
Edward mengirim beberapa pesan pada Naya, tapi Naya sama sekali tidak menggubrisnya. Pria itu menebak Naya mungkin kesal karena dirinya tak kunjung kembali.
Naya hanya melihat layar pesan Edward di ponselnya tanpa membuka balon obrolan mereka.
Ia mulai menekan remot TV dan mencari tontonan yang menurutnya menarik. Naya sedang berada di ruang tamu siang itu. Sudah beberapa hari ini dia tidak kuliah dan memilih bersantai di rumah, padahal kondisi tubuhnya tidak terlalu lemah untuk kuliah. Tetapi karena keinginan bayinya, untuk melakukan apa saja pun dia sangat malas.
Naya sendirian di rumah, Bi Sara sedang belanja kebutuhan diantar oleh suaminya, sementara Ana keluar mengambil kiriman orang tuanya dari lobi.
Bel apartemen berbunyi, pertanda bukan salah satu dari mereka yang pulang. Karena jika itu Ana atau Bi Sara, mereka tidak akan menekan bel.
Naya berjalan menuju pintu masuk, tanpa melihat layar yang bisa melihat siapa tamu yang datang Naya langsung membuka pintu.
Seorang wanita paruh baya berdiri dan cukup terkejut melihatnya. Naya juga sama terkejutnya.
"Siapa?" tanya Naya dengan suara kecil.
Wanita itu tidak menjawab, dia memindai Naya dari atas hingga bawah dengan ekspresi datar.
"Maaf. Ada yang bisa saya bantu?" Naya risih dilihat seperti itu dan tidak terlalu menyukai sikap tidak sopan wanita itu. Tapi dia tetap bersikap sopan dan ramah.
"Saya pemilik apartemen ini." ucap wanita tersebut tegas. Wanita itu langsung masuk melewati Naya.
Mendengar itu Naya melebarkan matanya, ia berbalik mengikuti wanita yang masuk dan duduk di ruang tamu.
Wanita tersebut melihat TV menyala dan ada bungkusan biskuit di atas sofa bekas Naya tadi, "Kau sedang menonton? Maaf sudah mengganggumu." tersirat nada sindiran di ucapan itu.
Wanita itu melihat Naya sambil mengangkat alisnya, "Kau pelayan baru?" tanya wanita tersebut dan jelas Naya terkejut. Dia tidak menjawab tapi wanita itu menganggapnya demikian.
"Saya Ibunya Edward dan sekaligus pemilik apartemen ini." ucapnya karena berpikir Naya tidak tahu siapa dirinya.
Lagi-lagi Naya terkejut, jujur saja dia takut.
"Siapa namamu?" tanya wanita itu.
Naya bingung, dia cukup lama menjawab, "Saya Naya... Nyonya." suaranya tercekat.
"Naya, oke, sekarang tolong bawakan air putih, tenggorokanku kering." perintahnya pada Naya.
Naya menurut saja dan segera pergi ke dapur. Di dapur Naya melepas nafas lega. Dia takut apa yang akan terjadi setelah ini. Bagaimana jika wanita itu tahu siapa dia sebenarnya? Apakah wanita itu jahat dan akan memperlakukannya dengan buruk?
Cukup lama ia menenangkan diri di sana, dan dengan perasaan takut membawa air putih.
"Naya, tidak sopan memakai fasilitas milik Tuanmu. Di belakang juga disediakan TV bukan, kau bisa menonton di sana." ucap wanita itu dengan tegas.
Naya mengangguk, wajah takutnya semakin menjadi setelah melihat gaya bicara dan intimidasi wanita ini.
"Baik Nyonya." jawabnya dengan suara kecil.
Wanita itu melihat penampilan Naya lagi, gaun selutut yang cukup kebesaran menarik perhatiannya. Sebenarnya itu adalah gaun hamil, tapi perut Naya belum terlalu besar, makanya tidak terlihat seperti orang hamil di balik gaun itu.
"Bukankah ini gaun hamil?" jelas wanita tersebut mengetahuinya.
"Saya..."
"Nona, kiriman dari keluargamu akan saya simpan di...." Ana yang baru saja datang berhenti setelah melihat majikannya di sana.
"Nyonya, Anda datang?" Ana menunduk dan menyapa dengan sopan wanita itu.
Wanita itu tidak menghiraukan sapaannya, "Nona? Siapa Nona yang kau maksud Ana?" bertanya dengan tegas dan mengintimidasi. Dan jelas Ana tidak bisa membohonginya.
Wanita itu kemudian melihat Naya, dan bergantian melihat Naya penuh tanya. "Apakah gadis ini yang kau maksud?" Ana tidak menjawab, tapi itu sudah cukup untuk wanita itu.
"Ana, saya mau bicara empat mata denganmu!" ucapnya, kemudian berjalan menuju balkon. Di sana, Ana menceritakan semua kebenarannya.
Ya, wanita itu adalah Marry ibunya Edward. Wanita itu datang dari kota B untuk memastikan apa yang terjadi. Sikap Edward akhir-akhir ini, membuatnya curiga. Edward sering mengangkat telepon secara diam-diam dan jika ditanya selalu bersikap aneh.
Marry seorang ibu, feelingnya kuat terhadap putranya. Maka dari itu dia akan mencari tahu langsung, karena Edward tidak akan memberitahunya.
Dan benar saja, Edward ternyata melakukan kesalahan yang fatal. Putranya yang ia anggap baik ternyata melakukan hal yang keji di belakangnya.
Marry duduk lemas di sofa tadi setelah selesai bicara dengan Ana. Naya datang setelah Ana memanggilnya.
Marry menatap Naya lekat, terutama wajahnya yang polos seperti wajah tak berdosa. Dan Marry yakin Naya masih muda.
"Duduklah." ucapnya.
Naya yang sebelumnya sudah tahu dirinya akan diadili menurut saja dan duduk di seberang Marry.
"Ceritakan dirimu dan bagaimana kau bisa mengandung bayi milik Edward." perintahnya.
Ana tidak menceritakan bagaimana Naya menjadi seperti ini, karena memang tidak ada yang tahu peristiwa itu kecuali Edward, Josh dan tentu saja musuh Edward yang menjadi dalang dari semuanya.
"Nama saya Naya Kazani..." Naya menceritakan semua dan peristiwa itu.
Setelah mendengarnya, Marry menutup mata. Mengetahui Naya hanyalah korban membuat rasa iba dan perasaan bersalah yang besar pada Naya. Naya masih muda dan masa depannya masih panjang. Harus ia jalani dengan terjebak dengan kehamilan ini.
"Kemarilah." menepuk sofa di sampingnya.
Marry bisa melihat Naya takut padanya, oleh karena itu dia merendahkan suaranya ketika bicara dengannya.
Marry merangkul pundak Naya dan mengelusnya lembut.
"Jangan takut denganku. Aku ibunya Edward dan aku turut bertanggungjawab atas perbuatannya." ucap Marry.
Meski sebelumnya dia ketus pada Naya, tapi saat itu ia pikir Naya adalah pelayan yang bersikap tidak sopan di sini. Sebenarnya Marry adalah wanita yang lembut, tapi ia akan tegas terhadap hal yang salah.
Naya lega mendengarnya, dia pikir Marry sama seperti orang tua lainnya.
"Baik." Naya tidak tahu memberikan panggilan pada Marry.
"Panggil aku Ibu." ucap Marry dann Naya mengangguk.