My Lovely Wife

My Lovely Wife
Terbongkar



Marry mengelilingi apartemen untuk melihat bagaimana Edward memfasilitasi Naya. Dan ternyata Edward benar-benar melakukannya dengan baik.


Tapi bukan ini yang Edward lakukan seharusnya. Bertanggungjawab bukan hanya soal materi dan keselamatan Naya. Tetapi status.


Marry bisa melihat Naya berasal dari keluarga baik-baik. Tentu saja memiliki putri yang hamil tanpa suami adalah sebuah aib bagi mereka.


Kenapa Edward tidak terpikirkan hal itu? Meski mereka hidup di negara yang bebas, tetapi keluarga mereka tidak memperbolehkan budaya itu. Harusnya Edward juga memikirkan bahwa Naya juga gadis yang menginginkan sebuah kehormatan.


Marry masuk ke kamar Naya setelah membiarkan gadis itu tertidur setelah pembicaraan mereka yang panjang. Marry bersikap baik padanya dan memperlakukannya seperti layaknya menantu.


Kebetulan Naya baru bangun saat itu. Naya masih sedikit canggung padanya karena masih baru bertemu.


"Sudah bangun?" yang diangguki oleh Naya. Marry memberi isyarat agar Naya duduk bersamanya di sofa.


"Bagaimana kau kuliah sementara dalam kondisi hamil?" tanya Marry.


"Edward membuatku nyaman di kampus, dia tidak membiarkan orang lain menggangguku. Dan untuk belajar, karena masih pemula aku tidak perlu kerja keras untuk itu." ucap Naya tanpa ingin membuat Marry cemas seperti tadi saat ia menceritakan kisahnya.


"Tetap saja. Ibu tidak mau tahu. Kau harus cuti untuk beberapa waktu sampai kau melahirkan." tegas Marry.


"Tapi Bu, satu semester bahkan belum kulewati." jelas Naya tidak mau cuti. Dia mendapat beasiswa di sana, jika ia cuti mata beasiswanya akan dicabut.


"Tidak masalah untuk itu. Saya bisa menyekolahkanmu di universitas terbaik di dunia. Yang penting sekarang kau dan bayimu sehat. Janin dalam perutmu adalah keturunan Allen yang pertama, jadi jangan main-main!" ucap Marry yang tidak bisa dibantah oleh Naya.


Marry menghela nafas, dia tidak habis pikir dengan gadis di depannya. Entah Naya memang polos atau apa.


"Nak, kenapa kau tidak meminta Edward menikahimu?" tanya Marry.


Naya mematung mendengar itu. Menikah? Tentu saja Naya tidak terpikir akan hal itu. Saat Naya tahu bahwa dirinya hamil, yang ada di pikirannya adalah pergi sejauh mungkin dan berharap tidak bertemu lagi.


Naya pikir dia masih muda, menikah adalah tujuannya nomor terakhir. Jelas dia tidak akan mau menikah di usia mudanya. Selain itu dalam prinsipnya, Naya menganggap pernikahan adalah suatu hal yang suci dan tidak pantas dipermainkan.


"Aku... aku dan Edward tidak saling kenal. Dia bertanggungjawab padaku karena bayi ini." ucapnya terbata-bata.


"Justru karena itu, kau mengandung anak Edward. Tanggungjawabnya bukan hanya sekedar finansial, tetapi juga kehormatanmu dan kejelasan status anak ini kelak juga harus dipertanggungjawabkan!" ucap Marry.


Naya diam cukup lama, dia memikirkan hal itu, memang benar apa yang Marry katakan. Tetapi tetap saja dia tidak mau menikah dengan Edward.


"Aku...."


Marry tidak ingin Naya terbebani dengan hal ini. Dia yang akan menangani semua ini tanpa membuat Naya stres.


Sementara di kota B, Edward baru saja pulang dari rumah Cheryn setelah sebelumnya membawa Cheryn check up. Ketika sampai di rumah yang ia cari pertama adalah sang Ibu.


Kebetulan pelayan memintanya untuk menemui sang Ayah.


"Ayah, ada apa memanggilku?" sapa Edward sambil duduk di sofa.


"Sampai kapan kau akan menjadi baby sitter perempuan itu!"


Untuk pertama kalinya sang Ayah bicara ketus padanya, membuat Edward heran. Edward bisa melihat kondisi hati Scott sedang tidak baik.


"Ayah ada apa? Kenapa kau marah padaku?" Edward tetap sopan.


"Semua urusan perusahaan kau limpahkan pada asistenmu. Dia ke sana kemari dan melakukan tugas yang seharusnya adalah tugasmu. Sementara kau malah asik dengan dunia percintaanmu!" cecar Scott.


Ini pertama kalinya Scott begitu marah pada putranya. Edward juga heran, jika masalah dia yang mengabaikan perusahaan karena merawat Cheryn, sang Ayah biasanya akan bicara baik-baik menasehatinya.


Tapi sepertinya, Scott mengetahui kesalahannya. Pria paruh baya itu melemparkan sebuah foto. Dimana foto seorang gadis muda dengan wajah polosnya.


Naya.


Edward terkejut melihatnya. Anak muda itu menutup mata, ia menarik nafas dalam. Ternyata orang tuanya sudah mengetahui rahasianya.


"Ayah aku bisa menjelaskan ini... Ini tidak seperti yang Ayah pikirkan." ucap Edward yang berusaha menjelaskan.


"Jelaskan setelah kau menikahi gadis itu!" sembur Scott dengan sorot mata tajamnya. Ini adalah sebuah perintah dan Edward tidak bisa membantahnya.


Scott adalah sosok Ayah yang baik. Dia tegas dan bijaksana dalam mendidik Edward. Selama menjadi seorang Ayah, Scott jarang marah pada sang putra, karena Edward melakukan tugas dan jarang mengecewakannya. Tetapi kali ini, Scott kecewa pada putranya tersebut karena melakukan sebuah kesalahan besar.


Sebenarnya tidak masalah baginya akan apa yang telah Edward lakukan. Tapi caranya mengatasi masalah adalah hal yang mengecewakan.


"Tinggalkan Cheryn dan berhenti menjadi budak cintanya! Kau menjadi bodoh karena perempuan itu!" ucap Scott.


Edward hanya bisa mendengar tanpa bisa membantah. Kemarahan Scott untuk yang pertama kali membuatnya mengalami tekanan yang berat.


"Ibumu sudah di sana menemani gadis itu. Besok mereka akan datang. Pernikahan kalian akan diadakan sederhana saja, karena jika publik tahu, akan jadi masalah nantinya." ucap Scott.


Scott memberikan dokumen pada Edward, "Ini adalah berkas milik perusahaan D.O Corps. Di sana ada bukti penggelapan uang saat proyek tahun lalu."


Mendengar itu Edward menjadi serius, D.O Corps adalah rival perusahaan mereka dan juga yang turut andil mengacaukan hidupnya seperti saat ini.