MY LOVELY, SAHARA

MY LOVELY, SAHARA
27. Playing victim



Sahara melengos kala Cakra menyapanya dan ini aneh, sangat aneh untuk Cakra yang merasa tak memiliki salah apapun.


Kenapa hari ini Sahara cuek dengannya?


"Kamu kenapa sih? Dari pagi sampai istirahat disapa diem aja, kenapa?" Cakra mencekal pergelangan tangan Sahara saat gadis itu mau ke kantin.


"Gak papa." Sahara melepas tangannya kemudian melanjutkan langkahnya.


"Sahara!" panggil Cakra lagi.


"Hm, ya? Nanti aja Cakra pulang sekolah," serunya menghindar.


Cakra menekuk wajahnya lalu memilih duduk jarak jauh. Baru saja menghempas bo kongnya di samping Rival, Sonia dengan langkah lenggak-lenggok bak model kaki lima menghampirinya.


"Bang Cakra," serunya sok kenal sok deket.


"Ya?" Cakra menaikkan alisnya. Rival berbisik di telinga, "bunga sekolah tuh!"


Sonia yang mendengar teman idolanya memuji pun lantas tersenyum lebar.


"Kalau memang kakak adik, kok duduknya jauhan. Kaya sepasang lagi ngambek," bisik Ririn curiga.


"Sutttt!" Sonia mengisyaratkan agar Ririn diam. Ia sedang ingin mendekati Cakra bahkan dengan tak tahu malunya Sonia duduk di kursi panjang depan Cakra. Berhadapan dan hanya tersekat meja kantin yang sama memanjang.


"Siapa yang bolehin kamu duduk disitu?" tanya Cakra mengernyit. Wajahnya datar tanpa senyum membuat nyali Sonia menciut seketika.


"Bebas, ini kantin kan buat umum!" kekeh Sonia, tapi matanya sibuk menatap Cakra dengan tatapan kagum penuh damba membuat Sahara di sudut sana merasa kesal.


Sahara menyedot milk tea-nya hingga tandas, cemberut. Bahkan mie goreng yang dipesannya hanya diaduk-aduk tanpa minat membuat Mey yang menyadari tingkah Sahara menggeleng-gelengkan kepala.


"Salah sih, kamu kemarin pake ngaku adiknya!" gumam Mey yang melihat Sahara cemburu Sonia mendekati Cakra. Apalagi Cakra tak berniat pindah tempat duduk dan membalas tatapan Sonia meski tanpa ekspresi.


"Demi keamanan aku," gumam Sahara. Memang serba salah kan jadi dia, lebih baik cari aman dengan mengaku adik, toh itu tidak buruk. Sayangnya Sahara belum mengatakan hal ini pada Cakra.


"Iya sih, si Soni itu emang bekingannya banyaak! Hampir semua brandal sekolah. Makanya ati-ati," lirih Mey.


Akhirnya mie goreng itu masih tersisa dan Sahara langsung membayar makanannya dan memilih kembali ke kelas.


"Bayarin," seru Cakra dan gegas mengejar Sahara. Sonia sontak mengekor layaknya anak bebek di belakang Cakra bersama Ririn.


"Sahara!" panggil Cakra. Tak perduli tatapan para junior di lorong menuju kelas Sahara.


Sahara terus melangkahkan kakinya, hingga di dalam kelasnya masih kosong karena memang masih jam istirahat. Sahara masuk bersama Mey, disusul Cakra.


"Apaan sih Cak, kan aku dah bilang entaran aja pulang sekolah aku jelasin."


Glek.


Cakra diam, jauh-jauh ke kelas Sahara malah gadis itu menolaknya bicara.


Sementara di luar, Sonia dan Ririn mengintip layaknya maling. Memperhatikan interaksi keduanya yang lebih mirip sepasang kekasih yang sedang berantem.


"Sia lan, kayaknya bener kata Baron kalau anak baru itu ada something sama Bang Cakra! Gak mungkin kalau adiknya sampai pegang-pegang tangan gitu, debat kesel dan komuk si ceweknya kaya gitu," gerutu Sonia.


"Sikat aja!" ujar Ririn mengompori.


"Heh, ogeb! Gue gak sekejam itu kali, bang Cakra nya aja sama gue datar. Gue cuma kesel aja, pake acara bohong segala. Sok banget jadi cewek." Masih mendumel. Mereka kembali setengah berjongkok demi kenyamanan dalam acara ngintip.


"Mey sini lo," seru Sonia menarik Mey agar ikut dengan mereka.


"Sonia, Ririn. Ini gak seperti yang kalian lihat kok, Sahara sama Abangnya itu lagi berantem karena... Ya karena uang jajan. Sahara bilang tadi pagi Bang Cakra itu malak uang jajannya," bohong Mey.


"Terus harus gitu pakai drama kolosal di sekolah? Kirain mereka lagi cinta-cintaan. Habis Bang Cakra kayak sayang banget gitu sama adeknya, kan gue ingin juga!"


Tak ada interaksi berlebih antara Cakra dan Sahara, hal itu membuat Sonia mempercayai ucapan Mey yang sebenarnya adalah bohong belaka. Hingga tanpa sadar beberapa siswa-siswi masuk membuat Cakra seketika keluar dari kelas Sahara.


Mendelik sinis kala melihat Sonia dan Ririn masih berada disana dengan posisi ngintip.


"Kalian ngapain, ehm?" Cakra berdehem membuat Sonia terlonjak kaget.


"Eh abang gans! Lagi ngintip anak baru itu tuh," seloroh Sonia masih eS Ka eS De.


"Maksud lo adek gue hah?" Cakra yang sudah tahu sebenarnya pun hanya bisa ikut pura-pura. Pura-pura dalam perahu!


"Hah jadi beneran bang?" tanya Sonia dengan mata melotot berbinar dan senyum secerah matahari.


"Benar!"


Cakra berlalu begitu saja untuk menuju kelasnya, demi keamanan Sahara disini ia pun rela. Asal jika diluar mereka bisa dekat lagi. Toh mereka sedang tidak pacaran.


Hal itu nyatanya hanya berlangsung beberapa bulan. Menjelang Cakra lulus, salah satu teman Sonia tanpa sengaja mendapat fotonya dan Sahara saat pergi kencan bersama.


Belum selesai drama Om Sagara berubah cuek semenjak papa dan mamanya rujuk. Sekarang Cakra dihadapkan dengan para brandal junior yang pasti sigap berdiri di belakang Sonia.


"Pembohong lo, bilangnya kakak adek, cih!" Sonia menyeret Sahara ke kantin.


"Sebagai hukuman, lo bayarin makan temen-temen gue!" seru Sonia sekali lagi membuat Sahara membeliak kaget. Pasalnya disana, Baron menatapnya dengan seringai tajam setengah mengejek.


"Ah oke, tapi jangan banyak-banyak ya aku bukan orang kaya!"


"Siapa perduli," seru Sonia. Saat membalikkan badan dengan angkuh. Sahara menjegal kakinya hingga terjatuh. Momen bengek itu sontak menjadi tontonan seisi kantin.


Sakitnya tak seberapa, malunya tak kira-kira.


"Ck ck ck, aduh jatuh kan. Maaf ya!" Sahara mengulurkan tangannya, saat akan meraih Sahara kembali menariknya hingga membuat Sonia menggeram.


"Tapi bo'ong!" Baron hendak menghampiri Sahara akan tetapi tertahan oleh Sonia.


"Kita main cantik, dia bukan cuma pacaran sama senior tapi juga diawasi langsung oleh salah satu guru disini," jelas Sonia yang berhasil mengorek info tentang Sahara. Niat hati minimal bisa mengeruk uangnya malah gagal dan berakhir dipermalukan. Sementara Ririn yang menahan Mey merasa apa yang dilakukan tak berguna.


"Kalian aja tuh yang aneh, udah tahu Bang Cakra gak suka sama Sonia masih aja maksain."


"Lo ngremehin bunga sekolah kita," cibir Ririn.


"Ck! Cuma yang matanya minus yang bilang kaya gitu. Bunga sekolah apaan, bahkan bunga depan ruang guru lebih cantik dari pada Sonia.


"Lo tuh ya," seru Ririn tak terima bestai nya disebut begitu oleh cewek biasa kaya Mey Mey.


"Fakta! Udah lah, jangan ganggu aku sama Sahara. Mending kalian sekolah yang bener biar jadi orang yang berguna bagi nusa bangsa dan orang tua!"


Semakin kesal, Ririn mendorong Mey hingga terjadilah adu dorong di lorong kelas. Sementara Sahara kembali melihat itupun jadi merasa bersalah karena telah membuat Mey ikut terlibat.