
Luka yang timbul akibat terjatuh membuat Vanya kesulitan untuk berjalan dan membuat wendigo tersebut merasa sangat kelaparan dan haus akan daging di sebabkan oleh luka segar yang terdapat pada kaki Vanya.
"Vanya, akhirnya kau masuk kedalam perangkap ku." ucap wendigo tersebut dengan menjulurkan kuku - kukunya.
"Lepaskan aku!" Bentak Vanya marah.
"Ternyata ibu mu dan dirimu sama saja, kau tahu betapa berharganya daging mu itu." ucap wendigo tersebut sembari menelusuri setiap rak buku didalam tersebut.
"Berhenti lah!" pinta Vanya.
"Teriakan kamu itu tidak ada gunanya, aku akan menikmati sedikit demi sedikit daging mu." ucap wendigo sombong tersebut.
Wendigo tersebut pun kemudian mulai membacakan mantra yang membuat Vanya kesulitan bergerak dan merasa kesakitan.
"Argh! , tulang ku." teriak Vanya.
"Tidak ada gunanya gadis lugu." jawab wendigo tersebut.
"Ayah!" teriak Vanya.
Wendigo tersebut menghiraukan teriakan Vanya dan membuat Vanya tidak berkutik.
"Tidak bisa sekarang!" dorong ruh anak lelaki yang Vanya temui tadi sehingga membuat wendigo tersebut terjatuh.
"Ayo kak, kita pergi dari sini." gumam ruh anak lelaki tersebut sembari merangkul Vanya.
Wendigo tersebut tidak membiarkan mereka berdua pergi dan mengutuk rumah tua tersebut.
"Ngarsai sainthoet ko pate mi r i aarautko kyane sell!" ucap wendigo tersebut keras sembari menjatuhkan tongkatnya. [Aku mengutuk tempat ini agar dirimu terperangkap!].
"Bagaimana ini?" tanya Vanya.
"Mau lari kemana kau Vanya." ucap wendigo tersebut sembari mengangkat tubuhnya yang kemudian mengulurkan lidahnya menuju luka Vanya yang terbuka.
"Yak!" ucap Vanya memberontak.
"Darah mu begitu segar, ah badan ku merasa kuat." gumam wendigo itu dengan jahat.
Wendigo itu melempar Vanya ke arah dinding sehingga membuat dirinya mengalami memar di sekitar punggungnya.
"Aku harus keluar." ucap Vanya sembari menyeret dan menahan rasa sakit pada tubuhnya.
Vanya menyeret tubuhnya menuju pintu kemudian beranjak keluar meninggalkan rumah tua tersebut.
"Hahaha, hanya dengan darahnya saja sudah membuat ku kuat apalagi jika aku memakan seluruh dagingnya yang segar maka aku tidak terkalahkan." gumam wendigo tersebut sembari mencari Vanya keluar dari rumah tua tersebut.
"Argh! kaki ku" ucap Vanya yang terus berlari ke hutan seraya berharap menemukan jalan perdesaan.
"Vanya, aku tahu kamu dimana." gumam wendigo tersebut.
Vanya yang terus berlarian mencari jalan perdesaan tidak sadar jika dia berada semakin jauh masuk ke tengah hutan.
"Astaga! ini jurang" ucap Vanya panik.
"Kamu tidak akan bisa lari dari wendigo jahat seperti ku, hahaha!" ucap wendigo tersebut yang mengangkat tubuh Vanya dan membacakan mantra agar sebagian daging di tubuhnya terkelupas.
"Neska hau madarikatzen dut, bere indar guztia nirea izan dadin. Arima madarikatuak etorri eta bukatzen Vanya!" ucap wendigo tersebut yang berubah bentuk dengan sangat kuat. [aku mengutuk gadis kecil ini agar semua kekuatannya menjadi miliku. jiwa yang terkutuk datang lah dan habisi Vanya!]
"Datang lah kemari daging, wangimu sungguh luar biasa." ucap wendigo tersebut.
"Berhentilah menginginkan daging ku, bukan kah dengan aku terluka sudah membuat mu merasa senang." pinta Vanya.
"Tidak bisa Vanya, kau tahu aku ini sangat mencintai daging." gumam wendigo.
"ini sudah keterlaluan, sakit!" teriak Vanya.
"Terima kasih, sebagian daging mu sudah aku dapatkan dan sekarang waktunya kamu mati!" ucap wendigo itu yang menghempaskan tubuh Vanya ke dalam jurang.
"Aaaaaaa!" jerit Vanya.
Di dasar jurang yang dalam Vanya terbujur lelah dan tidak sadarkan diri, sementara wendigo tersebut merasa sangat kuat dan pergi untuk meneror warga sekitar. Sementara itu ayah Vanya yang sedang mengemasi barang yang berisi mantra kemudian terkejut dengan salah satu buku yang terbuka menampilkan bagian tentang wendigo. "Anak ku!, aku punya firasat buruk." ucap ayah Vanya.
Ayah Vanya kemudian berlonjak dari duduknya dan pergi untuk mencari Vanya "Sayang, tolong lindungi Vanya." ucap ayah Vanya kepada mendiang foto istrinya.
Tak lama setelah wendigo tersebut hendak meneror warga, tubuh Vanya pun kemudian dimasuki oleh ruh bundanya.
"Berhenti!" gumam Vanya.
"Ada apa lagi gadis kecil lugu yang naif, sudah aku katakan kekuatan mu tidak sebanding dengan kekuatan ku." ucap wendigo sombong tersebut.
Vanya pun kemudian mengangkat tubuh wendigo tersebut dan membuat wendigo itu tersentak terkejut. Tidak lama setelah itu Vanya menusukan batang pohon ke jantung wendigo itu.
"Argh! sialan kau Vanya" bentak wendigo itu.
"O praktikatzen duen jendea, zure arima eta espirituaren legea naiz infernuan haiekin bat egiteko!" Ucap Vanya sembari mengangkat kedua tangannya dan melemparkan sebuah kertas mantra kepada wendigo tersebut. [Wahai manusia yang melakukan praktik, aku menghukum jiwa dan ruh untuk bergabung bersama mereka di neraka].
Wendigo tersebut pun merasa sangat kesakitan dan melakukan pemberontakan tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan yang Vanya miliki.
"Selamat tinggal Wendigo jahat!, aku membebaskan dirimu wahai ruh anak laki - laki agar dirimu tenang di alam yang seharusnya kau berada." ucap Vanya dengan tegas.
Vanya pun kemudian tersentak jatuh ke tanah karena kelelahan, saat itu ayah Vanya berhasil menemukan Vanya dengan kondisinya yang dipenuhi banyak luka.
"Mari nak kita pulang, maafkan ayah yang membuatmu harus terlibat dengan dunia seperti ini. Ayah akan merawat luka mu." ucap ayah Vanya sembari mengendong tubuh Vanya.
Lima tahun yang lalu..
"Apa ini?, surat yang di tulis Istriku untuk Vanya dan aku?" ucap ayah Vanya sembari membuka isi surat tersebut.
*Dear my luv husband.
Aku tahu bahwa keluarga mu menguasai berbagai macam mantra dan kelak kekuatan itu akan turun kepada anak kita. Tapi aku mohon sekali ini saja buat Vanya aman dari mantra seperti itu.
Aku pernah baca salah satu buku dari mantra itu, jika anak kita ingin selamat maka sang ibu harus jadi korbannya. Sayang, tidak apa - apa jika aku yang harus menjadi korbannya.
Aku sangat menyayangi Vanya dan begitu juga dengan dirimu, saat tangisan pertama Vanya terdengar aku sangat bahagia mendengarnya. Tidak ada yang indah dari suara tangisan Vanya.
Suami ku, tolong berjanji lah kepada ku. Jaga Vanya mungkin aku tidak akan bisa merawatnya lebih lama lagi. Sesederhana apapun janji tetap bukan dia memiliki tanggung jawab?.
Tetap berbahagialah tanpa kehadiran aku di saat Vanya beranjak dewasa, ajarkan ia bagaimana caranya dewasa dan bertahan hidup. Yang harus kau tahu "everyday, i love you more and more than yesterday". Aku tunggu dirimu di alam yang abadi mari kita bersatu kembali sebagai satu pasangan yang bahagia dengan anak kita Vanya.
**From ur wife***.