My Lovely Wife

My Lovely Wife
Keluarga Baru



Hari ini berbeda dari biasanya bagi Naya. Bagaimana tidak, kedatangan Marry yang tiba-tiba membuatnya cukup terkejut. Pagi ini, Marry sudah ada di dapur sedang memasak.


Naya turun dan melihatnya, garis itu merasa tidak enak ketika Marry memasak tapi dia malah baru bangun.


"Ibu, apa yang bisa aku bantu?" tanya Naya, dia tidak bisa tenang dan membiarkan Marry memasak sendirian.


"Tidak usah. Duduk saja di situ." tolak Marry.


Naya tidak menurut, dia berdiri di sana dengan perasaan segan. Marry melihatnya, dia tersenyum, rupanya Naya adalah sosok yang baik dan tenggang rasa.


"Baiklah. Kalau begitu ambil sayur di lemari pendingin dan bersihkan." ucapnya.


Naya dengan sigap melakukannya, tapi ketika dia membuka lemari pendingin, aroma khas dari bahan-bahan masakan menguar di hidungnya. Naya yang memang sensitif langsung menutup mulutnya, dia berlari ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya.


"Astaga!" Marry mendekat, lalu memijat sekujur tengkuk hingga punggungnya. "Sudah Ibu bilang tidak usah, tapi kau tetap memaksa."


Setelah Naya membasuh mulutnya dengan air, Marry membawanya duduk di kursi. "Kau duduk di sini saja dan jangan sentuh yang ada di dapur!" perintah Marry tegas.


Naya menurut dan sedikit menyesal. Akhirnya dia hanya duduk menonton Marry memasak.


Setelah beberapa waktu, Marry selesai memasak beberapa menu. Naya kagum melihat Marry yang pandai memasak.


"Ayo sarapan." Marry mempersiapkan semuanya dan Naya tinggal menyantap.


Setelah sarapan, keduanya duduk di ruang keluarga.


"Ibu sudah mengurus izin cutimu dan Ana sudah menyusun barangmu. Siang ini kita akan berangkat ke kota B." ucap Marry pada Naya.


Naya membelalak, dia terkejut mendengarnya. "Kenapa...?" Naya tidak tahu kenapa dia harus cuti. Dia bahkan tidak diberitahu bahwa ia akan pindah.


"Kau sedang mengandung keturunan keluarga Allen. Harusnya kau tidak pantas tinggal dan kuliah di sini." ucap Marry.


Naya masih belum mengerti dan jelas dia tidak mau pindah.


"Selama hamil kau tidak boleh kuliah, kau hanya fokus dengan kehamilanmu sampai kau melahirkan. Jangan khawatir soal kuliahmu, Ibu bisa mendaftarkanmu ke universitas terbaik yang kau mau, tapi setelah kau melahirkan." tutur Marry.


Jika Marry pikir Naya akan senang dengan hal itu, tentu saja tidak. Dia sudah nyaman di sini dan tidak mau kembali ke kota B.


"Ibu.... aku tidak bisa..."


"Sayang..." Marry memegang dagunya lembut, "Ibu tahu kau tidak akan senang dengan keputusan ini. Tapi kau harus tahu bayi dalam perutmu sangat berharga bagi keluarga kami. Ibu sudah mendengar sudah dua kali kau hampir keguguran. Ibu tidak mau ambil resiko, keluarga Allen baru saja kehilangan seseorang yang berharga, dan tidak ingin kehilangan lagi." ujar Marry, berusaha membuat Naya mengerti.


Naya bingung, sebenarnya siapa keluarga Allen ini? Sepertinya mereka adalah keluarga terpandang di kotanya, tetapi kenapa ia tidak mengenal mereka.


Saat siang tiba, Naya sudah dalam perjalanan ke kota B. Karena sedang hamil, perut Naya rentan jika naik pesawat, maka dari itu mereka naik mobil sehingga memakan waktu yang lama.


Marry dan Naya sampai di kota B saat sore hari menjelang. Naya terpana melihat keindahan rumah megah itu ketika baru saja memasuki pekarangan rumah. Sebuah istana, gumamnya.


Marry membawanya ke sebuah ruangan terpisah dimana sudah ada seorang laki-laki paruh baya bertubuh besar di sana.


"Kalian sudah sampai?" sapa pria itu. Marry memeluk dan mendapat ciuman di keningnya oleh pria itu. Dari situ Naya yakin, bahwa pria itu adalah suami Marry.


"Sayang, beri salam pada Ayah." ucap Marry.


Naya menurut, dengan canggung menyapa Scott. "Halo... Ayah. Aku Naya...."


Scott tersenyum, pria itu mendekat dan memeluk singkat Naya. "Panggil aku Ayah Scott. Selamat datang di rumah ini. Ayah harap kau betah tinggal di sini. Dan terima kasih sudah mau mengandung keturunanku." ucap Scott.


Jika menghadapi orang lain Scott sangat dingin dan datar, tapi pada Naya pria itu lebih akrab dan humble, layaknya memperlakukan putrinya sendiri.


Naya mengangguk, "Jangan takut pada kami. Anggap saja kami orang tuamu, karena kami sudah menganggapmu seperti putri kami." ucapnya. Scott tidak ingin Naya merasa tertekan dan terasingkan di rumah ini.


"Dimana Edward?" tanya Marry.


"Di kantor. Kau tahu karena Cheryn dia mengabaikan perusahaan. Makanya sekarang dia sedang kalang kabut dengan masalah di perusahaan." tutur Scott.


Marry mengangguk, "Ayo Nak, kita ke kamarmu." ajak Marry pada Naya.


Marry sudah menyuruh pelayan menyiapkan kamar Naya, dan sengaja menggunakan kamar di lantai satu agar Naya tidak usah naik turun tangga.


"Istirahatlah sebentar, kau pasti lelah." ucap Marry.


Naya mengangguk, memang dia cukup mengantuk dan lelah karena perjalanan. Dia akhirnya tertidur di ranjang empuk yang tentunya berharga ratusan juta itu.


"Dia terlihat seperti gadis yang baik." ujar Scott.


"Memang. Orang tuanya mendidiknya dengan hebat." timpal Marry.


"Bagaimana menurutmu? Apakah dia pantas menjadi menantu kita meski latar belakang keluarganya berasal dari keluarga kecil?" tanya Marry pada sang suami.


"Kau dan aku sama. Dari dulu aku tidak pernah mempermasalahkan latar belakang seseorang. Ingat, Ibuku berasal dari keluarga sederhana, tapi Ayahku mencintainya." balas Scott.


"Aku paham. Tapi sekarang Cheryn, bagaimana perasaannya jika dia tidak jadi menikah dengan putra kita?"


"Dari dulu Ayah tidak pernah memandang wanita itu. Pandanganku sama dengan pandangan Ibu. Sekali pun orang lain melihat seseorang baik, aku bisa merasakan sesuatu yang tidak beres."


"Benarkah? Tapi aku lihat kau baik pada Cheryn selama ini?" Marry heran.


"Tidak ada yang salah dengan itu selagi dia tidak macam-macam. Dan lagi pula, orang lain tidak harus tahu kita tidak menyukai seseorang." jawabnya.


Scott mengambil sebuah amplop kuning dari laci meja kerjanya dan memberikan pada Marry. "Jangan cemaskan Cheryn. Yang penting sekarang kau bisa membuat Edward hanya melihat Naya."


Ucap Scott, sementara Marry membelalak setelah melihat isi amplop yang diberikan suaminya.