MY LOVELY, SAHARA

MY LOVELY, SAHARA
36. Selalu ada



Meski tak bisa langsung menolong Sahara, minimal Cakra bisa langsung meminta bantuan Mama dan Papanya. Sebab untuk menghubungi Om Sagara, Cakra tak memiliki nomor ponselnya.


"Cak! Kenapa weh?" Rival yang satu kamar dengan Cakra menyadari raut wajah sahabatnya itu. Cakra menghela napas panjang, ia menatap Rival sejenak.


"Sahara kecelakaan, tadi Sonia hubungin gue," lirihnya.


"Sonia?" Ulang Rival.


"Hm, dan kayaknya ini ada kaitannya sama Sonia, atau Baron cs. Walau mereka udah lama gak berulah, tapi gue yakin mereka nyari kesempatan karena kita nggak ada."


"Bisa jadi, terus gimana keadaan Sahara?" Tanya Rival sambil memasukkan baju-bajunya ke dalam tas. Besok mereka akan melakukan perjalanan kembali ke Jakarta.


"Belum tahu, tapi gue udah coba hubungi nyokap. Kali bisa bantu cari tahu gimana keadaan Sahara."


Rival menepuk pelan pundak sahabatnya, "sabar aja ya, semoga Sahara gak kenapa-napa!"


***


Sahara mengerjapkan mata, pemandangan pertama kali yang dilihat adalah ruangan serba putih dengan aroma khas obat-obatan. Sahara sudah bisa menebak hal itu apalagi tangannya terasa nyeri ketika terangkat, selang infus juga terpasang di tangannya membuat gadis itu kesulitan untuk bergerak.


Ceklek...


Seorang pria dewasa masuk dengan membawa serta Kinanti yang baru datang, mereka baru saja bertemu di luar dan Kinanti sebagai salah satu kerabat Sahara sambil menunggu suaminya menuju kediaman Sagara.


"Sayang..." Kinanti mendekat, sementara Sahara langsung berkaca-kaca.


"Tante," lirihnya pelan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Saya sudah mengecek cctv kejadian di tempat, tapi karena ruko itu kosong dan cctv mengarah lurus jadi maaf... Saya tidak bisa menemukan bukti apakah teman-temanmu itu penyebabnya."


"Sayang, kamu gak apa-apa kan? Mana yang luka!" Kinanti yang sedari tadi sibuk meneliti setiap inci tubuh Sahara bersuara.


"Gak ada Tante, Tante kok bisa tahu aku dirawat. Aku aja mau hubungi papa nggak bisa," keluh Sahara. Kinanti mengusap tangan Sahara lembut, lalu tersenyum hangat.


"Cakra yang ngabarin tante, tadi Om Lendra juga sudah ke rumah papamu. Soalnya tadi udah sempet ke kantor katanya gak ada," jelas Kinanti membuat Sahara terharu.


Bahkan saat berjauhan Cakra masih sangat perduli dengannya, dan selalu ada.


***


"Pak, Pak Sagara..." pekik art yang terkejut melihat Sagara tak sadarkan tinggi saat akan menaiki tangga. Pagi tadi, karena merasa tak enak badan menyerahkan segala urusan pekerjaan pada sekertarisnya dan memilih pulang untuk istirahat barang sebentar. Namun, di luar dugaan Sagara malah ambruk dan membuat heboh seisi rumah. Alhasil saat ini art dan satpam membawanya ke rumah sakit terdekat.


Lendra baru sampai di kediaman Sagara, akan tetapi melihat rumah megah itu sepi tak berpenghuni membuatnya memilih segera kembali ke rumah sakit barangkali keadaan Sahara membaik. Namun, baru saja memarkirkan mobil dan berjalan ke arah lobi, ia dikejutkan dengan satpam jaga rumah Sagara yang mengenali wajahnya.


"Pak Lendra..." panggilnya.


"Ya, Pak? Lho kok disini, siapa yang sakit?" tanya Lendra, atau jangan-jangan satpam Sagara sudah tahu kalau Sahara dirawat disini.


"Itu, Pak... Pak Sagara!"


"Nganter Pak Sagara ya? Pak Sagara udah dateng?" tanya Lendra tak sabar.


"Pak Sagara terkena serangan jantung," lirih satpam itu menunduk. Sedetik dua detik Lendra terdiam sebelum satpam itu kembali mendongkak dan memohon, "tolong kabarin neng Sahara kalau papanya masuk rumah sakit, Pak!" mohonnya.


Lendra diam di tempat, ia bingung harus memberitahu Sahara dulu atau Sagara dulu mengingat keduanya sama-sama di rawat.