My Lovely Wife

My Lovely Wife
Gadis Ceria



"Kau akan bilang kalau aku naif jika aku mengatakan tidak merasa terbebani dengan keadaanku sekarang. Tetapi aku belajar menerima semua yang terjadi. Tidak ada yang bisa kusalahkan. Kau juga dijebak dan anak ini tidak diminta untuk dilahirkan. Jadi, aku hanya akan menerimanya dan berusaha menikmati apa yang kurasakan." ujar Naya.


Naya menatap Edward intens, "Apalagi kau membantuku, membuatku lebih baik." ujarnya.


Setelah pembicaraan mereka pagi itu, Edward mulai paham akan sifat Naya. Naya adalah sosok yang tulus dan baik, membuatnya tidak tega menyakiti perasaannya.


Hal itu yang membuat Edward mengambil keputusan, bahwa dia yang akan merawat Naya sampai melahirkan.


Dimulai dari menyiapkan sarapan hingga makan malam. Siap siaga ketika Naya butuh sesuatu. Dengan bantuan Ana dan Bi Sara Edward melakukannya dengan mudah.


Sudah dua hari ini Naya masuk kuliah lagi. Di kampus tidak ada lagi yang berani mengganggu Naya, bahkan gadis yang mengganggunya tempo hari tiba-tiba pindah ke Amerika.


Sementara Edward, yang ia fokuskan saat ini adalah Naya. Untuk masalah perusahaan ia serahkan pada Josh, dia hanya akan bekerja dari rumah saja.


"Kau belum tidur?" Edward masuk ke kamar Naya. Wanita itu sedang duduk di depan komputernya.


"Iya. Satu minggu tidak masuk, tugasku menumpuk. Aku harus menyelesaikannya, kalau tidak nilaiku akan turun dan beasiswaku akan dicabut." Naya cukup sedih mengatakannya.


Edward duduk di sofa yang menghadap Naya. Selama ini Naya sudah mulai terbiasa akan kehadiran dan perhatiannya.


"Naya, saat bersamaku kau tidak perlu khawatir masalah uang. Kau tidak kalau kau adalah tanggung jawabku sejak dua bulan lalu. Apapun yang kau mau aku akan memenuhi semuanya." ucap Edward.


"Tetapi sampai kapan? Tidak selamanya aku akan bergantung padamu." ujar Naya.


"Kalau kau mau, aku akan membiayaimu seumur hidupmu." ujar Edward tegas membuat Naya diam.


Naya menggeleng, "Aku berterimakasih karena membantu biaya hidupku. Tetapi, setelah aku melahirkan, aku tidak akan bergantung padamu. Aku menerima segala bantuanmu saat ini, semata-mata agar kau tidak terus dihantui perasaan bersalah." ucap Naya.


Edward tersenyum kecil, dia sadar gadis di hadapannya sangat unik. Di saat wanita lain akan berjingkrak senang mendapat uang darinya, gadis ini malah sebaliknya.


"Baiklah, aku mengerti. Tapi sekarang jangan buat tubuhmu lelah." Edward berdiri dan menarik Naya agar berdiri. "Tidurlah. Aku akan mengerjakan tugasmu." ujarnya.


Naya mengangkat alis, dia ragu akan kemampuan pria itu. "Memangnya kau mengerti?" yang mana membuat Edward tertawa.


"Aku juga mengambil jurusan ini saat kuliah." ujarnya.


"Baiklah. Terima kasih. Tapi aku akan duduk di sofa. Aku tertidur sepanjang sore tadi, mataku masih segar." ujarnya sambil berjalan ke sofa.


Edward mengerjakan tugas Naya yang sangat mudah baginya, sementara Naya memperhatikannya.


"Memanggil namamu langsung sebenarnya membuatku risih." ujar Naya membuka pembicaraan.


"Kenapa?" mata elang itu fokus ke komputer.


"Sepertinya umur kita berbeda jauh, aku tidak sopan denganmu. Ngomong-ngomong berapa umurmu?"


"Dua puluh tujuh."


Mata Naya melotot, dia terkejut. Ternyata Edward setua itu.


Edward tiba-tiba menatapnya, "Kau boleh memanggilku sesukamu, tapi jangan Paman atau Pak!"


"Kenapa?"


"Aku tidak setua itu. Aku masih muda."


"Nyatanya umur kita bera jauh."


"Naya." nada suara Edward tidak ramah. "Panggil saja aku Edward. Tidak apa-apa!" tegas Edward.


"Baiklah Edward." tubuh Edward berdesir mendengar mulut manis gadis itu memanggil namanya.


"Aku penasaran dimana rumahmu di kota B?" Naya yang masih belum mengantuk selalu mencari topik.


"Lumayan jauh dari rumahmu." jawab Edward, sementara tangannya lancar mengetik di papan keyboard.


"Pasti. Kalau dekat tidak mungkin aku tidak mengenalmu."


"Memangnya kau kenal orang-orang di lingkunganmu?"


"Tentu saja. Keluargaku punya restoran kecil, dan pelanggannya hampir semua dari lingkungan sekitar."


"Begitukah? Bagaimana cita rasa restoran keluargamu. Haruskah aku mencobanya." balas Edward, dia cukup penasaran akan gadis ini. Beruntung Naya bercerita tanpa harus bertanya lebih dulu.


"Dulu hanya restoran biasa, tetapi sekarang sepertinya akan berubah menjadi restoran Asia." ucap Naya sambil terkekeh.


"Kenapa?"


"Keluargaku bertemu seseorang beberapa bulan yang lalu. Beliau baik dan memberikan resep pada ibuku. Ternyata menu baru itu menjadi menu andalan restoran keluarga kami. Tidak hanya satu resep, ada beberapa, bahkan menu lama sudah tidak kami gunakan lagi. Dan kami sangat bersyukur, berkat orang itu restoran semakin ramai pelanggan." Naya bicara panjang lebar sambil tersenyum.


"Apakah seenak itu?"


Naya sangat bersemangat, "Tentu saja. Beberapa hari yang lalu, ibu mengirimkannya dan menantangku memasak persis seperti itu rasanya. Dan itu berhasil, rasanya persis seperti buatan orang itu. Kau mau mencobanya?" Naya menawarkan.


"Selagi kau tidak keberatan dan tidak merepotkanmu, tentu saja aku mau." jawab pria itu.


"Baiklah. Besok aku akan membuatnya."


Entah kenapa Naya senang sekali malam itu. Bahkan Edward pun heran dibuatnya. Dari awal dia pikir Naya adalah sosok yang sedikit bicara dan tersenyum.


Beberapa waktu berlalu, suasana kamar menjadi hening. Edward melihat Naya sudah tertidur di sana. Pria itu segera berdiri dan menghampiri calon ibu tersebut.


Edward memindahkan Naya ke tempat tidur dan menyelimutinya. Pria itu tidak berniat pergi, ia duduk di samping Naya. Tangannya sangat lancang mengusap dan menyisipkan rambut Naya.


Wajah itu sangat teduh ketika tidur. Edward tersenyum dibuatnya, entah kenapa dia senang memandangi wajah gadis tersebut.


"Kau menyimpan beban, tapi kau sangat pandai menyembunyikannya." gumam Edward.