
"Kamu mau pake yang mana? Ini, ini apa ini?" Sinta menunjukkan tiga gaun ke hadapan Sahara, sementara Rian menunggu di sofa tamu bawah mengobrol dengan Ayah Sinta.
Sahara melongo, "harus yang kaya gitu ya? Jujur sih aku belum pernah pake baju terbuka bahunya gitu apalagi ini, ahh!" Sahara menunjuk tali bahu yang tipis itu. tali yang tak lebih besar dari tali bra miliknya.
"O m g... Sinta aku malu, gak bisa bayangin. Apalagi ini ulang tahun Devon," serunya gugup.
"Sesekali, Sahara! lo ini jangan terlalu polos kenapa, gue aja cewek sampai gemes!"
"Yang lebih ketutup nggak ada? Minimal yang talinya gak kaya gitu," protes Sahara. Bukan tak menghargai sahabatnya. Hanya saja, memakai baju seksi seperti itu terlihat bukan seperti dirinya.
"Bentar deh, banyak sih tapi ada lengannya. Coba gue cari yang warnanya agak terangan dikit biar cocok sama kulit lo yang putih."
"Dih!" Sahara mencebik.
Sinta terkekeh, "gue curiga lo keturunan CEO kaya novel-novel gitu, mungkin nggak sih!"
"Dih makin ngaco nih anak!" Sahara mencebik.
"Bukan ngaco, coba lo lihat diri dan wajah lo deh. Siapa tahu kan ya?"
"Udah ah, gak mungkin! Kebanyakan halu aja nih, lagian dari orok aku udah sama Ibu panti."
"Nah itu tuh, ibu panti itu kuncinya, yang tahu semuanya! Termasuk orang tua lo sebenarnya," Seru Sinta.
"Nih ketemu!" seru Sinta menunjukan model gaun V neck warna peach dengan aksen renda di bagian legan. Cocok dipake Sahara dengan type polos-polos gemesin pasti akan terlihat cantik bin kalem.
Sahara menurut, ia ke ruang ganti yang ada di kamar Sinta.
"Cantik banget gaunnya," puji Sahara sambil memutar tubuhnya di depan cermin.
Sementara di lantai bawah, Rian berulang kali menatap tangga berharap Sinta dan Sahara segera turun.
Namun, sudah hampir satu jam dan si empu belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Sabar ya, Rian! cewek kalau dandan emang suka lama, apalagi Sinta tuh!" kelakar ayah Sinta sambil terkekeh.
"Haha iya ya, Om! Tapi gak apa-apa sih, cowok kan makhluk paling sabar ngadepin cewek," balas Rian diiringi gelak tawa.
Keduanya terkekeh, tak berselang lama Sinta dan Sahara turun.
"Pamit yq, Om!" ujar Rian dan Sahara salam takzim.
Pun dengan Sinta, "sebentar doang, Ayah. Cuma setor muka kok," serunya disambut gelak tawa mereka.
Mobil Jazzy milik Rian melaju menuju restorant bintang yang akan menjadi tempat tergelarnya acara. Bukan acara ala anak orang kaya, hanya acara makan bersama sekaligus potong kue untuk Devon dan teman-teman sekelasnya termasuk Sahara, Sinta dan Rian.
"Hay," sapa Devon langsung pada Sahara.
"Cieeeee, ehem, suittt..." Sontak mereka semua yang disana menggoda Devon dan Sahara.
Deg.
Entah kenapa, tiba-tiba hati Sahara yang paling dalam diselimuti rasa bersalah.
"Maaf Cakra," batinnya.
Sahara merasa canggung dan kikuk terlebih Devon menarik tangannya agar duduk di dekatnya.
"Biarin aja, Devon udah lama kok diam-diam mengagumi Sahara," bisik Rian.
"Seperti gue yang selalu kagum sama lo," sambungnya lagi tepat di telinga Sinta.
"Ish..." Sinta tersenyum malu.
"Selamat ulang tahun ya Devon!" seru Sahara.
"Sorry, aku gak bawa kado," cicitnya semakin membuat pemuda tampan itu semakin terpesona.
"Kamu dateng aja aku sudah seneng, makasih ya!" seru Devon.
Sahara mengangguk saja, ia duduk dan menyapa semua teman disana. Selain cantik, Sahara juga mudah bergaul meski bukan dari kalangan atas. Semua teman seolah menerima kehadirannya, hal itu menjadi keberuntungan yang patut Sahara syukuri.
"Cakra kamu lagi apa?" batinnya saat Devon terus menatap ke arahnya sambil tersenyum begitu manis. Namun, lagi-lagi Sahara malah memikirkan Cakra.
"Lo kenapa jadi melamun," bisik Sinta yang duduk di samping kiri Sahara, sementara Devon berada di samping kanan.
"Mules," jawab Sahara asal.
"Makan sambel terus sih, jadi gak bisa diajak kompromi. Mau gue anter ke toilet?" tanya Sinta yang menanggapi serius ucapan Sahara.
"Enggak, gak enak sama Devon."
Acara pun dimulai, dari menyanyi, memotong kue, dan sesi foto bareng-bareng.
"Fotoin aku sama Sahara, berdua!" pinta Devon pada kameramen.
Deg.
Sahara semakin tak nyaman, akan tetapi tak kuasa menolak.
Ia hanya mengangguk senyum sebagai respon.
"Satu... Dua... Tiga..."
Cekrek
Cekrek
Cekrek,
Beberapa kali kameramen membidik pose mereka berdua, bahkan tangan Devon sudah memeluk bahu Sahara tanpa sungkan.
Lagi Sahara tak kuasa menolak meski sebenarnya dalam hati sangat risih.
"Ck! Kenapa aku merasa gak nyaman sama Devon. Kenapa cuma Cakra, cowok yang bikin aku nyaman deketan," batin Sahara menjerit frustasi.
"Aku post ya, punya instastory gak?" tanya Devon.
"Enggak ada," Jawab Sahara apa adanya.
Malam semakin larut, mereka akhirnya membubarkan diri.
Saat Devon menawarkan mengantar Sahara, gadis itu memberanikan diri menolak.
"Sorry, Ibu suka marah kalau aku pulang bareng cowok!" Alibi Sahara dan Devon pun mengerti.
"Oke, Next time aja kita jalan bareng."
Sahara mengangguk, ia pulang bersama Sinta dan Rian.
***
Cakra semakin dilanda gusar apalagi saat Mamanya bersikukuh cerai dengan sang Papa meski Lendra sudah meminta maaf bahkan sudah berusaha memperbaiki semuanya. Belakangan ini, ia hanya fokus menemani dan membantu Kinanti menghadapi semuanya termasuk sidang cerai.
Lendra dan Kinanti baru tahap mediasi, akan tetapi hal itu membuat Cakra semakin murung melewati harinya.
"Ma, apa nggak pengen maafin Papa?" tanya Cakra malam ini. Ia ingin mengeluarkan unek-unek hatinya siapa tahu Kinanti berubah fikiran.
"Cakra, kamu sudah dewasa. Mama pikir, kamu harus tahu kalau dalam rumah tangga itu perlu banyak hal. Bukan hanya sekedar memaafkan dan dimaafkan. Papamu bukan hanya selingkuh, tapi juga main tangan." Kinanti tersenyum, mungkin perceraiannya dengan Lendra akan menorehkan luka di hati Cakra. Namun, Kinanti juga paham bahwa rusaknya rumah tangga kedua orang tuanya akan membuat Cakra lebih berhati-hati di masa depan.
"Iya, Ma."
"Besok kamu bisa tolongin mama ke ekspedisi nggak? Kirim paket ke panti?" tanya Kinanti.
"Ah, iya Ma siap." Cakra mengangguk, ia hampir lupa dengan Sahara karena memikirkan masalah orang tuanya akhir-akhir ini.
Di tengah temaramnya lampu ruang tengah, Cakra termenung memikirkan cara. Bagaimana ia menghubungi Sahara? Kok rindu semakin tega menyiksa perasaannya.
"Hayo mikirin apa?" seru Kinanti melihat putranya melamun.
"Hehe, anu Ma. Kok mendadak jadi kangen panti ya," jawabnya cengengesan.
"Ehm, kita kan baru mau dua bulan gak kesana. Kangen panti apa kangen bidadarinya panti," goda Kinanti dan berhasil membuat Cakra terkekeh pelan.
"Kangen Sahara, Ma!" jawab Cakra lalu kabur ke dalam kamar.