MY LOVELY, SAHARA

MY LOVELY, SAHARA
18. Adik kelas



Sagara pergi dari SMA Pelita Harapan setelah memastikan Sahara sekolah dengan baik dan mempunyai teman. Ia juga meminta salah satu guru kepercayaannya untuk mengawasi Sahara.


"Denger-denger adik kelas ada murid baru, manis imut dan ya, sangat cantik," seru Rival yang belum tahu jikalau murid baru di SMA-nya itu adalah Sahara.


"Oh ya? beneran cantik?" Tanya Arman tak percaya.


"Pantau aja, aku sih tadi udah lihat rambut dan bo dy nya dari belakang ya, aduhai lah."


Sontak Cakra yang mendengar Rival memuji Sahara pun menggeplak keras bahunya.


"Giliran ada cewek cakepan dikit aja kau," serunya sebal.


"Hahahaha, salah sendiri sok-sokan jaga hati. Neng Sahara sampai ma-ti, tapi jarak dan waktu tak bertepi," ledek Rival.


"Itu cewek yang katamu imut, cantik dan aduhai, coba dilihat dari jarak dekat," selorohnya masih sebal.


Cakra enggan memberitahu Rival kalau Sahara pindah satu sekolah dengannya, jika sahabatnya ini tahu. Hm, auto heboh jagat persenior-an.


"Yang itu bukan," seru Arman. Saat ini mereka sedang berada di kantin sekolah.


"Iya bener, yang itu."


"Sahara woy, itu Sahara!" seru Cakra. Sontak Rival dan Arman melotot tak percaya. Bukan tak tahu mereka siapa Sahara, Cakra selalu bercerita pada Rival meski sahabatnya itupun ember kepada Arman.


"What!" Rival membola, bahkan saking tak percayanya ia malah mendekati Sahara untuk memastikannya langsung.


"Sahara? Beneran Sahara?" tanya Rival tak percaya. Ia bahkan hampir bereuforia di depan gadis itu. Pantas Cakra terlihat segar, sumringah dan rapi. Itu karena keberadaan Sahara di SMA Pelita Harapan.


"He he, Mas Rival? Sendirian?" tanya Sahara. Ia bersama Mey, teman barunya di Semarang.


"Lho Sahara, perasaan kamu baru masuk tadi? Udah kenal sama senior?" tanya Mey tak percaya.


"Hehe saudara kok," jawab Sahara.


"Oh gitu, kirain."


Cakra mendekat, ia menarik telinga Rival sampai temannya itu mengaduh sakit.


"Jangan godain pacarku," serunya. Belum apa-apa, Cakra sudah mengklaim Sahara sebagai pacar.


Mey kembali dibuat melongo, kali ini Sahara turut membola demi mendengar penuturan Cakra.


"Cakra ih, pacar apaan ngadi-adi." Sahara merengut.


"Hm yaudah." Cakra berbalik begitu saja. Ia memilih kembali duduk di salah satu sudut kantin tempatnya nongkrong tadi.


Dukk!" Sahara menaruh es teh miliknya tepat di depan Cakra tanpa permisi. Bersama Mey duduk di sebelahnya.


"Ck!" Cakra berdecak pelan. Tapi bibirnya tetap mengu lum senyum melihat Sahara mendekat.


"Cie, ehem uhuk." suara Arman dan Rival yang tiba-tiba keselek entah oleh apa.


"Adik kelas yang manis, mulai sekarang kita teman. Anggap kita-kita ini body guard kalian juga gak apa-apa asal si muka tembok itu menemukan pawangnya," seru Arman.


Si muka tembok alias Cakra yang kalau jalan di hadapan cewek datar-datar aja rupanya punya pawang secakep ini, pikir Arman.


"Mau makan apa? Masa istirahat cuma minum es?" tanya Cakra.


"Yaudah aku pesenin, tunggu disini." Cakra bangkit dan memesan makanan.


"Boleh sekalian gak kak?" seru Mey karena ia juga merasa lapar.


"Oh oke." Cakra sudah menyelinap diantara para antrian. Dan yang membuat Sahara menganga adalah secepat itu Cakra kembali dengan nampan di tangan. Tiga porsi bakso dengan mudah ia dapatkan entah bagaimana caranya.


"Yey makasih, tapi kok tiga?" tanya Sahara.


"Ya aku juga laper kali, Ra!"


"Duh perhatiannya, awas Ra kalau sebenarnya cuma modus," seru Rival. Seumur-umur kenal Cakra baru kali ini sahabatnya itu dekat dengan cewek. Bahkan banyak teman seangkatan yang diam-diam naksir pun hanya jadi angin lalu bagi seorang Bayu Cakrawala.


***


"Sahara, pulang bareng siapa? Mau bareng sekalian?" tanya Cakra begitu melihat Sahara berjalan keluar area sekolah.


"Dijemput papa aku, Cakra."


"Oh yaudah kalau gitu aku tunggu sampai Om Sagara jemput," seru Cakra. Mereka duduk di kursi bawah pohon area luar sekolah. Motor Cakra masih terparkir di dekat kursi sambil menemani Sahara dijemput.


Tak berselang lama, mobil SUV putih milik papa Sahara datang. Namun, bukan Sagara yang menjemput gadis itu melainkan Lendra.


"Papa?" gumam Cakra.


Lendra tersenyum, ia menghampiri Cakra dan Sahara.


"Pak Sagara ada janji temu sama klien jadi neng Sahara bisa pulang sama bapak," seru Lendra.


"Oh gitu ya, Pak!"


Lendra mengangguk, Cakra sempat salim takzim pada papanya sebelum akhirnya Lendra mengantar Sahara pulang.


"Doh calon mantu udah deket aja sama calon mertua," batinnya terkekeh.


Lantas setelah Sahara pulang ia pun melajukan motornya untuk pulang. Namun, baru saja menyalakan motor, Rival sudah lebih dulu naik ke boncengan Cakra.


"Anterin beb," serunya membuat Cakra bergidik.


"Bebek?" cibirnya.


"Bwahahahah, tegang amat. Jantung aman kan habis jejerin Sahara?" ledek Rival.


Mau tak mau, Cakra mengantar Rival lebih dulu barulah ia pulang ke kontrakan.


"Gak mampir?" tawar Rival.


"Kapan-kapan ajalah, aku ngantuk." Cakra melambai lantas melajukan kembali motornya.


Sampai depan kontrakan ia terkejut melihat mamanya diantar Om Sagara.


"Lho bukannya tadi Papa bilang Om Sagara ada ketemu klien?" batin Cakra bertanya-tanya.


Ia bahkan sempat melihat mamanya dan Om Sagara mengobrol lama sebelum akhirnya masuk dan Om Sagara pergi.


Kenapa mendadak perasaan Cakra tak enak?