MY LOVELY, SAHARA

MY LOVELY, SAHARA
Bab 11. With Love, Cakra



Dear Sahara,


Jangan ditolak, atau aku bakalan sedih.


Kalau kamu keberatan sama hadiah kecil dariku, kembalikan dua kali lipat dengan wujud asli uangnya...


Kalau mau balas budi, cukup video call aku setelah kamu nerima paket ini, rindu itu berat apalagi wajah kamu pindah-pindah.


Kadang di tembok, kadang di bantal, kadang lari-larian di otakku...


With love, Cakra.


***


Entah harus senang atau sedih, atau mungkin Sahara merasa lucu. Yang jelas, setiap kata yang tercoret itu benar-benar menggelitk hati.


Kenapa aneh begini?


Padahal jelas mereka tak memiliki hubungan apapun, akan tetapi sejak mendengar pengakuan Cakra membuat Sahara selalu menjaga jarak dengan teman-teman lelakinya termasuk Devon. Membuat Sahara merasa bersalah karena sudah foto berdua dengan Devon, foto itu juga menjadi bahan godaan teman-teman sekelas.


Bahkan sejak hari itu, Devon gencar mendekatinya, menunggunya saat pulang sekolah dan berulang kali mencoba mengajaknya jalan.


Sahara menekan aplikasi hijau, mencoba mengirim pesan kosong pada nomor Cakra.


Drrrt...


Si empu baru saja meletakkan tasnya, bahkan Cakra masih memakai seragam sekolah. Bukan menggantinya, ia malah duduk memandangi layar ponsel sambil senyam-senyum.


"Cakra, makasih ponselnya."


"Cakra, kenapa harus repot-repot?"


"Cakra... Cakra kenapa aku dibeliin ponsel?"


"Cakra..."


Sahara berulang kali mengetik hapus ketik hapus pesan, alhasil sedari tadi ia sibuk memikirkan pesan apa untuk Cakra. Namun, yang terjadi pesan itu terus terhapus dan akhirnya Sahara memilih diam. Meletakkan ponsel baru itu dengan kesal.


Tring...


Bunyi panggilan video masuk dari Cakra, Sahara makin bingung. Ia malah gugup sambil memegangi kalungnya. "Kok jadi deg-degan gini ya?" gumamnya pelan.


"Hallo?" panggil Sahara masih enggan menampakkan wajahnya.


"Assalamu'alaikum," sindir Cakra. Sontak Sahara menjawabnya sambil meringis. "Assalamu'alaikum Cakra!" ulangnya tersenyum manis, tentu saja senyum yang dipaksakan.


"Waalaikumsalam. Sudah nyampai ponselnya?" pertanyaan konyol dan bo doh yang terlontar begitu saja dari bibir Cakra. Padahal sudah jelas ponsel itu ada di tangan Sahara.


"Sudah, makasih." Akhirnya hanya itu kata yang keluar dari bibir Sahara.


"Syukurlah kalau gitu, kamu dan yang lain sehat kan? Maaf aku sama Mama belum bisa kesana," serunya. Terdengar helaan napas berat disana.


"Alhamdulillah sehat, gak apa-apa. Tadi kata Ibu juga ada donatur baru dari Semarang. Cuma belum sempat ketemu sudah pulang. Cak, kamu juga sehat kan?" tanya Sahara. Rupanya semudah itu memiliki topik pembicaraan diantara mereka.


"Sehat, tapi ya ada masalah dikit. Mungkin masih belum bisa main kesana."


"Semoga lekas selesai masalahnya. Kenapa harus repot-repot membeli ponsel untukku?" tanya Sahara tak enak.


"Biar kamu punya ponsel, dan aku bisa awasin kamu." Sahara hanya bisa memutar bola matanya.


"Ishh, tapi makasih sekali lagi."


"Makasih aja terus," seru Cakra sejurus kemudian tergelak.


Panggilan mereka berakhir seiring waktu yang semakin sore, Sahara akan ke dapur tetapi urung saat mendengar Ibu panti dan Mbak Asih mengobrol.


"Bu, bapak-bapak tadi wajahnya kok mirip sama Sahara ya?"


"Perasaan kamu aja kali, Sih."


"Tapi benar mirip lho Mbak," ujar Mbak Asih.


"Opo sih kamu, bisa-bisanya merhatiin tamu. Dia memang bapaknya Sahara, Asih. Tapi aku masih belum siap jujur sama Sahara pun dengan Sagara."


"Oh, jadi namanya Sagara!" seru Asih.


"Sa-ga-ra," gumam Sahara.


"Jadi Papaku tadi kesini? Kenapa Ibu gak bilang apa-apa? Jangan-jangan yang datang pakai mobil putih tadi," batin Sahara.


Niat ke dapur jadi urung, ia malah kembali ke kamar.


Sampai malam, Sahara mengurung dirinya. Ia enggan keluar, apalagi saat tahu Ibu panti berbohong padanya. Bisa jadi ada kebohongan-kebohongan lain yang disembunyikan.


"Sahara?" panggil Mbak Asih. Pasalnya Wahyu, Nana dan yang lain sudah siap di meja makan.


"Iya, Mbak?" Sahara keluar, bahkan ia belum mandi padahal sudah malam, sudah pukul tujuh.


"Astaga, kamu kok belum mandi. Yang lain sudah nunggu," seru Mbak Asih.


"Duluan aja, Mbak!"


Asih mengangguk, akan tetapi ia malah membuntuti Sahara ke kamar mandi.


"Kalau gak lama, kita tungguin."


"Kayaknya lama, Mbak! Aku mules," alibinya. Seolah mules adalah alasan paling masuk akal bagi Sahara, beruntung meski berulang kali menggunakan alasan itu, Sahara tak mendapat karma.


Di dalam kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur pun Sahara berulang kali menghela napas, "Sa ga ra!" Ejanya berulang-ulang.


Sementara yang disebut-sebut selalu bersin padahal sedang tidak pilek.


"Hachu..."


"Bapak pilek?" tanya Lendra. Nyatanya saat ini mereka sedang mengisi rumah kosong almarhum kedua orang tua Kinara. Masih di daerah Ambarawa, mungkin Sagara akan tinggal sehari barang dua hari.


"Tidak, hanya merasa ga tal."


"Apa perlu ke dokter? Mungkin bapak gak terbiasa..." Lendra menggantung ucapannya.


"Maksudmu? Aku tidak terbiasa tinggal di rumah istriku?" tanya Sagara menatap Lendra tajam.


"Bukan, maaf Pak. Saya salah bicara."


"Sudahlah, tidurlah di kamar depan. Aku akan di kamar paling ujung," serunya.


Lendra mengangguk, ia pun terpaksa menuruti semua kemauan Sagara. Terlebih Sagara tipe orang yang sulit ditebak, kadang baik kadang dalam sekejab bisa berubah.


Lendra pun masuk ke dalam kamar yang tampak rapi itu, makhlum saja rumah besar ini meski terlihat biasa dari luar tapi kerapiannya tak perlu diragukan. Bahkan Sagara membayar seseorang tetangga sini untuk merawat dan membersihkannya setiap hari.


Pagi itu, Sagara sudah berlarian mengelilingi komplek. Lain dengan Lendra, ia mendadak jadi assisten pribadi Sagara di Ambarawa, ia bahkan disuruh beli baju dan segala keperluan untuk dua hari.


"Siapa tahu habis ini beneran diangkat jadi assisten," batin Lendra di tengah kepasrahannya.


Brakk!


"Aduh," ringis Sahara kala mobil SUV putih itu tak sengaja menabraknya.


Sepeda motor sampai ambruk menimpa kaki Sahara.


"Kamu gak apa-apa, Nak?" Tanya Lendra.


Sahara meringis, "lecet dikit Om, maaf ya! Jangan minta ganti rugi, Om. Saya gak punya uang," seru Sahara. Saat melihat mobil yang ditumpangi mirip dengan tamu panti kemarin Sahara membeku.


"Ya sudah, Om antar ke dokter ya?" tawar Lendra.


"Tapi Om, nanti ngrepotin. Lagian ini mau berangkat sekolah." Disaat Sahara mulai menelisik wajah Lendra, ia mulai berfikir apakah benar pria paruh baya keren ini adalah papanya? Kenapa beda sekali.


"Saya kaya pernah lihat kamu, tapi dimana ya?" Lendra menggaruk kepalanya.


Ia meminta warga setempat mengamankan motor Sahara dan mengajak gadis itu masuk ke dalam mobil.


"Kalau gak mau ke rumah sakit, ke klinik aja biar diobatin." Lendra fokus pada stir kemudinya. Sesekali melirik ke arah belakang.


"Nama kamu siapa?" tanya Lendra.


"Bintang, Om!"


"Nama yang bagus, bahkan meski bintang hanya bersinar di malam hari kamu tetap bersinar sepagi ini," seru Lendra bercanda.


Sahara seketika tersenyum mendengar gurauannya, andai benar ia adalah papa kandung Sahara bukankah Sahara akan jadi gadis yang paling bahagia karena memiliki seorang Papa yang menyenangkan, pikirnya.