
Kalau kamu cari yang cantik, aku mundur!
Kalau kamu cari yang baik, pengertian, penyayang aku juga mundur. Karena aku cuma bisa makan dan habisin duit kamu.
Sahara.
Entah sudah berapa jenis makanan masuk ke dalam mulutnya. Cakra sampai terbengong sekaligus gemas melihat gadis di hadapannya saat ini yang suka makan tapi tetap kurus. Kemana perginya lemak dan kawanan yang dimakan gadis itu?
"Mau apa lagi? Atau mau martabak buat dibawa pulang?" tawar Cakra.
"Pengen, tapi enggak ah malu. Aku udah makan banyak banget," cicitnya membuat Cakra terbahak.
"Ih ngetawain," dumelnya langsung.
"Cakra lihat deh, jamnya cocok banget ya di kulit kita. Jadi berasa pasangan beneran," seru Sahara mengalihkan perhatian.
Dalam hati semoga tak kepincut aneka jajanan saat kembali melewati area foodcourt untuk turun ke lantai dasar.
"Iya bagus banget," gumam Cakra.
Namun, mata Sahara malah menoleh pada stand es krim rame di ujung. Es krim roll ala mall yang membuatnya tergiur ingin coba.
"Cakra, es krim roll enak kayaknya."
"Kamu mau?" tawar Cakra.
"Enggak kok, aku cuma bilang enak kayaknya!"
Cakra tersenyum, "Sini, kita beli."
"Tapi pakai uangku, nanti uang kamu habis gorok ayam lagi."
Cakra sontak terkekeh, "enggak, gak tega aku gorok ayam tetangga. Tenang, uangku masih ada."
Sahara mengangguk, akan tetapi saat Cakra hendak membayarnya. Ia sudah lebih dulu mendahului. Bukan tak menghargai Cakra, Sahara hanya tak enak sudah banyak Cakra mengeluarkan uang untuk jajannya hari ini.
"Kalau aku gendut ntar gimana?" gumamnya pelan. Tapi masih sibuk menyendok es krim ke mulut.
"Kenapa kalau gendut?" tanya Cakra mengernyit.
"Nanti kamu nglirik cewek lain."
"Kalau gitu kamu mau jadi pacar aku? Biar aku nggak lirik cewek lain?" ujar Cakra mencoba cari kesempatan dalam kegundahan.
"Emang harus ya jadi pacar? Aku nggak mau sekolahku atau sekolahmu keganggu, emang gak bisa ya kita gini aja asal saling setia?" tanya Sahara.
"Gini gimana?" tanya Cakra menahan senyumnya.
"Ya, gini." Sahara merona.
"Sudah habis belum? Udah malem ayo pulang." Cakra melihat jam di pergelangan tangannya. Jam baru yang sama persis dengan milik Sahara, hanya berbeda ukuran.
"Yaudah ayo, tapi titip ini ya buat Tante Kinanti." Sahara menyodorkan bingkisan ke pangkuan Cakra.
"Kenapa nggak dikasih sendiri?" Omel Cakra. Ia hanya ingin Sahara akrab dengan Kinanti meski sebenarnya mereka sudah akrab.
Pukul sembilan lebih sedikit mereka keluar mall untuk pulang. Sampai parkiran tanpa diduga Cakra memasangkan helm di kepala Sahara. Se-sweet itu memang Cakra, sampai-sampai pipi cubby Sahara menggembung menahan rona merahnya.
"Cakra..." panggilnya setelah naik ke boncengan. Suaranya terkesan lirih dan manja di telinga Cakra.
"Hm?" sahut Cakra.
"Aku takut kalau tiba-tiba dibully fans kamu di sekolah," gumam Sahara.
"Jadi kita kaya gini aja ya? Gak usah pacaran," gumam Sahara lagi. Tapi tangannya sudah melingkar di perut Cakra.
Cakra tersenyum melirik spion, ia lihat Sahara harap cemas menanti jawabnya.
"Iya, tapi nanti kalau aku lulus kita bakal jarang ketemu!"
"Aku bakal jaga hati, jaga mata, jaga pikiran agar gak kerasukan," balas Sahara.
"Husss!"
"Kerasukan laki-laki lain berabe kan," balas Sahara ngeles bajaj.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Sahara tak ingin pacaran dengan Cakra. Baru beberapa hari menapaki Pelita harapan, ia sudah mendengar desas desus yang bagi Sahara sendiri tak mengenakan. Meski Cakra bergelar cowok dingin bermuka tembok, tetap saja Sahara merasa terancam. Teringat cewek di masa SMA sangat labil-labilnya bisa jadi ia akan jadi amukan fans Cakra kalau berhasil menjadi pendamping hati cowok itu.
"Gak mampir dulu Cak?" tanya Sagara.
"Lain kali Om, maaf sudah bawa Sahara kemalaman."
Sagara mengangguk," gak papa asal kalian bisa jaga diri, hati-hati pulangnya!" seru Sagara diangguki Cakra.
"Hati-hati Cakra, dan makasih." Sahara melambaikan tangannya sebelum masuk.
***
"Dari mana kamu Cakra?" tanya Lendra saat tahu Cakra baru sampai rumah hampir jam sepuluh.
Cakra duduk menghempas tubuhnya di samping Lendra yang memangku laptop di ruang tamu. Di kediaman oma, semua orang sudah tidur meninggalkan Lendra yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
"Dari rumah Om Sagara, Pa!"
Lendra menoleh, "jadi keluar sama Sahara? Nggak dimarahin sama Pak Sagara? Pak Sagara itu galak lho, papa aja setiap hari setiap saat dimarahi," curhat Lendra.
Samar, Kinanti ke dapur untuk minum. Melihat Cakra dan Lendra duduk di ruang tamu membuat Ibu satu anak itu turut gabung.
Masih enggan mengobrol panjang lebar dengan Lendra, Kinan memilih menanyai Cakra.
"Baru pulang Cakra?"
"Ya, Mama! Oh iya, ini dari Sahara!" Cakra menyodorkan bingkisan yang Sahara titipkan padanya.
"Apa ini Cakra?"
"Kado Ma, katanya selamat ulang tahun dari menantu mama yang paling cantik," seru Cakra. Sebelum Kinanti menginterogasinya, Cakra lebih dulu pindah posisi sembunyi di belakang Lendra.
"Cakra, kan mama sudah bilang jangan pacaran sebelum kerja," omelnya.
"Ampun Ma, Cakra gak pacaran!"
"Ehm,-" Lendra berdehem membuat Kinanti menghentikan aksinya.
"Aku nggak bermaksud apapun, Mas! Cuma mau Cakra fokus sekolahnya dulu," seru Kinanti merasa Lendra berada di pihak putranya.
"Aku kan gak bilang apa-apa Kinan!" Seru Lendra menahan tawanya. Bukankah benar, ia bahkan cuma berdehem sebentar tapi Kinanti salah mengartikannya.
Cakra senyam senyum di belakang punggung Lendra melihat mamanya tersipu malu.
"Apaan sih kalian," dumel Kinanti lalu pergi meninggalkan Lendra dan anaknya.
Cakra terbahak, pun dengan Lendra tak kuasa meledakkan tawa.
"Mamamu merona," lirihnya menahan tawa sekaligus tangis haru. Lendra bahagia malam ini melihat ekspresi Kinanti.
"Pepet dong, Pa! Usaha," seru Cakra.
"Hahaha papa nggak mau maksain diri, Cakra! Biarin aja," gumam pelan Lendra kemudian menggeleng. Meski sebenarnya baik Cakra maupun Lendra sangat ingin mereka kembali utuh dan merasakan hangatnya sebuah keluarga. Tapi Lendra sadar, ia pernah menunjukan versi terburuknya saat menjadi suami Kinanti. Tak seperti sekarang, rasanya ia sudah berubah jauh lebih baik.
Pagi hari, Cakra siap berangkat sekolah diantar Lendra sekalian mengantar Kinanti pulang ke kontrakan.
Pun dengan Sahara yang datang bersama Sagara. Mereka bertemu di tepat depan gerbang sekolah Pelita Harapan.
"Kalian bisa bareng?" tanya Sagara datar. Setelah memastikan Sahara masuk. Tapi tidak dengan Cakra, yang masih berdiri di tempat karena mendadak ingin tahu seperti apa Sagara jika berhadapan dengan orang tuanya.
"Iya, Pak!" jawab Lendra.
Terlihat di mata Cakra kalau papa Sahara itu sebenarnya galak. Tapi, kenapa saat bersamanya mendadak baik.
"Oh, yaudah! kamu jangan telat Len, hari ini ada klien penting dari Jakarta," seru Sagara membuat Lendra spontan mengangguk.
Kinanti memilih diam dan beralih ke Cakra, "buruan masuk Cakra!" pesannya.
Cakra langsung mengangguk dan masuk gerbang.
Seperti biasa, di kantor Lendra akan selalu menuruti kemauan Sagara apapun itu meski harus melenceng dari jabatannya.
"Mana kliennya, Pak? Apa sudah datang?" tanya Lendra mengekori Sagara.
"Klien dari hong kong!" serunya ketus meninggalkan Lendra yang bengong karena bingung.