MY LOVELY, SAHARA

MY LOVELY, SAHARA
21. Aku sayang



Sahara merona malu, apalagi Cakra memang tipe orang yang kurang peduli sekitar. Meski sepi, masih ada sebagian anak pelita harapan yang belum pulang Dan Sahara yakin, saat ini mereka jadi pusat perhatian karena kelakuan Cakra.


"Makasih, tapi kok bunganya kayak nggak asing. Kamu beli dimana?" Sahara meraih mawar merah itu dan menciumnya. Asa bau-bau mawar taman sekolah, batinnya.


"Hehe dari taman depan ruang guru," seru Cakra tanpa dosa.


"Udah yuk neng, kita pulang!" ajaknya menarik Sahara menuju parkiran. Sahara meleyot nurut meski mawar itu bukan hasil beli, yang jelas Cakra pasti butuh perjuangan mengingat tukang kebun dan taman pelita harapan lumayan galak.


"Pelan-pelan Cakra!"


Sahara sampai tersandung-sandung mengikuti Cakra, debar dalam da da semakin tak tertahankan.


"Maaf, aku saking semangatnya!" Cakra meringis.


"Kamu bawa helm lagi nggak? Nanti kena pakpol."


"Enggak, kita lewat jalan tikus biar nggak ketemu pakpol. Gampang, aku hapal kok jalan ke rumah kamu. Tapi ngomong-ngomong, mama pengen ketemu! Kangen katanya."


"Mama?" ulang Sahara.


"Iya jadi mama baru tahu kalau kamu di Semarang dan baru tahu juga kalau kamu anaknya Om Sagara. Sahara kamu mau bantuin aku nggak?" pinta Cakra.


"Bantu apa?" tanya Sahara.


"Nanti aku jelasin, sekarang naik dulu deh." Cakra menepuk-nepuk jok belakang agar Sahara segera naik ke atas boncengan.


"Wih mau kencan nih," ledek Rival.


"Aku pulang sama siapa kalau Cakra boncengin juwita," serunya menekuk wajah. Sontak Sahara mengernyit bingung.


"Juwita siapa?" tanyanya tak sabar.


"Juwita dambaan hati bang Cakra," ledek Rival langsung ngibrit sebelum ubun-ubun Cakra berasap.


"Rese si Rival mah, udah jangan dianggap serius."


"Kamu ada suka cewek lain?" tanya Sahara yang masih terkejut karena ia pikir Cakra menyukai wanita bernama juwita.


"Juwita itu kamu," ujar pelan Cakra meraih tangan mungil Sahara dan meletakkannya di pipi. Persis layaknya pemuda manja pada kekasihnya.


"Ish Cakra dilihat banyak orang, ayo pulang!" Sahara menunduk malu dan menarik tangannya.


Cakra mengubah posisi, membiarkan Sahara naik lalu melajukan motornya keluar area parkiran. Cakra tarik tangan Sahara agar melingkar di perutnya. Dengan ragu Sahara menurut, hingga akhirnya nyaman dan kepalanya bersandar di punggung Cakra.


Rupanya gadis itu malah terlelap di belakang, beruntung Cakra melajukan motornya dengan pelan, hati-hati dan penuh perasaan.


Dukkk!


Rupanya polisi tidur tak benar-benar sedang tidur, Cakra terlonjak dan panik karena tanpa sengaja membuat Sahara terganggu oleh ulahnya tanpa rem dan pelan saat melintasi polisi tidur. Bukan hanya membuat Sahara bangun tapi juga terbentur bagian belakang helmnya.


"Cakra sakit."


Cakra menghentikan motornya, lalu menoleh ke belakang. Mengusap-usap dahi Sahara yang Cakra yakini terbentur lumayan keras hingga menyisakan kemerahan.


"Sakit banget ya, maaf deh! Aku nggak hati-hati, lagian itu polisi tidur sembarangan."


"Hihi dasar, tukang ngeles!" Cibir Sahara.


"Yaudah jalan lagi ya, sebelum pulang mau beli apa dulu?"


Sahara terdiam, ia sungguh tak ingin merepotkan Cakra terlebih saat ingat laki-laki itu rela menggorok ayamnya demi ponsel yang saat ini berada di saku Sahara. Mengingat itu sontak Sahara menggeleng keras.


"Pulang ke rumah kamu aja langsung!"


"Oke."


Motor kembali melaju, hingga tanpa sadar telah sampai di halaman depan rumah kontrakan Cakra dan Kinanti.


"Ayo masuk," ajaknya.


Cakra lantas mengajak Sahara masuk yang kebetulan pintu rumahnya tak terkunci.


Kinanti menyambut Sahara dengan pelukan rindu.


"Tante kangen banget sama kamu sayang," seru Kinanti tersenyum lebar. Kebetulan ia habis masak banyak hari ini.


Lalu pandangan Cakra fokus pada box yang tersusun makan siang.


"Itu buat siapa, Ma?" tanya Cakra.


"Ini? Buat papa kamu," seru Kinanti.


"Tumben ada acara apa?" Cakra yang masih belum menyadari pun tak tahu kalau hari ini Kinanti ulang tahun.


"Bukan apa-apa, nanti kalian tolong anter ke kantor ya?" pinta Kinanti diangguki Cakra.


Sahara, Kinan dan Cakra makan siang bersama. Sesekali mereka bahas keseruan di panti, cerita pertemuan Sahara dengan Lendra hingga pertemuan gadis itu dengan Devon dan Sagara. Cakra mengangguk mendengarkan, ia tak menyangka selama ini salah menaruh rasa cemburu pada Devon.


Meski instingnya sebagai lelaki tahu betul Devon menyukai Sahara terlihat dari gelagatnya tapi Cakra lega karena Devon masih berstatus keluarga Om Sagara.


Mereka sampai di kantor Sagara setelah makan siang. Cakra mengantar ke ruangan papanya sementara Sahara ke ruangan Sagara.


"Titip ini buat mamamu Cakra," seru Lendra. Sebenarnya setelah pulang ia ingin mampir, tak disangka Cakra sudah menyambangi dirinya lebih dulu di kantor dan mengantar makanan.


Masakan Kinanti memang selalu the best di lidahnya, enak dan lezat. Mendadak Lendra semakin muram karena mereka sudah berpisah. Seolah tahu apa yang ada di pikiran papanya lantas Cakra urung pergi dari ruangan Lendra.


"Cakra pengen papa dan mama balik lagi kaya dulu," gumamnya pelan.


Lendra mendongkak, dan menatap lekat putranya.


"Tapi itu mustahil Cakra."


"Papa masih sayang kan sama mama? Papa pengen juga kan kayak dulu lagi? please, pa! Buktiin ke mama kalau papa pantas dapat kesempatan kedua. Mumpung kalian belum lama pisahnya," seru Cakra.


"Papa pikir-pikir lagi Cakra."


"Cakra sayang kalian, pengen kita balik kaya dulu lagi. Mungkin dulu Cakra pengen banget Papa pisah sama mama, tapi--"


"Papa memang salah sudah selingkuh dari mamamu bahkan sudah merendahkan harga dirinya sebagai istri. Tapi demi Tuhan, papa tidak pernah menyentuh Areta selain dari pada pegangan tangan dan cium kening!" Aku Lendra. Ia memang breng sek telah mengkhianati Kinanti, tapi sejujurnya ia tak sampai hati menikmati tubuh wanita lain selain istrinya.


"Papa serius?" tanya Cakra.


"Dua rius, untuk apa papa bohong. Oh ya, sampaikan selamat ulang tahun papa untuk mamamu. Nanti kalau sempet papa mampir!"


Cakra melongo dibuatnya apalagi saat melihat Lendra sudah menyiapkan kado buat mamanya. Ia segera pulang dan ingin membujuk Kinanti bagaimanapun caranya.


"Sahara! Kamu mau kuantar ke rumah atau ikut aku?" tanya Cakra.


"Pulang aja, besok lagi mampirnya gak papa kan?"


"Oh oke, aku anter kamu pulang dulu!"


Cakra mengantar Sahara pulang. Namun, sebelum masuk gerbang rumah Cakra menarik tangan Sahara.


"Sahara sebenernya aku,--"


"Aku sayang kamu Cakra," potong Sahara cepat.


Padahal Cakra bukan mau menyatakan cinta, ia mau tanya soal papanya. Seandainya itu terjadi antara ia dan Sahara apakah gadis itu akan memberikan kesempatan. Cakra hanya ingin mendengar pendapat Sahara sebagai wanita, tak disangka Sahara malah membalas perasaannya sekarang.


"Aku juga sayang sayang kamu."


Sahara tersenyum manis lalu masuk karena pipinya memerah malu.