, Marry menelponnya dan memintanya pulang.
Benar saja, ketika Edward sampai di rumah ia tertidur begitu saja di kamarnya sebelum bertemu sang Ibu.
Tubuhnya baru merasakan lelah setelah dua kali bolak-balik antarkota, merawat dua wanita yang berbeda dan tidak lupa pekerjaan yang harus dia pikirkan juga.
Dua jam lebih Edward tertidur, dan ia terbangun ketika merasakan kehangatan di tubuhnya. Ketika ia membuka mata ternyata Marry sedang menyelimutinya.
"Ibu." panggilnya dengan suara serak.
"Bagaimana kabarmu? Lama tak berjumpa?" ucap Marry dengan nada kesal.
Edward tersenyum, sambil bersandar di tempat tidur. Sudah minggu ternyata ia tidak kembali ke rumah dan bahkan tidak mengabari orang tuanya. "Maaf Bu, aku sangat sibuk."
Marry duduk di sampingnya, membuat Edward langsung memeluk sang Ibu erat.
"Ada apa? Apakah masalah di sana belum selesai?" tanya Marry, dia mengerti putranya. Jelas Edward sangat lelah, terlihat dari kantung matanya yang sudah menghitam menandakan Edward jarang tidur.
"Sudah lebih baik Bu. Tapi aku harus bolak-balik ke sana untuk mengurus beberapa orang tidak jujur itu." ujar Edward. Sampai saat ini sudah tiga wanita yang sudah ia bohongi dan Edward sangat lelah dengan itu.
Dia ingin mengatakan semuanya pada Sang Ibu, tapi ia masih ragu. Mungkin akan butuh waktu lama untuk jujur akan semuanya.
"Selama di kota A apakah kau tinggal di apartemen Ibu?" tanya Marry.
Edward terkejut, tapi ia mengangguk. "Iya Bu."
"Tapi apartemen itu sangat jauh dari perusahaan, kenapa tidak tinggal di hotel yang lebih dekat ke perusahaan?"
Edward bingung mau menjawab apa, Edward merutuk dalam hati. Harusnya ia memikirkan keputusannya ketika ia membuat Naya tinggal di apartemen itu. Karena apartemen itu adalah pemberian dari Ayahnya untuk Marry, otomatis Marry akan mendapat pemberitahuan.
"Tidak apa-apa Bu. Aku hanya ingin memanfaatkan kekayaan Ibu." ucapnya dengan jenaka.
"Kau ini. Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Cheryn?" tanya Marry.
"Aku baru saja dari sana. Sakitnya kambuh lagi tapi sudah lebih baik sekarang. Tapi dia kesal denganku. Saat dia sakit aku malah tidak ada di sampingnya. Dan aku merasa bersalah karena belum menikahinya juga sampai sekarang." tutur Edward mencurahkan keluh kesahnya.
Wajah Marry datar, mengingat sikap Cheryn akhir-akhir ini membuatnya kehilangan respect.
"Ibu menghargai kesabarannya yang sudah bertahun-tahun menemanimu. Tapi jika ibu berpendapat, kau lebih memikirkan jika ingin membawa Cheryn ke jenjang yang lebih serius." ucap Marry hati-hati.
Edward tidak menyangkal, tapi dalam hatinya dia menekan bahwa ia masih sangat mencintai Cheryn.
"Tapi itu semua bergantung padamu. Ibu bukan Tuhan yang bisa tahu masa depanmu dengannya. Ibu hanya mengatakan pandangan Ibu. Tapi Ibu berdoa jika dia jodohmu, semoga kalian selalu bahagia." tutur Marry.
Edward tersenyum mendengarnya, "Iya Ibu. Kau memang selalu adil membuat keputusan. Aku menyayangimu Bu."
Ponsel Edward berbunyi di atas nakas, Marry melihat nama pemanggil.
Edward mengambil ponselnya, "Sebentar Bu, aku angkat telpon dulu." ujarnya.
Setelah beberapa menit, Edward kembali ke kamar.
"Siapa Naya?" tanya Marry.
"Teman Edward waktu kuliah dulu Bu. Dia adalah ketua reuni yang akan diadakan dalam waktu dekat ini. Jadi dia bertanya apakah aku bisa hadir di sana." Edward berbohong lagi.
Karena jika dia mengatakan teman di kantor, Marry akan curiga karena Marry kenal semua teman perempuannya.
Marry mengangguk, "Baiklah. Kau mandilah dulu. Ibu akan membuat sup agar tubuhmu kembali fit." ucap Marry.
Edward mengangguk, "Terima kasih Bu."