MY LOVELY, SAHARA

MY LOVELY, SAHARA
22. Kado buat Kinanti



Cakra menimbang-nimbang, setelah beberapa hari ia pikir tak ada salahnya mencoba membujuk. Namun, sebenarnya Cakra ragu apalagi saat melihat ekspresi Kinanti yang biasa saja saat menerima hadiah ulang tahun dari papanya.


"Kenapa anak mama gelisah gini?" seru Kinanti. Cakra yang tadi sibuk main ponsel menoleh pada mamanya. Kinanti sudah selesai dengan segala aktivitas dapur dan bersiap mengantar pesanan.


Cakra beranjak lalu menatap Kinanti dengan ******* napas panjang.


"Mama nggak mau pindah ke rumah papa?" tanya Cakra.


Kinanti menggeleng, "mama bukan nggak mau. Tapi rumah itu hak kamu, bukan mama. Cakra, maafin mama karena nggak bisa balik ke papa lagi. Tapi itu semua bukan karena mama nggak sayang sama kamu atau papa, tapi karena mama merasa aman sendiri. Cakra kamu sudah besar, kelak kamu juga akan berkeluarga sama seperti mama dan papamu ini. Tapi Cakra, pernikahan itu bukan hanya sekedar kita yang saling mencintai,--" Kinanti menjeda ucapannya, menatap putranya lekat berharap Cakra ngerti ada hati yang sulit untuk terobati pasca perceraian mereka.


Cakra akhirnya mengangguk, "yaudah asal mama bahagia!"


Kinanti tersenyum hangat, "ajak Sahara kesini dong!" pintanya pada putra lelakinya.


"Yah mama, Sahara kan juga punya kehidupan sendiri. Nggak melulu sama Cakra, entar dia bosen lagi tiap hari ketemu masa hari minggu ketemu juga!" pikir Cakra.


Sontak hal itu membuat Kinanti terkekeh pelan.


"Cakra mama ada rencana beli perumahan kecil, gimana menurutmu?" tanyanya.


Kinanti bekerja keras mengumpulkan uang itu sedikit demi sedikit, apalagi saat Lendra tak lepas tanggung jawab pada Cakra meski putranya itu sudah besar. Kinan patut bersyukur karena Lendra masih memberikan nafkah untuk putranya. Masih sama seperti dulu kala Kinanti menjadi istrinya, hanya sekarang lebih mengatas namakan Cakra.


"Hah? Kapan, Ma?"


"Ya sebentar lagi, masih kurang! Tapi semoga gak sampai habis kontrak rumah ini udah kebeli."


"Aamiin," seru Cakra. "Ehm, Cakra ada rencana mau ke rumah Oma. Gimana menurut Mama?"


"Nginep? Mau mama anter nggak, papa disana kan?" tanya Kinanti.


"Boleh, Ma! tapi apa nggak apa-apa mama nganterin aku?" tanya Cakra.


"Enggak, Oma baik kok sebenarnya. Cuma ya itu, namanya anak sendiri mau sefatal apapun tetap dibela. Udah kalau gitu kamu siap-siap kalau mau nginep di rumah papa."


Cakra mengangguk, ia berlalu ke kamar. Meraih ransel dan memasukkan beberapa lembar baju ganti.


Kinanti mengantarkan Cakra ke rumah orang tua Lendra, ia sempat mampir barang sebentar meski mantan mertuanya itu masih sama, bawel dan cerewet.


"Assalamu'alaikum Oma, Opa." Cakra mengetuk pintu langsung disambut oleh nenek dan kakeknya.


"Waalaikumsalam, ayo masuk-masuk!" ajak Oma langsung pada Cakra.


"Masuk Kinan, masa mau langsung pulang?" seru papa mertuanya.


Kinanti mengangguk, ada senyum tipis di bibirnya kala melihat Cakra dipeluk-peluk oleh mama mertuanya saking kangen. Dan Cakra bukan definisi pemuda pemalu dengan gensi tinggi, bocah tampannya itu balas memeluk sang oma hangat.


"Lendra belum pulang," ujar Oma memberitahu.


"Kamu sehat kan Kinan? Kenapa makin kurus, apa kamu berusaha hemat. Mama sarankan kalian kembali lagi seperti dulu."


"Ma, jangan membuat Kinanti tertekan!" peringat sang suami.


"Siapa bilang, mama hanya menyayangkan. Sejak cerai, Lendra jadi banyak diam dan mengurung diri, sekalinya keluar cuma buat patuh perintah Sagara. Hm, kasian dia Kinan, kasihlah dia kesempatan," mohon mama mertuanya.


"Jangan paksa Mama, Oma! Mama lebih aman sendiri, Oma nggak tau kan kalau papa hampir tiap hari mukul mama," seru Cakra tak terima Kinanti didesak.


"Kinan bukan nggak mau, Ma! Tapi buat kembali ke Mas Lendra itu nggak akan mudah. Kinan masih sangat takut, meskipun ingin."


"Sudah-sudah lebih baik kita bahas hal lain. Ma, tadi kamu masak banyak ayo makan siang dulu. Kinan, makan siang disini ya? Cakra nginep kan?" tanya papa mertua.


"Iya, Pa. Cakra nginep."


"Kamu nginep aja, lagian kamu perempuan, rawan di rumah sendiri. Ada banyak kamar disini dan kami pikir kamu nggak akan keberatan."


"Tapi, Pa..."


Dengan tanpa paksaan lagi ia mengangguk setuju.


Sore hari, Lendra pulang. Ia tak terkejut saat tahu putra kebanggaannya menginap tapi yang membuat Lendra tak percaya adalah keberadaan Kinanti disana.


Seperti mimpi indah yang tiba-tiba terwujud oleh Tuhan.


"Pa, aku mau keluar sebentar! Ada motor?" tanya Cakra.


"Mau kemana?" tanya Lendra pasalnya ini sudah hampir jam delapan malam.


"Mau beli sesuatu. Atau papa mau ikut?" tawar Cakra.


"Enggak deh, kamu sendiri?" tanya Lendra.


"Ngajak Sahara! Ada perlu dikit." Baru juga tadi siang ia bilang tak akan setiap hari bertemu Sahara tapi malamnya malah gadis itu mengabari kalau meminta diantar membeli barang yang entah apa.


"Yaudah hati-hati, jangan pulang larut," pesan Lendra diangguki Cakra.


Motor matic merk Nmx itu melaju menuju kediaman Sahara. Jarak yang tak terlalu jauh membuat Cakra segera sampai di perumahan tempat Sahara tinggal. Dengan keberanian full nggak setengah-setengah, ia meminta izin Sagara untuk membawa putrinya keluar.


"Boleh tapi jangan malem-malem," pesan Sagara persis seperti papanya.


"Siap Om!"


Mereka melesat meninggalkan rumah Sahara menuju mall terdekat karena permintaan Sahara kesana.


"Mau nyari apa sih?" tanya Cakra penasaran.


"Nyari angin, barusan papa kasih jatah jajan gak kira-kira. Aku mau beli sesuatu."


"Oke, kita kemana dulu? Kamu udah makan?" tanya Cakra.


"Udah dong, tapi kalau mau ngajak jajan lagi it's oke, perut aku lebih dari sekedar muat," celotehnya membuat Cakra gemas.


"Oke nanti aja pas mau pulang, kita jalan dulu."


"Cakra aku mau beli baju deh!" Ajak Sahara diangguki Cakra. Namun, pemuda itu terkejut saat Sahara masuk ke gerai pakaian ala Ibu-ibu.


"Kamu mau beli ini, buat kamu? Sahara, ini mah cocoknya buat mama!" cibir Cakra.


"Mamanya anak-anak kamu ya?" selorohnya tiba-tiba membuat Cakra langsung kicep. Sejak kapan Sahara nya pintar menggoda?


"Cakraaa, kesambet kamu! ini bagus nggak? Buat Tante Kinan?" Sahara menaikkan alisnya, Cakra malah menatapnya tak berkedip bahkan tak bergerak dari tempat semula.


"Cakra ih, sebel!" Sahara menghentakan kakinya dan itu berhasil membuat lamunan Cakra buyar seketika.


"Yang mana? buat siapa?" gelagapnya tak fokus.


"Ini, yang ini. Buat Tante Kinanti bagus nggak?"


"Bagus, tapi kamu nggak harus repot-repot gini."


"Gak apa-apa, kan aku juga pengen kasih kado buat Tante Kinanti, walau telat sih hehe."


Setelah membayar barangnya, Sahara juga meminta pihak toko membungkusnya jadi bingkisan.


"Cakra, jam tangan itu bagus deh!" tunjuk Sahara pada jam tangan couple.


"Gimana kalau kita couple-an, berani nggak?" tantang Cakra.


"Berani dong, siapa takut!"