MY LOVELY, SAHARA

MY LOVELY, SAHARA
25. Permintaan Lendra



"Len menurutmu yang ini gimana?" tanya Sagara.


"Ehm, sepertinya kurang cocok buat Sahara," seru Lendra. Meski Sagara memiliki Nadia sebagai asisten tetap saja si boss yang bosy itu lebih memilih merepotkan Lendra. Orang yang jelas jabatannya sangat melenceng dari tugas yang dititahkan oleh Sagara.


Dua bapak-bapak sedang mengelilingi mall dengan jass rapi mereka. Membuat siapapun yang melihat akan berpikir apakah mall mendapat kunjungan dadakan ceo?


"Bukan buat Sahara," jawab Sagara santai. Seketika Lendra terdiam, jangan bilang baju itu memang bukan buat Sahara tapi buat Kinanti. Pikiran Lendra sudah kalut, takut Sagara akan mendekati Kinanti.


Minimal kalau Kinanti mencari penggantinya, laki-laki itu bukan Sagara karena akan melukai banyak orang sekaligus.


"Buat siapa? Ini buat Kinanti." Jawab Sagara cuek.


Membuat Lendra seketika diam, membeku di tempat padahal Sagara sudah menyelonong lebih dalam ke toko.


"Lendraaaa," teriaknya membuat Lendra tersadar dan setengah berlari mendekat.


"Ya, Pak?"


"Bawa!" titahnya menyodorkan paperbag berisikan baju merk Zavara. Salah satu dari sekian merk branded yang terkenal di Semarang.


"Ini apa ya, Pak?" tanya Lendra tak mengerti.


"Ya kamu kasih ke Kinan, jangan bilang dariku."


Meski merasa nyeri di hatinya, Lendra tetap mengangguk. Bukankah Sagara adalah bossnya, dan perintah boss bagi Lendra suatu kewajiban.


"Cakra, maafin papa gak bisa bantu kamu. Kayaknya Om Sagara memang terniat mendekati mamamu," batin Lendra. Ia bukan sedang memikirkan hatinya sendiri tapi Cakra. Lendra tahu Cakra sangat menyukai Sahara pun dengan dirinya yang sangat menyukai gadis itu, gadis yang sangat polos lugu dan sopan. Cocok dijadikan menantu kelak nanti.


"Kenapa masih diam? Ayo, aku lapar. Kita makan siang dulu sebelum kembali ke kantor."


Benar-benar Lendra dibuat nurut oleh pria itu.


Setelah sekian lama, kenapa ia baru tahu kalau Kinanti pernah menjalin hubungan dengan Sagara? Padahal Lendra melihat jelas Sagara menikah dengan istrinya yang telah meninggal.


Benang kusut itu membuat Lendra berpikir sejenak, dan menerka-nerka. Jangan-jangan Sagara selingkuh dengan mantan istrinya? Atau kemungkinan terbesarnya. Kinanti menjadikan ia pelarian setelah Sagara meninggalkannya menikah dengan wanita lain.


"Sudahlah," pekik Lendra tiba-tiba membuat Sagara mengernyit ke arahnya.


"Why?"


Lendra tak menjawab, ia memilih diam menuruti semua kemauan Sagara yang menyebalkan. Padahal sebenarnya mereka dua orang yang hampir sama, sama-sama memiliki nilai buruk di mata mantan istri masing-masing.


"Len, menurutmu Kinanti bagaimana?" tanya Sagara tiba-tiba setelah mereka sampai di foodcourt untuk makan siang.


Lendra melirik makanan yang ada di atas meja dengan lesu.


"Bapak suka dengan mantan istri saya?" tanya Lendra muram. Semuram isi dompetnya saat ini.


"Suka!" jawab Sagara singkat. Lalu sibuk menikmati minuman dingin di hadapannya tanpa memperdulikan perubahan ekspresi Lendra yang berubah macam kain kusut. Makin kusut saja mendengar ucapan Sagara.


"Bapak cinta sama Kinanti? Apa bapak berniat menikah dengannya setelah masa iddahnya selesai? Bapak nggak mikirin anak-anak kita?" tanya Lendra panjang lebar.


"Nggak, Pak! Pandangan bapak ke anak saya dan Sahara salah besar. Jangan sampai bapak salah ambil keputusan." Lendra menghela napas sesak, membayangkannya saja cukup membuat dadanya kesusahan napas. Apalagi jikalau hal itu benar terjadi.


Sagara mengambil sendok dan makan makanan pesanannya tanpa perduli omongan Lendra. Ia sibuk makan, sesekali melirik Lendra yang malah tak berselera setelah mendengar ucapan Sagara.


"Dulu ada Kinara yang menghalangi hubungan kami. Sekarang, kamu dan Kinan kan sudah cerai. Kecuali kalau kalian rujuk lagi, aku bisa berfikir ulang. Atau kita bersaing saja?" Sagara menyeringai, ia memang susah ditebak sikap dan sifatnya yang berubah-ubah.


"Kinan nggak mungkin mau!" Lendra menunduk pesimis.


Sementara Sagara malah mengancamnya terus. Akhirnya mereka kembali ke kantor dalam keadaan sama diam. Lendra dengan pikiran kalutnya sementara Sagara dengan segala siasat.


***


Pukul lima sore, sepulangnya dari kantor. Lendra langsung menuju kontrakan Kinanti. Tampak mantan istrinya itu sibuk menyapu halaman kecil kontrakannya. Sore dengan cahaya kuning keemasan, beberapa bunga mawar yang memang Kinanti tanam di halaman depan menambah nyaman hunian sederhana itu. Selain Kinanti sedang menyapu, ada Cakra yang sibuk mencabuti rumput. Jika dulu wajah kumal penuh keringat Kinan adalah pemandangan tak mengenakan bagi Lendra, akan tetapi wajah itu sekarang justru wajah yang paling ia rindukan ketika pulang.


"Cakra, Kinan!" panggil Lendra. Nadanya tak setinggi dulu, lebih lembut dan lirih semacam mengandung penyesalan teramat dalam.


"Papa," sambut Cakra kemudian bangkit mencuci tangan dan salim menyambut. Sungguh Lendra semakin menyesal dibuatnya, anak yang sholeh seperti Cakra harus menjadi korban keegoisannya.


"Mas, duduk dulu. Tumben sore-sore kesini?" tanya Kinan basa-basi. Menatap Lendra sekilas lalu memalingkan wajahnya.


Cakra pamit untuk mandi, menyisakan Kinan dan Lendra di ruang tamu bersama dua gelas teh hangat.


"Diminum, Mas! Ada apa datang kesini? Kangen Cakra?" tanya Kinan beruntun.


"Kinan, aku punya permintaan."


"Apa, Mas?"


"Aku mau kita rujuk! Kinan kumohon, sebelum semuanya terlambat. Kita masih punya waktu untuk memperbaiki semuanya," mohon Lendra.


Dibalik tembok, Cakra yang sudah selesai mandi pun tersenyum mendengar usaha sang papa. Cakra enggan mendekat, membiarkan Mama dan papanya mengobrol berdua dengan hati.


"Aku sadar, salahku mungkin terlalu fatal. Tapi sungguh, aku tak ridho Pak Sagara menikahimu. Pikirkan anak kita Kinan, pikirkan Cakra dan Sahara," seru Lendra membuat Cakra yang masih menguping terkejut mendengarnya.


Kinan terkejut, apalagi saat mendengar alasan Lendra datang. Selama ini, Sagara dan ia memang berhubungan baik, tapi sejak mereka memiliki kehidupan masing-masing semuanya terasa kaku. Hubungannya dengan Sagara tak semudah itu. Tapi hari ini, Kinan mendengar kabar mengejutkan itu dari Lendra, Kinan harus apa?


"Aku nggak ada dekat-dekat dengan Mas Sagara kok Mas, kami cuma teman. Sekalipun Mas Sagara sangat berniat, aku juga punya kuasa untuk menolak."


Lendra masih terdiam, bukankah itu artinya Kinan menolak rujuk. Padahal kesempatan itu masih bisa mengingat mereka belum talak tiga dan Kinan masih dalam masa iddah-nya.


"Kamu lupa satu hal Kinan. Tentang siapa Pak Sagara dan bagaimana ia melakukan suatu hal yang diingini. Bahkan jika ia akan menikahimu, tetap akan menikahimu bagaimanapun caranya. Ini buktinya, bukti bahwa Pak Sagara berniat memilikimu."


Lendra menyodorkan paperbag berisi pakaian yang tadi Sagara beli bersamanya di mall.


Kinan terkejut, lebih terkejut saat Cakra ikut gabung pembicaraannya dengan Lendra.


"Cakra sayang sama Sahara, tapi bukan sebagai adik atau saudara. Cakra sayang sama Sahara lebih sebagai laki-laki kepada perempuannya," tegas Cakra dengan wajah muram mendung dan menggelap karena mendengar papanya Sahara berniat menikahi mamanya.