
Edward baru saja diberikan keputusan yang sangat berat oleh Scott. Dimana dia harus memutuskan hubungannya dengan wanita yang sangat dia cintai, kemudian menikahi seorang gadis malang.
Edward dilema oleh dua gadis itu. Yang satu dia cintai dan yang satu lagi memang sudah menjadi tanggung jawabnya.
Saat ini Edward sedang berada di depan rumah Cheryn. Ia cukup ragu melangkah masuk ke dalam rumah. Tapi setelah sekian malam ia memikirkan akhirnya ia telah mengambil keputusan.
Begitu Edward memasuki rumah itu dan menyampaikan tujuannya pada sang pujaan hati, suasana rumah itu seketika berubah menjadi suram oleh kehisterisan Cheryn.
"Apa maksudmu Edward?!" teriak Cheryn ketika Edward baru saja memutuskan hubungan mereka.
Sementara Edward hanya diam saja. Ia tahu ini sulit bagi Cheryn, tapi ia harus melakukannya. Edward pikir ia akan menyelesaikannya satu demi satu. Ia tidak ingin terikat dengan dua wanita sekaligus. Dan jika Cheryn memang jodohnya, bagaimana pun caranya mereka pasti kembali bersama.
"Jangan diam saja! Katakan kalau kau hanya bercanda! Ini tidak lucu sama sekali!" cecar Cheryn sambil mengguncang tubuh pria itu. Sementara air mata sudah membanjiri wajah cantiknya.
Edward tidak tega melihatnya, ia mengusap air mata Cheryn, "Maafkan aku Cheryn. Ada sesuatu yang tidak bisa kuceritakan padamu. Aku tidak punya pilihan lain selain harus meninggalkanmu. Kalau kita ditakdirkan bersama, kita pasti akan bertemu suatu saat nanti." ucap Edward.
Edward tidak sanggup berkata apapun lagi pada Cheryn. Ia tidak ingin melihat wanita itu menangis, membuatnya segera meninggalkan tempat itu.
Tempat yang Edward tuju setelah dari rumah Cheryn bukanlah rumah orang tuanya. Melainkan bar yang ada di pusat kota B. Edward berusaha menghilangkan stres dengan meminum alkohol.
Pria itu kalap hingga ia menghabiskan tiga botol alkohol yang membuatnya mabuk berat. Beruntung pemilik bar yang mengenal Edward segera menghubungi Josh untuk menjemput Edward. Jika tidak, pria itu akan menjadi santapan lezat wanita-wanita malam.
Josh membawa Edward ke apartemennya. Karena jika ia membawa ke rumah orang tuanya, maka Edward akan dalam masalah.
Keesokan harinya, Naya sudah berkumpul dengan Scott dan Marry di sebuah ruang santai. Marry banyak bercerita tentang keluarganya, terutama masa kecil Edward pada Naya.
Meski sebenarnya Naya tidak tertarik akan hal itu, dia tetap mendengarnya dan sesekali menanggapinya.
Naya cukup nyaman berada di rumah ini, karena pasangan itu adalah orang yang baik, dan pelayan-pelayan di rumah itu juga memperlakukannya dengan baik.
Tapi Naya baru menyadari sesuatu, sudah lama ia berada di ruangan ini, Naya teralihkan oleh sebuah foto yang menempel di dinding ruangan itu.
Naya mempertajam pandangannya, dan benar saja wajah di foto itu sangat familiar dengan Nenek Allen yang dia temukan beberapa bulan yang lalu.
"Ibu..." panggil Naya.
"Iya, ada apa?"
"Itu foto siapa?"
"Ibu mertuaku. Dia yang ibu ceritakan baru saja. Dia menghilang entah kemana." jawab Marry.
Naya menahan rasa terkejutnya, yang benar saja. Apakah ini hanya sebuah kebetulan atau memang sudah ditakdirkan? Jadi ternyata Nenek Allen adalah Ibu mertua Marry dan sekaligus Neneknya Edward? Naya sungguh tidak habis pikir.
"Ibu mertuaku pasti akan menyukaimu jika kalian bertemu." ucap Marry.
Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Marry, Naya kembali ke kamar dan mengunci pintu.
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo Nek." sapa Naya.
Seperti biasa Nenek Allen menyapanya dengan semangat dan menanyakan kabarnya.
"Nenek, sekarang Naya ada di rumahmu." ucap Naya tanpa basa-basi dan jelas membuat Nyonya Allen diam.
"Jadi kau sudah dibawa ke sana? Siapa yang membawamu?" tanya Nyonya Allen.
"Apa maksud Nenek?" tanya Nata, dia tidak habis pikir mendapat respon seperti itu.
"Sayang, jadilah anak yang baik selama di sana. Buat Edward tergila-gila padamu. Dan tolong jangan beritahu mereka kalau Nenek ada di sini." ujar Nyonya Allen dengan santai, sementara Nata semakin bingung dibuatnya.
"Maksud Nenek apa? Naya tidak mengerti." cecar Naya.
"Sudah ya sayang. Ibumu sangat repot, nenek harus membantunya. Kau baik-baik di sana. Dan jangan lupa pesan Nenek." telepon langsung diputuskan oleh Nyonya Allen.
"Apa maksud Nenek sebenarnya. Apa Nenek tahu apa yang terjadi padaku?" Naya bergumam.
Sepanjang hari Naya memikirkan hal itu, hingga saat makan malam pun Naya tetap memikirkannya.
Setelah makan malam, ia tertidur dengan cepat meski ia dihantui rasa penasaran.
Saat tengah malam, Edward pulang ke rumah orang tuanya. Sebelumnya ia sudah tahu bahwa Naya ada di sini. Entah kenapa kakinya membawa ia melangkah menuju kamar gadis itu. Edward ingin tahu bagaimana keadaan Naya saat ini.
Saat Edward masuk ke kamar Naya, gadis itu sudah tertidur. Naya tidur pulas, meski begitu ia tetap cantik dan segar.
Edward tersenyum melihat wajah sendu gadis itu. Jemarinya dengan lembut mengelus pipi mulusnya.
Ada perubahan pada Naya sejak mereka bertemu terakhir kali. Wanita itu lebih berisi dari sebelumnya dan pipinya sedikit mengembang. Tapi itu tidak membuatnya menjadi jelek, bahkan Naya terlihat menggemaskan di mata Edward.
Selain itu, perut Naya juga sudah semakin bulat dan keras. Edward sangat ingin menyentuh buah hatinya. Ia meletakkan tangannya di atas perut Naya. Detak jantung terasa dan itu sangat memuaskan Edward malam itu.
Pelupuk matanya berair saat menyadari bahwa ia memiliki darah daging. Edward tidak sabar menanti anak ini lahir.
Pagi menjelang, seperti biasa Marry datang ke kamar Naya untuk membangunkannya. Wanita itu terkejut dan saat sebentar ia tersenyum melihat pemandangan indah di kamar Naya.
Marry tidak ingin menganggu dua insan yang sedang berpelukan itu dan menutup pintu kamar lagi.
Mendengar suara pintu tertutup, Edward yang saat itu bersandar di kepala ranjang sambil merangkul Naya tiba-tiba terbangun. Edward merutuki dirinya yang tertidur semalam di sini.
Edward takut Naya terbangun dan melihatnya di sini. Oleh karena itu, ia bergerak dengan hati-hati. Tapi ternyata Naya sangat sensitif di pagi hari. Mata gadis itu terbuka begitu saja. Manik hitam itu membuat sempurna melihat Edward.
"Edward?"
Edward bergegas menjauh, "Maaf, aku ketiduran tadi malam." ucap pria itu.
Bukannya marah karena Edward berani tidur di sampingnya, Naya malah senang. Tapi ia menyembunyikan perasaannya. Meski sebenarnya ia sangat merindukan pria itu dengan sangat. Dua hari dia tinggal di rumah ini, yang ia cari adalah Edward.
"Tidak apa-apa." ucapnya lembut. "Kau dari mana saja?" tanya Naya.
Naya menepuk sisi tempat tidur agar Edward duduk di sana.
"Pekerjaanku sangat banyak. Maaf aku tidak pernah mengunjungimu. Karena pekerjaanku, aku sampai tidak sadar Ibuku mencari tahu apa yang kulakukan di kota A. Bagaimana orang tuaku, apakah mereka baik padamu?" jelas Edward.
Naya mengangguk, "Orang tuamu sangat baik." jawab Naya.
"Bagaimana kandunganmu, apakah masih sering mual?" tanya Edward.
"Masih, tapi tidak separah waktu di kota A. Ibumu sangat pandai merawat orang hamil." Naya menceritakannya dengan ceria.
"Tentu saja. Ibuku adalah dokter kandungan." jawab Edward.
"Benarkah?" Naya tidak menyangka hal itu.
"Iya. Tapi dua tahun terakhir dia pensiun karena ingin fokus merawat Ayah." jelas Edward.
Suasana hening, keduanya saling memandang cukup lama.
"Edward....." panggil Naya. "Bagaimana nasibku selanjutnya? Ibumu memberhentikan aku kuliah dan menyarankan untuk fokus dengan kehamilanku." tanya Naya.
Edward tidak langsung menjawab, sebenarnya kedua orang tuanya telah merencanakan pernikahan untuknya dengan Naya. Tapi jujur saja, Edward ragu dengan keputusan itu. Dan tentu saja Naya juga tidak akan menyetujui hal itu.
Edward sudah mengenal sifat Naya, gadis itu tentu tidak akan mengorbankan masa depannya dengan pria tua sepertinya.
"Naya, kau tahu selama ini aku yang selalu mengambil keputusan dalam hidupku. Semua itu karena Ayah percaya padaku dan setiap keputusan yang kuambil sejalan dengan pemikiran Ayahku." Edward memberikan pengertian pada Naya.
"Tapi apa yang kulakukan padamu adalah kesalahan besar yang berhasil membuat Ayah kecewa. Maka dari itu, aku hanya akan pasrah dengan keputusan mereka." jelas Edward.